Keinginan Emira begitu kuat, gadis kecil itu tidak mau pulang, tetap ingin menginap di rumah Frida. Pada diri perempuan yang ditemuinya di rumah sang nenek, ketika hari ulang tahunnya, Emira menemukan sosok penuh kasih sayang, kelembutan, juga akhirnya seperti memiliki seorang ibu. Frida yang selama ini tidak pernah merasakan mempunyai saudara, bertemu dengan Emira seperti mendapatkan seorang adik. Membuat hidupnya lebih berwarna, walau sebenarnya gadis yang terlahir sebagai anak tunggal itu juga mempunyak beberapa adik asuh di rumah singgah tempatnya mengabdikan diri sebagai relawan saat weekend.
"Sayang, bangun yuk. Kita sholat subuh dulu." Frida mengusap perlahan pipi Emira. Dari semalam dua perempuan beda generasi itu tidur bersama, Emiralah yang menginginkan tidur sambil memeluk bundanya.
Geliatan kecil tampak dari tubuh Emira. "Masih gelap'kan, Bund?" Suara serak khas bangun tidur menyahut panggilan Frida.
"Memang masih gelap, tapi kita nggak boleh terlambat sholat subuh, nanti Allah marah kalau kita nggak melaksanakan ibadah tepat waktu. Ayo sayang!" Frida menarik selimut yang membungkus tubuh Emira, lalu mengendongnya menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Empat perempuan beda usia itu baru selesai melaksanakan kewajiban 2 rakaat-nya. Kali ini Aini yang menajadi imam. Dua sahabat itu memang selalu bergantian memimpin sholat jamaah di rumah, semenjak mereka tinggal bersama. Emira langsung menggelendot di bahu Frida begitu wanita yang dikira bundanya itu rampung membereskan mukena.
"Ada apa?" Frida membawa tubuh Emira dalam gendongannya menuju dapur. Pagi ini memang masih ada perkejaan yang harus diselesaikan. Pesanan nasi korak untuk makan siang. Aini bahkan sudah mulai menanak nasi sejak tadi jam 3.
"Boleh nggak kalau Em nggak usah sekolah?" pinta Emira dengan waja dibuat semanis mungkin. Anak perempuan 4 tahun itu berusaha merayu Frida.
"Eh, anak pintar kenapa nggak masuk sekolah?" Kening Frida sampai berkerut, menatap heran pada Emira.
"Nanti kalau sekolah pasti pulang ke rumah, Em nggak mau. Em maunya sama Bunda terus," rengek Emida dengan wajah sendu.
Drama babak baru rupanya sedang dimulai. Anak semata wayang Reiga itu mulai berulah. Tidak mau mandi apalagi bersiap ke sekolah. Yang ada malah semakin menggelendot pada Frida. Padahal pagi ini gadis berambut panjang itu harus lekas menyelesaikan pekerjaannya. Kalau nggak mau pelanggan kateringnya lari karena pesanannya tidak selesai tepat waktu.
Mbak Ria sudah berusaha membujuk Emira untuk mau mandi bersamanya, tapi anak perempuan dengan pupil mata berwarna hazel itu kekeuh dengan pendiriannya. Bahkan Pak Mamat sudah stand by dari selepas subuh tadi, selain membawakan seragam sekolah Emira juga bertugas mengantar nona mudanya berangkat sekolah. Emira tidak tahu kalau ayahnya sedang menjalankan tugas negara, makanya anak perempuan itu tidak mau berangkat sekolah. Selama ini Emira hanya tunduk dan menurut pada perintah papanya. Tak sekalipun gadis kecil itu berani membantah apalagi menyuarakan isi hatunya. Hanya ketika hari ulang tahunnya tempo hari Emira benari sedikit berulah, meminta kehadiran ibunya. Dan takdir menghadirkan Frida untuk hadiah hari lahirnya.
"Mbak, kata Pak Mamat, Tuan Reiga sedang dinas luar jadi nggak ada di rumah. Mungkin sampai beberapa, biasanya begitu," terang Mbak Ria yang baru saja dari depan, mengambil baju seragam yang dibawakan sopir keluarga Latief tersebut. Frida hanya mengangguk, paham harus bersikap bagaimana menghadapi Emira.
"Sayang, gini deh. Emira mandi terus siap-siap ke sekolah sama Mbak Ria. Udah gitu sekolah diantar Pak Mamat, nanti kalau pekerjaan Bunda selesai, langsung nyusul Emira ke sekolah, oke?" Frida harus mulai tegas pada Emira, bukan bermaksud tega. Tapi sekolah adalah kewajiban utama Emira, walau masih di play group, jangan sampai membiaskan anak untuk lari dari tanggung jawabnya.
"Bener, Bund?" Emira tampak antusias mendengar penuturan Frida.
"Yup, sekarang Emira mandi dulu sama Mbak Ria, Bunda bantu Aunty Aini selesaikan pesanan. Kasian yang sudah order makanan, nanti kalau nggak selesai tepat waktu, mereka kelaparan, terus marah, kecewa, lantas nggak mau pesan makanan ke Bunda lagi bagaimana?" Frida memasang wajah sedih di hadapan anak perempuan yang telah menempati ruang hatinya itu.
"Maaf'kan Em ya, Bund," ucap Emira memeluk erat Frida dan mendapat balasan kecupan di kedua pipinya.
Frida kembali berkutat dengan peralatan dapur, Emira sudah mandi dan berganti dengan seragam sekolahnya. Putri Reiga itu semakin telihat cantik, imut dan sangat menggemaskan. Frida membawakan sepiring nasi goreng sayur dengan toping telur mata sapi, naget juga sosis. Mbak Ria bilang kalau Emira susah sekali makan sayur, hanya mau makanan siap saji. Tapi sejak semalam Emira begitu lahap menikmati berbagai sayur yang disediakan Frida. Gadis yang sejak awal dianggap ibu oleh Emira itu memang panda memasak sayuran supaya anak-anak mau makan menu yang memang lebih sering dihindari anak-anak. Kotak bekal Emira juga terisi nasi, dengan cap jay sayur, tambah ayam goreng saus katsu. Semua makan itu dibentuk bento lucu oleh Frida, dan bisa dipastikan Emira akan memakan bekal yang telah disiapkan bundanya tersebut.
"Udah kayak emak-emak beneran kamu, Da," ucap Aini di sela kesibukannya menata nasi yang sudah dicetak ke dalam kotak kardus berjejer.
"Ish, kamu Ni. Nikah aja belum mana bisa jadi emak," protes Frida dengan tangan yang sibuk menata telur balado di kotak yang sama, dengan alas mika bersekat.
"Nah itu, udah nyiapin bekal sekolah, nyiapin sarapan. Belum nanti mau jemput sekolah, padahal bapaknya aja galaknya nauzubillah." Aini bergidik ngeri, mengingat cerita Frida tentang kemarahan ayah Emira kemarin di mall.
"Ni, jujur aku merasa kalau Emira senasib denganku. Walau secara materi berkecukupan, mungkin berlebih malah, tapi kami kekurangan kasih sayang juga perhatian dari orang tua. Nyeseg banget rasanya di posisi itu. Apalagi Emira masih sekecil itu, ditambah penilakan dari ayahnya, apa nggak makin tersiksa batinnya," tutur Frida sendu, tampak beberapa kali gadis cantik murah senyum itu mengusapkan punggung tangan ke kedua matanya. Aini menghentikan sejenak kegiatannya, lalu memeluk bahu Frida erat.
"Maaf ya, jadi ngingetin kamu tentang kehidupan kamu yang dulu. Semoga dengan takdir mempertemukan kamu dengan Emira, kalian bisa saling menguatkan, saling sayang, dan bisa mengobati rada kesepian di hati kalian." Aini memgusap lengan Frida beberapa kali. Aini jelas tahu bagaimana kisah masa lalu sahabatnya itu sebelum melarikan diri dari rumah. Dan akhirnya alur kehidupan mempertemukan mereka. Sama halnya dengan pertemuan Emira dengan Frida, yang awalnya karena kecerobohan sahabat Aini itu yang terlambat menarik tuas rem sepeda motornya.
"Bunda... Em sudah siap berangkat!" Lengkingan suara Emira yang dibarengi dengan hentakan sol sepatu yang beradu dengan lantai, membuyarkan adegan melow dua sahabat.
"Hm, cantik sekali. Anak siapa ya?" Goda Frida langsung menyongsong tubuh kecil Emira dalam gendongannya.
"Ck, Bunda anemia ya. Em kan anak Bunda sama Papa," jawab Emira yang langsung disambut gelak tawa tiga orang dewasa mendengar gadis kecil salah menyebutkan satu kata.
"Amnesia, Sayang, bukan anemia," potong Frida.
"Anemia itu penyakit kurang darah, kalau amnesia baru hilang ingatan. Emira dapat kata-kata itu dari mana?" Lanjut Frida sambil menowel ujung hidung Emira.
"Dari sinetron yang sering dilihat Mbak Ria," jawab Emira cepat. Dan langsung membuat wajah pengasuhnya itu tertunduk malu. Frida hanya mengeleng melihat interaksi gadis kecil dalam gendongannya dengan sang pemgasuh.
"Mbak besok lagi kalau lihat sinetron jangan ajak anak kecil, begitu tuh jadinya," sahut Aini sambil geleng-geleng kepala.
"Iya Mbak, maaf." Mbak Ria benar-benar merasa tidak nyaman karena kebiasaannya melihat sinetron dengan Emira ketahuan orang lain. Ditambah bibir Emira ikut komat-kamit, menirukan orang yang sedang ngomel-ngomel, semakin membuat Mbak Ria tidak enak hati.
Frida juga Aini justru terkekeh melihat putri Reiga bertingkah demikian. Semakin menggemaskan saja di mata siapa saja yang melihatnya.
"Sudah-sudah ayo berangkat, nanti terlambat lo." Frida segera menguasai keadaan, tidak etis rasanya kalau dirinya juga Aini menegur pengasuh Emira secara berlebihan, bukan ranahnya juga.
Suara dering ponsel Mbak Ria membuat semua mata terfokus pada sang pemilik. Setelah meminta izin untuk mengangkatkan, kening pengasuh Emira itu berkerut. Pandangannya langsung tertuju pada Frida.
"Telepon dari Tuan, Mbak," ucap Mbak Ria.