"Pak agak cepat sedikit ya," pinta Frida pada sopir taksi online yang mengantarkannya ke sekolah Emira. "Baik Mbak," jawab lelaki yang mungkin seusia ayah Frida. 'Pi, Mam, kalian apa kabar? Fri kangen.' Tetiba rasa rindu pada kedua orang tuanya menelusup relung hati Frida. Menyesal mungkin iya, karena nekat pergi dari rumah. Meninggalkan segala kemerwahan, fasilitas yang diberikan orang tuanya, hanya demi mengejar mimpi terbesarnya. * "Fri, ini ada form pendaftaran juga brosur dari Harvard Business School. Kamu fokus kuliah di sana nanti kalau magang di perusahaan Papi saja." Pak Mahendra Pramono--ayah Frida--menyerahkan brosur universitas pilihannya untuk putri semata wayangnya. "Tapi Pi, Frida mau serius jadi chef. Ini malah sudah lolos audisi lomba masak yang diliput tivi swasta

