Riega menatap Mbok Jum dengan tatapan yang sulit diartikan. Wanita yang telah lama bekerja pada keluarga Latief itu menghela napas, seakan membuang beban dari dalam rongga dadanya. Wanita yang selalu menjadi tempat Reiga berbagi keresahan itu jelas tahu kalau ayah Emira tipe keras kepala, tidak mudah hatinya melunak apalagi kalau sudah berurusan dengan harga diri, sakit hati. Makanya sampai anak tak tahu apa-apa juga dijadikan sasaran kemarahan.
"Ya sudah, simbok mau kembali ke belakang, masih banyak kerjaan. Berangkat hati-hati, jaga solatnya, jaga kesehatan. Ada anak yang menunggu ayahnya pulang," pesan Mbok Jum menepuk bahu lebar Reiga, lalu berjalan keluar kamar.
"Mbok..."
Mbok Jum menghentikan langkahnya, lalu berbalik, menatap lelaki muda yang sudah sejak belia diasuhnya.
"Tolong siapkan kentang mustofa, mau saku bawa untuk bekal." Reiga selalu saja meminta bekal lauk pada asisten rumah tangganya itu.
"Baik Den, kebetulan di dapur masih ada stok, insyallah masih bisa tahan sebulan. Nanti Mbok siapin." Mbok Jum benar-benar bernajak dari kamar Reiga setelah ayah Emira tidak membutuhkan apa-apa lagi.
Reiga menatap foto pernikahanya dengan Mesya yang masih terpasang di dinding kamarnya. Senyum bahagia tergambar jelas di wajah kedua anak manusia yang sedang kasmaran kala itu. Wajah Reiga berubah sendu, tak bisa di jelaskan bagaimana perasaannya saat ini. Kecewa, marah, merindu, bahkan nama Mesya masih menghantui kehidupannya. Padahal syatus pernikahan mereka juga sudah jelas, ketika surat gugatan cerai diterima Reiga enam bulan setelah kepergian tanpa pesan ibu Emira itu.
Reiga berangkat tanpa berpamitan langsung pada ibu juga putrinya. Emira keukuh tidak mau pulang, gadis kecil itu bersikeras menginap di rumah Frida. Nyonys Gulizar sendiri juga jadi serba salah, kalau mengizinkan cucunya tetap tinggal bersama Frida jelas bertentangan dengan sang putra, namun kalau tidak mengikuti kemauan Emira, wanita yang masih cantik di usia tak lagi muda itu merasa kasihan melihat cucu kesayangannya sampai tantrum.
Warung makan sederhana yang menyajikan menu khas Lamongan, menjadi tempat Reiga dan beberapa temannya berkumpul. Selain mengisi perut supaya badan bertenaga, mereka juga menyusun rencara sekaligus mengatur strategi untuk menjalankan misi mereka.
"Rei... cewek cantik tuh, kayakanya ngeliatin kita terus," Kapten Yudha Mahendra, leting sekaligus sahabat Reiga menunjuk serombongan gadis yang berada tak jauh dari tempat para perwira muda itu duduk.
"Kamu Yud, kalau urusan cewek aja, cepet. Giliran disuruh baca peta buta malah bikin pasukan kesasar-sasar," protes Kapten Priya dengan wajah kesal.
"Kita ini lelaki normal, jadi wajar kalau tertarik dengan lawan jenis. Memang kamu nggak suka sama perempuan apa, Pri? jangan-jangan hombreng, waduh... jauh-jauh deh kalau kami beneran suka sama terong," ejek Yudha dengan bahu bergidik, seakan temannya itu kuman yang menjijikan.
"Kaleng biskuit, kalau aku nggak suka perempuan, itu di rumah buntutku udah tiga emang hasil karya siapa? sembarangan kalau ngomong. Emang kamu, punya tembak nggak presisi, kagak nambah-nambah," ejak Priya dengan senyum sinisnya dan langsung menadapat pelotofan dari Yudha.
"Aku ikut ajuran pemerintah dong, menjaga jarak kelahirah, dua anak cukup. Bukannya kayak kamu, tiap tahun istrimu melahirkan, nggak kasihan apa. Perempuan juga butuh me time, jangan hanya kamu suruh ngurus anak bayi terus," sambar Yudha tak kalah tajam komentarnya.
"Udah-udah, kita di sini lagi kerja, nggak sedang main-main. Pusing tau dengar mulut kalian udah seperti emak-emak lagi belanja pakai nawar harga aja." Reiga yang dari tadi diam akhirnya bersuara.
"Rei, kamu lagi ada masalah? nggak biasa-biasanya jutek begitu." Yudha penasaran dengan rekan kerjanya itu.
"Anakku lengket sama perempuan yang dia kira ibunya. Malah nggak mau pulang ke rumah, nginap di rumah perempuan itu kata omanya." Reiga menjadi sosok yang berbeda saat bersama dengan teman-teman ditempat kerjanya. Bukan lagi sosok lelaki dingin dengan nada bicara galak, tampang jutek, nggak pernah senyum. Bersama dengan leting, anggota juga senior dan atasannya, Reiga bisa tertawa lepas.
"Kok bisa? orang mana? jangan-jangan jodoh yang memang didatangkan buat kamu Rei," sambar Priya cepat.
"Ck, jodoh apa? perempuan lancang, menyebalkan begitu. Nggak ada menarik-menariknya sama sekali. Dia juga jadi pengaruh buruk buat anakku. Jadi pembangkang, malah ngumbar aibku segala di depan perempuan itu," ujar Reiga dengan rahang mengeras, teriingat sikap dan tingkah Emira yang beribah drastis semenjak kenal dengan Frida.
"Yakin Emira berubah? bukannya kamu yang selama ini terlalu keras sema dia. Bahkan sangat menunjukan penolakan juga ketidak sukaanmu pada gadis kecil yang tak pernah tahu permasalahan sebenarnya." Yudha merasa tidak yakin kalau Emira bisa melawan ayahnya yang sangat otoriter dan keras kalau menghadapinya.
"Banget malah semua yang aku katakan memang belum cukup jelas kalau anak itu memamg berubah, telepon mamaku coba, tanya saja sendiri bagaimana anak itu malah lebih percaya dengan orang yang baru dikenalnya dari pada aku yang ayahnya," sambung Reiga dengan dengusan napas, seakan membuang beban berat dalam hatinya.
"Cie yang paling jadi bapak, tapi menolak. Reiga... Reiga..." ejek Yudha, lelaki berkulit sedikit gelap itu memang selalu ceplas ceplos kalau ngomong. Reiga hanya menatap tajam pada sahabatnya itu.
"Munafik banget jadi orang tua. Kalau sayang ya tunjukan, jangan malah membikin hati Emira hancur. Kamu itu sangat tega meluluh lantakan hati anak sekecil itu, menimpakan kesalah padanya yang sama sekali nggak paham dengan apa yang terjadi." Mata Priya berkaca-kaca, suaranya juga sudah tercekat, menahan tangis.
Priya juga istrinya sangat sayang pada Emira, bahkan ketiga anak mereka sudah seperti saudara bagi anak semata wayang Reiga tersebut. Beberapa kali keluarga Priya membawa Emira menginap di kediaman mereka, mengajak gadis kecil itu jalan-jalan. Perlakuan baik juga penuh kasih sayang dari Priya sekeluarga tak pernah membuat Reiga marah, hal ini berbanding terbalik ketika putri kecilnya semakin lengkep pada Frida.
"Entahlah, aku hanya masih bisa belum menerima kenyataan kalau rumah tanggaku hancur setelah anak itu lahir. Mesya sebagai ibunya juga tega meninggalkannya, jelas-jelas kalau saat itu anak kami masih sangat membutuhkan dirinya." Mata Reiga tampak memerah, helaan napas juga terdengar jelas di sela-sela perkataannya.
"Rei, anakmu punya nama yang indah. Tapi sejak Emira lahir, tak pernah sekalipun aku mendengar kamu menyebut namanya. Sebenci itu'kah kamu pada malaikat kecil yang belum paham kerasnya hidup ini?" Sudah lama Yudha ingin menanyakan hal ini pada Reiga, tapi selalu ditahannya, takut menyinggung perasaan sang sahabat.
Reiga tak lekas menjawab pertanyaan Yudha. Pandangannya justru fokus pada satu titik, dimana ada seorang anak kecil, mungkin usianya sedikit di atas Emira, sedang menyuapi lelaki dewasa yang duduk di hadapanya. Keduanya tampak tersenyum bahagia, bahkan si gadis kecil tertawa lepas ketika ujung hidungnya di cubit lelaki yang mungkin ayahnya. Sekilas garis wajah mereka sama. Seketika d**a Reiga terasa sesak. Benarkah yang diucapkan dua sahabatnya, kalau dirinya sudah sangat kejam terhadap buah hatinya.
"E-m... maafkan papa," guman Reiga lirih. Punggung tangannya bergerak cepat, mengusap cairan bening yang mengaburkan pandangannya.