Baru saja Rifka dan Rizki hendak melakukan hal keji seperti biasanya. Namun, Rifka merasa tubuhnya menjadi panas dan entah mengapa secara tiba-tiba ia kesal melihat Rizki yang sedang menjamahi dadanya di kamar.
"Besok saja, Riz," ucap Rifka menjauhkan tangan Rizki darinya. Namun, Rizki yang sudah terlanjur b*******h tentu tidak dengan semudah itu membiarkan kesempatan hari ini.
"Jika bisa sekarang, kenapa harus menunggu besok," gumam Rizki sambil terus memaksa.
Tiba-tiba Rifka tak bisa membuka mulutnya. Ia ingin berteriak dan ketakutan setengah mati.
Kenapa mulutku? Aku tidak bisa berbicara!
Tolong! Siapa saja tolong aku!
Batin Rifka meronta-ronta dan tak mengerti apa yang terjadi padanya.
Satu sosok anak kecil menguasai wajah dan ekspresi Rifka. Itu adalah Reffa, Almarhumah adik kecil Si Kembar yang tak selamat saat dilahirkan. Di tengah kesadaran 50% Rifka tak mengerti apa yang terjadi. Matanya terus memandang kesal pada Rizki. Meski ia tak ingin melakukannya. Ia juga merasa kesal yang amat sangat di dadanya. Rifka masih bisa menahan rasa kesal itu. Namun, mata dan wajahnya terus mengekspresikan rasa kesalnya itu.
"Kenapa?" tanya Rizki yang hendak membaringkan Rifka.
"Aarrrrrggg!!" Rifka menggeram seperti kucing. Air liurnya menetes dengan mata yang membesar menatap Rizki.
"Kenapa, Rif?" tanya Rizki tak mengerti.
Rifka lebih tak mengerti lagi, apa yang terjaid pada dirinya. Keloma panca inderanya masih normal. Ia juga bisa melihat bahkan mendengar semuanya. Tetapi wajahnya tidak tersinkronisasi dengan baik pada otaknya.
Rifka terus membaca do'a di dalam benaknya. Hingga akhirnya ia berteriak sangat kencang, "Pppaaannnaaassss!!"
Rifka memang merasa panas yang teramat panas di dadanya, seperti berada di atas bara api yang menyala.
"Panas! Panas Riz!" jeritnya pada Rizki. Itu memang Rifka. Seketika, ia kembali menggeram dan menatap sinis wajah Rizki.
"Ada apa?" Fauziah membuka kamar itu karena mendengar teriakan dari putrinya.
"Tak tahu, Bu. Rifka seperti kesurupan!" jelas Rizki memegangi adik perempuannya itu.
"Aaaargghhh!" Rifka berteriak sangat kencang. "Ha ha ha!" Secara tiba-tiba ia tertawa sangat lepas tanpa beban.
"Rifka, kamu kenapa, Sayang?" tanya Fauziah mengusap kepala Rifka. Setelah dihampiri Fauziah, ia malah menangis tersedu-sedu.
"Ada apa, Sayang? Ini Ibu, Nak. Coba ngomong, kenapa?" tanya Fauziah.
Rifka yang masih tersadar namun tak bisa mengendalikan emosi dan ekspresinya, tiba-tiba melihat makhluk putih yang sangat silau. Anggota tubuhnya hanya ada putih, dan kepalanya yang sudah rusak dengan daging yang hancur dan darah serta ulat memenuhi pipinya. Rambutnya keriting mengembang dan bola mata yang hampir terlepas dari tempatnya.
Makhluk itu terus bergerak ke kiri dan ke kanan menatap Rifka penuh geram. Sudah lama ia mendiami kamar Rifka dan Rizka. Ia adalah saksi perbuatan zina antara kakak beradik Rizki dan Rifka.
"Bee! BEE!!" teriak Fauziah memanggil suaminya. Raka berlari menghampiri mereka.
"Ada apa?!" tanyanya panik.
"Ini Rifka, kenapa?!" jerit Fauziah sambil terus membaca do'a di sela percakapannya.
"Ibu!" teriak Rifka menangis sambil menutup matanya. Fauziah langsung memeluknya.
"Kenapa, Sayang. Ini, Ibu di sini." Fauziah terus mengusap rambut anaknya itu. Rizki hanya terdiam memerhatikan saja.
"Rifka!" panggil Raka.
"Ayah! Aku takut! AYAAH!" teriak Rifka sambil terus menangis.
"Apa yang kamu lihat? Takut kenapa?" tanya Raka. Kini Fauziah ikut terdiam, ia kembali mengingat saat pertama kalinya ia melihat makhluk kutukan yang sangat menyeramkan.
"Aku takut!! Bawa aku keluar dari sini!!" teriak Rifka semakin menjadi.
Raka menggendongnya dan berjalan ke luar kamar. Namun, Rifka kembali membuka matanya dan menangis seperti bayi.
"Ada apa sih ini?! Rizki! Tadi adikmu melakukan apa?!" bentak Fauziah pada Rizki.
"Tidak tahu," jawab Rizki cepat.
Beberapa pelayan menghampiri mereka dan melihat apa yang terjadi.
***
Di seberang sana, Teddy juga ikut menangis menahan beratnya sarung tinju yang ada di tangannya.
"Gimana mau mukul kalo berat kayak gini?!" rengek Teddy.
"Lu pukul samsaknya sekuat tenaga sampai bergerak!" perintah Rizka. Sementara di sebelahnya terdapat Rifki yang sudah memukuli samsak ratusan kali.
"Rifki ganteng banget kalo keringetan. Iiih ototnya Teddy suka," ucap Teddy memerhatikan kelincahan Rifki dalam memukul samsak.
"Lu, gay ya?" celetuk Rizka tanpa dipikir lagi.
"Iiih Teddy kan cowok normal. Mana mungkin suka sama cowok!" Teddy melirik para wanita yang sedang berlatih tinju di seberang mereka.
"Eh Konted! Gua bawa lu ke sini buat latihan boxing ya, Njir. Bukan buat lu merhatiin p****t cewek!" tegas Rizka.
"Iya iya iya, Teddy kan cuma becanda. Rizka mah gitu, ga ada selera humor," ucap Teddy.
"Iya, serah lu. Buru, pukul samsaknya!" Rizka menunjuk samsak di hadapan mereka.
"Ini dipukul?" Teddy memeluk samsak itu.
"Emak lu!" bentak Rizka kesal.
"Iiih masa orangtua dipukul," ucap Teddy.
"Rif!" teriak Rizka penuh kesal. Rifki menghentikan gerakannya dengan napas ngos-ngosan.
"Lu ajarin dia! Gua nyerah," ucap Rizka mengangkat kedua tangannya.
"Ayo Rif, Teddy mau kalo Rifki yang ngajarin," Teddy tersenyum selebar lapangan golf.
Rizka menjauh dari mereka semua. Rifki mulai mengajari Teddy gerakan demi gerakan. Teddy memang terlihat seperti penyuka sesama jenis seperti yang dikatakan oleh Rizka. Ia terus memerhatikan perut sixpack milik Rifki. Ia juga sering bergelendotan di lengan berotot itu.
Rizka mencari Roy, karena memang biasanya ia berlatih bersama pacarnya itu. Ia juga ingin meminta maaf soal kemarin kepada Roy.
"Roy!" panggilnya kepada Roy yang sedang melatih para gadis. Karena itu memang profesinya. Mendengar panggilan itu berasal dari Rizka, Roy menjauh dan menghindarinya.
Rizka yang melihat Roy berjalan ke ruang istirahat, turut mengikutinya.
"Roy," ucap Rizka yang hendak meminta maaf.
"Kenapa lu bawa dia ke sini?" tanya Roy. Ya, yang Roy maksud ialah Teddy.
"Orangtuanya yang minta gua buat bawa dia dan ngajarin dia," jelas Rizka masih dengan nada biasa saja.
"Sedekat itu ternyata perjodohan lu sama dia." Roy mengemasi barang-barangnya.
"Lu mau ke mana?" tanya Rizka.
"Gua ga bakal datang ke sini lagi. Semoga lu bahagia ya sama dia." Kalimat Roy membuat d**a gadis di hadapannya itu terasa sesak.
Roy berjalan ke luar sedangkan Rizka masih terdiam menatap kepergian pacarnya itu. Rizka bukanlah gadis lemah yang gampang menangis. Tetapi kalimat yang Roy katakan mampu membuat air matamya menetes.
Roy menghampiri Teddy dan Rifki. Rifki pun langsung melakukan salam ala pria jantan yang menubrukkan d**a mereka.
"Ted, kenalin ini Roy, pacarnya Rizka," ucap Rifki pada Teddy.
"Pacar?" jerit Teddy.
"Bukan lagi, jagain Rizka ya." Roy menyalami pria gemulai itu dengan sangat kuat karena juga menahan sesak.
"Ga! Teddy ga mau! Kalau kamu masih mau sama Rizka, Teddy bisa bantuin kok, biar kalian bisa nikah. Asal Teddy ga nikah sama Rizka. Lagian kan kasihan Rizka, siapa yang mau sama cewek kayak dia kalau bukan Roy," jelas Teddy membuat Rifki mengernyitkan keningnya dan terkekeh geli.