Setelah acara makan selesai Luna beranjak menuju kamarnya di lantai dua. Gabriel juga tidak kembali ke kantor karena waktu sudah sore sebentar lagi jam pulang. Gabriel meminta Fredy asistennya mengambilkan barang-barang yang masih di kantor.
Selesai mandi Luna duduk merenung di atas kasur. Apakah jika ia bertanya tentang Mama, Papanya akan kembali murka seperti dulu? Tapi, bukannya sekarang Gabriel sudah berubah. Papanya itu tak pernah bersikap kasar dan dingin lagi pada Luna.
Luna beranjak, melangkah menuju ruang kerja Gabriel. Mungkin disana ia bisa menemukan sesuatu.
****
Luna memeriksa setiap laci yang ada di ruangan itu. Hanya berkas-berkas yang ia tidak mengerti itu apa. Masih banyak laci di ruangan ini Luna harus buru-buru sebelum Gabriel memergokinya disini.
Clek
Luna menahan napas saat pintu dibuka dari luar.
"Luna. Lagi apa disini, nak?" Sudah ditebak Gabriel disana.
"Cari kertas HVS Pa buat ngeprint tugas. Kertas aku habis" Luna mencoba mencari alasan yang untungnya Gabriel percaya.
Gabriel berjalan menuju pojok ruangan. Terdapat sebuah lemari yang didalamnya terdapat banyak buku, kertas dan alat tulis. Gabriel mengambil setumpuk kertas lalu memberikannya pada Luna.
"Ini kalo kurang tinggal ambil disana" Luna hanya mengangguk lalu pamit untuk kembali ke kamarnya.
****
Sedangkan di tempat lain, Ala sedang bersandar lemas di samping pintu lemari kamar Mamanya. Ditangannya terdapat sebuah foto yang ia dapatkan di kotak surat-surat berharga milik Mamanya. Di dalam foto tersebut terdapat 2 orang anak kecil berwajah sama yang kegirangan meniup lilin berbentuk angka 2. Ala tahu salah satu anak yang ada di foto itu dirinya dan seseorang yang mirip dengan dirinya.
"Luna" lirih Ala. Jadi apa benar dirinya dan Luna adalah saudara kembar.
"Jadi gue dan luna..." Ala keluar dari kamar itu saat mendengar suara mobil di halaman rumah. Mama dan Kakaknya sudah datang. Jangan sampai mereka memergoki Ala yang ada disini.
*****
Hari ini Luna diantar sekolah oleh supir. Gabriel pagi-pagi sekali sudah berangkat bekerja jadi tak bisa mengantar Luna.
Baru beberapa langkah memasuki gerbang ada yang menarik tangan Luna.
"Ala, Mama panggil diem aja" ucap seorang wanita cantik dengan dress hijau selututnya.
"Untung Mama belum jauh ini hp kamu ketinggalan" Luna menerima ponsel yang di berikan wanita itu dengan tangan gemetar.
"Mama berangkat ya. Kamu juga tadi katanya buru-buru mau ketemu Bu Fani" Sebelum berlalu wanita itu mencium kening Luna sekilas.
"Mama..." Luna menatap kepergian wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
****
"Ala belum datang, Ran?" Tanya Luna pada Rani teman sebangku Ala saat melihat bangku Ala masih kosong.
"Lo kan kembarannya Lun masa kagak tau besok si Ala mau ikut lomba. Sekarang dia lagi bimbingan sama Bu Fani" Luna hanya mengangguk mengerti. Semalam Ala mengiriminya pesan untuk bicara saat jam istirahat, tentang hal penting yang mereka bicarakan kemarin.
"Kok lo ngira gue sama Ala kembar?" Tanya Luna pada Rani. Luna duduk di kursi Ala yang kosong.
"Ya ampun Lun, sekilas liat juga kalian berdua mirip banget. Coba lo berdua jalan bareng orang-orang yang liat pasti ngira lo berdua kembar" jelas Rani
"Iyakah?"
"Ngaca bareng sana lo berdua supaya tambah yakin"
****
Bel istirahat sudah berbunyi karena Ala masih belum kembali ke kelas jadi Luna memutuskan ikut ajakan teman kelasnya ke kantin.
Saat baru memasuki kantin dari kejauhan Luna melihat Ala sedang makan bersama 3 gadis lainnya. Tapi, Ala terlihat tidak nyaman.
Luna menghampiri meja yang di tempati Ala.
"Kalo makan tuh enaknya sambil minum, nih gue tambahin supaya gak ribet" seorang gadis tertawa menumpahkan segelas es teh pada makanan Ala diiringi suara cekikikan 2 temannya yang lain.
Luna melihat Ala hanya diam menunduk diperlakukan seperti itu merasa tak terima. Luna maju mengambil sepiring nasi goreng yang sudah berkuah es teh lalu manyiramkannya pada gadis yang tadi menumpahkan es pada makanan Ala.
"Mampus" ejek Luna puas.
Setelah dilihat wajahnya Luna ingat gadis itu. Dia Jeanet, orang yang sudah mengganggunya saat hari pertama Luna di sekolah ini.
Jeanet menjerit tak terima rambut dan tubuhnya kotor oleh nasi yang bercampur air teh.
"s****n berani-beraninya lo sama gue" Jeanet hendak melawan Luna tapi Luna bisa menghindar.
"Dasar badut lo. Jelek banget ya muka lo kesekolah dandan kaya mau ngejablay" ucap Luna mengundang tawa bagi yang mendengarnya membuat Jeanet semakin marah.
"Udah, Lun"
Ala menarik tangan Lun untuk pergi dari kantin.
****
"Kok lo diem aja digituin sama si badut itu?" Tanya Luna kesal mengingat kejadian tadi Ala yang hanya diam ketika dibully.
"Orangtua Jeanet udah baik banget ke Mama gue, Lun. Enggak enak kalo gue sampe ribut sama Jeanet" jelas Ala pelan.
"Tapi dia bikin lo malu. Apa lo bakal diem aja dipermaluin didepan banyak orang gitu?" Luna yang melihat Ala hanya diam menghela napas kasar.
"Gue enggak nemuin apa-apa. Gue enggak berani nanya-nanya ke bokap gue" ucap Luna mengalihkan pembicaraan.
Luna melihat Ala mengambil sesuatu dari kantongnya lalu menyerahkan pada dirinya. Sebuah foto.
"Salah-satu anak kecil itu gue dan satu yang lainnya mungkin kembaran gue" jelas Ala menunjukan foto yang ia dapatkan semalam.
Luna menatap foto itu dengan mata yang berkaca-kaca. Air matanya tak bisa untuk ia bendung.
"Itu gue" lirih Luna
"Jadi bener?" Luna menatap Ala dengan air mata yang sudah mengalir. Ala tersenyum manis lalu mengangguk
Langsung saja Luna menarik Ala untuk dia peluk. Dari dulu saat Papa nya sibuk kerja ia hanya ditemani Mbak, Luna sangat ingin sekali punya saudara yang bisa ia ajak main bersama. Tapi, harapannya dulu itu hanya sekedar harapan. Mama saja tidak ada apalagi saudara.
Tapi kini dihadapannya. Didekapannya. Saudaranya. Luna punya saudara bahkan kembar yang baru diketahuinya.
"Gimana bisa kita kepisah?"
"Siapa nama Papa gue, Lun? Kaya apa wajah dia?" Tanya Ala masih dengan air mata yang berderai.
Luna mengeluarkan ponselnya. Memperlihatkan foto selfienya bersama Gabriel yang baru ia ambil semalam.
"Namanya Gabriel"
"Mirip Kak Alvin" lirih Ala
"Kita punya Kakak?"
"Gue lupa bawa hp gue, Lun" Luna merogoh kantong rok sekolahnya. Teringat pagi tadi ada seorang ibu-ibu yang mengiranya Ala.
"Tadi pagi ada ibu-ibu yang ngasih hp lo. Dia kira gue itu lo"
"Itu Mama, Lun. Itu Mama kita" Ala menggenggam erat kedua tangan Luna.
"Dan ini Kak Alvin" Ala memperlihatkan sebuah foto yang di dalamnya terdapat gambar dirinya, Kakak dan Mamanya.
"Mirip kita 'kan" tanya Ala. Luna tak sanggup lagi bicara hanya mengangguk.
"Gue pengen ketemu Mama, La"
Tiba-tiba Ala menarik ikat rambut Luna hingga rambut Luna tergerai. Lalu memakai ikatan rambut itu untuk menguncir rambutnya sendiri.
"Ayo kita coba tuker tempat"