“Maksudnya apa dengan Bunda?” Reiga tak bisa menunggu untuk mejauh dulu dari anaknya, ingin segera meminta penjelasan dari Frida.
“Sabar!” bentak Frida.
“Jangan lama-lama, Bund,” pinta Emira mengangkat wajahnya sekilas. Anak perempuan itu semakin ketakutan, mendengar papa dan bundanya berbicara dengan nada tinggi.
“Iya, Sayang, bunda hanya sebentar, maaf ya. Mbak titip Emira, ya.” Frida mengecup puncak kepala Emira lalu beranjak dari tempatnya, setelah mendapat anggukan dari pengasuh Emira.
“Kita jangan bicara di sini!” ucap Frida ketus, sambil mendahului Riega meninggalkan meja tempatnya menikmati es krim bersama Emira.
Setelah dirasa cukup jauh dari tempat Emira berada, Frida menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Reiga yang memberikan tatapan tajam pada gadis di hadapannya.
“Apa maksud Anda menuduh saya meracuni otak Emira?” tembak Frida langsung pada Reiga.
“Apa maksudanya dengan menyebut bunda untuk dirimu pada anak itu?” Bukannya menjawab, Reiga justru mengajukan pertanyaa yang sangat membuatnya tidak suka.
“Saya yakin kalau dari awal Anda juga tahu, Emira menganggap saya sebagai ibunya saat pertama kami bertemu, lalu apa masalahnya hanya sebuah panggilan. Ibu Anda juga sudah tahu, bahkan mengizinkan,” terang Frida membela diri, sampai membawa-bawa ibunda Reiga segala, sekadar untuk menguatkan opininya.
“Tapi aku tidak mengizinkan, atau kamu memang berharap menjadi ibunya?” ejek Reiga tak mau kalah, tetap keukeh dengan sikapnya, yang menolak panggilan bunda antara anaknya dengan gadis yang sudah berani menentangnya.
“Jangan pikir saya sudi menikah dengan lelaki egois, dan arogan seperti Anda. Ini semua murni hanya demi Emira, timbang panggilan doang saja ribut,” omel Frida membantah keras pemikiran Reiga yang sudah kelewatan. “Lalu apa maksud Anda menuduh saya sudah meracuni pikiran Emira?”
“Dia sudah menjelekanku di hadapan orang asing, dan pasti kamu yang memancingnya hingga dia mengatakan semua itu. Lalu keburukanku apalagi yang sudah diumbarnya?” Rahang Reiga mengeras, menahan emosi. Jelas dia tipe lelaki yang tidak mau main tangan sembarangan untuk melampiaskan kemarahannya, apalagi terhadap wanita.
“Emira butuh teman, dia kesepian. Mungkin mainanya banyak, ada Mbak Ria, tapi hatinya kosong, tidak ada kehangatan dari orang tuanya.” Frida mulai mengutarakan isi hatinya.
“Tahu apa kamu tentang dia? Kamu baru mengenalnya, tidak pernah tahu keseharian anak itu, jadi jangan sok tahu dengan mengatakan omong kosong. Atau kamu hanya memanfaatkan anak itu untuk keuntungan pribadimu, benar begitu?” Tuduhan Reiga jelas membuat merah telingan Frida, niat baiknya justru.
“Jaga ucapan Anda, saya hanya berempati pada Emira, di balik tawa ceria yang ditampilkan ada hati yang kesepian. Pernah Anda sebagai ayahnya meluangkan waktu sejenak untuk bermain dengannya? Mengajaknya berlibur, menemaninya ke playground. Emira hanya anak kecil yang tidak tahu apa permasalah yang terjadi dengan orang-orang dewasa di sekitarnya. Dia hanya butuh perhatian, kasih sayang, kehangatan keluarga. Mungkin bagi Anda semua tampak biasa saja, tapi efek jangka panjang untuk psikisnya akan luar biasa, kelak saat dia tumbuh dewasa. Mungkin dia akan jadi pribadi yang introvert, itu salah satu contohnya. Jangan korbankan anak tak bersalah hanya karena ego orang tua.” Frida semakin tak bisa mengendalikan ucapannya, mendapati kenyataan kalau Reiga mencurigai kedekatannya dengan Emira, sebagai alat mencari keuntungan untuk dirinya. Sebuah pemikiran picik yang jelas melukai hati Frida.
“Kamu psikolog, sampai bisa mengutarakan analisa sedemikian komplek pada anak itu?” Emosi Reiga semakin meluap mendengar penuturan gadis yang dianggapnya sudah terlalu lancang masuk dalam kehidupannya, bahkan dengan berani menggurui dirinya, seakan dia sosok orang tua yang tak becus mengurus anak.
“Saya bukan siapa-siapa, saya hanya orang yang peduli pada Emira,” sahut Frida cepat dengan tatapan tak kalah tajam. Gadis yang sudah merasakan kerasnya hidup sejak keluar dari rumah orang tuanya tak pernah merasa takut pada siapapun, selama dirinya pada posisi yang benar.
“Nggak usah sok peduli pada anak itu, dia sudah ada yang ngurus, jadi mulai saat ini menjauhlah darinya. Jangan sampai aku melihat batang hidungmu di hadapanku lagi, atau bersama dengan anak itu. Aku tidak segan melakukan hal yang tak kamu bayangkan kalau kamu masih saja nekat,” ancam Reiga yang tak pernah main-main dengan ancamannya.
“Eh siapa Anda mengatur hidup saya? memang Anda peduli dengan Emira, enggak kan? dari tadi kita bicara, tak sekalipun Anda menyebut nama Emira dengan benar, Anda hanya memanggilnya dengan sebutan dia, nya, selalu begitu. Apa itu bisa dikatakan peduli? dengan sikap Anda terhadap Emira, justru saya bisa melaporkan pada KPAI atas tuduhan tidak bersikap semestinya sebagai orang tua terhadap anaknya,” ancam balik Frida yang langsung membuat mata Reiga melotot.
“Kamu… berani-beraninya mengancam aku.” Amarah Reiga sudah pada puncaknya, hingga menggebrak meja. Lelaki dengan alis mata tebal itu sudah tidak bisa menahan emosinya menghadapi sikap Frida yang semakin berani menentangnya, bahkan sampai balik mengancam.
“Kamu… berani-beraninya mengancam aku.” Amarah Reiga sudah pada puncaknya, hingga menggebrak meja. Lelaki dengan alis mata tebal itu sudah tidak bisa menahan emosinya menghadapi sikap Frida yang semakin berani menentangnya, bahkan sampai balik mengancam.
Tak mau memperpanjang perdebatan, Reiga beranjak dari tempatnya. Langkah lebarnya menuju tempat Emira berada, Frida langsung mengekor di belakang lelaki berbadan tegap itu. Jantung Frida berdegup semakin kencang, ada rasa takut dalam hatinya, kalau-kalau Riega melampiasakan amarahnya pada Emira. Frida semakin mempercepat jalannya.
“Sial, kenapa jalannya cepat sekali lelaki songong itu,” umpat Frida dengan napas terengah.
Frida sangat terkejut mendengar tangis Emira, langkahnya berubah menjadi lari. Dirinya semakin kaget melihat Reiga dengan kasar memegang lengan kecil putrinya dan terlihat jelas kalau lelaki itu menarik tubuh anak perempuannya, supaya mengikuti langkah lebarnya. Jelas Emira kewalahan mengimbangi jalan papanya yang cepat. Pandangan Emira dan Frida beradu, ada sorot ketakutan di manik hazel itu. Frida menghadang langkah Reiga, tidak tega rasanya melihat Emira kesakitan dan ketakutan seperti ini.
“MINGGIR!” bentak Reiga merasa Frida menghalangi dirinya.
“Enggak kalau Anda menyakiti Emira, biarkan saya yang mengantarkan pulang, sesuai pesan Nyonya Gulizar.” Lagi-lagi Frida menyebut nama nenek Emira, demi mendukung tindakannya melawan sikap arogan Reiga terhadap anaknya.
“MINGGIR! ATAU…”
“Atau apa? pukul saja saya, tapi jangan pernah lampiaskan kemarahan Anda pada Emira. Saya orang pertama yang akan pasang badan jika Anda berani menyakitinya,” potong Frida dengan penuh keberanian.
Tangisan Emira semakin menjadi, Mbak Ria hanya bisa memandang nanar adegan yang tersaji di hadapannya. Pengasuh yang dipekerjakan sejak Emira berusia satu bulan itu takut kalau harus ikut campur dengan urusan majikannya, walau dalam hati merasa kasihan melihat anak asuhnya histeris dan ketakutan.
“Lihat, Emira sampai ketakutan. Tolong izinkan saya membawa pulang Emira, redakan amarah Anda dulu baru mendekat lagi pada putri Anda. Lampiaskan amarah Anda pada saya, karena saya penyebab kemarahan Anda, bukan Emira.” Frida berusaha menekan emosinya sekuat mungkin, melihat Emira ketakutan dan semakin histeris tangisnya. Sudah dapat dipastikan Emira akan semakin ketakutan jika dirinya juga tetap ngotot mengedepankan emosi.
Riega menatap sekilas putri kecilnya, lalu menghentak cekalan tangannya pada lengan Emira hingga tubuh kecil itu terdorong ke depan. Beruntung Frida sigap menangkapnya. Dengan wajah merah padam, Reiga meninggalkan tempat itu dengan langkah lebarnya. Frida langsung menggendong Emira dan mendekap tubuh yang gemetaran itu, dengan hati tercabik.
‘Kenapa ada manusia sekejam itu, kasihan kamu, Nak. Semoga kelak kamu akan mendapatkan kebahagiaan,’ tutur batin Frida mengeratkan pelukannya pada tubuh Emira