Ala melihat Luna kembali dengan pergelangan tangan yang memerah sedikit melepuh.
"Luna tangan lo kenapa?" Ala berseru panik.
"Ketumpahan air panas" balas Luna
"Perih pasti itu. Ayo ke UKS kita obatin" Ala berdiri menarik tangan Luna tapi Luna berhasil membuat Ala kembali duduk.
"Cuma luka begini, La" ucap Luna. Luna menatap sebuah botol minum yang ada di atas meja.
"Itu jamu, Lun" Ucap Ala menjawab rasa penasaran Luna.
"Gue baru inget Mama gue bikinin jamu buat pereda nyeri haid" jelas Ala.
"Setiap gue nyeri haid Mama gue selalu bikinin jamu sama kompres perut gue. Rasa jamunya enggak enak tapi ampun buat gue"
Luna melihat wajah Ala sedikit berubah murung.
"Enak ya punya Mama" lirih Luna. Ala tersadar sepertinya Ia sudah salah bicara.
"Sorry Lun" sesal Ala
"Santai aja kali. Gue masih ada Papa, kok" Papa yang baru ia rasakan kehadirannya beberapa hari ini.
"Kebalik ya. Gue malah yang enggak punya Papa" Ala terkekeh diujung kalimatnya.
Jantung Luna berdegub kencang mendengar ucapan Ala. Menangkap sesuatu arti dari ucapan Ala.
"La" Ala menyernyit heran melihat Luna yang menatapnya dengan serius.
"Papa lo kemana?" Tanya Luna.
"Enggak tau, dari kecil gue enggak pernah ketemu" jelas Ala. Beberapa kali pernah ia tanyakan keberadaan Papa kepada sang Mama. Tapi, melihat raut Mama yang tiba-tiba berubah sedih Ala jadi tidak tega. Alvin Kakaknya pun hanya diam saat ditanyai. Karena itu, Ala mengubur rasa penasarannya pada sosok Papa hingga detik ini.
"Gue juga enggak pernah tau Mama gue, La" jelas Luna sedikit lirih. Ala seakan menangkap arti dari tatapan Luna tadi.
"Berapa tanggal lahir lo?" Tanya Ala mencoba memastikan apa yang ada dipikirannya benar atau salah.
"Dua bulan lagi tanggal 23 gue ulangtahun yang ke 18" jawab Luna. Luna melihat mata Ala berkaca-kaca seperti akan menangis.
"Gue juga, sama" ucap Ala lirih.
Hening. Mereka hanya saling tatap. Mencoba mencari jawaban atas semuanya. Jadi apa benar mereka adalah saudara?
"Si kembar akrab bangat, dah" Rani teman sebangku Ala tiba-tiba masuk kelas diikuti siswa yang lainnya.
Ternyata jam olahraga sudah selesai. Luna dan Ala sepakat untuk melanjutkan obrolan ini besok pagi.
*****
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Sepanjang pelajaran Luna tidak bisa fokus. Pikirannya bercabang memikirkan kemungkinan-kemungkinan antara dirinya dan Ala.
Luna mendengus sebal saat tahu pria yang tadi melempar bola ke arahnya tidak datang. Luna segera merapikan barang-barangnya. Sesuai janji Luna akan ia cari pria itu.
Luna sampai di lapangan basket. Ia tidak tahu dimana kelas pria itu. Sekolah ini luas. Tidak mungkin Luna cek satu- satu setiap kelas yang ada disini. Jadi yang pertama ia datangi adalah lapangan basket.
Banyak yang sedang istirahat seusai latihan Luna tahu akan diadakan perlombaan basket. Tapi, diantara orang-orang tak Luna lihat keberadaan si pria itu.
"Ala nyari Bima ya? Lagi beli minum bentar lo sih enggak pernah bawain dia minum lagi" ucap seorang pria berseragam basket saat Luna mendekati kerumunan siswa yang sedang istirahat seusai latihan.
"Nah, itu orangnya" Luna melihat dua orang pria berjalan mendekat dengan kantong plastik berisi minuman. Salah satunya adalah pria yang ia cari.
Luna mengambil sebuah bola basket yang berada tak jauh darinya.
Dengan cepat Luna melempar bola mengarah pada pria itu hingga tepat mengenai kepala. Saat pria itu sedikit oleng terkena hantaman bola Luna mendekat menendang betisnya.
"Akhh" Luna menendangnya dengan sekuat tenaga.
"Tinggal tunggu tangan lo melepuh"
Luna berjalan menjauh tanpa peduli tatapan kaget orang-orang yang melihat tindakannya barusan.
Sebelum benar-benar keluar lapangan Luna kembali melirik pria itu yang ternyata sedang menatapnya tajam. Luna tak mau kalah juga dengan memberikan tatapan sinis.
*****
Ala berjalan dengan sedikit tertatih saat merasakan sakit dan kram kembali di perutnya. Walau tidak sesakit tadi pagi. Rasanya ingin cepat pulang dan merebahkan dirinya di kasur. Pikirannya bercabang memikirkan kemungkinan-kemungkinan antara dirinya dan Luna.
Tadi Luna terburu-buru pulang, Ala pikir mungkin ingin cepat-cepat bertanya pada sang Papa.
Ala tersentak ketika seseorang tiba-tiba menghalangi langkahnya.
"Bima?" Ala refleks mundur beberapa langkah apalagi melihat tatapan tajam Bima.
"Ada apa, Bim?" Tanya Ala melihat Bima yang hanya diam menatapnya. Tak sengaja Ala melihat dahi Bima yang membiru membuat Ala gatal untuk tidak bertanya.
"Dahi lo kenapa?" Tanya Ala.
"Lo masih tanya kenapa, hah" Ala kaget melihat Bima yang seperti marah kepadanya.
"Lo masih gak terima gue putusin? Bukannya lo sendiri yang minta putus?" Ala heran kenapa Bima malah mengungkit hubungan mereka yang telah berakhir 3 bulan lalu itu.
"Gue enggak ngerti maksud lo apa Bim" Ala sedikit kesal dengan Bima yang menurutnya tidak jelas kembali mengorek luka lama.
"Gue males debat" Ala memilih segera berlalu dari sana sebelum ia juga terpancing oleh emosi.
****
Luna pulang sekolah dijemput oleh Gabriel. Papa nya itu sekalian ingin pulang mengambil beberapa berkas yang tertinggal.
Ayah dan anak itu sedang proses membangun komunikasi. Diperjalanan pulang mereka mulai banyak mengobrol. Terpikir untuk Luna menanyakan tentang Ala. Apakah ia punya saudara kembar. Tapi, Luna takut hubungan mereka yang mulai membaik kembali merenggang. Karena dulu Gabriel sangat marah ketika Luna menanyakan keberadaan sang Mama.
Hingga saat sampai di rumah, Luna buru-buru ke dapur untuk mengambil air minum sedangkan Gabriel berlalu ke ruang kerjanya.
"Wah makan-makan! Ada acara apa nih?" Tanya Luna melihat para ART duduk lesehan di dapur dihadapan mereka terdapat nasi dan lauk pauknya yang diletakan di atas daun pisang.
"Liwetan non, Syukuran istrinya Mang Amir akhirnya hamil setelah nunggu 11 tahun" ucap Yuni salah satu ART.
"Wah selamat Mang. Semoga lancar sampai persalinan sehat terus Ibu dan Anaknya. Nanti kalo lahiran kasih tau aku ya"
Mang Amir si tukang kebun meng Aamiinkan doa Luna.
"Iya Non, pasti"
"Boleh dong ya aku ikut makan?" Tanya Luna. Perutnya keroncongan melihat mereka makan dengan nikmat.
"Jangan Non masa majikan makan bareng gini sama pembantunya" ucap Sarah si ART termuda.
"Santai aja kali mbak" Luna berdiri lalu berjalan menuju keran terdekat untuk mencuci tangan setelah itu duduk disamping Mba Tari dan mulai menyantap makanan yang tersedia.
"Mbak ambil piring ya?" Sarah kembali bersuara. Sarah pikir tidak etis melihat majikan makan dengan pembantu dengan satu wadah seperti ini.
"Mbak ih emangnya aku punya penyakit menular sampe makanannya dipisahin gitu" Luna mendengus sebal.
"Maaf Non" Sarah akhirnya diam setelah diberi tatapan peringatan oleh Mbak Tari.
"Enak ya Non?" tanya Mbak Tari iseng melihat Luna makan dengan lahap.
"Enak! Kapan-kapan ajakin aku kalo adain makan-makan begini" Luna membuat ART disana kaget dengan sikap humble yang dimilikinya. Sedangkan Mba Tari hanya tersenyum.
"Sedang apa kalian?" Semua terdiam ketika mendengar suara Gabriel yang orangnya sedang berdiri di ambang pintu dapur lengkap dengan setelan jas mahalnya.
"Sini Pa, Papa belum makan siangkan? Enak loh" Luna malah menarik Gabriel untuk ikut bergabung.
"Sini Pa kok malah bengong" Gabriel jalan mendekat lalu berjongkok di samping Luna.
"Aaaa buka mulutnya Pa" Luna menyuapi Gabriel langsung dengan tangannya.
"Gimana, Pa?" Tanya Luna selesai Gabriel menelan makanan.
"Not bad, coba sekali lagi"
"Cuci tangan sana, enak aja aku juga mau makan" Luna kembali melanjutkan makannya.
"Boleh emang?" Tanya Gabriel menatap para ART nya. Hanya Mbak Tari yang bersuara mengiyakan sedangkan yang lainnya masih terlalu segan menghadapi bos mereka yang dingin itu walau beberapa hari terakhir sikap Gabriel mulai melunak semenjak ada Luna.
Gabriel mencuci tangan lalu segera bergabung duduk lesehan di samping Luna.
Mereka makan kembali walau dengan sedikit canggung. Obrolan didominasi oleh Luna, Gabriel dan Mbak Tari meski beberapa juga ikut menimpali.