"Pah!" Saat hendak sarapan, Hasya melirik tempat duduk Agnia yang masih kosong diruang makan. Pria yang sibuk membenarkan dasi itu ikut menotice panggilan sang putri. "Coba panggil!" bukannya Anggara tak peduli, tapi putrinya pun berhak memiliki peran dalam keluarga. Dengan semangat, Hasya mendatangi kekamar Agnia, sejak semalam ia sudak khawatir takut jika ibu sambungnya merasa tak baik-baik saja, apalagi sejak ia tahu sang ibu baru kehilangan sepeda listriknya. "Gimana ka?" melihat Hasya yang kembali dengan langkah lemas, Anggara langsung bertanya. Gadis itu bergeleng, lalu duduk menikmati sarapan dengan wajah datar. "Gak dibukain pintu?" tanya Anggara lagi. Hasya mengangguk. "Kayaknya bunda sakit pah!" "Pagi semuanya!!" Anggara dan putrinya segera menoleh pada sumber suara

