Bab 9 Story Time

1316 Words
“Mbak kita pulang, tolong hubungi sopir nyonya, ya” pinta Frida pada pengasu Emira. “Baik, Non.” Frida membawa Emira keluar mall, menunggu sebentar di dalam loby, begitu mobil keluarga Latief berhenti di depan pintu masuk, Mbak Ria berjalan mendahului diikuti Frida. “Kita kemana, Non?” tanya sopir keluarga Latief pada Frida. “Pulang saja, Pak..." jawab Frida. “Em nggak mau pulang ke rumah papa," potong Emira dengan suara terbata-bata di sela isak tangisnya. "Mamat, Non. Nama saya Mama," sahut sopir keluarga Latief "Pak Mamat, Mbak Ria tolonga jangan panggil saya Non. Saya bukan majikan kalian. Panggil saja Frida," pinta Frida merasa rikuh dipanggil "Non" oleh Pak Mamat juga Mbak Ria. "Sayang, kalau nggak mau pulang ke rumah papa, kita pulang ke rumah oma saja, ya," bujuk Frida pada Emira. "Em nggak mau sama Papa. Em mau pulang ke rumah Bunda," pinta Emira masih dengan tangisnya. Frida menatap pengasuh Emira dan Pak Mamat bergantian, meminta pertimbagan atau saran atas permintaan Emira. Dari arah belakang terdengar suara klakson, rupanya ada beberapa mobil yang sudah mengantri di belakang mobil yang mereka tumpangi. “Jalan saja dulu, Pak. Nanti kita putuskan sambil jalan mau pulang kemana,” pinta Frida yang langsung di balas anggukan oleh Pak Mamat. "Mbak, Pak, ini baiknya bagaimana, ya? Saya kasihan sama Emira, tapi juga nggak mau dikatakan lancang kalau membawa Emira pulang ke rumah saya. Takutnya Pak Reiga tambah marah, nanti Emira lagi yang jadi sasaran." Frida memecah keheningan dalam mobil setelah sekitar lima menit perjalanan. "Loh... memang Den Reiga tadi juga ada?" Pak Mamat tampak kaget mengetahui kalau anak majikannya ternyata sudah lebih dulu datang. "Iya, Pak, cuma sebentar lalu pergi lagi," terang Frida. "Mbak Frida kenapa nggak telepon Nyonya saja, tanya bagaimana baiknya," usul Mbak Ria setelah diam beberapa saat. Rupanya pengasuh Emira itu juga memikirkan jalan keluar terbaik untuk permintaan anak asuhnya. "Bener juga ya, Mbak. Kenapa nggak terpikir telepon ibu saja. Mbak Ria bisa tolong sambungkan ke nomor ibu," pinta Frida menyerahkan ponselnya pada pengasuh Emira. Mbak Ria menunggu beberapa saat sampai panggilan terhubung, jujur hati pengasuh Emira itu juga ketar-ketir, takut menggangu sang majikan yang mungkin sedang sibuk, dan tidak bisa di ganggu. Hingga panggilan ke tiga belum ada respon dari Nyonya Gilizar. Mbak Ria mengembalikan ponsel Frida sambil menggeleng perlahan. “Nggak diangkat, Mbak,” ucap pengasuh Emira, seakan mempertegas isyarat gelengannya tadi. “Mungkin sedang sibuk, ya sudah kita tunggu saja. Pak, kita cari tempat makan dulu saja, sudah siang juga.” Frida menginstruksikan pada Pak Mamat untuk mencari rumah makan yang sesuai dengan selera Emira. Frida sudah mulai memperioritaskan gadis kecil yang masih memeluknya dengan erat. Ponsel Frida bordering dengan nyaring, saat gadis itu mengajak Emira untuk cuci tangan. Mbak Ria tergopoh menyusul Frida sambil membawa ponsel yang terus berdering. Pengasuh Emira itu tidak berani menerima panggilan, walau dia tahu itu dari majikannya. Frida yang merasa tak asing dengan suara ponsel yang semakin lama semakin mendekat hanya menggeleng. Mendapati Mbak Ria menuju arahnya. “Kenapa nggak diterima, dari ibu kan?” Frida tersenyum sambil menerima ponselnya. “Nggak berani, Mbak. Bukan ranah saya, kecuali atas seizin Mbak Frida, baru saya berani,” jawab Mbak Ria mengulum senyum. “Sayang, bunda mau terima telepon dulu, Em duduk sama Mbak Ria dulu, ya. Nanti bunda nyusul.” Frida bermaksud menyerahkan Emira pada Mbak Ria, tapi gadis kecil itu justu semakin mengeratkan pelukan di leher Frida. “Oke, kalau begitu kita duduk di sini sebentar. Mbak Ria sama Pak Mamat pesan saja dulu, sekalian pesankan untuk Emira, saya samakan saja dengan Mbak Ria.” Frida akhirnya tetap dengan menggendong Emira mencari tempat duduk yang terdekat, untuk segera menerima panggilan dari Nyonya Gulizar. “Baik, Mbak. Saya permisi duluan,” pamit pengasuh Emira sambil kembali ke tempatnya, dan dibalas anggukan oleh Frida. “Assalamualaikum, Bu. Maaf menganggu,” sapa Frida begitu menerima panggilan dari nenek Emira. “Alaikumsalam, iya Fri ada apa? maaf tadi masih ada klien.” “Begini, Bu, tadi Pak Reiga nyusul kami, dan maaf ada sedikit keributan antara saya dengan beliau, sampai Emira menangis ketakutan. Saat saya ajak pulang, Emiranya tidak mau, malah meminta pulang ke rumah saya, Bu. Sekali lagi saya minta maaf, karena saya jadi ada masalah seperti ini,” terang Frida dengan penuh sesal. Dirinya ikut andil dalam menciptakan situasai yang membuat Emira ketakutan, dan semoga saja tidak sampai trauma. “Reiga… Reiga, anak itu selalu saja. Saya yang minta maaf karena tingkah anak saya masih seperti anak kecil. Sekarang kondisi Emira bagaimana, Fri?” “Masih belum mau lepas dari saya, Bu. Saat ini kami sedang makan siang di resto cepat saji favorit Emira, tadi belum sempat makan keburu Pak Reiga datang.” “Oma, Em mau pulang ke rumah Bunda, papa jahat bentak-bentak Em sama Bunda,” adu Emira dengan suara pelah, tapi masih terdengar oleh neneknya. Frida mengubah mode loudspeaker pada ponselnya, supaya Emira bisa mendengarkan suara omanya. “Sayang, Em nggak usah takut ya, sekarang Em makan dulu sama bunda, setelah itu pulang, nanti Omsa susul ke rumah bunda.” “Iya Oma.” “Fri, titip Emira dulu ya, ajak pulang ke rumahmu nggak papa, nanti saya nyusul ke sana. Saya mau berbicara dulu dengan Reiga, dan sekali lagi maaf atas sikap anak saya.” “Baik, Bu. Saya berterima kasih sudah diberi kepercayaan untuk menjaga Emira, semoga amarah Pak Reiga segera mereda.” “Aamiin, sama-sama Fri, justru saya yang sangat berterima kasih, karena sudah mau repot menjaga cucu saya.” “Tidak ada yang repot, Bu. Saya malah merasa senang bisa menghabiskan watu bersama Emira.” Akhirnya setelah sepakat untuk mengizinkan Emira dibawa pulang Frida, panggilan Nyonya Gulizar berakhir. Ada perasaan lega di hati Frida, karena bisa mnejauhkan Emira sementara dari papanya. Tak bisa dibayangkan jika, saat ini anak perempuan yang telah membuat Frida jatuh cinta itu masih bersama ayahnya dengan amarah menguasai hati. “Sayang, makan dulu ya. Sudah waktunya makan siang, ini ada ayam tepung kesukaan Emira, ada kentang goreng juga. Mau disuapin atau makan sendiri?” Frida mengurai pelukan Emira dari tubuhnya. Emira masih belum mau melepas rangkulan tangannya dari leher Frida. Bersyukur walau belum pernah punya adik, tapi gadis pemilik sorot mata indah itu, pernah beberapa kali membantu Aini menenangkan adiknya yang rewel, dan itu tidak hanya satu orang, melainkan tiga orang. Jadi saat berhadapan dengan Emira yang sedang dalam kondisi ketakutan maka Frida cukup tenang menanganinya, dan paham bagaimana harus bersikap. “Emira pernah dengar cerita nasi menangis belum?” Frida masih berusaha membujuk Emira dengan berbagai cara. Dan gadis kecil yang selalu senang denga story time sebelum tidur itu, mulai mengangkat wajahnya dari d**a Frida. “Belum, memang nasi bisa menangis?” Emira mulai penasaran dengan apa yang dikatakan oleh bundanya, karena dia juga baru mendengar ada cerita semacam itu. “Dulu kala, di sebuah rumah ada seorang anak kecil, dia susah sekali kalau disuruh makan, bahkan makanannya sampai dibuang-buang. Dan itu tidak hanya sekali atau dua kali, tapi hampir setiap hari. Hingga suatu malam, anak kecil itu mendengar suara tangisan, arahnya dari luar rumah. Karena penasaran si anak kecil ini mengintip dari jendela. Suara tangis itu terdengar jelas, dan sepertinya tidak hanya satu orang yang menenagis, tapi banyak.” Frida menjeda sejenak ceritanya, sambil memperhatikan gadis kecil yang berada di atas pangkuannya, tangan kecilnya mulai meraih kentang goreng dan memakannya perlahan. Senyum mulai mengembang di wajah Frida. “Lanjutkan ceritanya, Bund,” pinta Emira dengan masih menikmati kentang gorengnya. Mbak Ria mendekatkan piring berisi nasi dan ayam goreng ke hadapan Emira. “Baiklah, tapi sambil Emira makan, ya. Disuap Mbak Ria atau makan sendiri?” Frida membetulkan duduk gadis kecil berambut kecoklatan itu. “Makan sendiri, Emira kan sudah besar,” jawab Emira cepat. “Oke, anak hebat, anak soleha. Bunda sayang sekali dengan gadis cantik ini.” Frida menepatkan Emira di bangku samping tempat duduknya, setelah menghujani ciuman di wajah yang mirip dengan ayahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD