Bab 2 Masuk ke sarang ular

1051 Words
Keesokan harinya, Alice resmi masuk ke SMA Permata Bangsa. Dengan wajah cantik, sikap sopan, dan penampilan yang memikat, Alice langsung menjadi pusat perhatian seluruh sekolah. Semua orang menyambutnya dengan antusias, terutama karena ia dikenal sebagai putri angkat dari Wakil Ketua Gabah Group — orang terkaya dan paling berkuasa di negeri itu. Di dalam kelas, Alice melihat mereka. Lima sosok yang menjadi sasaran utamanya: Eca, Tati, Ilfa, Nuvi, dan Indah. Mereka duduk di bangku paling belakang dengan sikap angkuh dan sombong. Siswa lain menghindari mereka karena takut, dan guru-guru pun segan menegur mereka karena kekuasaan orang tua mereka. Eca, sang pemimpin, adalah gadis cantik yang berpakaian mewah dan selalu memandang orang lain dengan tatapan meremehkan. Di sampingnya, Tati duduk dengan wajah garang dan siap menyerang siapa saja yang menatap mereka salah. Ilfa tersenyum licik sambil berbisik-bisik, Nuvi duduk santai dengan tangan di belakang kepala, dan Indah sibuk memotret apa saja menggunakan ponselnya. Saat melihat Alice masuk, mata mereka langsung berbinar. Terutama saat mendengar bahwa Alice adalah anak orang kaya dan tampak lemah serta polos. Bagi mereka, Alice adalah mangsa sempurna yang baru datang ke kandang mereka. "Lihat tuh, teman baru kita," bisik Eca dengan senyum licik. "Cantik ya... dan kaya lagi. Sepertinya dia bisa menjadi mainan yang menyenangkan buat kita." "Benar tuh," sambung Tati dengan nada kasar. "Tampaknya lemah dan penurut sekali. Kita akan membuatnya menunduk dan takut pada kita dalam waktu singkat." Namun, ada satu orang yang menatap Alice dengan tatapan cemas dan waspada dari sudut ruangan. Itu adalah Agnes. Agnes tahu segalanya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana putri Kobob disiksa hingga mati oleh kelompok itu. Ia juga menjadi sasaran sesekali jika tidak ada korban lain. Saat melihat Alice, hati Agnes berdebar kencang karena firasat buruk yang aneh. Wajah gadis baru itu mirip dengan wajah korban mereka yang dulu, tapi tatapan matanya... tatapan itu tidak seperti orang yang takut. Tatapan itu seolah melihat serigala sedang melihat kawanan domba. Alice menyadari tatapan kelima gadis itu. Di dalam hatinya, ia tertawa geli dan penuh kegembiraan. “Jadi kalianlah sampah-sampah kecil yang sudah membuat Ayahku sedih dan marah ya?” batinnya sambil tersenyum manis ke arah mereka. “Kalian terlihat sangat sombong dan berani sekali sekarang. Tapi tunggu saja... sebentar lagi aku akan membuat kalian merangkak di kakiku, menangis, dan memohon mati. Aku akan mengubah hidup kalian menjadi neraka yang nyata.” Alice segera berjalan mendekati mereka dengan sikap ramah dan sopan. "Halo... kalian pasti teman-teman sekelasku ya? Namaku Alice. Senang sekali bisa bertemu dengan kalian," sapanya manis, tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Eca dan yang lainnya saling berpandangan, lalu tersenyum puas melihat sikap Alice yang terlihat sangat polos dan ramah. "Halo juga, Alice," jawab Eca dengan nada sombong namun pura-pura ramah. "Aku Eca. Ini teman-temanku, Tati, Ilfa, Nuvi, dan Indah. Jangan khawatir, di sini kami adalah penguasanya. Selama kau mau mendengarkan kami dan menjadi teman baik kami, kau akan aman dan dihormati semua orang. Tapi kalau kau melawan... kau tahu sendiri akibatnya kan?" Alice mengangguk patuh dengan wajah takut-takut yang dibuat-buat dengan sangat sempurna. "Tentu saja, Kak Eca. Aku tahu diri kok. Aku mau sekali berteman dengan kalian," jawabnya lembut. Hari itu juga, Alice mulai menjalankan rencananya. Ia mendekati mereka, membelikan mereka makanan, memberikan hadiah-hadiah mahal, mendengarkan omongan mereka, dan bersikap seolah sangat mengagumi serta takjub pada kekuasaan mereka. Semakin hari, semakin percaya diri Eca dan kelompoknya. Mereka menganggap Alice sebagai pengikut setia baru mereka yang paling kaya dan penurut. Mereka merasa sangat berkuasa dan bahagia, tidak menyadari bahwa mereka baru saja membiarkan seekor harimau masuk ke dalam kandang mereka sendiri. Semakin hari, Alice semakin pandai menyusup ke dalam hati dan pikiran mereka. Ia tahu persis kelemahan masing-masing anggota kelompok itu, dan perlahan namun pasti, ia mulai menanam benih-benih keraguan, ketakutan, dan kebencian di antara mereka. Permainan panjangnya baru saja dimulai, dan ia berjanji akan membuat setiap detiknya terasa seperti neraka bagi mereka. Minggu-minggu berlalu, dan Alice sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kelompok Eca. Ke mana pun Eca pergi, Alice selalu ada di sampingnya, seolah menjadi bayangannya yang paling setia. Semua orang di sekolah melihatnya sebagai sahabat karib yang selalu saling mendukung. Padahal, di balik senyum manis dan tatapan polosnya, Alice sedang menyusun jebakan demi jebakan yang semakin rumit dan mengerikan. Alice tahu betul sifat dasar mereka: Eca haus kekuasaan dan takut kehilangan popularitas; Tati mudah dipancing emosinya dan sangat bergantung pada kekuatan fisik; Ilfa licik tapi sangat curiga dan tidak percaya pada siapa pun; Nuvi merasa hebat karena kekuatannya namun sebenarnya memiliki rasa rendah diri yang besar; dan Indah, yang paling aneh dari semuanya, terobsesi pada rekaman dan bukti, seolah itu adalah satu-satunya cara baginya untuk merasa nyata dan berkuasa. Alice memutuskan untuk memulai permainannya dari yang paling mudah dihancurkan mentalnya: Indah. Suatu sore setelah jam sekolah usai, saat Indah sedang sibuk memilah-milah foto dan rekaman di dalam ponselnya di ruang kelas yang sudah sepi, Alice mendekatinya dengan langkah pelan dan senyum manis. "Lagi apa, Indah?" tanyanya lembut, menoleh seolah ingin melihat apa yang sedang dilihat temannya itu. Indah tidak merasa curiga sama sekali. Ia mengangkat ponselnya dengan bangga, memperlihatkan sebuah rekaman lama saat mereka menyiksa seorang siswa yang lemah. "Aku sedang melihat kembali koleksiku, Alice. Rasanya seru sekali melihat mereka menangis dan ketakutan, kan? Rasanya aku merasa sangat hebat dan berkuasa begitu melihat rekaman-rekaman ini," jawab Indah dengan nada antusias dan wajah yang berseri-seri. Alice tersenyum, namun matanya yang dingin menatap layar ponsel itu dengan tatapan tajam dan penuh niat jahat. "Wah, kau memang hebat sekali, Indah," puji Alice dengan nada manja, lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga Indah dan berbisik pelan, seolah sedang memberi tahu rahasia besar. "Tapi... kau tahu tidak? Kemarin aku tidak sengaja mendengar Kak Eca bicara sama Tati. Katanya... rekaman-rekamanmu itu sebenarnya berbahaya dan merepotkan. Katanya, kalau sampai ada orang lain yang tahu atau polisi menemukannya, kita semua bisa masuk penjara lagi. Dan Kak Eca bilang... sebaiknya rekaman-rekaman itu diambil dan dihapus saja, atau bahkan kau yang harus menanggung segalanya sendiri kalau ada masalah nanti." Wajah Indah seketika berubah pucat pasi. Tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat. "Apa... apa maksudmu?" tanyanya terbata-bata. "Eca... Eca bilang begitu? Tapi aku melakukan semua itu atas perintahnya! Aku merekam semuanya supaya dia punya bukti kalau dia hebat dan berkuasa! Kenapa dia malah mau menuduhku dan menyalahkanku?" Alice mengangguk perlahan, wajahnya dibuat tampak sedih dan kasihan. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD