Bab 7 Tiba-tiba Datang

1265 Words
Emira melirik sesaat ke arah Frida. Wajah cantiknya masih cemberut. Bibir merah alaminya, maju beberapa senti. Frida jadi gemas melihatny. "Nggak mau maaf'in bunda, nih ceritanya. Ya udah, bunda mau beli es krim cokelat deh." Frida berdiri dan melangkah, meninggalkan Emira. "Bunda ..." Emira berlari menyusul Frida. "So ..." Frida memutar tubuhnya, bediri sambil bersedekap. Menahan senyum saat gadis kecil berambut blonde itu merentangkan kedua lengannya, mengisyaratkan minta dipeluk. Frida langsung mengendong Emira sambil mengulas senyum. Frida sebaik mungkin berusaha memperbaiki kesalahannnya, pada gadis kecil yang tampak kecewa, oleh karena dirinya pergi begitu saja, saat acara ulang tahun Emira. Kalau boleh jujur, sebenarnya Frida juga ingin menemani Emira, tapi mengingat tingkah papa bocah kecil itu, hati Frida masih sakit dan sebisa mungkin dirinya menghindar dari lelaki paling arogan sekaligus egois, yang pernah dikenalnya. “Frida?” Nyonya Gulizar menyapa gadis yang mengendong cucunya. Wanita berkebangsaan Turki itu sempat bingung mencari Emira yang tetiba menghilang, rupanya gadis kecil menggemaskan itu melihat Frida di deretan rak buah. “Ibu, assalamualaikum, maaf kalau lancang menggendong Emira,” sapa Frida sambil sedikit melonggarkan dekapannya dari tubuh Emira, bermaksud menurunkan gadis bermanik mata hazel itu dari gendonan. “Alaikumsalam, sudah nggak papa, Emira sejak kemarin menanyakan kamu. Saya juga bingung harus bagaimana, nomor teleponmu saja tidak punya, apalagi alamat tempat tinggalmu,” sahut Nyonya Gulizar mengusap lengan Frida lalu membelai rambut cucunya. “Oma, Emira mau makan es krim sama bunda, boleh?” Emira rupanya sudah tidak sabar menikmati kudapan kesukaannya dengan seseorang yang dianggap ibunya. “Es krim? tapi jangan banyak-banyak, Emira tidak mau hidungnya mapet karena kebanyakan makan es krim kan?” jawab Nyonya Gulizar sambil mengecup pipi gembul sang cucu. “Maaf apa Emira tidak bisa mengkonsumsi makanan atau minuman dingin?” Frida merasa tidak enak hati, kalau Emira sampai sakit hanya gara-gara dirinya menawarkan es krim. “Emira ada bakat alergi dingin, jadi memang dibatasi mengkonsumsi makanan atau minuman dingin. Nanti berikan sedikit saja, saya rasa cup kecil tidak masalah, Karen sudah lama Emira tidak menikmati es krim,” terang ibunda Reiga itu berusaha menenangkan rasa khawatir gadis di hadapannya. Suara dering ponsel menghentikan obrolan Nyonya Gulizar dan Frida. Rupanya telepon pintar milik ibunda Reiga yang menerima panggilan masuk. Dengan memberi isyarat pada Frida nenek yang masih terlihat cantik itu menjauh dari posisinya untuk menjawab si penelpon. Emira masih berada dalam gendongan Frida, terlihat gadis keciliu sesekali tertawa lepas, saat digelitik oleh wanita baik yang dianggap ibunya. “Frida, maaf saya harus kembali ke butik, ada klien yang ingin memesan gaun pengantin. E… bagaimana kalau saya titip Emira, nanti biar dijemput supir saya. Tapi maaf sebelumnya, boleh saya foto identitas kamu. E… maksud saya…” “Oh, bisa Bu, sebentar saya ambilkan,” potong Frida cepat, sambil menurunkan Emira dan mengambil dompetnya dari dalam tas, lalu menyerahkan kartu identitasnya pada wanita berhidung mbangir khas orang Timur Tengah. “Maaf ya Fri, bukan maksud saya mencurigai kamu, tapi kamu paham kan?” ujar nenek Emira sambil mengambil gambar KTP Frida dengan kamera ponselnya. “Saya sangat paham, Bu. Justru saya sangat berterima kasih sudah mengizinkan dan percaya pada saya, untuk menjaga Emira,” balas Frida menerima kembali KTP-nya, lalu menyimpannya kembali dalam dompet. “Baiklah kalau begitu, Em, oma mau ke butik dulu, Emira sama bunda jangan nakal, nurut perkataan bunda, dan…” “Jangan merepotkan,” sahut Emira dengan mata berbinar bahagia. Gadis kecil itu sangat senang, akhirnya bisa menghabisakan waktu bersama bundanya. “Pintar, Fri titip cucu saya, ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya atau Reiga,” pesan Nyonya Gulizar dengan mengetikan nomor telepon juga nomor anak lelakinya di ponsel Frida, supaya bisa disimpan oleh gadis yang olahan masakannya cocok dengan lidah keluarga Latief. Frida membawa Emira ke area food court di supermarket tersebut. Emira terus aja berceloteh dengan riang. Frida menanggapi dengan antusias, sebagai anak tunggal, gadis dengan rambut panjang itu sangat merindukan bisa bermain seperti ini. Masa kecilnya terasa sangat sepi dan hampa. Kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, kesehariannya hanya dihabisakan dengan asiten rumah tangga yang merangkap pengasuhnya. “Bunda aku mau es krim coklat dan strawberi,” pinta Emira begitu keduanya sudah berada di depan konter penjual gelato. Frida memesan sesuai permintaan Emira, dan untuk dirinya dipesannya kudapan dingin dengan rasa green tea dengan saus cokelat di atasnya. “Bunda sakit kepala?” tanya Emira begitu mereka bubuk berhadapan dengan dua cup es krim pesanan masing-masing. “Enggak Sayang,” jawab Frida sambil menggeleng perlahan. “Kenapa Emira mengira bunda sakit kepala?” “Wajah bunda jadi murung, sama seperti papa kalau sedang sakit kepala,” terang gadis kecil menggemaskan itu sambil tetap menyuapkan es krim ke dalam mulutnya. “Begitu ya?” Frida hanya meringis mendengar penuturan Emira. “Memang papa Emira sering sakit kepala?” “Setiap hari.” “Hah… setiap hari, memang nggak minum obat atau ke dokter?” tanya Frida, dia merasa tak heran jika lelaki menyebalkan itu darah tinggi setiap hari, karena selalu marah-marah tak jelas seperti pada dirinya. “Kata papa, Emira nggak boleh dekat-dekat kalau mau sakit kepala papa sembuh, makanya tadi Emira tanya apa bunda juga sakit kepala kalau dekat Emira?” pernyataan polos yang mampu mencabik hati Frida. Frida berpindah tempat ke samping Emira, direngkuhnya bahu kecil yang setegar karang itu. Kecupan lembut mendarat berkali-kali diberikan Frida pada puncak kepala gadis berambut kecloklatan itu. Tak pernah menyangka kalau anak sekecil Emira sudah merasakan tertolak, bahkan oleh ayah kandungnya sendiri. Ibunya juga pergi entah kemana. Rupanya takdir sengaja mempertemukan dirinya dengan gadis kecil berwajah identik sang ayah tapi versi perempuan. “Hei… kenapa Emira berpikiran bunda sakit kepala saat bersama Emira? Em tahu tidak, justru bunda akan sangat rindu ketika berjauhan dengan anak kesayangan bunda yang cantik ini.” Dalam hati Frida sudah berjanji untuk tetap berperan menjadi ibu untuk Emira, sampai anak itu memahani keadaan keluarganya yang sebenarnya. Bukan maksud membohongi dan memberikan harapan palsu pada Emira, justru Frida merasa prihatin dan kasian pada putri tunggal Reiga karena mendapat perlakuan menyakitkan dari sang ayah. “Em takut kalau bunda pergi lagi, meninggalkan Em sendiri. Papa juga selalu sibuk, tidak pernah mau bermain dengan Em,” adu Emira dengan polosnya. Frida semakin mengeratkan pelukannya pada Emira. “Rupanya kamu sudah berhasil meracuni otak anak kecil hingga mau membuka aibku pada orang asing sepertimu.” Tetiba terdengar suara lelaki yang akhir-akhir ini mulau akrab di telinga Frida dan langsung membuat sistem pertahan tubuh gadis itu memberi peringatan. Frida menatap jengah pada lelaki yang sudah berdiri di belakangnya, entah sejak kapan ayah Emira itu sudah berada di tempat, dan pembicaraa apa saja yang sudah didengarnya, Frida jelas tidak peduli. Yang dipedulikan reaksi gadis kecil yang duduk di sebelasnya, langsung menunduk dan tidak berani bergerak sama sekali, begitu ayahnya datang. Sebelum Reiga berada di mall yang sama dengan putrinya juga Frida, lelaki yang menjabat komandan kompi di salah satu batalyon pasukan khusus itu, menanyakan keberadaan Emira pada ibunya. Entah kenapa tiba-tiba saja Reiga kepikiran tentang putri kecilnya. Begitu mendapat penjelasan kalau Emira sedang bersama gadis yang sudah membuat dirinya overthinking, maka bergegaslah duda satu anak itu menyusul keduanya ke mall. Jadilah Reiga sekarang bersama dua perempuan beda usia, yang membuat darah tingginya kambuh. “Sayang tunggu di sini sebentar, bunda mau bicara dengan papa. Em ditemani Mbak Ria dulu, bunda nggak lama kok,” ucap Frida yang berpikir harus mulai berbicara serius pada lelaki menyebalkan demi kebaikan Emira. Riega mengangkat sebelah alisnya, mendengar Frida mengucapkan panggilan bunda untuk dirinya sendiri kepada Emira. “Maksudnya apa dengan Bunda?” Reiga tak bisa menunggu untuk mejauh dulu dari anaknya, ingin segera meminta penjelasan dari Frida.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD