Jangan Menangis

1154 Words
Sudah 2 hari ini Teddy membantu Roy untuk mendapatkan perhatian oleh kedua orangtua Rizka. Sebelumnya, Teddy telah menceritakan soal Roy kepada Fauziah. Fauziah hanya bisa tersenyum kecut mendengar bahwa Teddy yang tak ingin bertunangan dengan Rizka, ditambah lagi Teddylah yang mengatakannya secara langsung. Fauziah dan Raka membiarkan Roy untuk berkunjung ke rumah mereka. Bagaimanapun ia adalah seorang tamu yang juga harus dilayani seperti tamu. Kini, Roy sedang berada di rumah Teddy. "Gua udah bilang, kalo gua bakal lamar Rizka. Orangtua gua juga udah kena sama Rizka," ucap Roy di kamar Teddy. "Jadi kita harus gimana lagi? Pokoknya Teddy ga mau nikah sama Rizka. Bisa mati muda Teddy kalo nikah sama dia!" omel Teddy berjalan bolak-balik di hadapan Roy. "Bisa, Ted! Kalo lu punya cewek. Harusnya bisa." Roy menatap tidak yakin pada pria gemulai itu. "Cewek? Maksudnya pacar?" tanya Teddy. "Ya," jawab Roy masih ragu. "Gimana caranya Teddy bisa dapet pacar?" tanya Teddy lagi. "Nah! Gua ada ide. Lu ikut ke rumah gua. Gua punya semua yang kita butuhin. Kalo di kamar lu ini, kayaknya bakal susah." Roy bergedik geli. "Teddy bilang ke Ibu dulu," ucap Teddy berjalan ke luar kamar. *** Roy membawa Teddy ke rumahnya. Mereka bertemu dengan Jesika, adik perempuan Roy. Dengan segala kekuatan ketampanan dan kejantanan, Roy mengubah penampilan Teddy yang Pinky menjadi Pungky. Jesika yang hanya memerhatikan mereka berdua, malah menahan sakit perut katena geli melihat tingkah Teddy yang gemulai. "Lu diem! Diem!" perintah Roy yang bersiap memotret gaya Teddy yang sudah berbeda. "Coba lu bilang 'Rrroockkeerrr!" jerit Roy dengan gerataran di kerongkongannya. "Rocker!" Teddy tersenyum-senyum. "Rocker tuh ga senyum, Ted. Mukanya harus kasar." Roy mencontohkan bagaimana seharusnya seorang Rocker. "Tapi mukanya kayak tukang palak," bantah Teddy. "Emang gitu mukanya, Teddy." Roy kembali mencontohkan ekspresi seorang Rocker. Teddy terus berusaha menaikan sebelah alisnya seperti Roy. Tetap tak bisa. "Teddy ga bisaaa," rengeknya. "Nemu di mana lu, model kayak beginian?" tanya Jesika. "Halo! Aku Teddy," ucap Teddy sambil melambaikan tangannya ke arah Jesika. "Lu ga boleh cengengesan, Ted. Lu harus marah-marah. Coba lu marah!" perintah Roy. "Marah sama siapa?" tanya Teddy. "Sama gua, coba!" "Roy jangan ..." Kalimat Teddy terpotong. "Jangan pakai nama, lu bisa ngomong pakai Lu-Gua atau Lo-Gue Anj*ng, Bangs*t, atau yang lainnya, serah lu." Ya, seperti itulah ekspresi marah. "Itu kan kasar," bantah Teddy. "Cowok emang kayak gitu kalo marah," jelas Roy. "Oke oke oke, Teddy coba ... lo jangan sok cantik ya!" bentak Teddy. Jesika dan Roy saling menatap. Seketika tawa Jesika pecah. *** Sementara Jesika terbahak di rumahnya, Rifki tengah mengikuti Sarah pulang sekolah dalam diam. Mengingat bahwa ia masih berada dalam masa skorsing. Dewa meminta Rifki untuk menjemput Sarah. Namun, tidak mungkin ia membonceng Sarah dari depan sekolah. Teman-temannya bisa saja melihat kejadian itu. Terlebih lagi, seluruh sekolah sudah tahu bahwa Sarah adalah target bullyan seorang Rifki. Sarah terus berjalan malas di trotoar. Sedangkan Rifki mendorong motor di belakangnya. Sarah menoleh ke belakang dan masih mendapati Rifki yang mengikutinya. Ia mempercepat langkahnya. Rifki pun juga turut mengikutinya dengan cepat. Sarah masuk ke dalam gang yang tak bisa di lalui oleh motor. Rifki tahu bahwa gang itu menuju tempat tongkrongannya. Dengan cepat Rifki memarkirkan motonya di sebuah warung dan mencabut kuncinya. "Bu, nitip motor sebentar ya," ucapnya berlari mengejar Sarah. Sarah terus berlari menghindari Rifki. Rifki pun terus mengikuti kemanapun Sarah berlalu. Rifki benar, jalan itu menuju tempat tongkrongannya. Sarah bertemu kembali dengan 3 pria biadab itu. Sarah tak memiliki pilihan lain, selain memutar balik arah langkahnya dan menemui Rifki. Namun, siapa yang bisa menjamin bahwa dia akan lebih selamat jika bersama Rifki? Sudah bertahun-tahun pria itu menggangunya. "Itu ceweknya Rifki, bukan?" tanya salah seorang dari mereka yang melihat Sarah berdiri di ujung gang. "Mana? Wihh iya iya, bisa bales si Rifki nih." Mereka bergegas menghampirinya. Sarah yang panik langsung memutar balik arah dan berlari menghampiri Rifki. Rifki pun ikut berlari mengejar Sarah karena ia baru saja kehilangan jejaknya. Langkah Sarah kalah cepat dari 3 pria itu. Sehingga ia tertangkap. Sarah mulai berteriak-teriak dan menangis. Ia sangat ketakutan. "Rifkiiiii!" teriaknya di dalam gang tersebut. Di sana begitu sepi tak ada siapapun yang mendengar teriakan itu. Tidak, tentu Rifki mendengarnya dan segera berlari mencari Sarah. "Kok bisa tahu tempat kita, Neng?" tanya salah seorang dari pria itu dan mulai menarik baju seragam putih yang Sarah kenakan. "Rifkiiiiiii! Hegh-hegh!" Sarah terus meraung dan menangis. Mereka menyandarkan tubuh Sarah di tembok pagar pinggir gang tersebut. Sarah terus berusaha menutupi bajunya yang telah terbuka sambil terus memanggil Rifki dan menangis. "Rifki? Lu ngadu sama cowok lu ya? Aduhh masih sakit d**a gua," ejek pria yang pernah Rifki tendang waktu itu. Sarah hanya terus menangis dan meraung memanggil Rifki bahkan ia juga mengemis ampunan kepada mereka. Rifki sampai di waktu yang terlambat. Mereka bertiga sedang menjahami tubuh Sarah yang hanya bisa menangis dan tak berani melawan. Sama seperti saat Rifki menindasnya, Sarah tak pernah melawan karena dia takut. Ada suatu perasaan kesal yang teramat Rifki rasakan. Dia memang tak menyukai perempuan itu. Tetapi, melihat Sarah diperlakukan seperti ini di hadapannya. Itu sangat menyakiti hatinya yang kaku. Rifki berlari dan menendang mereka kembali. Salah satu dari mereka dipukuli habis-habisan dari Rifki beserta rasa amarahnya yang sudah memuncak. Sarah terhempas di belakang Rifki, tangisannya semakin menjadi. Setelah merasa lelah, Rifki melepaskan pria itu. Sementara 2 temannya sudah kabur sedari tadi. Sarah yang masih menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri, membuat Rifki ingin ikut meneteskan air mata. Namun, Rifki menahan perasaannya itu. Perasaan bersalah itu semakin menyelimuti seluruh hati dan pikirannya. Rifki kembali menghampiri Sarah dan hendak memperbaiki pakaiannya. Namun, Sarah menghindar sambil terus menangis. Rifki mengerti, Dewa telah mengatakan tentang trauma yang Sarah alami. Rifki menghela napas dan membuka jaketnya. Memasangkannya di tubuh Sarah, meski Sarah menghindar berkali-kali. Ia juga memasang resletingnya agar tubuh Sarah tak terlihat oleh siapa pun. Sarah masih tersedu menahan tangisnya di hadapan Rifki, hingga tubuhnya bergetar. Rifki memang memiliki 2 adik perempuan yang seumuran dengannya. Dia hanya membayangkan bagaimana jika salah satu adiknya berada di posisi Sarah hari ini. Tubuh Sarah terus bergetar menahan tangisan dan rasa takutnya. Bisa saja Rifki pun ikut melakukan hal keji tersebut kepadanya. Terlebih lagi, gang ini sangat sepi, tak kan ada yang melihat perlakuannya terhadap Sarah. Rifki menarik tangan Sarah untuk berdiri. Tubuh Sarah semakin bergetar saat Rifki menyentuhnya. "Gua anter balik," ucap Rifki menyeret Sarah. Baru 2 langkah mereka berjalan. Sarah kembali menangis, ia takut Rifki akan menganggunya lagi. Rifki menghentikan langkahnya dan menelan liurnya setiap kali mendengar Sarah menahan tangisan itu. Ia berbalik dan menarik tubuh Sarah agar terbenam dalam pelukannya. Sarah masih ketakutan setengah mati. Rifki memeluk tubuh Sarah dan mengusap kepalanya. Seketika Sarah tahu bahwa Rifki tidak akan melakukan hal semacam itu padanya. Tangisan Sarah pecah setiap kali Rifki mengusap kepalanya itu. Jangan menangis. Ingin sekali rasanya Rifki mengucapkan kalimat itu kepada Sarah, namun lidahnya tak cukup kuasa untuk berkata lembut kepada gadis yang telah ia buat ketakutan setiap hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD