Bab 17 Membantu Yang Membutuhkan

1056 Words
Sindiran tajam dari Yudha juga nasihat dan masukan Priya rupanya mampu mengetuk hati Reiga yang selama ini tertutupi oleh rasa kecewa, amarah, juga sakit hati, tapi tidak pada tempatnya. Kepergian sang istri yang sampai detik ini belum diketahui alasan pastinya oleh Reiga, membuat lelaki berdarah Indonesia-Timur Tengah itu menimpakan segalan kemarahan pada putri kecilnya, yang jelas tidak tahu menahu permasalahan yang membuat kedua orang tuanya akhirnya berpisah. Pagi ini, Reiga menghubungi pengasuh Emira. Sengaja duda berwajah menawan itu ingin menebus kesalahan dan memperbaiki hubungangnya dengan sang putri. Semalaman Reiga benar-benar tidak bisa memejamkan mata, pikirannya berkecamuk. Padangannya fokus pada layar ponsel yang menampilkan gambar Emira sedang tertawa lepas. Di sampingnya ada Frida tengah memainkan gelembung sabun. Video berdurasi lebih kurang tiga menit itu, sengaja dikirim Nyonya Gulizar pada Reiga. Bukan hanya sekali ini saja, wanita yang telah melahirkan 2 anak itu mengirimkan rekaman video atau foto segala kegiatan Emira pada ayahnya. Tapi selalu saja dihapus oleh Reiga. Entah kenapa video yang diterimanya kemarin sore masih tetap tersimpan di galeri ponselnya. Perbincangan ringan yang dilakukan Reiga dengan Emira, sedikit banyak melunakan kekerasan hati lelaki berdarah canpuran itu. Tabir kemarahan, kekecewaan, yang menutup mata hatunya perlahan terbuka. Buah hatinya yang baru saja merayakan ulang tahun ke-4 jelas tidak bersalah atas kepergian ibunya. Wanita yang Reiga nikahi lima tahun silam itu sudah dewasa, dan jika pada akhirnya wanita itu lebih memilih pergi meninggalkan suami juga anaknya yang baru dilahirkan, itu sudah menjadi keputusannya. Yang Reiga sesalkan, dia sama sekali tidak tahu alasan pasti kenapa Mesya sampai bisa setega itu. Yudha yang dari tadi ikut mendengarkan obrolan bapak dan anak lewat sambungan telepon itu mencebikan bibirnya ketika terdengar protes dari Emira, karena selama ini ayahnya tidak pernah memuji kecantikannya. Tak mau berlama-lama mengganggu interaksi Reiga dengan sang putri, Yudha lantas beranjak dari tempatnya sambil menonyor kepala Reiga. Dan langsung mendapat umpatan dari ayah Emira itu. Di seberang sambungan Emira yang mendengar ayahnya mengaduh sempat khawatir, lalu menanyakan apa yang terjadi. Pada kesempatan itu juga untuk pertama kalinya Reiga meminta maaf pada putrinya. Permintaan maaf yang awalnya timbul karena mendengar sindiran Frida beberapa saat lalu. Hingga berkelebat semua kejadian tentang sikapnya selama ini terharap Emira. Akhirnya ucapan maaf keluar dengan tulus dari hati Reiga paling dalam. Sesal, itu yang membuatnya benar-benar meminta maaf pada sang putri. Emira sampai melonggo saat mendengar papanya meminta maaf, bahkan suarany juga terdengar lebih lembut ketika memanggil namanya. Reiga: Em... masih dengar papa ngomong'kan? Emira: I-ya Pa, Em dengar. Em juga minta maaf ya udah sering bikin Papa sakit kepala. Kemarin aja Bunda juga sakit kepala, Em jaji nggak akan nakal lagi, biar Papa sama Bunda nggak sakit kepala lagi. Celotehan polos Emira yang masih saja menganggap Frida ibunya sedikit membuat Reiga resah. Mau sampai kapan gadis itu berpura-pura jadi ibu dari anaknya. Kalau seperti ini keadaannya, juga tidak bagus untuk psikis Emira, pikir Reiga. Sepulang dari penugasan kali ini dirinya harus cepat membuat keputusan tentang masalah ini, supaya tidak berlarut-larut. Supaya Emira juga tidak terlalu lama terjebak dalam kebohongan juga angan-angan semu tentang sosok seorang ibu. Setalah menutup sambungan telepon dari papanya, Emira menyerahkan ponsel pada pemiliknya. Gadis 4 tahun itu lantas berpamitan pada Frida dan Aini untuk segera berangkat sekolah, karena jarak sekolah dengan tempat tinggal Frida lumayan jauh, memakan waktu sekita empat puluh lima menit, belum kalau terjebak macet. Berbeda jika berangkat dari rumah oma atau tempat tinggalnya, hanya butuh wakti lima belas menit, Emira sudah sampai di sekolahnya. "Bund, nantu jangan lupa jemput Emira ya." Gadis kecil itu mengitkan Frida yang berjanji untuk menjemputnya, sebelum pintu mobil ditutup Mbak Ria. "Insyallah Sayang, nanti Bunda usahakan tepat waktu. Yang penting Emira sekolah dulu, nurut sama Mbak Ria, sama miss di sekolah, oke," balas Frida dengan mengacungkan ibu jarinya. Frida gegas masuk kembali ke dalam rumah, melanjutkan pekerjaannya yang sudah 90% selesai. Tinggal mengisi sendok, kerupuk lalu menutup box makannya. Menyusun lima sampai enam box tiap susunannya kemudian ditali dengan rafia. Dalam diam dua sahabat itu berjibaku menyelesaikan pekerjaanya. Hingga terdengar suara mobil berhenti di depan pagar, disusul suara orang mengucap salam. Bertepan dengan Aini juga Frida menyelesaikan pekerjaannya. "Alaikumsalam!" seru Aini sambil berjalan ke depan, untuk melihat siapa yang datang. Tepat perkiraan gadis bertubuh sedikit berisi itu. Si pemesan yang datang untuk mengambil tumpukan nasi box tersebut. Frida gegas menyusul Aini sambil membawa dua tumpukan nasi box yang sudah diikat. Tak lama Aini diikuti dua orang perempuan masuk ke dalam untuk mengambil sisa nasi box. "Alhamdulillah akhirnya selesai juga, " ucap Aini sambil meregangkan tubuhnya yang terasa penat. Frida menepuk pundak sahabatnya sambil tersenyum, lalu masuk ke dalam rumah. "Mbak Jumi, ini uang untuk hari ini, sekalian sayur sama lauk yang rantang jangan lupa dibawa ya, Mbak." Frida menyerahkan amplop yang berisi beberapa lembar uang pada Mbak Jumi. Mbak Jumi tetangga kontrakam Frida yang sudah dua kali ini diminta membantu katering yang dikelola Frida dan Aini. Tugas Mbak Jumi menanak nasi juga mencuci perabot kotor bekas dipakai. Sebenarnya Frida juga Aini masih bisa menghandel pekerjaannya, tapi sekitar seminggu yang lalu Mbak Jumi meminta pekerjaan pada Frida saat mereka bertemu di warung yang tak jauh letaknya dari rumah Frida. Mengingat Mbak Jumi adalah seorang janda dengan tiga anak yang masih usia sekolah, maka Frida juga Aini memutuskan mempekerjakan ibu tiga anak tersebut. "Iya Mbak, terima kasih banyak untuk bantuannya," balas Mbak Jumi dengan wajah semringah. "Bantuan apa to, Mbak. Itu hak Mbak Jumi, kan Mbak udah memeras tenaga bantu'in kita, ya kan Da," sahut Aini memasukan potongan buah semangka dalam plastik lalu disatukan dengan sayur juga lauk yang akan dibawa Mbak Jumi. "O, iya ini titip buat Nilam, kalau ukurannya kurang pas bisa ditukar. Tapi labelnya jangan dilepas." Frida keluar dari kamar membawa kantong plastik berisi kotak sepatu untuk Nilam, anak sulung Mbak Jumi. "Masya Allah, Mbak Frida kom jadi repot-repot membelikan sepatu untuk Nilam." Suara Mbak Jumi bergetar menahan tangis. Tangis haru karena dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Frida dan Aini. "Nggak repot, Mbak. Kebetulan Aini dan saya ada rezeki, pas banget Nilam butuh sepatu, ya sudah kita belikan. Semoga bermanfaat ya, Mbak," terang Frida mengusap lengan Mbak Jumi. Aini juga melakukan hal yang sama pada sisi tubuh Mbak Jumi yang lain. "Aamiin, semoga Mbak Frida dan Mbak Aini selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, keberkahan berlipat dari Allah Swt, aamiin." Doa tulus terucap dari bibir Mbak Jumi yang langsung diamini oleh dua sahabat tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD