2

1020 Words
Tiara tampak tidak senang dengan perkataan Aluna, dia mendorong Aluna ke depan menyebabkan mereka berdua hampir jatuh sekali lagi. Kasar, tidak memiliki aturan serta sombong adalah sikap Tiara yang terjadi akibat terlalu dimanja oleh ayah dan ibunya. Tiara suka bertingkah seenaknya tanpa memikirkan orang lain dan yang paling penting dia bisa menjadi korban tanpa mau disalahkan oleh orang lain. Aluna menatap tajam Tiara jika bukan karena permintaan ibunya untuk membawa Tiara ke sini mungkin dia sudah meninggalkan gadis manja ini seorang diri di sini. Saat perdebatan akan terus berlanjut, satu mobil lagi datang ke rumah mewah Albert. Mobil itu berhenti di belakang mobil yang tadi ditumpangi gadis itu, melihat tidak ada pergerakan bahkan gerbang tidak dibuka sama sekali pengemudi mobil yang baru datang turun untuk melihat kejadian apa yang sebenarnya terjadi. "Kenapa kau berdiri di luar, Alexa? Ini siang hari! Kulitmu bisa saja terbakar, kau akan mengeluh sepanjang hari hingga kupingku terasa panas." Albert berteriak kesal pada Alexa yang sedang berbicara dengan beberapa wanita. Albert merasa kesal dengan dua wanita yang menghalangi pergerakan Alexa untuk masuk ke dalam rumah, Albert menekan klakson dengan keras agar kedua wanita itu bisa beranjak pergi dari hadapannya. Melihat wajah tampan Albert, Tiara langsung berlari menuju ke arah Albert. Albert memperlihatkan wajah kusam penuh kebencian miliknya pada dua wanita yang saat ini akhirnya bisa ia lihat dengan jelas pada wajah mereka. Albert dengan marah memberikan tatapan tajam pada Alexa memintanya untuk segera masuk ke dalam rumah, Alexa dengan patuh mengikuti keinginan Albert. Ia berjalan cepat menaiki mobilnya menunggu gerbang terbuka lalu mobil melaju ke dalam dengan kecepatan penuh, penjaga gerbang menutup pintu dengan rapat lagi karena tidak ingin menjadi sasaran kemarahan tuannya. Albert menunggu Tiara sampai di depannya, ia berdiri dengan tangan terlipat di d**a, ia memandang sinis ke arah Tiara yang terlihat begitu bersemangat. "Kakak! Akhirnya kau pulang! Aku sudah menunggumu sejak tadi di sini, lihat kulitku yang memerah ini! Penjaga gerbang sama sekali tidak mau membukakan pintu untuk kami, mereka mengabaikan kami padahal kami adalah adikmu." Tiara mengadu dengan suara centil yang dibuat-buat setelah sampai didekat Albert. Senyum manis palsu ia berikan untuk menarik perhatian Albert namun sayang sekali, Albert bahkan tidak melirik ke arahnya. Albert menatap Aluna yang sedang menunduk di depan gerbang, ia tidak berani mengangkat kepala karena takut akan kemarahan Albert, Aluna tahu Albert tidak akan pernah suka pada dirinya karena kehadirannya di keluarga Albert menghancurkan keluarganya. Tiara menatap Albert penuh harap, dia ingin diakui oleh Albert sebagai adiknya karena sekarang Albert masuk ke dalam daftar pengusaha kaya. Albert telah berhasil memenangkan banyak penghargaan di kancah nasional maupun internasional atas prestasi yang ia dapatkan, Tiara mendapatkan info tentang itu semua dari temannya dan langsung memberitahu ibunya tentang info ini. Ibunya langsung menyuruh dirinya mencari Albert untuk meminta dukungan, itulah penyebab Tiara memaksa Aluna datang ke sini. Aluna tidak ingin datang ke sini tapi karena paksaan Tiara dan ibunya Aluna terpaksa ikut. "Memangnya siapa dirimu hingga para pekerja di rumah ini harus mendengarkan apa yang kau katakan? Kau tidak akan diterima di sini," ejek Albert dengan senyum sinis, Albert melipat kedua tangannya di d**a lalu bersandar ke pintu mobilnya. "Aku adikmu! Ayah mengatakan kalau aku adalah adik bungsumu, jadi aku berhak mendapatkan kebebasan untuk ke luar masuk rumahmu, Kak!" Tiara tanpa malu berbicara, matanya mengedip dengan ramah disertai malu. Biasanya cara ini akan berhasil memikat simpati ayah mereka, ayah mereka sangat menyayangi dirinya sampai ke tulang. Apapun yang dia inginkan akan selalu dituruti oleh ayah mereka, bahkan ketika dia meminta mobil sendiri untuk pergi ke sekolah. Tiara hendak melangkah mendekat ke arah Albert, tujuannya saat ini adalah menarik perhatian Albert, mengeruk semua uang yang Albert miliki untuk berbelanja. Albert menatap Tiara sinis lalu berjalan menjauh seakan tahu Tiara akan menyentuhnya. "Jangan mendekat! Kau tidak memiliki hak untuk mendekati diriku, kau pikir siapa kau? Kau bukan siapa-siapa bagiku, kau hanya anak ayahku bukan adik atau anak ibuku jadi jangan berharap bisa mendapatkan simpati dari diriku." Albert mengatakan semuanya dengan jujur, mendengar itu Tiara terkejut bukan main. Perlahan air mata kesedihannya jatuh, Alena menangis dengan air mata yang jatuh begitu deras seolah hatinya benar-benar terluka. Tiara melangkah mundur dengan sedih, dia seperti sangat teraniaya dan terluka oleh kata-kata Albert barusan. "Hah, jangan berpura-pura baik di depanku! Dulu saat aku dibuang oleh ayahmu kenapa kau tidak pernah mencari kami? Dulu saat aku dan ibuku butuh bantuan di mana ibumu dan ayahmu itu? Jangan harap mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, kau ataupun mereka tidak akan mendapatkan apa-apa dariku." Albert tersenyum mengejek, saat itu suara lembut datang dari dalam rumah, orang itu memanggil Albert dengan lembut penuh kasih sayang. "Di luar panas, Al! Ayo masuk! Ibu membuatkan makanan kesukaanmu, kau pasti lelah dan lapar kan?" Suara lembut itu mengalun indah di telinga Albert menciptakan sebuah senyuman penuh kasih sayang. Albert berjalan masuk ke dalam mobil untuk mematikan mesin, ia mengunci pintu mobil lalu berjalan ke dalam rumah mengabaikan keberadaan Tiara dan Aluna yang masih setia berdiri di depan pintu gerbang. Tiara menghentakkan kakinya kesal karena diabaikan oleh Albert, tangannya terkepal dengan penuh kebencian karena Albert sama sekali tidak menganggap dirinya ada. 'Lihat saja, aku akan berhasil merebut hatimu sebentar lagi. Aku akan menjadi ratu di rumah ini, menguasai semua harta di rumah ini untuk diriku sendiri. Tidak akan kubiarkan kau lepas dari kendaliku sama seperti ayah dikendalikan oleh ibu.' Tiara berjanji dengan sepenuh hati. Ibu Albert tersenyum manis pada Albert sembari membuka kedua tangannya lebar-lebar, seperti anak kecil yang baru bertemu ibunya, Albert berlari kecil menuju ke arah sang ibu dengan patuh. Tiara yang melihat itu matanya langsung berbinar, sebuah rencana licik langsung meringsek masuk ke dalam pikirannya dengan niat buruk yang terlihat jelas. Tiara mulai merancang berbagai macam cara di dalam otak kecilnya untuk bisa menarik perhatian ibu Albert. Mata tajam penuh kebencian Tiara mengarah pada Aluna yang masih setia menunduk, Tiara benci memiliki kakak perempuan pengecut seperti Aluna. "Dasar tidak berguna, untuk apa aku membawamu ke sini jika kau tidak bisa memberikan aku bantuan. Bersikap lemah setiap hari seperti ini apa yang kau terima ha? Dasar sampah!" ejek Tiara kasar sebelum ia kembali berjalan menuju ke arah gerbang yang mulai tertutup rapat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD