4. Istri Kecil

1244 Words
"Pa, bunda kok belum pulang?" Anggara menyingkir dari Aarav yang sibuk menerima telepon mahasiswinya begitu mendengar aduan Harsya, ia langsung melihat kearah jam tangan. "Udah mau jam 10!" gumamnya dengan kening berkerut dalam. "Kaka udah coba telpon?" tanya Anggara menyembunyikan rasa cemas. "Udah pa, tapi nomer bunda sibuk!" terang gadis remaja sebelas tahun itu. "Gitu ya..." dengan kalimat menggantung Anggara menoleh pada Aarav, rekannya terlihat makin asik mengobrol sambil cengengesan. "Oke, kalo gitu papa pulang sekarang, kamu terus hubungi bunda, kalau ada kabar hubungi papa!" pesan Anggara yang bergegas mematikan panggilan. Pria itu berpamitan dengan Aarav melalui isyarat, sementara Aarav yang tidak lagi mengaktifkan loudspeaker pun mengacungkan jari jempol sebagai tanda setuju. Meninggalkan Aarav yang sibuk mengobrol, Anggara keluar dari tempat itu sambil mencoba menghubungi sang istri. Dan benar saja, nomer Agnia masih sibuk. "Nggak biasanya dia pulang larut, gak ngasi kabar, ngak jawab panggilan!" Anggara bergumam gelisah sembari menutup pintu mobil dengan kasar. Ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, berharap bisa sampai kerumah segera, apalagi putri semata wayangnya tinggal dirumah sendirian. Drrt Menyela fokus Anggara pada kemudi, notif panggilan suara dari sang istri akhirnya diterima. "Ya Om Ded, ada apa?" sapa Agnia setelah mengucap salam, Suara bising ditempat Agnia membuat Anggara harus memelankan laju mobil dan menajamkan pendengaran. "Om Ded, om ded, siapa itu? selingkuhan kamu?" omel sang Direktur. Agnia sampai menjauhkan ponsel dari telinga. "Ya kan, Om Daddynya Caca!" sahut Agnia melengking. Kini, giliran Anggara yang menjauhkan ponselnya. "Ini sudah jam berapa, Nia?" tanya Anggara mengabaikan perdebatan. "Setengah sepuluh lewat, Om!" sahut gadis itu dengan santai seolah tidak melakukan kesalahan. "Kamu gada niat mau pulang?" tanya Anggara mengerjap-ngerjap. "Ini juga kita mau pulang!" terang Agnia, ia sudah saling melambaikan tangan dengan teman-temannya, cuma Tiara yang tersisa diujung sana. "Kamu dimana?" "Kafe capung!" "Tungguin saya!" "Tapi Nia udah pesen taksi onlen, Om!" "Pokoknya tungguin saya!" Anggara memutus sambungan setelah meminta Agnia menunggunya tanpa bisa dibantah. "Dasar polisi bombay nyebelin!" Agnia mengumpati ponselnya. Ia melangkah dengan malas mendekati Tiara untuk pamit. "Gue duluan ya, Ra!" sebenarnya Agnia tidak enak hati pergi sendiri. "Iya, kayaknya gue juga mau pulang deh!" karena pesanan ditempat itu sudah dibayarkan, Tiara pun turut meninggalkan mejanya menyusul Agnia. "Gak jadi nungguin laki lo?" Agnia menoleh. "Gausah deh, kita ketemuan diranjang aja." Tiara berkedip nakal. "Hemmm yaudah, silakan puas puasin bikin mata, hidung sama rambut dulu sebelum LDRan." Agnia mendesah berat tapi tetap berseru maklum. "Okedeh, eh tapi ... gua boleh numpang gak? lo barusan pesen taksi online, kan?" sesama kaum mendang mending, Agnia kembali harus maklum pada polah Tiara. "Kebetulan banget, sebenernya gue juga masih ada perlu disini, jadi lu aja deh yang naik taksinya, nah itu dateng!" pucuk dicinta, taksi yang dipesan Agnia sampai diwaktu yang tepat. Berkat Tiara, taksi pesanan Agnia tak jadi dibatalkan. Perubahan rencana akibat Anggara tak jadi membuatnya rugi. "Eh sialan, mau ngapain lagi sih lu?" Tiara heboh bertanya. "Hehe ada deh!" kedua bahu Agnia terangkat, seperti sengaja membuat Tiara penasaran. "Lo ketemuan sama cowok?" tebak Tiara asal. "Diih kepo, buruan sana!" Agnia cengengesan dan tidak mau repot membantah, tubuh Tiara pun terhunyung masuk ke kursi penumpang. "Meresahkan!" Tiara makin menyipit setelah mendengar ponsel Agnia berdering, tapi ia keduluan Agnia yang memerintahkan sopir menjalankan taksinya. drrt drrt Panggilan dari Anggara makin heboh, tapi gadis itu baru bisa menjawab setelah memastikan Tiara sudah tak disana. Sengaja berlari kecil kesekitar kafe, barulah ia menerima panggilan tersebut. "Lama banget!" sentak Anggara sambil mengedarkan pandangan mencarinya. "Sorry, baru dari toilet Om!" Malas mendengar omelan, Agnia terpaksa berbohong "Dimana?" "Disamping cafe!" "Ngapain kesamping?" Anggara mengerutkan kening. "Hehe, kan baru habis dari toilet." "Aa- " "Dahlah Om, jan banyak tanya deh, wawancara Nia tu besok, mending om cus aja kesini!" Sadar jika pertanyaan Anggara mungkin merembet, Agnia dengan cepat memangkas dan mendesak sang suami. Membuat Anggara harus bergeleng kepala dan mendengkus kasar namun tetap bergerak memutar haluan mobil. Agnia langsung masuk ketika mobil Anggara sudah berhenti didepannya, ia merasa bingung mengapa Anggara tiba-tiba menjemput. Hening sejenak, dalam perjalanan pulang mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. "OM DARI MANA?" "HABIS NGAPAIN SAMPAI JAM SEGINI?" Spontan dua pertanyaan itu terlontar secara bersamaan dari kedua belah pihak, karenanya mereka pun reflek sama-sama saling pandang. "Om duluan!" Menghormati sang suami, Agnia tertunduk dan mendahulukan pria itu. Anggara mengangguk segan lalu mengulang pertanyaan yang diawali deheman kecil. "Ekhem... Ngapain aja sampai larut begini?" "Ngerjain tugas kelompok buat besok wawancara!" terang Agnia sejujurnya. "Harus banget sampai kayak gini?" tegas Anggara. "Yakan harus prepare, harus mateng bahannya!" "Bahan apa? emangnya mau bikin risol?" entah apa maksud Anggara sengaja membuat Agnia meradang. "Heeeduuhh ...Om Direktur kan, masa gitu aja gak ngerti?" tentu saja Agnia nge-gass. Aduh mamae, berhubung Anggara lagi obral, baiklah, lu jual gua borong!! sikaaat. Anggara kicep, kena mental pasti, lagian gen-z dilawan. "Kamu sadar gak, kamu udah ngasi contoh gak bener buat Caca, masa sih anak gadis kelayapan sampai larut malam!" lanjut Anggara seperti sedang mengomeli anak perawan. "Tapikan situasinya emang lagi urgent, narasumbernya aja kita kolling mendadak, dia gak marah tuh!" sindir Agnia membuang muka namun sejujurnya ia menerima nasihat dengan lapang d**a, pertanda Anggara peduli. Anggara pun sudah kehabisan topik pembahasan, lagipula kesalahan Agnia sebenarnya tak terlalu fatal, tapi entah mengapa ia sulit memaklumi. "Cepetan turun, trus bilangin ke Caca kalau...!" "Khoookkkk ... khoookk!" "Nia!" Usai melepas seatbelt, Anggara menggoyang bahu sang istri pelan, namun ternyata kepala Agnia sudah lunglai dan mendengkur. "Cape banget tauk Om!" gumamnya sembari menyapu cairan diujung bibir. "Iih jorok!" meski bergumam, Anggara tak tega membangunkan pemilik wajah lelah itu, segera ia mengitari mobilnya lalu menggendong Agnia dipunggung membawa masuk kedalam rumah. "Bunda!" Harsya berseru riang menyambut kedatangan sambil berjingkat mencoba meraih tangan bundanya yang melingkar dileher Anggara, rupanya ia masih menunggu diruang tamu ditemani bi Ita. "Shuut!!! bunda kecapekan. Kaka langsung tidur kekamar aja, nanti papa nyusul!" pinta Anggara dengan lembut. Harsyapun langsung mengangguk mengerti. "Bi, tolong bukain pintu kamar!" Anggara meminta tolong pada asisten rumah tangganya. "Kamar tuan?" bi Ita bingung. Pikirnya, mungkin saja kali ini Anggara dan Agnia sudah jadi pasutri yang normal, apalagi sekarang sudah mulai gendong-gendongan. Anggara langsung melotot dan memberi isyarat galak. Bi Ita sudah empat tahun bekerja dikediaman Anggara, dari itu iapun tahu betul keadaan rumah tangga sang majikan. "Iya pak!" Bi Ita mengangguk salah tingkah lalu bergegas mendahului Anggara menuju kamar Agnia. "Bibi langsung pulang aja ya pak, udah kebelet." usai membukakan pintu, wanita lima puluh tahunan itu mengeliat seperti cacing kepanasan. "Iya silakan bi!" Anggara mencebik seraya menutup pintu dengan kaki. Agnia direbahkan dengan hati-hati ditempat tidurnya, lucunya gadis itu langsung memeluk guling dengan nyaman, membuat Anggara bergeleng kepala. "Nia bangun...!" panggil Anggara lagi sedikit menggoyang tubuh sang istri kecil. "Hemmm...!" "Kamu udah sholat isya?" "Enggak, barusan keluar!" suara serak Agnia membuat Anggara mengernyit. "Keluar apa?" "Keluar da rah!" setengah sadar Agnia menyahut. Dua sudut bibir Anggara tertarik kebawah, ia mendadak bergidik, tatapannya reflek tertuju pada perut Agnia yang kembang kempis saat tak sadar berbalik telentang. Dadanya entah kenapa berdetak kencang, tubuhnya terasa panas, bahkan aliran darahnya mendesir tanpa sebab. Daripada pikirannya oleng, akhirnya Anggara membuang muka ingin pergi. Akan tetapi, langkahnya tiba-tiba terhenti, Anggara kembali melihat wajah polos gadis itu hingga luluh, iapun berinisiatif melepaskan sepatu dan kaos kaki sang istri dan ingin menyelimutinya. "Gak mau bersih-bersih?" Sayup-sayup mendengar tanya pelan Anggara, Agnia tiba-tiba bangun dan membuka hijab dengan mata tertutup. Kemudian, gadis itu menegakkan setengah badan, ia duduk bersandar dikepala ranjang dengan lunglai seperti saat dimobil, lalu tanpa diminta kedua tangannya bergerak membuka kancing baju dari yang paling atas. huft
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD