Bab 18 Resah

1030 Words
"Rei buruan, ck... lelet banget udah seperti penganten jalan aja," gerutu Yudha menunggu Reiga yang masih berkemas. Hari ini memang tim yang dipimpin ayah Emira itu akan bertolak ke daerah perbatasan. Ada satu misi rahasia negara yang sedang diemban oleh tim merekan. Reiga juga tim khusus yang terdiri dari lima orang terlatih dan mempunyai kemampuan spesifikasi baik di medan tempur atau memyusun strategi, memang selalu menjadi andalan kesatuan mereka. Reiga mengangjat ransel lalu menyandangnya di punggung, gegas menyusul keemoat rekannya yang sudah terlebih dahulu naik ke dalam helikopter. "Em, tunggu papa pulang ya, Nak. Kita akan mulai lagi dari awal. Papa sayang Emira," gumab Reiga sebelum menaiki helikopter yang akan membawanya terbang melintas pulau dan samudera. Perjalanan udara memakan waktu lebih kurang sekitar 3 jam, Reiga dan keempat rekannya sudah mendarat di Maluku. Helikopter yang mengangkut rombongan Reiga mendatar cantik di Lanud Dominicus Dumatubun. Dua orang lelaki dengan seragam loreng menyambut kerdatangan lima orang yang masing-masing menenteng ransel. Dua penjemput langsung memberikan hormat pada ayah Emira dan keempat rekannya. "Selamat datang di Maluku Kapten Reiga," sambut salag satu orang yang berseragam loreng khas tentara Indonesia. "Terima kasih Let, untuk sambutan juga meluangkan waktu menjemput kami," balas Reiga menjabat erat tangan perwira di hadapannya. "Kita langsung ke lokasi atau mau istirahat dulu di base camp, Kapt?" tanya Letnan Anggara. "Base camp dulu saja, mau naruh barang-barang sambil menunggu perintah dari pusat," jawab Reiga. Dua mobil double cabin yang biasa digunakan untuk medan offroad beriringan meninggalkan Lanud Dominicus Dumatubun menuju ke base camp tempat Reiga dan tim menyusun rencana juga sebagai tempat tinggal mereka selama berada di Maluku. Walau boleh dibilang, mereka akan lebih banyak berada di lapangan untuk menjalankan misi, tetap saja lima serdadu terpilih itu akan membutuhkan tempat untuk beristrirahat dengan tenang. Sebuah rumah di kawasan perumahan kalangan menengah, menjadi base camp yang disediakan markas besar tentara untuk Reiga beserta timnya. Reiga meletakan ransel juga kotak yang berisi senjata api di kamar yang akan ditempati. Setelah mengadakan brefing sebentar dengan anggota tim juga beberapa anggota pendukung untuk rencana mereka menjalankan misi rahasia, Reiga kembali ke kamar. Diambilnya ponsel yang sedari tadi tersimpan di sling bag. Mengecek apa ada pesan atau panggialan penting, hanya beberapa pesan dari rekan kerjanya. Reiga melihat angka penunjuk waktu di layar smart phone, ternyata sudah tengah hari. Waktunya Emira pulang sekolah, entah kenapa setitik rindu menyelusup dalam hati duda tampan itu pada putri kecilnya. Tanpa membuang waktu, Reiga lantas menghubungi nomor pengasuh Emira. Tiga kali panggilan tidak berhasil tersambung. Hanya suara operator provider yang menjawab kalau nomor pengasuh Emira sedang di luar jangkauan. "Kemana Mbak Ria, sampai ponselnya nggak aktif?" guman Reiga dengan wajah kesal. Baru kali ini dirinya ada rasa khawatir pada Emira, ketika ponsel Mbak Ria tidak bisa dihubungi. Biasanya boro-boro menanyakan Emira, sekadar basa-basi menanyakan keadaan anaknya saja tidak pernah. Dengan menekan segala rasa gengsinya, akhirnya Reiga menghubungi ibunya untuk meminta nomor Frida, karena setahu Reiga, dari kemarin anaknya itu berada di rumah wanita yang disangka mamanya. Reiga: Assalamualaikum, Mam. Nyonya Gulizar: Alaikumsalam, ada apa Rei? kamu sudah sampai? Reiga: Alhamdulillah sudah Mam. Mam, nomor Mbak Ria kenapa nggak bisa dihubungi? Nyonya Gulizar: Memang ada apa? nggak biasanya kamu saat tugas menghubungi Ria. Kamu kangen sama pengasuh Emira? Wanita yang melahirkan Reiga itu jelas merasa heran dengan sikap Reiga yang di luar kebiasaannya. Reiga: Ck, Mama ngomong apa sih? bisa-bisanya ngomong seperti itu. Aku mau ngomong sama Emira sebelum hp aku matikan. Nyonya Gulizar: Nggak salah kamu mau ngomong sama Emira? kesambet setan pulau situ ya jadi ingat sama anak kamu? Reiga: Mam... pleace deh, nggak usah ngomong aneh-aneh. Aku tahu kalau selama ini sikapku sudah keterlaluan pada Emira. Aku juga sudah berperan jadi sosok monster bagi dia, aku hanya ingin menebus semua kesalahan yang sudah aku timpakan pada darah dagingku sendiri, Mam. Penyesalan memang selalu datang setelah ada hati yang berdarah-darah, dan itu yang dialami anakku, Mam. Suara Reiga tercekat di tenggorokan, menahan tangis sekaligus sesak dalam rongga dadanya. Beruntung saat ayah Emira itu melakukan panggilan pada ibunya sudah berada di kamar base camp, sehingga tidak ada yang tahu kalau saat ini dirinya dalam keadaan emosional. Di seberang sambungan telepon, Nyonya Gulizar menghela napas panjang. Entah saat ini dirinya harus merasa bahagia untuk cucunya atau ikut merasa kesesakan putranya. Andai saat ini Reiga ada bersamanya, tentu tubuh tegap putranya itu akan langsung direngkuh, dibawanya masuk dalam pelukannya. Demi memberikan suport juga ketenangan untuk ayah Emira itu. Setelah puas mengutarakan segala hal yang berkecamuk dalam dadanya, tentang sikapnya selama ini terhadap Emira, juga penyesalan yang mendalam dan ingin memperbaiki hubungan dengan sang putri, menebus semua kesalahan, waktu yang terbuang sia-sia, hanya diisi kemarahan juga kekecewaan yang dilampiaskan pada anaknya. Harusnya Reiga bisa menemani tumbuh kembang Emira, menghujani gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang, bukan dengan amarah, bentakan, bahkan terkadang Reiga bersikap terlalu keras pada putrinya yang masih berusia balita. Nyonya Gulizar: Rei, coba kamu hubungi Frida saja, sebentar mama kirim nomornya. Tadi Ria sempat kasih tahu mama kalau Emira nggak mau pulang, masih takut sama kamu. HP Ria kehabisan daya mungkin, tahu sendiri pengasuh anakmu itu kalau malam selalu mantengi drakor. Wanita berdarah Timur Tengah itu akhirnya memberi solusi atas kerisauan hati putranya, yang mulai merasa khawatir ketika tidak ada akses komunikasi dengan gadis kecilnya. Reiga semakin menekan ego juga gengsinya. Jika saat awal bertemu dengan Frida, duda tampan itu begitu galak terhadap Frida, bahkan kemarin sempat bertengkar hebat ketika menjemput Emira di mall, maka kini Reiga harus mau berdamai dan mungkin juga akan meminta maaf pada Frida. Pertanyaannya, apakah Frida mau memaafkan Reiga setelah perlakuan kasarnya juga kata-katanya yang mungkin saja menoreh luka di hati wanita yang dianggap ibu oleh Emira. Selain memperbaiki hubungan dengan Emira, Reiga masih mempunyai satu PR lagi, berusaha mendapat maaf dari Frida juga mulai berdamai dengan gadis itu, paling tidak demi kebahagiaan putri kecilnya. Ujung jemari Reiga menekan derta angka di layar ponselnya, belum sempat ada nada tunggu, jarinya lincah mematikan sambungan. Lalu menulis sederet pesan untuk pemilik nomot telepon yang baru saja dikirim ibunya. Selesai mengetikan sebuah pesan, perlahan dibaca ulang deretan kata itu. Tak berselang lama, dihapusnya pesan itu. Hal itu terjadi sampai berulang kali. Baru kali ini Reiga seperti pecundang dengan sikap plin-plan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD