Bab 11 Langsung Aku Gibeng

1203 Words
Emira tampak bahagia setelah sampai di rumah bundanya. Frida merasa terharu melihat sorot ceria dari mata indah Emira. Dia tahu kalau tidak mudah untuk anak seusia Emira, harus mengalami peristiwa yang tidak mengenakan. Apalagi sampai mendapat perlakuan kasar dari sang ayah, yang seharusnya melimpahkan kasih sayang dan melindunginya. “Bund…” “Iya, Sayang, sudah bangun?” Frida membetulkan tubuh Emira dalam gendongannya supaya nyaman. “Ini di mana?” Emira memperhatikan sekelilingnya. “Kita sudah sampai di rumah Bunda, Non, seneng nggak?” Mbak Ria mengekor Frida yang mengendong Emira masuk ke dalam rumah diikuti Pak Mamat yang membawakan belanjaan juga barang-barang keperluan anak majikannya. “Yee… sampai di rumah Bunda! Em mau di sini terus, mau sama Bunda aja, nggak mau sama papa,” celoteh Emira dengan riang. “Em boleh di sini, tapi anak bunda yang cantik ini tidak boleh membenci papa. Mungkin tadi papa sedang capek, suasa hatinya juga sedang kurang baik. Kan Em juga lihat kalau bunda yang dimarahi papa. Maaf ya gara-gara bunda, Em jadi kena sasaran kemarahan papa.” Frida tak bisa membendung air matanya. Dieratkan pelukannya pada tubuh Emira. “Bunda nggak salah, papa saja yang selalu galak, suka marah-marah,” sahut Emira cepat, tangan kecilnya mengusap kedua pipi basah milik Frida. “Yuk salat dulu, minta sama Allah supaya papa nggak marah-marah lagi. Bisa punya waktu untuk Emira,” ajak Frida saat mendengar kumandang adzan dari masjid kompleks. “Tapi Emira nggak bawa mukena, Bund,” adu Emira sambil melirik ke arah pengasuhnya. “Bunda ada mukena kecil, nanti kita coba dulu ya, insyaallah muat. Yuk ambil wudhu dulu.” Frida menuntun Emira kebelakang, dan berpapasan dengan Aini yang baru keluar dari kamarnya. “Da, siapa?” Aini menatap bergantian pada gadis kecil yang digandeng sahabatnya, juga seorang wanita dengan membawa tas yang ditaksir Aini berisi perlengkapan anak perempuan berwajah blasteran tersebut. “Mbak Frida, maaf saya izin pamit. Nyonya minta dijemput, kemungkinan nanti langsung menuju ke sini.” Belum sempat Frida menjelaskan tentang Emira dan pengasuhnya pada Aini. Pak Mamat menyusul masuk dengan membawa banyak kantong belanjaan, yang Langsung diterima Aini, karena gadis itu tahu, kalau semua itu memang belanjaan sahabatnya. “Eh, iya Pak. Nanti sampaikan pada ibu, biar sekalian makan malam di sini saja. Saya masakin dulu, ya Pak,” jawab Frida sambil meminta tolong Mbak Ria menemani Emira mengambil wudhu. “Baik Mbak, nanti saya sampaikan pesan Mbak Frida pada Nyonya. Saya permisi, assalamualaikum.” “Waalaikumsalam,” balas Frida dan Aini bersamaan. Aini menatap lekat pada sahabatnya yang dirasa berhutang penjelasan padanya. Frida paham kalau gadis yang sudah dianggapnya saudara itu masih menuggu dirinya menceritakan apa yang terjadi dan tidak diketahui oleh Aini. “Kita salat dulu, nanti selesai salat aku janji akan menceritakan semua, tanpa ada yang aku kurangi atau aku tambahi, oke?” Frida meminta waktu pada Aini untuk mereka menjalankan kewajiban mereka terlebih dahulu. “Bunda, mukena Em mana?” Pandangan Aini semakin menghujam pada sahabatnya, begitu mendengar gadis kecil berwajah campuran itu memanggil Frida bunda. “Sebentar ya Sayang, bunda ambilkan.” Frida beranja ke dalam kamar untuk mengambil mukena baru yang setahun lalu dia beli dari seorang pedagang keliling yang usianya sudah sepuh. Frida merasa kasihan pada penjual tersebut. Akhirnya mukena berwarna ungu polos kombinasi ungun dengan motif bunga-bunga kecil ada yang memakai juga. Frida memakaikan mukena untuk Emira, ditatapnya wajah bulat dengan manik mata hazel, sangat cantik. Mbak Ria tidak menyiakan kesempatan, anak asuhnya memakai mukena dan terlihat sangat menawan. Selama ini Reiga memang kurang memperhatikan Emira, apalagi masalah pendidikan agama. Beruntung Mbak Ria banyak membimbing anak asuhnya itu untuk belajat tentang agama, menjalankan ibadah sesuai ajarannya. Mengajarkan Emira membawa huruf hijayah, sampai menghapal ayat-ayat pendek, juga doa-doa harian. Frida, Aini, Emira bersama Mbak Ria melaksanakan salat magrib berjamaah. Aini yang menjadi imam mereka, karena Emira tidak mau berjauhan dengan Frida. Setelah selesai menjalankan kewajiban sebagai umat muslim. Frida dibantu Aini menyiapkan makan malam. Emira yang lengket terus dengan bundanya sampai didudukan di atas meja yang letaknya tak jauh dari tempatnya beraktifitas. "Da, kamu masih hutang penjelasan padaku." Aini mengingatkan sahabatnya itu sambil mengupas mentimun dan wortel yang akan dibikin acar. "Iya, Ni. Nanti saja ya, nggak enak masih ada Emira. Biarpun masih kecil, tapi pikirannya cukup cerdas menyerap dan memperhatikan apa yang dilihat juga didengarnya. Jangan sampai mentalnya terluka lagi." Frida meminta waktu pada Aini. Dengan tangan yang terus bergerak aktif menyiapkan masakan untuk makan malam mereka. "Bund, Emira boleh makan buah?" tanya Emira sambil menyerahkan melon pada Frida, untuk dipotongkan. "Boleh, tapi sedikit saja ya, takutnya nanti Emira kenyang sebelum makan berat." Frida mulai mengupas buah yang menjadi kegemaran Emira, lalu memotong-motongnya dan menempatkan di dalam mangkok melamin, dilengkapi dengan garpu kecil. "Oke Bunda," jawab gadis kecil yang gigi susunya mulai keropos bagian depannya. Tampak semakin menggemaskan kalau sedang tertawa. "Mbak Ria, bisa tolong bawa Emira makan di ruang tengah sambil makan buahnya. Kalau tetap di sini takut tersedak saat nanti saya menunim bumbu," pinta Frida yang langsung mendapat prites dari Emira. "Bund..." "Sayang, bunda mau tumis bumbu pedas, kalau kesedak bagaimana? belum lagi nanti matanya merah kena asapnya. Nanti kalau bunda sudah selesai masak, Oma sudah datang kita makan bersama, oke?" Frida mengangkat tubuh Emira, diajaknya ke ruang tengah lalu didudukan di sofa yang menghadap ke pesawat televisi. Tontona kartun sudah tersaji, mata bermanik hazel langsung fokus menatap layar tipis berukuran 20 inci. "Tadi ribut nggak mau pisah sama kamu, giliran udah lihat Coco Melon langsung melotot." Aini sudah berdiri di belakang Frida sambil terus memperhatikan Emira. "Nemu anak di mana sih kamu, Da?" "Dia cucu majikan Pak Nardi yang tempo hari ulang tahun, Ni. Kebetulan tadi ketemu di supermarket, sama oma-nya juga sih. Tapi Emiranya milih ikut aku." Frida mulai membuka cerita tentang Emira. "Kok bisa langsung lengket sama kamu, mana manggil bunda lagi. Jangan-jangan kamu memang ibunya?" Kening Aini berkerut, pandangannya menelisik sang sahabat dari atas sampai bawah. Sudah seperti penyidik kepolisian saja. "Sembarangan kalau ngomong. Dia memang sudah nggak punya ibu sejak umur seminggu. Jadi Emira nggak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Bersyukur ada Mbak Ria yang sayang dengan Emira, juga Nyonya Gulizar, oma Emira." Frida merangkai kisah tentang gadis kecil yang memanggilnya ibu. "Kasihan anak sekecil itu harus menanggung beban mental yang berat. Lagian ada ya sosok bapak yang kejam begitu? pengen aku pithes aja kalau ketemu. Sudah tahu anak ditinggal minggat ibunya malah dikasarin begitu." Aini ikut geram mendengar penuturan Frida tentang Riega. "Emang berani kamu pinthes lelaki songong itu kalau beneran ketemu? aku aja ogah berurusan dengannya. Darah dagingnya sendiri saja diperlakukan sapai kesakitan begitu," tutur Frida dengan bergidik ngeri, mengingat kejadian di mall tadi. "Da, kita sebagai perempuan harus berani melawan, apalagi melihat tindak kekerasan terhadap anak begitu, walaupun perbuatan itu dilakukan orang tuanya sendiri. Kalau dibiarkan bakal banyak aksi kejahatan yang korbannya anak-anak," kata Aini dengan berapi-api. Sudah ngalah-ngalahin orang-orang di KPAI saja. "Dapat side job dari KPAI kamu, Ni? udah seperti anggota Komnas Perlindungan Anak ngomongnya." Frida menatap sahabatnya dengan jenaka. "Frida gitu kan, aku serius Da. Coba kalau misal anakmu yang mendapat perlakuan seperti itu dari bapaknya, bagaimana perasaanmu?" Aini mengajukan pertanyaan perumpamaan pada Frida sambil menyiapkan meja makan. "Ya langsung aku gibeng bapaknya, anak kok diperlakukan kasar bagitu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD