Hampir sebulan sudah Nessa menjadi nyonya Rizal yang kedua. Selama itu juga Lily tidak pernah disibukkan dengan kegiatan memasak untuk suaminya yang luar biasa tersebut. Ia lebih banyak mengurung diri di kamar, sambil melakukan perawatan. Kapan lagi, ia memiliki waktu sesantai saat ini.
Setiap hari, Nessa dengan pongahnya memperlihatkan pada Lily, bagaimana mesranya dia dan Rizal berangkat kerja berdua, pulang berdua. Makan pun kerap hanya berdua. Nessa selalu berharap Lily merasa panas dan akhirnya keluar sendiri dari rumah tersebut.
Untuk sarapan pagi Rizal benar-benar sepenuhnya disiapkan oleh Nessa. Lily sendiri hanya memasak makanan untuknya dan anak-anak. Itu pun sangat jarang. Ia lebih sering membeli makanan saat mengantar dan menjemput anaknya sekolah. Untuk malam lebih sering memesan secara online. Cemohan dan nyinyiran dari Bu Erna yang mengatakan dirinya sok kebanyakan uang tak lagi digubrisnya. Menurut Lily, selama yang dia lakukan tidak mengurangi isi kulkas dan karung beras mereka di rumah, Lily tidak akan berubah.
Tanah yang sehektar pun sudah terjual. Sisa uang yang nanti akan dikelola oleh kakaknya, tersimpan dalam buku rekeningnya yang baru.
Sore itu, Lily berselancar di salah satu grup sosial media berwarna biru dengan logo huruf F yang banyak menawarkan jula beli maupun sewa properti. Lily sengaja mencari di daerah yang terbilang cukup jauh dari tempat tinggal mereka saat ini.
Lily tertarik pada tawaran sebuah ruko oleh salah seorang member grup. Lokasinya sesuai dengan yang ia inginkan. Berbeda kabupaten dari tempat yang sekarang, dan dilihat dari penawarannya posisi ruko tersebut cukup strategis. Tempat parkir nyaman, dekat dengan kantor-kantor pemerintahan dan banyak juga mes yang menampung karyawan perusahaan swasta yang berasal dari luar daerah di sekitarnya.
Tapi sepertinya, Lily harus memindahkan sekolah anaknya terlebih dahulu jika memang ia ingin menyewa ruko tersebut. Bila dilihat dari posisi dan lokasi yang tertera di gambar si penawar, usaha yang cocok untuknya adalah usaha di bidang kuliner.
Tangannya langsung membuka profil anggota yang menawarkan ruko di grup tersebut. Tapi tak ada foto apa-apa. Lily terus menscrool ke bawah penawaran. Ada nomor ponsel yang bisa dihubungi tertera. Lily menyimpan nomornya. Tak lama kontak WA-nya bertambah. Tapi tetap tidak ada foto profil juga. Sepertinya pemilik ruko tersebut benar-benar tidak suka privasinya terlihat oleh orang lain. Sama saja seperti Lily yang tak pernah memasang foto profil dirinya. Hanya gambar-gambar alam yang terlihat di kontaknya. Lily mengurungkan niatnya untuk menghubungi dengan cara menelpon. Mungkin lebih baik mencoba mengirim pesan saja
[Selamat siang, maaf saya mau nanya. Rukonya sudah ada calon penyewa belum, ya?] Lily mengirim dengan perasaan harap-harap cemas. Berkali-kali dia memindai layar ponsel, namun pesan tak kunjung dibalas, padahal sudah dibaca sejak tadi. Tak lama berselang, notif WA Lily berbunyi.
[Belum] jawaban singkat dari sana. Meski singkat, namun mampu mengukir senyum di wajah Lily. Harapannya bisa segera keluar dari rumah mulai dekat.
[Aku mau lihat-lihat dulu lokasi dan posisinya, boleh?] Balas Lily tak mau membuang-buang waktu, karena takut didahului oleh orang lain.
[Datang aja. Mau jam berapa? Nanti aku sharelock] kali ini Lily tidak terlalu lama untuk mendapat pesan balasan.
[Besok bisa? Antara jam 09.00 atau jam 10. 00. Takut macet di jalan. Posisiku agak jauh] Balas Lily agak detail.
[Boleh]
Balasan singkat dari pemilik ruko membuat Lily langsung menarik napas lega. Lily kemudian menyimpan ponselnya di atas meja hias sambil berdo'a semoga ia bisa mendapatkan ruko tersebut. Ia benar-benar berharap. Hatinya sudah mulai lelah untuk terus berpura-pura menerima. Ia tak sabar ingin melepaskan diri dari suaminya. Tapi sebelum ia mengurus perceraian, Lily harus menemukan tempat tinggal sekaligus usaha yang cocok untuknya bertahan hidup sambil memutar uang modal yang ia miliki.
Tok ... tok ... tok ....
Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk. Lily tersentak dari lamunan. Ia beranjak untuk membuka pintu kamar. Rizal berdiri tegak di depannya. Ia kemudian menerobos masuk dan menarik Lily duduk ke tepi ranjang.
"Ly ... aku kangen sama kamu," bisik Rizal mendekat. Rizal memanfaatkan kesempatan saat kedua anaknya bermain di luar. Kebetulan saat ini hari minggu.
Lily menepis tangan Rizal yang berusaha merengkuhnya, kemudian beringsut menjauh.
"Aku ini suamimu, Lily. Aku berhak melakukan apapun yang aku mau. Dan kamu, dosa kalau menolak permintaan suami! Mau kamu dilaknat malaikat?" tukas Rizal gusar karena Lily terus berusaha menjauh darinya.
"Jadi, apa maumu Mas? Kamu mau aku layani sekarang? Ayo!" tantang Lily yang mulai tersulut emosi dengan nada ketus sambil menyingkap bajunya ke atas, bersiap untuk membuka.
"Bu-bukan itu maksudku, ayolah Dek. Mumpung ini hari Minggu. Mendingan kamu bersihin kamar belakang yang kotor biar nanti malam kamu pindah ke sana? Kamu enggak kasian sama anak-anak, tidur sempit-sempitan di sini? lagian ... malam ini, aku pengen tidur sama kamu, Dek. Aku kangen," ucap Rizal merayu tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Lily menahan napas sebentar. Rasa gondok mulai menyerang hingga ke pangkal tenggorokan. Rasa jijiknya apalagi. Sudah merambat ke ubun-ubun mendengar ucapan Rizal yang tak pernah memikirkan tentang hati. Jika Rizal datang padanya hanya untuk memuaskan syahwat, Lily merasa Rizal memperlakukannya lebih rendah daripada wanita penjaja kesenangan dunia di luar sana. Mereka masih mendapat imbalan, sedangkan Lily? untuk makannya dan anak-anak saja selama ada Nessa total dari uangnya sendiri.
Tapi sepertinya, cukup susah bagi Lily untuk menolak Rizal terang-terangan. Rizal memang benar dan masih berhak atas dirinya. Tapi apapun alasannya, saat ini yang dirasakan Lily hanya satu. Jijik!
Lily memaksa otaknya untuk berpikir cepat bagaimana caranya menolak Rizal secara halus. Lily tiba-tiba tersenyum sambil bergeser untuk merapatkan tubuhnya pada Rizal yang sedang gusar. Dengan manja ia memegang lengan suaminya. Rizal sontak menoleh dan dalam wkatu singkat, rona bahagia menghiasi wajahnya. Hati Rizal begitu senang, karena Lily sudah mau bermanja-manja lagi padanya.
"Aku ... sebenarnya juga kangen kok, Mas sama kamu! Aku mau kok tidur sama kamu malam ini, asalkan kamarnya ada yang bersihkan," ucap Lily lembut sambil menyandarkan kepalanya di bahu Rizal. Senyum Rizal mengembang semakin lebar. Segala kemarahannya tadi seolah debu yang tersapu angin. Terbang dan menghilang tanpa bekas.
"Beneran, Dek? Oke kalau gitu segera aku bersihkan!" Dengan penuh semangat Rizal langsung berdiri, namun Lily menariknya agar duduk kembali di sampingnya.
"Katamu ... kamu kangen Mas, sama aku. Di sini aja temani aku hari ini. Soal bersihin kamar ... kamu kan bisa minta tolong sama Nessa dan Ibu?" ucap Lily sambil mengalungkan tangannya manja di leher Rizal.
Rizal yang mulai terbuai oleh sikap manja Lily pun langsung mengangguk setuju dan langsung melangkah keluar untuk mencari Nessa. Sekali lagi Lily menyunggingkan senyum kemenangan atas kebodohan w*************a dan lelaki penghianat pemuja syahwat tak bermodal yang baru saja keluar meninggalkannya.