10. Titik Jenuh

1036 Words
Karna separuh aku... Dirimu~ Potongan bait syair dari lagu populer yang saat ini dicover acoustic oleh salah satu musisi lokal dikafe itu sukses membuat Agnia terharu dan tanpa terasa menjatuhkan air mata. Menjelang sore hari, gadis itu sedang duduk berhadapan bersama Aarav sekembalinya dari rumah sakit. Ya, Aarav telah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang karena memang keadaannya tidak terlalu parah. Demi merayakan kepulangan, Aarav berkilah mengajak sang gadis untuk sekedar menikmati secangkir kopi dan mengobrol ringan di salah satu sudut kota. Aarav mendadak ikut tertegun, ketika ia tidak sengaja menangkap wajah sendu Agnia saat menyaksikan penampilan penyanyi secara live tersebut. Saat itu Aarav sempat kebingungan untuk menenangkan, sebab tak mungkin ia meraih tangan Agnia untuk digenggam. Gadis itu mengenakan hijab dan ia wajib menghargainya. Karena itulah, Aarav mencari kata-kata yang sekiranya bisa ditanggapi positif oleh Agnia. "Apa lagu ini mengingatkanmu pada sesuatu?" ucap Aarav tiba-tiba membuyarkan fokus Agnia pada si penyanyi didepan sana. Agnia menoleh, ia melanjutkan tatapan sayu kepada pria itu lalu hanya menanggapi dengan mengendikkan bahu. "Ada beberapa faktor yang menyebabkan perempuan bisa mewek atau menitikkan air mata, bisa karena dia menyimpan sebuah emosi yang kuat, stres, kelelahan, perubahan hormonal, kehilangan, frustasi atau marah... Saya hanya ingin memastikan keadaan orang sedang bersama dengan saya saat ini." ungkap Aarav panjang lebar, sisi menasihati mulai keluar tanpa diminta. Senyum Agnia kecut seperti asam jawa, sembari menatap kearah penyanyi itu lagi. "Entah kenapa, saya tiba-tiba berharap ada orang yang mencintai saya dalam, dan menjadikan saya seorang yang berharga, seperti bagian dari dirinya!" terang Agnia lugas, mengisyaratkan bait terakhir dari lagu yang telah mereka dengar. Semudah itu, Aarav berhasil membuat gadis itu berterus terang padanya. "Kenapa kamu berpikir jika orang itu tidak ada didalam kehidupanmu?" tanya Aarav lagi. "Karna saya hidup dalam sebuah sandiwara!" cetus Agnia ambigu. "Hemm..." Tanpa sadar, tubuh Aarav menegak seketika, ia heran. Sedang Agnia hanya terdiam, ia bergeleng kepala ragu. "Jika seseorang merasa yang ia lakukan hari ini bukan sesuatu yang berasal dari hati, bukan berarti hidupnya adalah sandiwara." pancing Aarav sekaligus memberi gambaran. "Tapi bagimana jika itu selalu dilakukan setiap hari dan tanpa batas?" tanya Agnia, membuat Aarav makin mengerutkan kening. "Eh maaf pak, gatau diri banget saya lancang. Biaya konsul sama bapak mahal loh!" kemudian Agnia menyela sambil terkekeh sungkan. "Haha, enggak gitu juga!" Aarav ikut terkekeh sekaligus mengelak. Keduanya sama-sama terdiam, sembari mencerna perkataan Aarav, Agnia mempertanyakan pada diri sendiri tentang jalan yang telah ia pilih untuk menghabiskan sisa hidup bersama Anggara. Dalam renungan itu ia jadi berpikir, apakah sekarang dirinya mulai mengharap sesuatu atas hubungan mereka atau dirinya hanya sedang berada di titik jenuh. "Terkadang... Ada timbal balik yang terkabul disaat kita terpaksa melakukan kepura-puraan. Benar kan?" Agnia mengangguk pelan, pertanyaan Aarav sama persis dengan yang ia alami. Nyatanya, ia memang rela dinikahi duda beranak satu itu hanya demi terlepas dari ketergantungan pada orangtua angkat, serta demi mengenyam pendidikan tinggi, karena menjadi dokter atau bagian dari tim medis adalah cita-citanya sejak kecil. "Jadi, apakah sekarang kamu keberatan menemani saya disini?" Melihat Agnia yang terdiam, Aarav pun kembali membuka obrolan. "Eh, enggak kok pak, saya kesini atas kemauan saya sendiri." sanggah Agnia gelagapan. "Lalu, apa kamu baru putus sama pacar?" tebak Aarav, mulai menyelidik soal penyebab gadis itu menangis. "Pak, saya itu belum punya pacar dan kayaknya saya gak akan pernah punya pacar deh." kata Agnia kembali memperlihatkan wajah yang sendu. Aarav mengangguk kagum, pikirnya gadis berhijab itu sangat teguh pada prinsip menjaga marwah. "Oh gitu, kamu memang gadis yang hebat." pujian Aarav membuat Agnia kembali tersenyum kecut. "Apakah karena Islam mengatur pernikahan tanpa melalui proses pacaran, kamu jadi sampai berpikir tidak akan ada orang yang mencintai kamu begitu dalam?" lanjut Aarav. "Enggak juga?" "Lalu bagaimana dengan pernikahan yang terpaut usia cukup jauh, apakah menurutmu itu pantas?" beralih pada permasalahan yang dialami Agnia, Aarav malah menjurus pada hal yang ingin ia ketahui. "Sebelum saya menjawab, izinkan saya bertanya lebih dulu!" pinta Agnia yang langsung dipersilakan oleh Aarav melalui anggukan. "Apakah menurut penelitian yang bapak pelajari selama ini, perbedaan usia sangat mempengaruhi keeratan dalam hubungan berpasangan?" Aarav seketika menegakkan kepala, ternyata lawan bicaranya kali ini sangat pemikir. "Dalam konteks ini, penjabarannya lumayan panjang dan luas, ada sisi positif yang meliputi sudut pandang yang diperkaya berdasarkan pengalaman, serta sisi negatif tentang perbedaan tahap hidup dan prioritas, juga perbedaan tingkat energi dan gaya hidup yang cukup rumit untuk diseimbangkan. Kuncinya, kita butuh komunikasi yang efektif, kesediaan untuk memahami dan terbuka, serta komitmen untuk bekerjasama. Apabila sudah memegang kunci tersebut, saya rasa itu tak akan jadi masalah besar." jelas Anggara panjang lebar namun lugas. Agnia mengangguk, yang disampaikan Aarav membuatnya seakan mendapat pegangan. "Jadi..." Aarav tiba-tiba menuntut jawaban. "Menurut saya, tidak masalah!" jawab Agnia singkat. Gadis itu kembali tersenyum lebar, menularkan energi positif pada Aarav yang energinya telah lama mengering. Hal itulah yang dinanti Aarav belakangan semenjak bertemu Agnia. "Oh oke, saya keep jawaban kamu!" Aarav mengangguk-angguk sumringah. Sementara Agnia beralih melihat jam tangannya. "Amm... Apa bapak masih mau disini?" tanya gadis itu menyela dengan hati-hati. "A... apa kamu sudah mau pulang?" Aarav bertanya balik, ia mulai sadar pada kegelisahan Agnia. "Sudah jam lima lewat pak, takutnya saya ..." "Oke, saya antar kamu pulang!" putus Aarav menyela tanpa banyak pertimbangan. "Eng-gausah pak!" kedua tangan Agnia melambai-lambai. Seperti yang sudah-sudah, gadis itu tetap menolak tawarannya. Aarav mendesah lelah, ia jadi tidak sabar memperjelas tujuannya "Saya gak enak, terus-terusan nyusahin bapak. Lagian, utang kemarin aja belum lunas." kata Agnia tertunduk malu. "Yasudah, saya ikut apa mau kamu aja." Krieet Suara kaki kursi yang tergeser kebelakang akhirnya terdengar. "Kalau gitu saya permisi, pak!" Belum selesai Aarav bicara, Agnia sudah gegas berdiri dan siap untuk beranjak pergi. Aarav pun tidak bisa berbuat banyak untuk menahannya, sebab Agnia telah berlalu tanpa menunggu jawaban. Disela langkah kakinya yang berlari kecil meninggalkan Aarav sendirian di kafe, gadis itu melihat layar ponsel sambil membaca sebuah pesan yang baru masuk. "Bunda, kok sekarang pulangnya suka telat. Gimana kalau udah dibeliin papa sepeda listrik, apa bunda bakal kayak gini terus?" "Ish..." Agnia berdecak sembari mengusap kening dengan kepalan tangan setelah membaca pesan bernada kecewa dari sang putri sambung, bisa-bisa gadis kecil itu tidak jadi membujuk Anggara karena keteledorannya yang belakangan lebih sibuk diluar rumah. "Duh maaf banget ya ka, bunda beneran banyak tugas." >>> send
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD