Bab 1 Puing-puing Kehidupan

1217 Words
Kobob duduk di kursi kerajaannya yang besar dan mewah di ruang kerja tertinggi gedung Gabah Group. Di tangannya, ia memegang sebuah bingkai foto berisi wajah gadis remaja yang tersenyum manis dan polos. Air matanya jatuh menetes membasahi kaca pelindung foto itu. Gadis itu adalah putri satu-satunya, buah hatinya, satu-satunya alasan ia bekerja keras dan membangun kerajaan bisnisnya selama bertahun-tahun. Namun, gadis malang itu sudah tiada. Ia meninggal bukan karena sakit parah atau kecelakaan tragis, melainkan karena kejahatan biadab yang dilakukan oleh sekelompok remaja di sekolahnya. Perundungan yang dilakukan secara terus-menerus, terencana, dan sangat ekstrem telah merenggut nyawa anaknya. Yang lebih menyakitkan lagi, hukum seolah tidak berdaya. Karena para pelaku masih di bawah umur dan didukung oleh orang tua yang kaya serta berkuasa, mereka hanya mendapatkan hukuman yang sangat ringan. Mereka dihukum beberapa bulan di pusat penahanan remaja, dan sekarang mereka sudah bebas kembali, berjalan dengan santai, tertawa riang, seolah tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. "Apakah karena mereka anak orang kaya dan berpengaruh, maka nyawa anakku tidak berharga?" gerutu Kobob dengan suara gemetar, matanya memancarkan api kebencian yang membara hebat. "Jika hukum dunia ini tidak bisa menghukum mereka dengan pantas... maka aku yang akan melakukannya. Aku akan membuat mereka membayar mahal. Aku akan membuat mereka menyesal telah dilahirkan ke dunia ini." Kobob adalah orang yang memiliki segalanya — uang, kekuasaan, koneksi. Tapi ia sadar, ia tidak bisa bertindak sembarangan. Namanya terlalu besar dan terkenal. Jika ia bertindak sendiri, seluruh dunia akan tahu dan ia bisa hancur juga. Ia butuh seseorang. Seseorang yang bisa melakukan pekerjaan kotor itu tanpa meninggalkan jejak, seseorang yang cerdas, kejam, dan tidak memiliki belas kasihan sama sekali. Ia mengerahkan seluruh jaringan gelapnya, mencari informasi tentang orang-orang atau makhluk yang bisa dijadikan alat balas dendamnya. Hingga suatu hari, sekretarisnya, Diana, masuk ke ruangan dengan wajah pucat dan tangan gemetar memegang selembar dokumen rahasia. "Tuan Kobob... aku menemukan sesuatu," kata Diana dengan suara berbisik. "Ini informasi yang sangat berbahaya. Tapi aku yakin, inilah yang Anda cari selama ini." Kobob segera membaca isi dokumen itu. Matanya semakin terbelalak seiring ia membaca kata demi kata. Dokumen itu berisi tentang sebuah proyek penelitian gelap yang dilakukan bertahun-tahun lalu — proyek untuk menciptakan senjata manusia sempurna menggunakan berbagai jenis obat-obatan terlarang dan eksperimen psikologis. Tujuannya adalah menciptakan manusia yang memiliki kekuatan fisik luar biasa, kecerdasan tinggi, namun tanpa rasa takut, tanpa rasa sakit, dan tanpa hati nurani. Dari sekian banyak subjek percobaan, hanya satu yang berhasil sempurna. Namanya adalah alice. Menurut laporan itu, Alice telah membantai seluruh peneliti dan penjaga di fasilitas itu saat ia meledakkan amarahnya. Ia melarikan diri dan hidup bebas di masyarakat hingga akhirnya tertangkap karena terlibat kasus pembunuhan mengerikan lainnya. Namun, karena identitasnya tidak tercatat dalam dokumen resmi mana pun dan asal-usulnya tidak diketahui, ia hanya dianggap sebagai remaja bermasalah dan dimasukkan ke pusat penahanan. "Alice..." bisik Kobob saat melihat foto gadis itu. Matanya terbelalak tak percaya. Wajah gadis itu sangat mirip dengan mendiang putrinya! Wajah cantik, kulit putih, mata besar, dan rambut hitam panjang. Jika dilihat sekilas, orang akan mengira itu adalah anaknya yang masih hidup. Namun, ada perbedaan yang sangat mencolok di matanya. Jika mata anaknya penuh dengan kelembutan dan cahaya, mata gadis ini terlihat kosong, gelap, dan mengerikan — persis seperti mata binatang buas yang sedang mengintai mangsanya. "Ini dia..." gumam Kobob dengan senyum mengerikan yang perlahan mekar di wajahnya. "Inilah alat yang paling sempurna. Wajahnya persis seperti anakku, tapi jiwanya jauh lebih mengerikan dari iblis mana pun. Mereka tidak akan curiga sedikit pun. Mereka akan mengira malaikat datang menjenguk, padahal sebenarnya malaikat maut yang datang menjemput nyawa mereka." Segera, menggunakan kekuasaannya, Kobob mengurus segala sesuatunya. Dengan uang yang melimpah dan ancaman yang menekan, ia berhasil memanipulasi jalannya hukum. Ia mendaftarkan diri sebagai wali sah dan mengadopsi Alice secara resmi. Bagi dunia luar, ini hanyalah kisah seorang ayah yang berduka ingin mengisi kekosongan hatinya dengan mengadopsi anak yatim piatu. Padahal, Kobob baru saja membuka gerbang neraka dan melepaskan iblis yang paling mengerikan ke dunia nyata. Suatu sore yang suram dan berangin, Alice tiba di kediaman mewah milik Kobob. Pintu besar itu terbuka lebar, dan Alice melangkah masuk dengan langkah santai, seolah ia sedang berjalan-jalan di taman biasa, bukan baru saja dibebaskan dari penjara dan dibawa ke rumah orang asing. Ia mengenakan pakaian sederhana, rambutnya terurai indah, dan wajahnya terlihat polos serta manis. Tidak ada satu pun orang yang menyangka bahwa gadis cantik di depan itu pernah membunuh puluhan orang dengan tangannya sendiri tanpa sedikit pun rasa bersalah. Kobob berdiri menunggunya di ruang tamu yang luas. Ia menatap Alice lekat-lekat, membandingkannya dengan ingatan tentang putrinya. "Selamat datang di rumah barumu, Alice," sapa Kobob dengan suara berat dan tenang. "Mulai hari ini, aku adalah ayahmu. Dan di sini, kau bebas melakukan apa saja yang kau suka, asalkan kau mau melakukan satu permintaanku." Alice menatap Kobob dengan matanya yang dingin dan tajam. Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Aku tahu kenapa kau membebaskanku, Tuan Kobob," kata Alice dengan suara lembut namun menusuk. "Kau tidak mengadopsiku karena kasihan atau sayang. Kau membutuhkanku untuk membunuh orang-orang, kan? Atau setidaknya, membuat mereka sangat menderita sampai mati." Kobob sedikit terkejut melihat ketajaman pikiran gadis itu, tapi ia segera tersenyum lebar. "Kau cerdas sekali, Alice. Aku suka itu," jawab Kobob terus terang. "Benar sekali. Ada sekelompok orang yang telah melakukan hal yang sangat jahat padaku. Mereka membunuh putriku. Mereka menyiksanya, menghinanya, dan akhirnya membuatnya mati dalam penderitaan yang mengerikan. Tapi karena mereka anak-anak kaya dan berkuasa, hukum tidak bisa menyentuh mereka. Mereka hidup bahagia dan bebas sekarang, seolah tidak pernah bersalah. Aku ingin kau menghukum mereka. Aku ingin kau membuat mereka merasakan rasa sakit, ketakutan, dan keputusasaan yang seribu kali lebih berat dari apa yang pernah mereka lakukan pada anakku." Alice mendengarkan dengan tenang, namun perlahan-lahan, senyum di wajahnya semakin melebar dan semakin cerah. Matanya yang tadinya kosong kini mulai berbinar-binar penuh kegembiraan dan antusiasme yang mengerikan. "Jadi tugasnya hanya itu saja?" kata Alice dengan nada manja dan santai, seolah diminta membelikan permen saja. "Wah... kedengarannya sangat menyenangkan sekali, Ayah. Jangan khawatir... aku sangat pandai dalam hal menyakiti orang dan membuat mereka menangis memohon belas kasihan. Aku tidak akan membunuh mereka dengan cepat. Itu terlalu membosankan. Aku akan bermain dengan mereka dulu, perlahan-lahan. Aku akan menghancurkan pikiran mereka, merusak mental mereka, dan membuat mereka gila karena ketakutan sebelum akhirnya aku mengakhiri hidup mereka dengan cara yang paling menyakitkan." Kobob merasa sedikit merinding mendengar penuturan itu, tapi rasa puasnya jauh lebih besar. Ia tahu ia telah memilih orang yang tepat. "Bagus sekali," kata Kobob puas. "Kelompok itu beranggotakan lima orang. Pemimpinnya bernama Eca, lalu ada Tati, Ilfa, Nuvi, dan Indah. Mereka bersekolah di SMA Permata Bangsa. Aku sudah mendaftarkanmu ke sana. Kau akan masuk ke kelas yang sama dengan mereka. Dekati mereka, jadilah teman baik mereka, lalu hancurkan mereka perlahan-lahan. Gunakan kecerdasan dan wajah cantikmu itu sebaik-baiknya. Buat mereka lengah, buat mereka percaya padamu, sebelum kau mencabik-cabik nyawa mereka." Alice tertawa kecil, suaranya terdengar renyah namun membuat bulu kuduk berdiri. "Tenang saja, Ayah. Aku pandai sekali berpura-pura. Aku bisa menjadi gadis yang paling manis, paling lembut, dan paling tidak berbahaya di dunia ini di depan mereka. Dan saat mereka merasa paling aman dan bahagia... barulah aku akan membalikkan papan permainan ini dan menunjukkan wajah asliku. Ini akan menjadi permainan paling seru yang pernah aku mainkan seumur hidupku." bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD