"Ayo, makan dulu, Zal! Ajak Nessa," ucap Bu Erna melihat Rizal keluar dari kamar anak-anaknya dengan wajah masam.
Rizal mengangguk saja. Hatinya masih tidak bisa menerima, Lily malah memilih pindah tidur ke kamar kedua anaknya, daripada membersihkan kamar yang lama tak terpakai untuk Nessa.
"Bagaimana ini? Bagaimana kalau aku menginginkan dia?" Rizal bertanya pada dirinya sendiri dalam hati. Hayalannya saat masih berada di rumah Nessa, ternyata sangat jauh dari kenyataan yang ia hadapi saat ini. Tidak mungkin dia meminta haknya sebagai suami pada Lily, apabila ia tidur dengan Abidzar dan Hussein.
Semula Rizal membayangkan bisa keluar masuk kamar kedua istrinya bergantian, sesuka hati kapan saja ia mau. Dalam bayangannya, hidup seatap dengan dua istri akan memberinya kesenangan yang berlipat. Semula Rizal sudah berhayal, jika Nessa merajuk, ia akan pindah ke kamar Lily dan sebaliknya. Ah! Ternyata susah membuat hayalan jadi kenyataan. Rizal menikahi Nessa bukan untuk membuat Lily menjauh. Ia menginginkan kedua-duanya bisa direngkuh. Jiwa serakah Rizal mulai meronta. Akhirnya Rizal melangkah dengan gusar menuju ke kamarnya untuk mengajak Nessa makan.
"Nes, ayo makan dulu," ajak Rizal pada Nessa yang sedang duduk diam di tepi ranjang.
Nessa malah cemberut.
"Kok malah cemberut?"
"Lily, tuh. Menghina aku. Ngata-ngatain aku dapat suami dan kamar bekasnya," jawab Nessa dengan wajah tetap cemberut.
Rizal menarik napas panjang. Jika benar yang dikatakan Nessa, berarti Lily benar-benar ingin menabuh genderang perang. Ia harus meredam itu dan mengajak Lily bicara. Tapi ... untuk hari ini nampaknya Lily belum mau bicara dengannya lagi.
Besok dia sudah bekerja. Pulang sore kadang malam. Bagaimana dia merayu Lily jika ia terus mengurung diri di dalam kamar bersama anak-anak?
"Ya udah ... enggak usah digubris dulu. Itu karena dia cemburu dan sakit hati sama kamu, kita makan dulu, yuk!" ucap Rizal lembut untuk meredam kemarahan Nessa.
Nessa mengangguk, kemudian mengikuti langkah Rizal keluar kamar. Dalam bayangan Nessa, kali ini mereka bertiga akan makan bersama untuk pertama kalinya. Tapi, tak nampak kehadiran Lily begitu mereka sudah tiba di ruang makan.
"Lily mana?" tanya Rizal sambil menengok ke kanan dan kiri mereka.
"Dia mah, pesan makanan online. Gak level kali makan di rumah. Sok kaya istrimu itu sekarang Zal. Sok kebanyakan duit! Kerja juga enggak," cibir Bu Erna sambil menyodorkan piring makan pada Nessa dan Rizal.
"Oh," jawab Rizal singkat karena tak tahu harus membela Lily, atau mendukung cibiran ibunya. Rizal pun tidak ingin bertanya apa-apa lagi. Mereka langsung makan tanpa bicara. Saat mereka selesai makan, Lily keluar untuk mengisi botol air minum.
"Ly, kalau kamu juga sudah selesai makan, bantu aku cuci piring ya, aku capek nih, masak sendiri dari pagi," pinta Bu Erna.
Lily menoleh sebentar. Kemudian kembali mengisi botol air minumnya.
"Maaf Bu, aku juga lagi enggak enak badan. Lagian aku enggak ikut makan di sini, kenapa aku yang harus ikut mencuci?" tolak Lily pelan sambil melontarkan pertanyaan yang membuat wajah Bu Erna berang seketika.
"Enggak berguna emang kamu jadi menantu!" ucap Bu Erna tanpa perasaan.
"Menantu ibu kan, sekarang bukan cuma aku! Gunakan saja mana yang lebih berguna menurut Ibu, dia yang makan, dia yang bantu," jawab Lily membuat Rizal langsung berdiri.
"Lily! Sejak kapan kamu jadi berani melawan dan membangkang! Dia itu ibuku, ibu mertuamu!" sentak Rizal dengan mata melotot pada Lily.
"Sejak sadar bahwa selama ini aku hanya seekor keledai!" jawab Lily dengan suara serak, sambil berbalik membawa botol minumnya yang telah terisi penuh, meninggalkan Rizal yang mengepalkan tangan karena kesal. Hari ini pertama kalinya selama menjadi istri, Lily berani melawan.
Sementara Bu Erna tak mampu menjawab lagi mendengar ucapan Lily tentang keledai. Kerongkongannya mendadak tercekat. Ada rasa tak nyaman mendengar ucapan Lily. Bu Erna merasa, Lily sudah lancang menguping pembicaraannya dengan Rizal waktu itu.
Mendengar ucapan Lily, Rizal berniat meninggalkan meja makan untuk mengejar Lily. Namun, tangan Nessa bergerak lebih cepat menarik Rizal agar duduk kembali.
"Mau kemana Mas, duduk di sini aja dulu," tahannya. Rizal terdiam. Semula ia berniat ingin menasehati Lily karena dinilai tidak sopan.
"Udahlah, Mas. Biarkan saja dia," ucap Nessa.
"Benar tu Zal, enggak usah terlalu kamu urusin istrimu yang pemalas dan enggak berguna itu," Bu Erna menimpali ucapan Nessa. Nessa sangat senang merasa dapat dukungan dari ibu mertuanya. Nessa berpikir, supaya terus mendapat dukungan dari ibu mertua, ia harus lebih baik dari Lily. Harus lebih baik dalam segala hal. Apabila ibu mertua dan suaminya seratus persen berpihak padanya, maka bukan hal susah untuk mendepak Lily selama-lamanya dari rumah tersebut.
Bu Erna mengumpulkan piring-piring kotor bekas mereka makan. Dengan cepat Nessa berdiri dan menahan tangan ibu mertuanya.
"Biar Nessa Bu. Ibu istirahat saja, kasian ibu sudah capek dari pagi," cegah Nessa.
"Ah, masa kamu baru sehari di sini, langsung di suruh cuci piring, Nes," jawab Bu Erna seolah sungkan. Lekas ia mengumpulkan piring kotor menjadi satu.
"Enggak apa-apa, Bu. Memang sudah kewajibannya seorang istri loh, Bu," Nessa menggeleng sambil tersenyum. Ia merebut kembali piring kotor di tangan mertuanya.
"Ya sudah. Ibu senang sekali. Rizal memang enggak salah menikah denganmu," ucap Bu Erna memuji Nessa. Rizal dan Nessa saling melempar senyum.
Pada saat Nessa mencuci piring, Lily melintas untuk membuang sampah bekas makanannya ke belakang.
"Tuh, Ly. Contohin si Nessa. Enggak perlu di perintah-perintah, tahu bagaimana kewajiban istri dan apa yang harusnya di kerjakan," Bu Erna masih menyempatkan diri untuk mengomeli Lily.
Lily hanya menoleh sebentar, dan kembali melangkah dengan sikap acuh
"Lily!" sentak Rizal dengan suara nyaring begitu melihat Lily tidak menggubris ucapan ibunya.
Lily menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Ia membuka telinga lebar-lebar untuk menampung apa yang akan Rizal katakan selanjutnya.
"Nanti untuk makan malam, kamu masak! Jangan mau enak-enakan aja!" perintah Rizal dengan suara ditekan.
"Enggak usah pakai urat, Mas. Aku dengar," jawab Lily dengan nada datar.
"Awas kalau masih malas-malasan sampai sore," ancam Rizal dengan nada suara yang agak rendah dari sebelumnya.
"Baik, Mas! Urusan makan malam, serahkan semuanya sama aku. Nanti aku yang masak," jawab Lily tak ingin memperpanjang perdebatan karena sebentar lagi saatnya ia menjemput anak-anak pulang sekolah. Dia bergegas menuju kamar untuk mencari kontak sepeda motor lalu berjalan menuju garasi.
Lily bergegas menstarter sepeda motor miliknya, untuk menjemput Abidzar dan Hussein. Sepanjang jalan otaknya tak bisa berhenti berpikir soal masakan nanti sore. Bukan memikirkan soal menunya, melainkan berpikir soal rencana mengacaukan masakannya sendiri.