1
Bocah itu menatap nanar pada perempuan yang sedang menangis pedih disudut kamar, air matanya tidak berhenti turun sejak tadi bahkan setelah kepergian lelaki itu. Perempuan itu memukul dadanya berulang-ulang kali untuk melepas rasa sesak yang membelenggu perasaannya, tidak ada lagi rona bahagia seperti biasa yang ada hanya wajah kecewa penuh keluhan dengan air mata berlinang.
"Mengapa? Apa yang salah pada diriku hingga dia berbuat seperti ini? Aku sudah berusaha menjadi isteri yang baik tapi apa yang dia lakukan padaku? Dia malah mencampakkan diriku demi wanita itu, wanita yang belum tentu bisa setia dan menemani dia dari nol seperti diriku." Wanita itu melontarkan pertanyaan entah pada siapa.
Perempuan itu melirik pada bocah yang sejak tadi terus memperhatikan dirinya, tangannya terbuka lebar meminta dipeluk oleh bocah itu yang langsung disambut dengan manis. Bocah itu memeluk erat tubuh wanita yang sedang menangis pilu itu, mungkin mereka mengatakan dia belum tahu apapun tapi bocah berusia delapan tahun itu sudah mengerti permasalahan yang terjadi di antara kedua orangtuanya.
"Jangan menangis, Bu! Jika dia tidak menginginkan dirimu maka aku akan menerima dirimu dengan baik, harusnya Ibu bersyukur tahu keburukannya sekarang daripada Ibu terlambat nanti." Bocah itu berbicara dengan santai namun ucapannya membuat wanita itu langsung terdiam.
"Kau-kau mendengar pembicaraan ayah dan Ibu?" tanya wanita itu tidak percaya.
Bocah itu mengangguk, dia menghapus air mata yang jatuh di pipi wanita itu dengan lembut lalu tersenyum kecil. "Aku mendengar semuanya, kalau Ibu tidak sanggup hidup bersamanya maka berpisah saja. Jangan mempertahankan sesuatu yang hanya akan membuat Ibu terluka, kasihan adikku yang belum lahir."
Ucapan yang dikatakan bocah itu membuat wanita muda itu menangis kembali, dia menyentuh perutnya yang masih rata kemudian mulai berpikir dengan benar.
"Apakah kau tidak menginginkan ayahmu lagi? Bagaimana jika kau dicemooh oleh orang-orang nanti? Kau masih kecil, Nak!" bujuk perempuan itu dengan suara manis lembut nyaris seperti bisikan.
"Aku lebih takut kehilanganmu, Ibu! Setiap hari dari pagi hingga malam hari aku hanya bertemu dengan sosok dirimu, kapan aku pernah bertemu sosok yang Ibu sebut ayah itu. Maka dari itu, lebih baik aku kehilangan dia daripada Ibu. Jadi jangan menangis lagi! Ayo kemasi barang-barang kita, Bu!" ajak anak itu pada perempuan yang sudah melahirkannya itu.
"Al, kau serius dengan semua ini? Kau tidak merasa iba pada Ibu saja kan?" tanya wanita itu memastikan sembari memegang wajah putranya itu agar melihat ke arah dirinya.
Albert mengangguk, dia mengecup pipi perempuan itu dengan sayang lalu berjalan ke koper besar yang ada di samping lemari, mendorong koper itu menuju perempuan yang telah melahirkannya itu.
"Kata temanku saat pindah yang paling penting kita ambil adalah surat-surat berharga beserta perhiasan. Kira-kira di mana letak benda itu, Bu?" tanya Albert ingin tahu, dia membuka lemari yang ternyata tinggi itu dan hanya bisa menggapai apa saja yang berada didekatnya.
Elena ibu Albert tertawa mendengar penuturan putranya, ia membuka laci besar tempat biasa ia menyimpan perhiasan. Dikeluarkannya semua perhiasan itu lalu dimasukkan ke dalam koper miliknya sesuai dengan keinginan Albert.
Tidak tanggung-tanggung, Elena juga mengeluarkan surat tanah serta sertifikat rumah yang sudah dibalik namakan atas nama dirinya dan Albert. Elena menyimpan semuanya ke dalam koper termasuk juga pakaian sehari-hari yang akan dia pakai, melihat itu Albert berlari ke kamarnya, dia dengan cekatan memasukkan baju ke dalam koper kecil miliknya lalu ke luar kamar setelah semua selesai.
"Bu, jual saja rumah ini! Uangnya lumayan untuk membeli rumah baru, ini kartu tabungan Albert, Bu! Ibu bisa menggunakan uang ini untuk usaha," ujar Albert bangga sembari menyerahkan kartu rekening bank miliknya yang baru diisi beberapa hari yang lalu.
Biasanya Albert akan menyimpan uang di tabung kaleng, ketika tabung itu penuh uang tabungannya akan dipindahkan ke dalam akun bank milik Albert yang dibuatkan khusus oleh pihak bank. Albert tampak bangga saat Lena menerima kartu itu, mereka berjalan ke luar rumah di bawah tatapan pelayan serta penjaga.
Sebelum pergi menaiki mobilnya Lena masih menyempatkan diri menengok ke belakang, rumah ini penuh dengan berbagai kenangan namun dari pada membiarkan orang lain memilikinya lebih baik dijual saja dan menghasilkan uang untuknya dan Albert.
Bertahun-tahun setelah kejadian itu, kini di depan sebuah rumah besar dengan keamanan ketat seorang anak perempuan yang umurnya tiga tahun di bawah Albert menunggu dengan harap-harap cemas. Tas mewah yang dikenakannya terlampir dengan indah di bahunya yang putih mulus, bersama anak perempuan itu juga ada gadis remaja yang berusia sekitar 16 tahun juga menunggu dengan raut wajah prihatin.
"Bagaimana, Kak? Apakah mereka akan membukakan pintu untuk kita? Apakah kakak akan mengenali kita?" tanya gadis remaja 16 tahun itu.
Dia terus menekan bel berharap pintu gerbang segera terbuka karena panas siang ini terasa begitu menyengat, mereka sejak tadi sibuk mengipasi diri mereka dengan tangan. Saat itulah dari belakang terdengar klakson mobil yang cukup memekakkan telinga, dari pintu belakang seorang gadis berumur 16 tahun turun sembari melirik dengan tatapan aneh pada dua orang di depannya.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Siapa yang kalian cari?" tanya gadis itu dengan kening mengernyit, dia heran kenapa musuh bebuyutannya di sekolah bisa datang ke rumahnya.
Gadis yang ditanyai oleh wanita itu tampak kesal, dia berjalan mendekat lalu mendorong anak perempuan yang bertanya tadi hingga membuat dia jatuh dengan menyedihkan. Ada luka tercipta di telapak tangan serta di kakinya akibta tergores kayu.
"Apa yang dilakukan gadis miskin seperti dirimu di rumah mewah ini? Ini rumah kakakku, dia tinggal di dalam sini. Jangan bermain di sini! Kau bisa mengotori tempat ini nanti," ejek gadis itu dengan senyum angkuh, tangannya terlipat di d**a terlihat sangat meremehkan gadis yang baru saja didorongnya itu.
"Apa yang kau lakukan Tiara? Kenapa kau begitu kasar pada temanmu?" Wanita yang datang bersama gadis itu tampak kesal, dia berjalan menuju pada gadis yang jatuh itu membantunya berdiri.
Melihat luka di kaki gadis itu wanita berusia 22 tahun itu langsung mengeluarkan sapu tangan dari dalam tas selempang yang dia bawa membersihkan lukannya secara perlahan.
"Kenapa kau menolong dia, Kak Luna? Dia itu gadis miskin yang tidak tahu diri, dia hanya bisa menggoda pria tampan di sekolah saja. Lepaskan tangannya!" teriak Tiara dengan keras, dia menarik tangan Luna agar melepaskan pegangannya dari gadis itu.
"Maafkan adikku! Dia terlalu dimanja oleh ibuku hingga akhirnya bersikap sombong seperti ini."