Emira sedang menikmati buah melon ditemani oleh pengasuhnya, saat Frida dan Aini menyiapkan makan malam untuk mereka. Aini yang sedari tadi terus penasaran dengan orang-orang yang datang bersama sahabatnya, kembali menagih penjelasan dari Frida, terutama tentang anak kecil yang memanggil bunda pada gadis berperawakan semampai itu.
"Kasihan anak sekecil itu harus menanggung beban mental yang berat. Lagian ada ya sosok bapak yang kejam begitu? pengen aku pithes aja kalau ketemu. Sudah tahu anak ditinggal minggat ibunya malah dikasarin begitu." Aini ikut geram mendengar penuturan Frida tentang Riega.
"Emang berani kamu pinthes lelaki songong itu kalau beneran ketemu? aku aja ogah berurusan dengannya. Darah dagingnya sendiri saja diperlakukan sapai kesakitan begitu," tutur Frida dengan bergidik ngeri, mengingat kejadian di mall tadi.
Obrolan dia gadis penghobi masak itu terus mengalir, tak terasa masakan yang mereka siapkan juga telah rampung, dan sudah tertata rapi di atas meja makan. Emira kembali merajuk, minta di gendong Frida yang langsung dituruti oleh pemilik senyum menawan itu.
"Assalamualaikum..." Terdengar seseorang mengucap salam dari luar rumah.
"Alaikumsalam." Frida yang sedang menemani Emira melihat kartun membalas.
"Itu Oma, Bund," sambung Emira dengan wajah berbinar.
"Iya kah, coba Bunda lihat sebentar, Emira tunggu di sini atau ikut?"
"Tunggu di sini saja," balas Emira dengan senyum terkembang. Dan Frida mengacungkan ibu jarinya lalu melangkah ke luar.
"Malam Fri, maaf ya sudah direpotkan jaga Emira, dia nggak nakal kan?" ucap Nyonya Gulizar merasa tak enak hati karena sudah merepotkan gadis di depannya, dengan menitipkan sang cucu.
"Enggak Bu, Emira anak yang manis, penurut juga pintar. Saya nggak merasa repot, malah senang rumah jadi ramai. Mari masuk, Bu," tutur Frida dengan senyum ramahnya.
"Pak Mamat sekalian masuk saja, kita makan malam bersama," lanjut Frida begitu melihat sopir keluarga Latief keluar dari mobil.
Sesaat Frida melihat perubahan ekspresi dari wajah dua orang di hadapannya, gadis cantik berlesung pipi itu sangat tahu kalau apa yang baru saja dikatakan pasti sangat berbanding terbalik dengan kebiasaan keluarga Latief. Tapi ini rumah kontrakannya, siapa saja yang berada di dalamnya diperlakukan sama, tidak ada perbedaan status, entah itu orang kaya atau hanya pegawai biasa.
Pak Mamat menatap Frida sejenak, lalu gadis berambut panjang itu memberikan isyarat anggukan, lalu mempersilahkan sopir pribadi Emira itu masuk terlebih dahulu, sambil membawa beberapa paper bag bertuliskan butik yang cukup terkenal.
"Fri…" Nyonya Gulizar sebenarnya ingin memprotes sikap Frida, tapi karena ini kediaman gadis itu, dan dirinya hanya tamu tentu tidaklah etis kalau menegur tuan rumah hanya karena mereka akan makan semeja dengan para pekerjanya.
"Iya Bu, ada apa?" Frida tahu apa yang ingin diucapkan wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu.
"Bu, maaf kalau Ibu merasa kurang nyaman saya mengajak makan Pak Maat dan Mbak Ria, mungkin berbeda dengan kebiasaan di kediaman Ibu, tapi ini gubug saya, Bu. Jadi saya harap Ibu bisa menerima keadaan ini," tutur Frida dengan sopan, berusaha tidak menyinggung perasaan Nyonya Gulizar.
"Oh… tidak apa-apa Fri, nggak usah merasa tidak enak hati seperti ini. Setiap rumah memang punya aturan sendiri-sendiri, saya tentu juga harus menghormati tuan rumah dong." Nyonya Gulizar harus berbesar hati dengan keputusan Frida mengajak sopir juga pengasuh cucunya makan satu meja bersama.
"O iya, saya bawakan beberapa baju juga tas semoga kamu suka, kalau ukurannya kurang pas nanti bisa ditukar, sekalian main ke butik saya." Kembali Nyonya Gulizar berucap, menjelaskan isi paper bag yang dibawa Pak Mamat ke dalam rumah Frida.
"Masyaallah, kenapa harus repot-repot segala, Bu. Saya jarang memakai pakaian bermerk, apalagi keluaran butik terkenal, seperti milik Ibu." Frida sungkan dan merasa tidak enak hati dengan pemberian nenek Emira tersebut.
"Nggak ada yang repot, anggap saja sebagai hadiah sudah membantu menjaga Emira. Boleh saya masuk, aroma masakan dari dalam membuat perut saya keroncongan," kekeh Nyonya Gulizar sambil mengusap lengan atas Frida.
"Astaqfirulloh, maaf sampai lupa mempersilahkan Ibu masuk, keasyikan ngobrol di luar kita. Mari Bu, silahkan masuk." Frida mempersilahkan ibunda Reiga itu untuk memasuki rumahnya, mereka berjalan beriiringan.
"Oma...." Suara ceria Emira menyambut kedatangan Omanya juga Frida. Senyum mengembang di wajah cantik wanita yang selalu mengenakan hijab modis itu.
"Sayangnya Oma, kangen rasanya nggak melihat kamu setengah hari saja. Tadi nakal nggak?" Nyonya Gulizar membawa gadis kecil berambut kecokelatan itu dalam gendongannya.
"Enggak dong, Emira nurut kok sama Bunda. Tapi tadi Em takut waktu papa marah-marah, Bunda juga dibentak." Suara Emira seketika terdengar gemetar, wajah cantiknya berubah sendu. Frida yang kebetulan berada di dekat Nyonya Gulizar langsung mengusap-usap punggung Emira.
"Mau sama Bunda," pinta Emira pada sang nenek. Frida sigap mengambil gadis kecil itu dari gendongan Nyonya Gulizar.
"Yuk kita makan, Bunda sudah lapar, Oma juga tadi bilang sudah lapar. Iya kan, Oma?" Frida berusaha mengalihkan pembicaraan, tidak mau melihat Emira kembali bersedih dan membuka memori traumanya, akibat amukan sang ayah.
Suasana meja makan yang awalnya sunyi dan hanya terdengar bunyi sendok yang beradu dengan piring, perlahan mulai menghangat. Frida lebih mendominasi dengan pancingan obrolan pada Emira, sesekali Aini menyambung orolan perempuan dua generasi itu. Nyonya Gulizar tetap tenang menikmati makan malamnya, pandanganya tak lepas dari interaksi Emira dengan Frida.
'Andai saja Mesya tidak meninggalkan Emira, tentu cucuku akan selalu tersenyum bahagia seperti ini,' tutur batin wanita berkebangsaan Turki itu, menyesalkan kepergian mantan menantunya, hingga meninggalkan luka untuk putra juga cucunya.
"Oma, apa Em boleh tidur di rumah Bunda?" Semua mata tertuju pada gadis kecil yang masih asyik melahap chiken katsu bikinan Frida.
"Em, Bunda masi banyak pekerjaan, nanti kalau Emira menginap, takutnya malah mengganggu Bunda," balas Nyonya Gulizar, berusaha memberi pengertian pada cucunya.
Emira yang merasa kecewa dengan jawaban oma-nya, langsung memandang Frida, sekadar mencari kebenaran tentang apa yang diucapkan sang nenek. Frida merasa bimbang, sebenarnya kalau boleh jujur, dia juga masih ingin bersama Emira, tapi pekerjaannya juga sedang menunggu untuk diselesaikan. Melihat sorot mata yang meredup pada gadis kecil di samlingnya, membuat hati Frida teriris perih. Dielusnya rambut kecokelatan yang terasa lembut saat teraba.
"Sayang, jujur Bunda juga sangat senang kalau dekat dengan Emira, tapi yang dikatakan Oma benar, kerjaan Bunda masih banyak, besok harus menyiapkan pesanan, nanti kalau Bunda sibuk di dapur Emira sama siapa? Bunda juga nggak bisa menemani Emira bobo." Frida menatap lembut wajah cantik di depannya sambil tersenyum.
"Ada Mbak Ria'kan?" Rupanya gadis berhidung mancung itu keukeh dengan keinginannya untuk menginap di rumah Frida.
"Ya sudah kalau memamg mau Emira demikian, Mbak Ria tolong temani Emira ya, nanti baju ganti biar diambilkan Pak Mamat." Nyonya Gulizar akhirnya mengizinkan cucunya menginap di rumah Frida.
"Hore… hore… terima kasih Oma, Em sayang Oma." Emira beranjak dari kursinya, lalu menghampiri sang nenek, memeluk dan memberikan ciuman, pada wanita yang ikut merawatknya sejak bayi itu.