Ada Apa Dengan Nessa?

1220 Words
Rizal yang sudah sebulan merasa jauh dengan Lily, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melangkah dengan tergesa kembali ke kamarnya untuk mencari keberadaan Nessa. Jujur saja, dalam hati ia memuji Lily yang saat ini terlihat lebih fresh dan cantik dari sebelumnya. "Aku akan melakukan apapun agar Lily mau tidur denganku bukan hanya malam ini saja," pikir Rizal penuh semangat. Sampai di kamarnya pun Rizal terus terbayang wajah Lily dan perlakuan manisnya hari ini. Nessa yang tengah asik memainkan ponsel sambil berbaring langsung menegakkan badan sambil menatap suaminya penuh keheranan. Tidak biasanya Rizal seceria itu masuk kamar. "Nes, aku mau minta tolong boleh?" Rizal langsung mengutarakan keinginannya tanpa basa-basi. "Apasih yang enggak buat seorang suami, Mas? Bilang aja. Kamu mau minta tolong apa?" tanya Nessa langsung menyanggupi sambil menyunggingkan senyum. Rizal pun balas tersenyum. "Nes, ini kan hari minggu. Kamu engak ngapa-ngapain kan? Aku ... minta tolong kamu bersihkan kamar yang di belakang bisa ya?" "Buat apa, Mas? Ada yang mau pakai? Apa mau ada tamu?" Nessa langsung meletakkan ponselnya di kasur sambil menatap Rizal dengan raut curiga. "I-iya. Pokoknya, bersihin aja! yah? nanti aku minta ibu bantuin kamu, biar lebih cepat selesai," perintah Rizal sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya Karena terlampau bahagia melihat perubahan sikap Lily, hampir saja dia lepas kontrol dan mengatakan bahwa Lily yang akan pindah ke kamar tersebut. "Lily mana. Kok bukan dia? Kan sebulanan ini dia enggak ngapa-ngapain. Enak betul! Kok aku terus yang gerak," protes Nessa. "Dia ... lagi enggak enak badan. Tadi kamu sudah janji loh bantuin. Udah, sekali ini aja yah! Aku mau temani Lily dulu ya, Sayang ! Nanti kalau sudah dibersihin panggil aku ke kamar anak-anak," ucap Rizal tak perduli pada ocehan Nessa sambil beranjak pergi. Wajah Nessa berubah cemberut. Hawa panas mulai menyelimuti hatinya. Tapi tadi ia sudah terlanjur menyanggupi untuk membantu. Ingin membantah, tapi khawatir Rizal marah. Salah-salah Rizal tak mau kembali ke kamarnya nanti malam. Nessa tidak ingin Rizal tidur sekamar dengan Lily di malam hari. Dengan langkah terpaksa, Nessa pergi ke kamar yang dimaksud suaminya untuk bersih-bersih. Hal pertama yang ia lakukan adalah menyapu, kemudian membuka semua jendela, membersihkan debu-debu, mengganti spray, dan mengepel lantai. Sementara mertuanya tak kunjung datang membantu. "Kemana sih dia?" Nessa bertanya dalam hati sambil memeras kain pel. Hatinya makin kesal karena sejak tadi tak nampak batang hidung Bu Erna datang untuk membantunya. Nessa mengusap keringatnya yang bercucuran menelusuri wajah hingga lehernya dengan kain baju yang ia kenakan sendiri. Setelah itu Nessa duduk dengan napas terengah-engah, karena kelelahan di tepi ranjang. Penampilannya saat itu benar-benar seperti seorang pembantu yang dipaksa bekerja seharian full oleh majikan. Setelah di rasa cukup bersih, dengan langkah lemas Nessa menuju ke kamar Lily untuk memanggil suaminya. Di ruang tamu Nessa berpapasan dengan ibu mertua yang menatapnya heran. Pantas saja ia tak kunjung datang membantu. Rupanya habis arisan dan merumpi dengan teman gibahnya dari tadi. Nessa melengos kesal. Sementara Bu Erna yang tidak mengerti apa yang membuat keadaan Nessa jadi mengenaskan seperti itu melangkah cuek menuju kamarnya sendiri untuk beristirahat tanpa bertanya sepatah kata pun. "Mas! Sudah tuh kamarnya! Cepat keluar Mas. Ngapain sih lama-lama di dalam," ucap Nessa nyaring sambil mengetuk pintu kamar Lily dan anak-anaknya dengan kasar. Membayangkan Rizal dan Lily hanya berdua di kamar, membuat Nessa merasa cemburu berat. Semula ia mengira Hussein dan Abidzar ada di dalam. Tak lama pintu terbuka dan Rizal keluar diiringi oleh Lily. Nessa menatap dengan sorot tak suka pada Lily. Sejurus kemudian Nessa pun langsung membalikkan badan bersiap untuk menjauh. "Eh, Ness! Mau kemana. Aku mau minta bantuin pindahkan lemariku dulu," Lily menahan Nessa. "Bantuin Mas Rizal ya, pinggangku lagi sakit, nih," Lanjut Lily sambil memegang pinggangnya. "Ayo, Nes!" seru Rizal membuat Nessa terhenyak. Rupanya ia tadi bekerja keras membersihkan kamar seorang diri, untuk Lily? Ya Tuhan! Ingin rasanya ia mencabik-cabik wajah Lily dengan kukunya yang panjang Nesa terpaksa mendekat dan mengikuti langkah Rizal masuk kamar Lily, lalu mereka berdua bergotong royong memindahkan lemari dan meja rias milik Lily ke kamar yang sudah bersih. Arjuna yang berlalu lalang dengan cuek, hanya sesekali melirik Rizal dan Nessa yang kesusahan memindahkan semuanya. Tak sedikitpun, dia berniat membantu mereka berdua yang terlihat begitu kesulitan. "Drama yang dibuat rumit," celetuk Arjuna begitu melintasi Lily yang masih berdiri di depan pintu kamarnta dengan suara pelan, tapi masih terdengar oleh Lily. Lily langsung menoleh dengan gigi gemeretak karena geregetan mendengar tanggapan Arjuna. Setelah beberapa kali beristirahat, akhirnya Nessa dan Rizal berhasil juga memindahkan lemari Lily ke kamar yang sudah bersih berkat kerja keras Nessa. Nessa buru-buru melangkah keluar dengan wajah gusar. Lily tersenyum mengejek pada Nessa, saat mata keduanya saling bersirobok. "Makasih ya, sudah bantu siapin kamar buat aku. Makasih aja kerja kerasnya," ucap Lily sambil tersenyum puas. Nessa tak menjawab, dan langsung meninggalkan kamar yang akan ditempati Lily dengan kaki dihentak-hentakan . Hari ini, Nessa merasa kalah telak karena Lily berhasil menjadikannya seperti seorang Babu. "Mas ... kamu ke sana dulu ya. Kayaknya Nessa marah. Kan, tadi aku bilang kamu malam aja baru kesini," usir Lily pada Rizal yang masih berdiri di dekat pintu. Rizal ingin protes, tapi daripada tidak mendapatkan apa-apa nanti malam, Rizal mengurungkan niatnya. Ia mengangguk kemudian menyusul Nessa ke kamar untuk membujuk istri mudanya tersebut. Sepeninggal Rizal dan Nessa, Lily duduk di tepi ranjang yang sudah bersih. Ia memijit-mijit dahinya, berpikir keras bagaimana caranya menolak Rizal nanti malam. Walaupun ia tahu itu dosa, tapi tetap saja Lily tak kuasa memaksa diri. Ia benar-benar sudah jijik dengan suaminya saat ini. **** Pukul 17.00 sore harinya, Nessa nampak bersiap-siap untuk jogging ringan. Ia meminta Rizal untuk menemani. "Kamu duluan aja, aku mau ngabisin kopi dulu. Mau jogging kemana sih?" tanya Rizal sambil meletakkan gelas kopinya yang masih bersisa separuh. "Di pinggir jalan aja, Mas. Enggak kemana-mana," jawab Nessa sok mesra, karena melihat Lily keluar rumah untuk mencari Abidzar dan Hussein, yang tengah bermain di luar. "Ya! nanti aku susul. Kamu duluan aja," jawab Rizal. "Aku lari pelan loh, sambil nungguin kamu Mas," Nessa seperti sengaja memanas-manasi Lily yang membawa masuk kedua anaknya. Lily menoleh sebentar, menatap Nessa yang berpenampilan konyol. Memakai celana training dan baju kaos oblong dengan lengan tiga perempat karena ingin menonjolkan perhiasan di tangannya. Begitu juga jilbab yang ia kenakan, kedua ujungnya diikat ke belakang leher, supaya nampak kalung besar yang menjuntai dan nampak sengaja dikeluarkan dari balik baju. Lily berjalan cepat menuju kamarnya yang baru, kemudian melepaskan tawanya di balik bantal. Ia sampai lupa niatnya tadi memanggil kedua anaknya masuk, untuk memberitahukan bahwa ia akan pindah kamar. Baru sekitar lima belas menit Lily di kamar, ia mendengar suara gaduh dari luar. Seperti suara seorang wanita yang sedang menangis. Lily bergegas menuju sumber keributan. Rupanya dari bagian teras. Ia melihat Bu Erna dan Rizal berusaha menenangkan Nessa,yang menangis sambi duduk. Sementara Arjuna berdiri sambil bersandar di tiang, dengan kedua telapak tangan terselip di kantong celana. Ekspresinya seperti anak kecil yang sedang menonton sebuah pertunjukan sirkus. Lily kali ini penasaran dan langsung mendekat. "Ya Tuhan ...." Lily bergumam sambil menutup mulut, melihat Nessa menangis tersedu-sedu, sambil memegang rantai dan sebuah gelang emas-emasannya yang sama-sama terputus. Di wajah Nessa juga terdapat memar dan ada beberapa luka gores. Di bagian lengannya yang tidak tertutup kain baju, terdapat goresan panjang seperti ... habis beradu dengan aspal. Dan satu lagi, emas-emasannya yang tadi melingkari pergelangan tangan Nessa bagian kiri raib. Apa yang terjadi dengan Nessa sesungguhnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD