Bel sudah berbunyi tapi Luna malas beranjak dari dalam kelas. Beberapa teman baru dikelasnya sudah mengajak untuk ke kantin bersama tapi Luna menolaknya dengan halus.
Tatapannya dari tadi tak bisa teralihkan dari meja jajaran nomor dua. Disana seorang gadis yang mirip dengannya sedang memakan bekalnya dengan tenang.
Didorong dengan rasa penasaran, Luna berjalan mendekat.
"Lo enggak ke kantin" tanya Luna duduk di sebelah Ala. Ala menghentikan makannya.
"Enggak. Gue bawa bekal. Lo sendiri enggak ke kantin" tanya Ala balik.
"Males"
"Kita kembar ya?" Tanya Luna spontan saja saat dilihat dari dekat ternyata wajah mereka benar-benar mirip. Luna melepaskan ikatan rambutnya kini. Ia seperti sedang bercermin ketika menatap Ala. Ala hanya menanggapi dengan kekehan.
"Mana ada. Mungkin cuma kebetulan mirip" jelas Ala.
"Enggak mungkin cuma kebetulan kayanya. Coba lo tanya orang tua lo barangkali gue anak mereka juga" ucapan ngawur Luna lagi-lagi hanya dibalas kekehan Ala.
"Nanti gue tanya Mama gue" balas Ala dengan candaan yang ditanggapi Luna dengan dengusan kesal.
****
Seperti biasa Ala menunggu jemputan di halte dekat sekolah. Kakak lelakinya biasa menjemputnya disana.
"Tau enggak kak tadi ada anak baru wajahnya miriiipp banget sama aku. Bener-bener mirip. Sampe banyak yang ngira kami anak kembar" ucap Ala saat Alvin sang Kakak membantu memakaikannya helm.
Tubuh Alvin seketika menegang kaku tak bisa digerakkan saat mendengar ucapan Ala.
"Kok malah bengong, kak?" Tanya Ala yang melihat Alvin malah terdiam.
Alvin gelagapan setelah memastikan helm Ala terpasang dengan benar dan Ala sudah duduk di boncengan motor Alvin berlalu dari sana.
Disepanjang perjalanan mereka hanya diam. Tak seperti biasanya seperti itu. Ada yang aneh dari Kakaknya ini.
"Siapa nama anak baru itu" tanya Alvin sebelum Ala masuk ke dalam kamar.
"Aluna, kak. " ucap Ala sambil Lalu dirinya ingin cepat-cepat mandi ganti baju karena di luar sangat terik tubuhnya bau matahari.
"Aluna?" Alvin menatap sang Mama yang menatapnya dengan wajah penasaran bercampur kaget.
"Ada anak baru di kelas Ala. Namanya Aluna dan mereka... Mirip"
Alvin dan Citra terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
****
Luna sedang bersiap-siap. Tadi Gabriel mengajaknya makan malam diluar. Meski sebenarnya enggan namun akhirnya Luna mengiyakan. Tentunya dengan sedikit ceramahan Mbak Tari
"Mbak Ayo ikut" ajak Luna yang mendapat gelengan dari Mbak Tari.
"Dulu aja kemana-mana mbak selalu ikutin aku"
"Itukan dulu Non. Waktu Non masih kecil"
"Kita berangkat sekarang" Luna dengan pasrah mengikuti Gabriel dari belakang.
****
Gabriel mengajak Luna makan di restoran yang khusus menyediakan olahan bebek. Ia tahu anaknya itu sangat suka dengan olahan masakan hewan satu itu.
"Gimana sekolah kamu?" Tanya Gabriel memecah keheningan. Pelayan baru saja pergi setelah mencatat pesanan mereka.
"Biasa aja" jawab Luna acuh fokus pada ponsel ditangannya.
"Luna"
"Hmmm?"
"Bisa tolong simpan dulu hp kamu?" Luna menurut menyimpan ponselnya. Kini fokusnya pada sang Papa yang gelagatnya seperti ingin membicarakan sesuatu yang serius.
"Papa minta maaf" ucap Gabriel akhirnya. Luna diam masih ingin mendengar kelanjutan ucapan Gabriel.
"Papa minta maaf atas semua yang sudah Papa lakukan dulu ke kamu. Papa tahu Papa salah. Papa belum bisa jadi orangtua yang baik untuk kamu"
Luna mencoba menahan air matanya yang akan menetes mendengar ucapan Gabriel. Teringat masa kecilnya dulu sang Papa sangat jarang ada di rumah. Kalaupun di rumah kerjaannya hanya marah-marah pada Luna.
Luna ingin main bersama Papa, Papa malah marah. Luna ingin diantar sekolah Papa, tapi Papa pagi-pagi sekali sudah berangkat bekerja. Ingin dibantu membuat PR juga Papa marah. Pernah suatu malam Luna sangat ingin tidur dengan Papa, tapi Papanya itu malah mengusirnya keluar.
Tidak ada kehangatan dan kasih sayang yang ia dapat dari sang Papa. Dan yang terakhir yang membuatnya memilih pergi tinggal bersama Oma dan Opa saat masih kelas 6 SD ia ingat, ia hanya menanyakan perihal Mama tapi Papanya itu marah-marah tidak jelas. Banyak u*****n kata-k********r yang tidak cocok didengar anak-anak keluar dari mulut sang Papa.
"Papa menyesal Luna. Maafkan Papa" Gabriel yang melihat Luna menangis mendekati anak gadisnya itu. Dengan kaku Gabriel merengkuh tubuh mungil Luna. Membuat isakan Luna tambah keras terdengar.
"Maafkan Papa, Nak. Beri satu kesempatan agar Papa bisa menjadi Papa yang baik untuk kamu" tak terasa Gabriel pun ikut meneteskan air mata mendengar isakan pilu Luna.
Gabriel tak takut ada orang lain yang terganggu karena ia memesan ruang VIP untuk makan malamnya kali ini.
"Luna sayang Papa" akhirnya Luna membalas pelukan Gabriel. Menggelung manja di d**a Gabriel yang nyaman. Pelukan yang sudah ia tunggu sepanjang tahun hidupnya.
"Papa juga. Amat sangat sayang sama kamu"
Dinding pembatas itu coba mereka robohkan. Mencoba mengikis kembali jarak hubungan Ayah Anak itu. Kesempatan itu selalu ada. Jadi mari mulai semuanya lagi dari awal.
****
Pagi hari ini ada sedikit perbedaan. Gabriel yang sedang mencoba mengakrabkan diri kembali dengan Luna kini Luna sambut dengan ramah membuat Mbak Tari tersenyum senang. Meski disana masih tampak kecanggungan.
"Ayo makan yang banyak supaya cepet gede" Gabriel menuangkan banyak nasi pada piring makan Luna membuat Luna berseru panik.
"Stop Pa makan sebanyak itu yang ada aku bisa mati kekenyangan. Balikin lagi nasinya" dengan terpaksa Gabriel kembali menaruh sebagian nasi yang sudah ia ambil lalu menyerahkan lagi setengahnya pada Luna. Meski menurut Luna ini masih kebanyakan dari porsi biasa ia makan tapi masih wajar tidak sebanyak tadi.
"Hari ini kamu berangkat diantar Pak Indra dulu Papa harus buru-buru sampai kantor. Tapi, nanti sore Papa yang jemput kamu" ucap Gabriel yang dibalas Luna dengan anggukan.
****
"Gimana udah lo tanyain sama orangtua lo" tanya Luna tiba-tiba membuat Ala yang sedang menangkupkan wajahnya di atas meja tersentak kaget.
Saat ini jam pelajaran olahraga. Ala izin tidak ikut karena perutnya sakit akibat haid hari pertama. Luna juga izin sakit tadi saat akan ganti baju olahraga tiba-tiba perutnya terasa sakit mungkin efek kebanyakan sarapan. Ikut kelapangan pun percuma Ia hanya akan duduk di samping lapangan memperhatikan teman sekelasnya berolahraga karena Ia punya asma yang bisa kapan saja kambuh jika terlalu lelah.
"Enggak Lun. Enggak mungkinlah. Udah jelas-jelas gue punya Kakak. Kalo pun gue punya kembaran pasti Mama gue ngasih tau" jelas Ala sambil meringis menahan sakit perut.
"Mungkin orangtua lo sengaja nyembunyiin"
"Aluna dan Alana dari nama aja kembar banget gak sih kita?" Ala tak terlalu serius menanggapi ucapan Luna. Perutnya benar-benar sakit.
"Sshhhh..."
"Gue beliin obat dan teh hangat buat lo, lo tunggu dulu disini" ucap Luna tak tega melihat Ala yang sepertinya benar-benar kesakitan.
"Enggak usah, Lun" tapi Luna sudah berlalu dari sana.
****
Ditangan Luna sudah terdapat segelas teh yang ia beli di kantin dan Paracetamol yang ia minta dari UKS.
Namun, saat melewati lapangan sebuah bola basket melayang menghantam kepalanya cukup kuat. Luna tentu saja oleng terjatuh menyebabkan teh yang berada dalam genggamannya tumpah menyenai pergelangan tangannya.
Panas! Luna merasakan panas akibat tumpahan teh itu.
"Lo gak pa-pa?" Seorang pria berjongkok dihadapan Luna. Memastikan keadaan Luna.
"Lo gak liat gue nyusruk, kepala gue pasti benjol nih. Tangan gue juga panas"
Pria itu bermaksud menolong Luna untuk berdiri tapi langsung Luna tepis
"Gue bisa sendiri"
"Sorry La, gue bener-bener enggak sengaja" sesal pria itu
"La La, lo pikir gue temennya si dipsy. Jangan sok kenal deh" Luna menatap sengit pria itu.
"Mending lo ganti teh sama makanan gue, gue tunggu di kelas 12 IPA 1 kalo sampe enggak lo ganti pulang sekolah gue cari lo. Berantem kita di lapangan" usai mengatakan itu Luna segera berlalu dari sana menyisakan tanda tanya besar di kepala pria itu.
"Itu... Ala?"