Dengan kasar Rizal menarik Lily mundur, lalu maju kembali. Tangan kanannya meraup kerah baju Arjuna dan tangan kirinya terangkat dalam keadaan mengepal, siap untuk memberikan Arjuna sebuah bogem mentah.
Arjuna berdiri dan menangkap kepalan tangan Rizal dengan cepat. Kemudian menurunkannya dengan gerakan pelan.
"Santai, Zal! Bini tuamu ini salah tempat ngamuk tadinya. Mungkin dia mengira aku adalah kamu sampai-sampai kepala dan rambutku menjadi korban, dipentung pake sutil panas dan pedas, jangan takut! Aku cuma minta dia bertanggung jawab membersihkan kepalaku saja!" ucap Arjuna sambil mengibas-ngibaskan rambut gondrongnya yang masih meneteskan air.
"Awas kamu!" Kecam Rizal sembari melepas kerah baju Arjuna. Kali ini ia bisa mempercayai ucapan Arjuna karena melihat sutil dan sedikit sambal berceceran di lantai ketika melintas di dapur tadi. Perlahan emosi Rizal mulai menurun, dan ia mengalihkan pandangannya pada Lily.
"Ngapain lagi bengong di sini! Lanjutin masaknya. Biar aja dia urus sendiri rambutnya," sentak Rizal pada Lily yang masih berdiri dengan raut tegang.
Lily langsung meninggalkan mereka dan melanjutkan kegiatan memasaknya yang sempat terganggu. Rizal sendiri langsung kembali ke kamar bersama Nessa, sedangkan Arjuna melanjutkan kegiatan membersihkan rambut dan wajahnya yang belum tuntas karena kedatangan Rizal tadi.
****
Malam harinya, Lily menata makanan di meja makan. Beberapa mangkuk rawon sesuai jumlah anggota orang dewasa di rumah, ia siapkan. Abi dan Husen tidak ikut makan, karena Lily berjanji akan memesan makan kesukaan mereka setelah ia selesai menyiapkan makan malam anggota rumah.
Setelah semua dirasa siap, Lily langsung ke depan untuk memanggil orang-orang yang mungkin sudah lapar. Untuk memanggil Arjuna, ia meminta bantuan Abi. Lily enggan berurusan langsung jika berhubungan dengan Beruang Kutub tersebut.
Saat merka semua sudah berkumpul dan mengelilingi meja makan, Nessa meraih wadah nasi, dan menyendokknya ke mangkuk Rizal. Arjuna menatap kejadian di depannya dengan tatapan datar. Kemudian Arjuna melirik Lily seperti mengejek. Ah! Lagi-lagi Lily sebal melihat ekor mata kakak iparnya tersebut. Semenjak Rizal menikah lagi, Lily merasa Arjuna jadi lebih sering seperti mengolok-olok dirinya.
"Puuh! Puh! Apa-apaan lamu Ly. Kamu minat masak atau engak sih. Makanan rasanya garam melulu! Asin tau!"
Tiba-tiba Rizal yang paling duluan menyuap makanan, mengeluarkan kembali isi mulutnya ke dalam mangkuk.Melihat tingkah Rizal, Bu Erna dan Nessa langsung ikut mencicipi kuah rawon dengan ujung sendok, kemudian melakukan hal yang sama.
"Dasar enggak becus. Makanan kok asin begini. Bikin kuah rawon kok kaya bikin air minum buat kambing sih, Ly! Mending makan telur dadar aja aku daripada ini!" Bu Erna mendorong mangkuk rawonnya menjauh dengan wajah cemberut.
"Ibu sama Mas, mau telur dadar? Sebentar ya, kubuatkan?" ucap Nessa ceria dan langsung berjalan menuju kulkas tanpa menunggu jawaban atas pertanyaanya. Ia langsung membuat telur dadar seperti keinginan Bu Erna dan Rizal.
Arjuna ikut mencicipi kuah Rawon di depannya, lalu berdiri dan meraih termos air panas. Ia menuang sedikit ke dalam mangkuk. Kemudian ia menambahkan nasi, dan melahap semua isi mangkuk.
Saat Arjuna sudah hampir selesai makan, telur dadar buatan Nessa pun jadi. Bu Erna dan Rizal langsung menyerbu.
"Enak Mas?" tanya Nessa.
"Enak dong, besok-besok aku mau, kamu aja yang masakin aku, ya. Dia enggak becus, " pinta Rizal bangga pada Nessa.
Nessa mengangguk dan tersenyum senang karena merasa lebih dibutuhkan daripada Lily.
Lily bersorak dalam hati melihat anggukan Nessa. Memang itu yang ia inginkan. Sengaja ia memberi garam banyak-banyak pada masakannya, supaya mereka tidak menyuruhnya memasak lagi dan lagi. Masa iya dia harus jadi babu buat istri muda suaminya?
Hanya sikap Arjuna yang membuat Lily heran, karena dia bisa makan dengan lahap. setahu Lily, meskipun ditambah air, rawonnya memang tidak enak karena bumbunya tidak lengkap dan hanya sedikit. Sepertinya pagi ini Arjuna benar-benar kelaparan.
"Yang ini juga enak kok! Tinggal ditambahin air panas sedikit aja," celetuk Arjuna sambil menyudahi makannya.
Saat mendengar ucapan Arjuna, seketika Lily ingin tersenyum, namun tetap berusaha ditahan. Tak bisa dipungkiri, Lily merasa sedikit tersanjung karena mendapat sedikit pembelaan . Lagi-lagi kekesalannya pada Arjuna tadi sore menguap begitu saja karena mendadak Arjuna jadi pembela tunggal untuk dirinya malam ini .
Lily beranjak meninggalkan meja makan, bersiap memesan makanan online untuk ia dan anak-anaknya. Lily tak menyadari saat ia menjauh, Rizal menatap Arjuna dengan sorot tajam, sementara Arjuna tak mau kalah. Ia membalas tatapan adiknya dengan sorot mata dingin, lebih dingin daripada biasanya.
Bu Erna menyadari bahwa sedang terjadi perang dingin antara Rizal dan Arjuna. Ia memperlambat tempo makannya, karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan di ruang makan tersebut.
"Ngapain kamu cari muka sama istriku?" Tukas Rizal tak suka. Arjuna meraih tissue dan menyapu sudut bibirnya.
"Maksudmu?" tanya Arjuna sambip mengernyitkan dahi.
"Janga sok polos. Aku merasa kamu beberapa hari ini sering mencari perhatian Lily. Kenapa? Mau menghibur? Atau Mau mengambil kesempatan di dalam kesempitan?" sindir Rizal membuat Bu Erna dan Nessa sama-sama melotot menatap Rizal.
"Zal!" tegur Bu Erna.
"Biarin Bu! Sepertinya dia dari dulu enggak kawin-kawin karena naksir sama Lily. Makanya tadi dia sok baik dan membela," tuduh Rizal keji.
"Pikiranmu terlalu jauh Zal. Fitnah jatuhnya. Sayang aja, makanan kok dibuang-buang. Padahal kalau cuma asin, tinggal tambahi air. Mubazir! Masih ada orang di luar sana yang mengais tong sampah hanya untuk mencari sisa makanan!" tukas Arjuna seraya berdiri dan meninggalkan meja makan.
Rizal yang geram ikut berdiri dan berniat menyusul Arjuna, namun ditahan oleh Nessa.
"Udahlah Mas. Ngapain sih kalian ngeributin hal yang enggak penting sama sekali? Mending telurnya dihabisin," rayu Nessa sambil mendudukkan Rizal kembali.
"Iya. Betul itu. Kamu enggak usah terlalu sibuk mengurus istri tuamu yang enggak berguna itu Zal. Fokus aja ke Nessa," timpal Bu Erna sambil mengangguk-angguk pertanda setuju pada ucapan Nessa. Rizal yang masih dikuasai emosi tak berucap sepatah kata pun.
"Mulai selarang, anggap saja Lily tidak ada di rumah ini. Toh semua kebutuhanmu akan diurus sepenuhnya oleh Nessa 'kan?" ucap Bu Erna sambil mengedipkan mata pada menantu barunya.
Nessa tersenyum penuh arti. Tanpa tahu malu ia melingkarkan tangan di pundak suaminya di depan Bu Erna.
"Iya Mas. Mulai sekarang, jangan perdulikan Lily. Semua kebutuhanmu mulai dari bangun pagi sampai mau tidur itu urusanku," ucap Nessa lembut.
Mendengar ucapan Nessa, perlahan emosi Rizal mulai menurun. Ia sudah mampu menyunggingkan senyum meskipun sedikit. Bu Erna pun tersenyum lega dan meninggalkan mereka berdua. Nessa dengan setia menemani Rizal menghabiskan makananannya yang agak lambat karena harus terjeda saat bersitegang dengan Arjuna tadi.
Nessa merasa begitu bangga, karena mampu mengalahkan masakan Lily di depan keluarga suaminya. Nessa berjanji akan selalu menyajikan makanan dan masakan yang nyaman setiap hari. Ia akan memperlihatkan kepada Lily bahwa Rizal tidak salah memilihnya sebagai istri.