Penjelasan dan Alasan Lily

1010 Words
Lily tersenyum saat sampai di gerbang sekolah. Kedua jagoannya ternyata sudah menunggu. Lily membawa kedua anaknya istirahat sebentar di warung yang menjual menu ' Soto Banjar' kesukaan kedua anaknya. "Abi ... Husen, makan di sini aja dulu ya. Di rumah enggak ada makanan." Kedua anaknya mengangguk senang. Setelah memesan dua mangkuk soto Banjar, tiga gelas es teh manis, Abi dan Husen duduk menunggu di samping kiri dan kanan Lily. "Nanti, di rumah ... ada tante baru datang. Dia teman papa. Jadi jangan banyak tanya. Selama ada tante di rumah, dia yang lebih banyak bersama papa. Makanya, mama tidur sama anak mama aja. Abi sama Husen senang enggak, tidur ditemani sama mama?" Lily merengkuh kedua anaknya sambil bertanya. "Abi senang banget, Ma. Kan sudah lama mama enggak tidur sama kami," sahut Abi yang baru duduk di kelas empat sekolah dasar dengan wajah polos, sambil mendongak menatap ibunya. "Kalau Husen, gimana? Suka enggak mama temanin tidur?" Lily mengalihkan pandangan pada Hussein, yang masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Hussein mendongak sebentar, lalu menjawab," suka dong, Ma! Kan mama suka bacain cerita sebelum tidur." Lily mencium pucuk kepala kedua putranya bergantian. Ada rasa perih yang melintas di relung hatinya, mendengar jawaban polos dari mulut anak-anaknya yang belum mengerti apa-apa. "Tante baru, namanya siapa ya, Ma?" Hussen bertanya sambil mendongak menatap wajah ibunya. "Namanya ... Tante Nessa. Abi dan Husen, tetap enggak boleh nakal, enggak boleh marah-marah, dan enggak boleh jahil sama Tante Nessa ya, sayang! Jangan suka bertanya macam-macam juga sama Tante. Tantenya, enggak suka sama anak lecil, apalagi kalau banyak omong," ucap Lily dengan suara parau. Kedua anaknya sama-sama mengangguk. Abi dan Husen memang termasuk penurut. Tak berapa lama, dua mangkok soto sudah mengepul di depan mereka. Lily meraih segelas es teh dan langsung menyedot isinya. Abi dan Husen bergantian menumpahkan kecap dan perasan jeruk nipis ke dalam mangkuk makanan mereka. Lily mewanti-wanti Abi dan Hussen dengan mengarang alasan terlebih dahulu. Lily takut kedua putranya banyak bertanya dan mendapat jawaban yang mengada-ngada dari Nessa. Selain itu, Lily tidak ingin mengajarkan keburukan pada kedua anaknya yang masih kecil. Hormat kepada siapapun yang lebih tua, tetap harus ditanamkan. Ia tidak ingin masalah mereka sebagai orang tua, merusak adab dan moral anak-anaknya terhadap orang yang lebih tua. Setelah isi dua mangkuk soto sudah berpindah ke perut Abi dan Husen, mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju rumah. Di depan pintu, Rizal sudah berdiri sambil bersidekap menanti kedatangan mereka. Nessa sendiri tak mau ketinggalan berdiri di belakangnya. Abidzar dan Hussein bergegas mendekat. Setelah mencium tangan papanya, mereka menyodorkan tangan pada Nessa tanpa bicara sepatah kata pun. Nessa menyambut uluran tangan kedua anak kecil tersebut dengan kikuk. Entah apa yang ia bayangkan sebelumnya, kenapa saat Abi dan Hussein mengulurkan tangan ia terlihat begitu canggung. Rizal pun hanya diam. Sebelumnya ia menduga, kedua putranya akan bertanya macam-macam tentang Nessa. Padahal, ia sudah menyiapkan bermacam jawaban. Akhirnya ia melangkah masuk kembali sambil memendam rasa heran. **** Sore hari, seperti yang ia sanggupi sebelumnya, Lily memasak untuk makan malam seluruh anggota keluarga. "Masak rawon, ya Ly. Sisa daging masih ada di dalam kulkas. Masak yang enak!" titah Bu Erna setelah memastikan lily sudah berada di dapur. "He-em." Lily hanya mengiyakan dengan deheman. Cepat ia membuka kulkas dan mengeluarkan daging yang agak beku. Sambil menunggu daging mencair, Lily membuat bumbu masakan yang diminta oleh ibu mertuanya. Saat sedang memasak, ia mendengar suara mobil Arjuna. Rupanya kakak iparnya yang dingin itu sudah pulang. Lily acuh, sambil terus meracik bumbu. Selesai memblender bumbu, lily membelender lombok dan tomat juga bawang, kemudian menggorengnya. "Haaaciiim ... haacim ... haacim ...." "Uhuuk ... uhuuk ...." "Masak Racun, Ly! Ha ... haaacim! Mau ngeracunin Nessa ya? Haaciiim ...." Arjuna yang baru datang dalam keadaan sangat haus, menggosok-gosok hidungnya yang memerah karena berkali-kali bersin sedari depan pintu. Aroma pedas dari sambal yang digoreng Lily, seperti menebus dari lubang hidung menuju lubang telinganya. Nyengit! Lily menoleh sebentar, kemudian meneruskan pekerjaannya tanpa menjawab ocehan Arjuna. "Sudah kubilang, minggat lebih baik. Masih aja. Mau-maunya," celetuk Arjuna sambil menuang air dari teko ke dalam gelas dan langsung meminum habis segelas air mineral. Tuuk! Lily yang merasa sebal pada mertua, suami, dan madunya, mementung kepala Arjuna dengan sutil bekas membolak-balikkan sambal di wajan. Entah mengapa ia malah melampiaskan kekesalannya pada Arjuna, yang baru berbicara beberapa kata hari ini. "Aww ... Astaga! Pedas Ly!" Arjuna memegang kepalanya, dan tak sengaja tangannya langsung mengucek hidung dan mata. Lily pun terkejut, karena gerakan tangannya refleks. Lily jadi bingung dan panik. Ia benar-benar lupa, sutil yang ia pakai bekas menggoreng lombok. Lily segera mematikan api kompor dan menarik Arjuna ke kamar mandi. Ia mendudukkan Arjuna yang tak berhenti meringis dengan mata terpejam seperti anak kecil. Bukan mengada-ngada. Mata Arjuna memang keperihan. "Sampoan!" perintah Lily. "Sampoin!" jawab Arjuna dengan suara kesal. "Apasih? Pake sendiri!" "Enak aja. Aku enggak mau tanganku kepedasan! Pokoknya aku enggak mau tahu. Rambutku harus bersih. Tanganku juga enggak mau kepedasan. Ini karena perbuatanmu! Tanggung jawab, atau rambutmu kuolesin sambel balik! " ucap Arjuna memaksa dengan suara nyaring. Lily menarik napas jengkel. Tapi mau gimana lagi. Memang dia yang salah. Mau tak mau, dia harus mencuci rambut gondrong Arjuna. Sambil mengembus nafas kesal, Lily menarik rambut Arjuna hingga kepalanya mendongak. Paak! Tangan Arjuna memukul ringan tangan Lily, yang mencengkram rambutnya. "Aku manusia, bukan kambing yang lepas dari kandangnya. Enggak usak ditarik kencang-kencang. Sakit tau!" Arjuna meringis. Lily mengendorkan cengkramannya. Ia menuang segayung air, kemudian shampo. Cepat-cepat dia meremas bagian rambut Arjuna yang terkena sambal. Setelah rambut beres, barulah tanagn Lily beralih ke wajah Arjuna. "Makanya! Kalau enggak kuat, enggak usah sok kuat. Pergi jauh-jauh, daripada orang kena imbasnya! Mau-maunya dijadi'in Babu!" rutuk Arjuna beberapa saat sambil mengerjap-ngerjapkan mata, membuat Lily geram lagi. Ia mengacak dan menarik rambut Arjuna kuat-kuat. Lalu menyiram air segayung penuh tiga kali berturut-turut, membuat mata Arjuna kembali terpejam dengan mulut mangap-mangap. "Apa-apaan ini! Jadi begini kelakuanmu sama Arjuna kalau berdua di rumah, Hah!" Tiba-tiba lengan Lily dicengkram oleh seseorang dari belakang. Lily sontak melepas rambut Arjuna dan menoleh. Di belakangnya Rizal sudah berdiri sambil berkacak pinggang dengan mata memerah menahan amarah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD