Bab 16 Papa Minta Maaf

1133 Words
Bukan Emira namanya kalau tidak berdrama. Semenjak mengenal Frida, gadis kecil itu merasa punya tempat untuk bermanja. Merasa ada yang akan melindungi dari garangnya sang ayah. Bahkan sampai nekat minta menginap di rumah wanita yang disangka ibunya itu. Walau dengan berat hati Nyonya Gulizar akhirnya harus meloloskan kemauan cucu tersayangnya. Begitu juga pagi ini, Emira sudah merajuk pada Frida, meminta diizinkan untuk tidak bersekola, dengan alasan kalau dirinya bersekolah pasti akan diajak pulang ke rumah. Dengan rayuan maut dan janji anak menyusul ke sekolah, akhirnya Frida berhasil membuat gadis dengan wajan khas Timur Tengah itu mau mandi dan bersiap untuk sekolah. Tingkah Frita tak luput dari pandangan sahabatnya, hingga gadis bertubuh subur itu meledek Frida sudah seperti emak-emak dengan anak satu. Di tengah kerempongan persiapan Emira bersekolah, ponsel Mbak Ria berdering nyaring. Hingga mengalihkan fokus semua orang pada benda yang ada di saku kemeja pengasuh Emira itu. "Telepon dari Tuan, Mbak," ucap Mbak Ria memandang Frida, sekadar meminta dukungan, untuk mengangkat atau mengabaikan panggilan tersebut. "Tuan siapa?" Frida kurang paham dengan kata Tuan yang Mbak Ria maksud. "Tuan Reiga," jawab pengasu Emira itu cepat. "Udah angkat aja, kalau tanya tentang Emira bilang dia semalam memang tidur di sini, dan itu juga sudah seizin neneknya," saran Frida sedang tidak mau berurusan dengan ayah Emira. Mbak Ria menggeser gambar lingkaran hijau di layar ponselnya. Suara berat ayah Emira langsung terdengar jelas di telinga perempuan berusia tiga puluh lima tahun itu. Reiga: Assalamualaikum, Mbak. Emira mana? Mbak Ria: Alaikumsalam, Pak. Ini lagi siap-siap mau berangkat sekolah. Mbak Ria sedikit gemetar menjawab pertamyaan ayah Emira itu. Kemarahan Reiga kemari di mall rupanya tidak hanyaenghantui putrinya, tapi juga terekam sempurna di pikiran pengasuh Emira. Reiga: Bisa bicara sebentar dengan anak saya? Pertanyaan Reiga sukses membuat Mbak Ria melongo. Baru kali ini majikannya itu meminta berbicara demgan anaknya. 'Pak Reiga kesambet apa ya, sampai mau ngomong sama Non Emira?' Reiga: Mbak... dengar apa yang saya bilang'kan? Suara Reiga mengembalikan kesadaran Mbak Ria yang sempat terbengong-bengong dengan permintaan ayah Emira tersebut. Mbak Ria: I-ya Pak. Sebentar saya panggilkan Non Emira. Emira yang mendengar perbincangan pengasuhnya dengan seseorang yang dalam perkiraan gadis kecil berambut sedikit ikal itu sebagai papanya, kaki kecilnya langsung berlari menemui Frida di dapur. Tadi setelah menyarankan pada Mbak Ria untuk menerima panggilan dari Reiga, Frida langsung kembali ke dapur. Disamping tidak mau tahu apa yang akan dibahas lelaki arogan itu, pekerjaannya juga menuntut untuk segera diselesaikan. "Em nggak mau ngomomg sama papa!" Teriakan Emira menggema memenuhi sudut ruangan. "Ada apa?" Frida refleks menangkap tubuh Emira yang hampir terjerembab karena tersandung kakinya sendiri. "Em nggak mau ngomong sama papa. Papa jahat!" Lengkingan penolakan Emira jelas terdengar sampai telinga Reiga. Karena Mbak Ria berdiri tepat di aebelah Frida yang mengendong Emira, dengan ponsel masih mode on. "Mbak pinjam ponselnya, biar saya yang temani Emira ngomomg sama papanya." Frida meminta ponsel pengasuh Emira lalu membawa anak Reiga duduk di kursi ruang makan. Frida meletakan ponsel Mbak Ria di atas meja makan, dengan posisi menghadap ke atas. Menenangkan Emira yang sedikit histeris, beberapa kali teriakan juga jeritan keluar dari bibir mungilnya, keukuh menolak berbicara dengan papanya. Keringat juga mulai membanjir di kening dan sebagian tubuh anak perempuan itu. "Em, lihat Bunda. Kenapa nggak mau ngomong sama papa?" Frida menangkup wajah cantik di hadapannya. "Papa jahat, Bund. Kemarin bentak Emira, terus marahin Bunda," protes Emira dengan wajah sendu. "Sayang dengar Bunda. Emira bisa sebesar ini siapa yang kasih makan? Baju-baju Emira bagus-bagus, siapa yang belikan? Emira sekolah terus kenal dan ketemu teman yang baik, siapa yang bayar?" Frida menatap lembut gadis kecil yang berada di pangkuannya. "Papa." Suara Emira terdengar lirih. "Nah, berarti papa sayang nggak sama Emira?" Kembali Frida bertanya, dia tidak ingin perselisihan bapak dan anak ini menjadi berkepanjangan. Sudah cukup 4 tahun Reiga menunjukan kearogansiannya pada sang putri. "Sayang, tapi Papa..." "No, kalau sayang ya sudah sayang aja, nggak usah pakai tapu. Kemarin itu, Papa mungkin lagi cape, banyak kerjaan. Kebetulan suasana hati papanya lagi nggak enak, terus Emira nggak mau pulang jadi tambah jengkel. Makanya papa marah ke kita semua. Harusnya kalau Emira nggak mau bikin Papa tambah marah, anak Bunda ini nurut, oke gril?" Emira hanya mengangguk sebagai jawaban untuk penuturan bundanya. Di seberang sambungan Reiga mendengarkan semua dengan sudut bibir terangkat. "Nah sekarang Emira ngomong sama papa, minta maaf karena sudah bikin papa tambah jengkel. Nanti papa juga pasti minta maaf pada Emira." Frida sengaja meninggikan suaranya untuk kalimat terakhir, supaya Reiga mendengar. Gadis dengan senyum yang selalu meneduhkan itu ingin ayah Emira sadar diri, mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada putri kecilnya. Tangan mungil Emira menggenggam ponsel milik Mbak Ria, tatapannya masih lekat pada sang bunda. Frida mengangguk untuk menyakinkan anak Reiga, bahwa semua akan baik-baik saja. Emira: Assalamualaikum, Pa Reiga: Alaikumsalam Em. Reiga menjeda sejenak sambil menarik napas dalam lalu menghembuskan perlahan. Baru kali ini dirinya berbicara dengan buah hatinya, darah daging yang selama dalam kandungan begitu disanyang, dijaga, dan dicintai. Tapi setelah keluar justru dijadikan musuh terbesarnya. Reiga: Em, sudah mandi? Oh, sungguh basa basi yang mungkin basi. Tapi ini adalah rekor untuk Reiga demi membangub komunikasi yang baik dengan anaks semata wayangnya. Bahkan Yudha yang berada di sampingnya sampai ikut menempelkan telinganya ke ponsel karibnya itu. Emira: Sudah, sudah rapi, wangi, cantik seperti biasa. Tapi Papa tidak pernah mau mengakui kalau Em cantik. Kalimat Emira kali ini sukses meremas hati duda tampan itu. Anaknya sendiri sampai melontarkan protes. Jika boleh jujur, Reiga mengakui dalam hati kalau Emira memang cantik. Garis wajah Timur Tengah dari gen keluarganya, ditambah kecantikan mantan istrinya yang menurun pada Emira sungguh membuat gadis kecilnya itu seperti bonek cantik yang menggemaskan. Yudha yang mendengar protes Emira mencebikan bibirnya, kemudian berlalu dari tempanya sambil menonyor kepala Reiga. "Aduh, sialan. Dasar manusia nggak ada ahklak," protes Reiga. Emira: Papa... kenapa? Suara kekhawatiran anaknya mengembalijan fokus Reiga kalau dirinya sedang bertelepon dengan sang putri. Reiga: Iya, papa nggak papa kok. Papa minta maaf ya kalau selama ini selalu acuh juga sering marah pada Emira. Reiga teringat dengan ucapan Frida yang dirasa menyindirnya. Hati kecilnya juga bergejolak, ingin memperbaiki hubungannya dengan Emira. Sebenarnya hanya hati Reiga yang bermasalah, karena tidak mau menerima kehadiran putrinya dalam hidupnya. Malah menganggap kelahiran Emira sebagai penyebab kepergian mantan istrinya. Emira justru mengalihkan pandangannya pada Frida yang masih saja sibuk menata lauk ke dalam mika bersekat dalam kardus tempat nasi bok. Frida yang merasa diperhatikan tanpa jeda melirik ke arah Emira, dan gadis kecil itu langsung memberi isyarat dengan bibirnya, kalau papa sudah meminta maaf. Senyum Frida merekah, lalu membalas isyarat Emira dengan cara yang sama. Meminta anak Reiga itu untuk meminta maaf juga pada papanya. Emira mengangguk mantap, dibalas acungan jempol oleh Frida. Reiga: Em... masih dengar papa ngomong'kan? Kali ini suara Reiga terdengar datar, tidak ada nada tinggi walau merasa anaknya tidak segera menganggapi permintaan maafnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD