“Nih, aku transfer ke rekening kamu dua juta lima ratus. Tadi aku dapat bayaran lima juta, kita bagi dua, adil’kan? Sekarang terserah kamu, kalau memang mau pergi, silahkan. Jangan pernah kembali, tapi paling tidak pergilah besok saat hari terang. Kalau malam ini kamu nekat pulang, dan terjadi apa-apa sama kamu, aku yang merasa bersalah pada orang tuamu, terutama ibumu. Beliau sudah menitipkan kamu padaku. Sekarang terserah, kamu. Aku mau tidur, capek.” Frida gegas masuk ke dalam kamarnya disusul suara keras pintu yang tertutup dengan kasar.
Aini terlonjak kaget dengan suara pintu yang dibanting Frida. Pandangannya mengabur tertutup cairan bening. Dia tahu dan sadar kalau sudah melukai perasaan sahabatnya, karena lebih mengedepankan ego. Aini seperti tertampar dengan kejadian yang ditimbulkannya, jelas kalau dari awal diirnya dan Frida bertemu, gadis yang usianya lebih muda darinya itu, sudah banyak membantu, terrutama dari segi keuangan.
Tubuh gempal Aini terguncang oleh tangis. Kakinya terasa lemas, hingga tidak bisa berdiri sempurna, hingga luruh ke lantai. Tangisnya semakin pecah, tapi kedua telapak tangannya menutup mulutnya, supaya suara pilu tidak terdengar Frida dan menganggu istirahat sahabatnya. Cukup lama, sulung dari tiga bersaudara, yang memjadi andalan keluarga mencari nafkah, setelah ayahnya itu, bercegkerama dengan tangis.
“Da. Maaf, aku yang salah. Tolong maafkan sikapku. Aku harap besok masih ada kesempatan untuku memperbaiki semuanya. Aku sadar, hanya kamu yang selalu ada saat aku dan keluargaku dalam kesusahan, dan tidak ada satu orangpun yang peduli,” selah Aini. Mau tidak mau, dirinya mematuhi perkataan gadis yang pernah menolongnya, saat hampir diruda paksa beberapa preman, ketika pulang kerja shif malam.
Frida di dalam kamarnya belum tertidur. Malah masih menggelesot di lantai, bersandar pada pintu kamar. Dua lututnya terteuk sempurna, sebagai penyangga keningnya yang tertunduk sempurna. Air mata Frida seketika luruh, ketika di balik pintu, sahabatnya meminta maaf. Walau lirih, tapi masih terdengar olehnya.
“Maafkan aku juga, Ni, selalu memutuskan segala sesuatu yang aku anggap baik, tanpa memikirkan perasaan orang lain.” Frida juga merasa menyesal sudah terlalu keras pada Aini, tanpa mau mendengar penjelasan darinya.
Dua gadis yang sudah bersabahat sejak tiga tahun yang lalu, sama-sama menyesali pedebatan yang sudah terjadi. Tidak dipungkiri kalau mereka saling menyayangi, bahkan hubungan di antara keduanya sudah seperti saudara. Saling membutuhkan, saling melengkapi, saling menutupi kekurangan masing-masing.
Sebuah mobil terparkir di depan rumah kontrakan Frida, tampak beberapa orang hilir mudik, membawa tumpukan kardus yang terikan dengan tali rafia. Frida berdiri di samping mobil yang bagasinya terbuka. Menata sekaligus mengecek jumlah nasi bok pesanan sebuah instansi pemerintah. Sudah beberapa kali, kantor yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggal Frida, menggunakan jasa cateringnya.
“Sudah semua, Pak?” Frida menghitung ulang, tumpukan kotak berisi nasi lengkap dengan lauk pendamping.
“Alhamdulillah, sudah, Mbak. Terima kasih,” balas lelaki berkacamata, dengan senyum merekah.
“Pak, Fahmi, maaf ini, untuk Bapak dan teman-teman.” Aini keluar dengan membawa tentengan, lima kotak makan yang berbeda. Orang yang dipanggil, malah menatap Frida, gadis yang dipandang mengangguk.
“Terima kasih, Mbak Frida, Mbak Aini. Barakallahu fiikum.” Lelaki bernama Fahmi mengangguk sambil menangkupkan dua tangannya di depan d**a.
“Wabarakallahu, Pak. Sampaikan terima kasih kami, pada Bu Diyah, ya Pak.” Frida mendekat pada Aini.
“Insyaallah, saya sampaikan, Mbak. Saya permisi dulu, assalamualaikum.”
“Alaikumsalam.” Aini dan Frida membalas bersamaan.
“Fii amanilah, Pak,” tambah Frida dan dibalas lambaian tangan oleh lelaki muda berperawakan tinggi tegap itu.
“Kenapa, ada yang aneh sama mukaku?” Frida jengah mendapat tatapan Aini yang seperti menguliti dirinya.
“Kalian berdua sepertinya cocok. Kamu cantik, baik, ramah, soleha, terus dia juga sopan, lelaki yang menghormati perempuan, kayaknya juga calom imam dunia akhirat, Kenapa nggak coba pendekatan, Da?” ucap Aini dengan memutari tubuh Frida, sambil menatap sahabatnya dari ujung kaki sampai atas kepala.
“Apa’an sih, siapa yang kamu maksud imam yang baik?” Frida geli dengan tingkah Aini, yang terus menelisik dirinya.
“Pak Fahmi, Da. Tatapan kalian itu mengisyaratkan percikan api asmara, aku jelas merestui andai kalian menikah,” cerocos Aini dengan mengedip-kedipkan dua matanya.
“Wait? kok kamu bisa mikir sampai sejauh itu, Ni. Mana ada tatapan, apa tadi? percikan asmara segala kamu pakai istilah begitu. Ck, analisa yang kelewatan, kalau itu, mah,” protes Frida meninggalkan Aini yang masih melanjutkan hasil pengamatannya selama ini tentang sikap sahabatnya dengan Pak Fahmi.
“Da, aku serius. Biasanya hasil pengamatanku ini akurat hasilnya. Kamu tahu Tari dan Bian, mereka pada akhirnya sama-sama bucin’kan sekarang. Malah Biannya yang sangat bucin. Lily sama Sindu, yang dulu saling benci, sering berantem, apa sekarang, anaknya udah tiga. Pak Petra yang anti pati sama Bu Khadijah, takluk, tunduk pada wanitanya,” oceh Aini masih mengekor pemegang sabuk hitam karate itu, sampai dapur.
“Ni, stop! Jangan samakan aku dengan mereka. Mungkin memang kebetulan ketiga pasangan itu berjodoh, lah, aku dan Pak Fahmi, nggak mungkin.” Frida tergelak, sambil jalan ke luar, mengenakan jaketnya, kemudian naik ke atas motor.
"Dunia ini penuh dengan kemungkinan, Da. Kita nggak tahu garis takdirmu bagaimana?" Aini masih saja ngotot dengan analisanya.
“Kita juga belum tahu takdir kamu bagaimana, siapa tahu Pak Fahmi justru berjodoh denganmu. Udah ah bahas jodoh dan takdirnya, aku ambil ayam dulu, ya, sore baru kita belanja sayur dan bumbu. Kamu tidur saja dulu kalau ngantuk, jangan lupa kunci pintu. Mungkin aku agak lama, sekalian ke tempat penggilingan daging,” pamit Frida sebelum melajukan sepeda motornya.
“Iya, hati-hati, jangan kayak kemarin, telat ngerem.” Aini mengingatkan sahabatnya, sambil mengulum senyum.
Aini kembali masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu, begitu Frida sudah tidak tampak lagi dari pandangannya. Frida melajukan sepeda motornya menuju supermarket langganan, yang khusus menjual beberapa buah import. Hari ini, gadis berambut panjang, dengan mata indah terbingkai alis yang tertata rapi, mendapat pesanan lima parcel buah. Sebelum jam tujuh malam sudah harus jadi, mau tidak mau Frida langsung mencari bahan-bahan yang diperlukan.
Tidak mau mengecewakan para pelanggan yang menggunakan jasa kateringnya, Frida memilih menggunakan buah-buahan segar dengan kualitas premium, bahkan terkadang menggunakan buah import. Bukan tidak menghargai produk lokal, tapi paling tidak jika memakai bahan baku dengan kualitas bagus, maka para pelanggan akan merasa terpuaskan, karena sudah membayar dengan harga yang tidak murah.
"Eh maaf, saya tidak melihat kalau ada keranjang buah di sini," ucap Frida, ketika kakinya tak sengaja menyenggol keranjang yang telah berisi beberapa jenis buah.
"Bunda!" Suara anak kecil mengejutkan Frida, terlebih begitu merasakan kedua kaki jenjangnya tiba-tiba dipeluk oleh dua lengan kecil.
"M--m, Emira? dengan siapa ke sini, Nak?" tanya Frida pada pemilik lengan kecil, yang ternyata Emira.
"Sama Oma Bunda. Bunda belanja juga, kenapa kemarin langsung pergi, waktu acara ulang tahun Emira? Emira cari Bunda sampai nangis. Sedih deh, Bunda tiba-tiba pergi ninggalin Emira," protes gadis kecil itu, dengan tatapan sendu, menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya. Frida merasa bersalah, saat wajah cantik Emira berubah sedih.
"Sayang, maaf ya kalau kemarin bunda langsung pergi, sampai nggak pamit dulu sama Emira. Bunda memang ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan, Sayang. Emira mau memaafkan bunda, kan?" Frida membujuk gadis kecil yang telah sukses mencuri hatinya.
Emira melirik sesaat ke arah Frida. Wajah cantiknya masih cemberut. Bibir merah alaminya, maju beberapa senti. Frida jadi gemas melihatny.
"Nggak mau maaf'in bunda, nih ceritanya. Ya udah, bunda mau beli es krim cokelat deh." Frida berdiri dan melangkah, meninggalkan Emira.