Lima

914 Words
"Lo yakin, Lun? Apa ini enggak terlalu buru-buru?" Tanya Ala. Luna menggeleng yakin. Saat ini Luna dan Ala sedang berada di UKS. Mereka bolos di jam pelajaran terakhir. Rekor baru untuk Ala si anak rajin dan pintar pertama kalinya membolos kelas. Rencananya lusa mereka akan bertukar setelah Ala selesai ikut perlombaan. Ala jadi Luna. Luna jadi Ala. "Lo tau La, dari dulu gue pengen banget punya Mama. Sekedar tau Mama gue masih hidup atau enggak aja gue enggak tau, La" jelas Luna. Dalan hati Ala juga mengiyakan. Ala juga merasakan apa yang Luna rasakan soal keberadaan Papanya. "Di buku ini udah gue jelasin kebiasaan-kebiasaan gue dari mulai bangun sampai mau tidur lagi. Di rumah cuma ada tiga orang gue, Kak Alvin dan Mama. Udah gue tulis juga gimana Mama dan Kak Alvin di rumah" Ala menyerahkan buku yang tadi sudah ia tulis. Luna pun melakukan hal yang sama. "Foto orang-orang yang ada di rumah udah gue kirim ke hp lo. Yang penting lo tau gue sangat dekat dengan Mbak Tari. Dia pengasuh gue dari gue kecil." Luna juga menjelaskan. "Lo udah bilang Mama dan Kakak sementara lo ganti nomor hp?" Tanya Luna. Ala mengangguk. "Gue juga udah" "Gue masih enggak nyangka, La" ucap Luna menahan tangis. Ala yang sudah banjir air mata memeluk Luna erat. **** Citra dan Alvin saling pandang melihat Ala yang hanya diam sepanjang makan malam berlangsung tak seperti biasanya. "Dek?" Citra memanggil Ala namun Ala masih diam melamun. "Dek?" Kali ini Citra sambil memegang tangan Ala membuat Ala sedikit tersentak kaget. "Iya, Ma?" Ala sedikit gelagapan karena kaget "Mama perhatiin dari pulang kamu diem aja melamun. Kenapa, dek?" Tanya Citra lembut. "Eung... Anu Ma cuma kepikiran lomba besok. Terakhir aku bisa ikut lomba sebelum fokus ujian" Ala tak sepenuhnya berbohong. Memang itu juga salah satu beban pikirannya. "Mama yakin kamu pasti bisa. Kamu harus rileks jangan terlalu dibawa pikiran. Mama takut nanti kamu malah sakit" ucap Citra khawatir. "Iya, Ma" ***** Luna berdiri di depan pintu kamar Gabriel. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Luna ragu untuk mengetuk. "Luna" tiba-tiba pintu terbuka dari dalam. "Belum tidur? Besok sekolah, Lun" tanya Gabriel. "Eung..." Luna ragu untuk berbicara. "Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Gabriel . "Aku mau tidur sama Papa, malam ini aja. Please!" Ucap Luna memelas. Teringat beberapa tahun lalu saat Luna ingin ditemani tidur oleh Gabriel hanya amarah yang Luna dapat. "Papa mau ambil minum, kamu duluan masuk" Luna mengguk semangat. Gabriel mengelus puncak kepala Luna Gemas terhadap tingkah Luna. ***** Luna berbaring di atas kasur dengan memeluk Gabriel. Gabriel pun balas mendekap purtinya dengan penuh kasih sayang. Jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Luna pun sudah sangat mengantuk tapi ia paksakan tetap sadar karena sedang asik mengobrol dengan Papanya. Hal yang tak pernah di lakukan sepanjang hidupnya. Dulu jangankan mengobrol santai seperti ini Luna diam saja kadang Papanya marah. "Pengen pelihara kucing tapi nanti aku bengek ya, Pa" ucap Luna sambil terkekeh. "Asma kamu masih suka kambuh?" tanya Gabriel mengelus sayang puncak kepala Luna. "Enggak pernah, Pa. Udah lama" balas Luna. Gabriel terkekeh geli melihat Luna yang mencoba bicara sambil menahan kantuknya. "Tidur, sayang. Sudah malam besok sekolah" ucap Gabriel. "Mau puas-puasin ngobrol soalnya besoj enggak bisa" Luna makin bergelung pada di pelukan Gabriel. "Kenapa? Papa enggak keberatan setiap hari kamu tidur sama Papa" Gabriel benar-benar gemas melihat tingkah Luna yang menahan kantuk. Astaga ternyata anaknya selucu ini. Kemana saja ia selama ini. "Mau ketemu Mama" setelah mengatakan itu Luna langsung terlelap dalam tidurnya meninggalkan Gabriel yang menegang kaku mendengar ucapan Luna. "Mama?" ***** Seperti biasa sebelum berangkat sekolah Ala pamitan terlebih dahulu pada Citra sang Ibu. "Aku berangkat, Ma" Sedikit aneh, Ala yang biasanya hanya memcium tangan dan pipi Citra sebelum sekolah kini ditambah dengan memeluknya erat. Sangat erat. "Hati-hati dijalan. Kakak bawa motornga jangan ngebut. Jangan ugal-ugalan" pesan Citra sama seperti pagi-pagi sebelumnya. "Iya, Ma. Tenang aja" Citra menatap kepergian kedua anaknya dengan perasaan sedih. Saat sendiri seperti ini Citra selalu terbayang masa lalunya. Masa lalu yang membuatnya menderita. Tapi kini ia sudah lebih bahagia hidup bertiga dengan anak-anaknya. Meski tetap saja ada yang kurang. ***** "Astaga si kembar makin mirip aja. Makin susahkan gue bedainnya. Mana dua-duanya sama-sama cakep" itu suara Darwin. Teman sekelas Luna berkata seperti itu saat Luna baru memasuki ruang kelas. Luna memang kemarin sore sengaja mengunting rambutnya membetuk sebuah poni agar semakin mirirp dengan Ala. "Jadian yu, La" ucap Darwin menatap Ala memelas. "Dih, ogah" satu kelas tertawa mnedengar penolakan Ala secara terang-terangan. "Iyadeh yang belum move on dari si Bima sakti" ucap Darwin dengan nada mengejek. "Sama lo aja deh, Lun" kali ini Darwin bicara pada Luna. Luna tak menjawab hanya terkekeh geli lalu menggeleng kencang yang lagi-lagi mengundang tawa anak sekelas. ***** Bel pulang sudah berbunyi. Saat ini Luna san Ala sedang berada si dalam toilet wanita. Mereka sepakat akan melakukan pertukaran ini selama dua minggu. Sembari mencari tahu apa alasan yang membuat kedua orangtua mereka berpisah. "Astaga bener-bener mirip banget kita" ucap Ala saat mereka bediri bersisian di hadapan cermin. Semalam mereka saling memberi tahu apa kebiasaan mereka saat dirumah. Foto orang-orang terdekat pun sudah mereka saling kenalkan. Mereka sudah benaf-benar siap bertukar. "Papa sudah jemput" Ala kaku mengucapkan kata Papa. Munjukan ponselnya terdapat pesan dari Gabriel. Tadi pagi memang Luna memberikan Gabriel nomor ponsel baru yang sebenarnya nomor ponsel Ala. "Lo duluan ke luar. Nanti gue tunggu kak Alvin di halte depan" Ala mengangguk. Sebelum keluar mereka saling berpelukan. Memberikan semangat pada masing - masing. "Goodluck, twin" ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD