Nadien tersenyum kikuk saat mengetahui ayahnya sudah bangun. Ia berjalan pelan ke arah satu-satunya orang tua yang ia miliki itu untuk mengecup punggung tangannya penuh hormat. "Sudah pulang dari tadi?" tanya Adam. "Belum terlalu lama kok, Pa," jawab Nadien. Adam menoleh ke luar jendela, sebelum kembali fokus pada putrinya. "Sebentar lagi gelap. Kamu sudah makan malam?" tanya Adam yang mendapat jawaban berupa gelengan kepala dari Nadien. "Daniel, kamu cari makan dulu sama Nadien, gih! Kamu kan juga belum makan dari tadi," pinta Adam. "Baik, Pa," balas Daniel patuh. "Lalu Papa? Hmm.. bagaimana kalau aku sama Daniel gantian saja keluarnya?" usul Nadien. Sebenarnya ada alasan lain yang membuatnya berkata demikian. Selain karena tidak tega meninggalkan ayahnya sendirian, ia juga merasa

