Bab 10 Sampai Rumah Bunda

1226 Words
“Anak kecil itu lalu keluar dari kamar dan berjalan keluar, mengikuti arah suara tangis yang didengarnya. Di luar rumah sangat gelap, sepi, tidak ada seorangpun yang lewat. Anak kecil itu sempat ragu untuk melanjutkan niatnya, tapi rasa penasaran dalam hatinya lebih besar, hingga dia tetap keluar dan melihat siapa yang menangis.” Frida kembali menghentikan ceritanya, membantu Emira memisahkan tulang ayam. Frida meminta Mbak Ria untuk makan terlebih dahulu, dan dirinya yang akan menemani Emira makan. “Anak itu pemberani ya, Bund, sama seperti aku. Kalau malam mau pipis aku bisa sendiri,” tutur Emira sudah dengan senyum di wajahnya, walau sesekali bekas sesenggukan bekas tangis masih terdengar. “Benar begitu? coba nanti Bunda tanya Mbak Ria, apa benar anak Bunda ini seberani itu.” Frida pura-pura tidak percaya kalau gadis kecil di sebelahnya adalah anak yang pemberani. “Betul Bunda, Emira nggak bohong.” Emira membela diri. “Iya Sayang, bunda percaya. Oke, kita lanjutkan ceritanya, Emira juga habiskan makannya ya.” Emira mengangguk mantap. “Waktu sampai di dekat sumber tangisan, yang ternyata di dekat tempat sampah, tumpukan nasi yang menangis. Mereka bersedih karena tidak dimakan, tapi justru dibuang begitu saja, dan akhirnya membusuk. Hewan seperti anjing atau kucing liar saja juga sudah tidak mau memakan. Padahal untuk menjadi sebutir nasi perjalanan mereka sangat panjang. Em kasian tidak kalau melihat nasi yang tidak dimakan dan akhirnya dibuang begitu saja?” “Kasihan Bunda, sedih hati aku setelah tahu kalau mereka bisa menangis,” balas Emira dengan gerakan cepat menghabiskan makanan di atas piringnya, hingga tandas tak bersisa. “Hore habis!” “Anak bunda memang juara, sudah selesai, waktunya kita cuci tangan.” Frida anak beranjak dari tempat duduknya dan membawa Emira ke tempat cuci tangan, tepat saat Mbak Ria sampai di meja mereka. “Biar Emira cuci tangan sama saya saja, Mbak. Mbak Frida malah belum makan dari tadi,” kata Mbak Ria sambil mengandeng tangan Emira. “Em nggak papa cuci tangan sama Mbak Ria?” Ada nada khawatir dari suara Frida, takut kalau mood gadis kecil itu kembali berubah jelek. “Nggak papa, Bunda makan saja dulu, kasihan nasinya nanti nagis,” balas Emira dengan wajah yang sudah kembali ceria. Frida sangat bersyukur akhirnya tawa Emira kembali, walau dia tau pikiran anak perempuan Reiga itu masih sangat kuat merekam kejadian antara dirinya dengan Reiga beberapa waktu lalu. Frida mengajak Emira dan Mbak Ria berbelanja ke supermarket sebentar. Membeli bahan-bahan catering yang tadi di supermarket pertama belum sempat terbeli, karena keburu bertemu dengan Emira. Frida yang pada dasarnya punya sifat welas asih (belas kasih) meminta Mbak Ria untuk berbelanja keperluan pribadinya. Pada awalnya pengasuh Emira itu tidak mau, tapi karena Frida memaksa maka mau tidak mau, wanita yang telah berputra dua itu menuruti permintaan gadis yang dianggap ibu oleh Emira. “Terima kasih ya, Mbak. Baru kali ini ada yang memperhatikan saya, selain keluarga Nyonya Gulizar,” terang Mbak Ria dengn wajah semringah. “Sama-sama, Mbak. Saya hanya penyalur rezeki Mbak Ria yang kebetulan jalurnya lewat saya.” Frida juga membelikan beberapa keperluan pribadi Pak Mamat, kali ini gadis yang mulai merintis usaha kuliner sejak keluar dari rumah orang tuanya itu, hanya berbagi dengan pengasuh juga sopir yang biasa menemani kegiatan Emira, untuk Pak Nardi dan Mbok Jum, serta yang lain, mungkin di lain kesempatan. Tidak makan waktu lama utuk menyelesaikan kegiatan belanja mereka, lalu Frida meminta Pak Mamat mengantar pulang ke rumahnya, sesuia permintaan Emira dan tentu atas izin Nyonya Gulizar. Emira terlihat sangat bahagia begitu tahu kalau dirinya akan pulang ke rumah bundanya. Suasana dalam mobil yang tadi sempat hening dan penuh ketegangan, sekarang berubah jadi lebih cair. Suasana hati Emira ternyata sangat berpengaruh banyak untuk orang-orang dewasa yang berada di sekitarnya. Perjalanan yang seharusnya singkat, menjadi lama karena kemacetan mulai mengular. Biasanya Frida memakai motor bisa dengan lincah nyelip di antar kemacetan, juga melewati gang-gang tembus yang mempercepat perjalannya. Emira tertidur dipangkuan Frida, mungkin kelelahan setelah melewati kejadian yang membuat swing mood pada dirinya. “Kasihan Non Emira, baru kali ini Tuan Reiga sampai semarah itu, sampai Non Emira kesakitan seperti tadi.” Mbak Ria memecah keheningan. “Salah saya yang jelas, Mbak,” sahut Frida cepat. Bayang-bayang kemarahan Reiga juga tangis ketakutan Emira kembali melintas di pelupuk matanya, tanpa sadar lapisan bening telah mengaburkan pandangannya. Rasa sesak menghimpit d**a, dihembuskan napas untuk melonggarkan rongga parunya, supaya lebih longgar. Mbak Ria memandang gadis yang dianggap ibu oleh anak asuhnya, lalu mengambil dua lembar tissue, diserahkan pada Frida. “Terima kasih, Mbak,” ucap Frida menghapus lelehan air mata. “Tuan Reiga memang membatasi Emira untuk tidak dekat dengan sembarang orang. Bahkan dengan Non Sisil, Tuan juga sangat melarang dekat-dekat dengan Non Emira, tapi ini malah lengket dengan Mbak Frida,” tutur Mbak Ria yang menyebut satu nama dan membuat kening Frida berkerut. “Non Sisil itu anak teman Nyonya. Sepertinya dia suka dengan Tuan Reiga, bahkan beberapa kali menginap di rumah. Tapi setiap Non Sisil datang, Tuan acuh tak acuh. Non Emira juga dilarang untuk dekat dengan Non Sisil, takut kena pengaruh buruk, kata Tuan Reiga. Saya juga sebenarnya risih kalau ada wanita itu di rumah. Non Emira tidak pernah mau dekat dengan orang itu.” Mbak Ria menjelaskan tentang Sisil tanpa diminta. “Memang nggak cantik, kok Pak Reiga sampai mengacuhkan wanita itu?” Frida semakin penasaran. “Cantik, Mbak. Malah cantik banget, seperti model yang sering nongol di TV. Tapi ya itu, kalau pakai baju, suka kurang bahan. Mungkin Tuan juga risih dengan penampilan Non Sisil. d**a, paha, perut ke mana-mana.” Mbak Ria terkikik saat menceritakan tentang Sisil, wanita yang gencar mendekati Reiga sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku sekolah, tapi lagi-lagi Reiga tetaplah Reiga, lelaki kulkas dengan segala kecuekannya terhadap lawan jenis. “Ish Mbak Ria nih ya, nanti kalau kedengaran orangnya bisa kena semprot Pak Reiga lo.” Frida mengingatkan pengasuh Emira, dan tak urung dia juga ikut tertawa. Pak Mamat yang duduk di bangku depan, juga ikutan tersenyum mendengar pembicaraan dua perempuan di belakangnya. “Aman Mbak kalau sama kami,” sahut Pak Mamat dengan melihat ke arah Frida dan Mbak Ria, yang dibenarkan pengasuh Emira dengan anggukan. “Pak, pagar hitam berhemti ya, nanti biar saya buka dulu pintu pagarnya, baru Pak Mamat parkirkan mobil di dalam.” Frida mengarahkan begitu tersadar kalau sebentar lagi sampai di rumah kontrakannya. “Yang ada pohon mangganya itu, Mbak?” jawab Pak Mamat dengan pandangan tertuju pada rumah berpagar hitam dengan pohon mangga yang berbuah lebat. “Iya, Pak. Mbak Ria bisa ambil alih Emira sebentar, saya mau buka pintu pagar dulu,” pinta Frida pada pengasuh Emira. “Biar saya saja, Mbak. Di kunci apa hanya di slot saja?” Mbak Ria membuka pintu mobil sambil berjalan mendekat ke pintu pagar rumah kontrakan Frida. “Cuma di slot kok, Mbak.” Frida mengikuti Mbak Ria dari belakang sambil mengendong Emira. “Bund…” “Iya, Sayang, sudah bangun?” Frida membetulkan tubuh Emira dalam gendongannya supaya nyaman. “Ini di mana?” Emira memperhatikan sekelilingnya. “Kita sudah sampai di rumah Bunda, Non, seneng nggak?” Mbak Ria mengekor Frida yang mengendong Emira masuk ke dalam rumah diikuti Pak Mamat yang membawakan belanjaan juga barang-barang keperluan anak majukannya. “Yee… sampai di rumah Bunda! Em mau di sini terus, mau sama Bunda aja, nggak mau sama papa,” celoteh Emira dengan riang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD