Bab 14
Cemburu
Dua hari ini Gerry pulang ke rumah dengan cepat. Dia tidak pergi ke mana pun. Biasanya dia pergi. Pergi menemani Yuna ke suatu tempat yang berbeda. Namun dua hari ini dia menolak ajakan itu. Dia ingin bersama Giva lebih lama. Bukan hanya ketika makan malam bersama atau tidur bersama.
“Ger, kamu kok melamun sih!” ketus Giva hingga membuat Gerry terkejut.
Gerry tertawa kecil lalu menggeleng. “Aku enggak ngelamun. Aku cuma lagi mikir bagaimana kalau sekarang kita jalan-jalan aja?”
“Jalan-jalan ke mana sih? Udah malam gini, udara dingin juga … Kita masuk aja yuk!” Giva menarik tangan Gerry agar masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian mereka pun duduk di ruang tamu.
“Itu....” Gerry menunjuk meja ruang tamu. “Kamu belum makan malam? Gini nih kalau enggak dilihatin pas makan pasti nyeleweng. Inget, Gi, kamu lagi hamil sekarang! Bayi kita juga butuh asupan makanan.” Gerry protes dan Giva hanya mampu menundukan kepalanya.
Giva diam dan lebih memilih menatap ke arah lain. “Aku masih kenyang.”
“Emang habis makan apa, Gi?” tanya Gerry curiga. “Kamu enggak makan sembarangan kan, Gi? Nanti kalau kamu sakit perut gimana? Inget, Gi....”
“Kamu lagi hamil,” cibir Giva kesal. “Udah deh kalau kamu masih ngomel juga aku masuk ke kamar aja nih!”
Gerry mendesah panjang lalu menahan tangan Giva sambil berpindah duduk ke samping istrinya. “Jangan marah dong, Gi! Aku enggak ngomel kok. Gimana kalau aku suapin kamu aja? Kan mubazir kalau enggak dimakan, Gi.”
“Ya udah cepet suapin aku,” Giva ketus namun menunggu Gerry yang sudah siap menyuapinya. Giva makan dengan lambat. Mengunyahnya lama-lama dan membuat Gerry harus ekstra bersabar saat harus menghadapinya.
“Udah, Ger! Aku kenyang banget,” tolak Giva saat Gerry akan menyuapinya nasi yang ke empat kalinya.
“Sayang, kamu makannya masih sedikit. Makan lagi ya?”
“Enggak mau!” tegas Giva. Ia menolaknya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Gerry mendesah pasrah lalu meletakan lagi nasinya. Dia mengambil air putih dan memberikannya pada Giva. Giva meminumnya lalu menyerahkan gelas yang isinya masih setengah itu pada Gerry.
“Kamu kenapa sih susah banget kalau disuruh makan?” protes Gerry langsung. Mengulang percakapan mereka tadi.
“Aku masih kenyang.”
“Kamu makan apa memangnya? Kamu enggak makan sembarangan, kan?”
“Enggak,” Giva menggeleng. “Aku makan bareng Winda dan Wira.”
“Wira siapa? Laki-laki? Kamu kok berteman sama laki-laki tapi enggak izin aku dulu. Gimana kalau laki-laki itu suka kamu?”
“Iiih lebay banget sih! Wira tahu lagi kalau aku udah menikah. Nih lihat! Cincin kawin dari kamu ini masih utuh di jariku.”
Gerry melihat cincin kawin yang diberikannya pada Giva lalu menghela napas kasar. “Aku tetap enggak rela tahu kamu jalan bareng laki-laki lain.”
“Aku kan sama Winda, Ger. Winda kan anak yang punya rumah ini, masa kamu enggak percayaan banget sih. Aku tuh udah kayak tahanan lapas tahu enggak diperlakukan seperti ini.”
“Bukan begitu, Sayang. Tapi aku kurang suka kamu dekat laki-laki lain.”
“Tapi aku kan enggak ngapa-ngapain, Ger! Udah ah capek ngobrol sama kamu. Kamu tuh egois! Sikap kamu udah balik lagi kayak dulu. Aku enggak suka Gerry yang egois!” Giva beranjak. Masuk ke dalam kamarnya dan meluapkan rasa kesalnya dengan mendengarkan lagu melalui headphone di telinganya.
Cemburuan enggak jelas aja dibangga-banggain! Udah dibilangin enggak ada apa-apa tapi ngeyel terus. Dasar egois!
***
“Kamu kenapa, Ger? Dari tadi aku lihatin kamu kayaknya melamun terus. Ada masalah?” Yuna bertanya saat mereka makan siang di restoran hotel. Kali ini mereka tidak ke luar.
“Enggak ada apa-apa kok, Yun. Kamu tahu enggak kenapa sih cewek itu ribet?”
“Ribet?” Antara bingung dan curiga, Yuna bertanya.
“Pokoknya cewek itu ribet. Mereka dipeduliin malah bilang cowok itu egois, aku enggak egois kan, Yun?”
Dag dig dug ... Jantung Yuna mulai berdebar tidak menentu. Spot jantungnya sudah seperti orang yang habis lari maraton. Dia takut. Apa jangan-jangan Gerry sudah punya pacar? Apakah selama ini apa yang ia lakukan demi dirinya hanya sia-sia? Tidak berbuah apa-apa.
“Kamu sudah punya pacar, Ger?”
Gerry menatap Yuna saat mendengar suara wanita itu yang terdengar bergetar. “Kamu kenapa, Yun?”
“Jawab pertanyaanku, Ger! Kamu sudah punya cewek?” tanya Yuna sekali lagi.
“Aku bahkan sudah menikah. Itu lebih tepatnya!”
Yuna menggigit bibirnya. Gerry semakin jelas melihat bahwa air mata Yuna luruh di pipinya. Yuna meninggalkan Gerry sambil menahan isak tangisnya. Dia tidak menyangka hal itu bisa terjadi. Orang yang dicintainya ternyata sudah punya istri. Gerry sudah menikah dan ia baru mengetahuinya sekarang.
***
Gerry menghampiri Yuna yang saat itu sedang berdiri di lantai teratas hotel. Dari sana mereka bisa melihat bagaimana pemandangan Bali. Terasa begitu ekstrem tapi tempat itu sangat indah. Yuna duduk di kursi yang memang sudah disediakan oleh pihak hotel.
“Kamu aneh hari ini. Kamu menjauhi aku, Yun?” Gerry bertanya dengan wajah serius.
Yuna mendengarkan namun tidak menyahut.
“Kamu kaget aku sudah menikah, atau kamu patah hati karena aku….”
Yuna mendongak melihat Gerry. “Kamu tahu enggak, selama ini aku suka kamu, Ger!”
Gerry mendesah dan balas menatap Yuna. “Maafin aku, Yun. Aku enggak tahu dan berharap hal itu enggak pernah terjadi ke kamu. Aku ini enggak lebih dari b******n, Yun!”
Kening Yuna berkerut bingung. Kenapa Gerry menghakimi dirinya sendiri?
“Aku udah menghamili perempuan yang sangat aku cintai. Perempuan yang sekarang udah menjadi istriku sekarang. Aku yang udah memperkosa dia dan membuat hidupnya menderita karena harus bersamaku.”
Yuna menutup mulutnya. Tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Gerry. Pria yang disukainya itu melakukan hal sebejat itu kepada seorang wanita.
“Kami dulu sempat pacaran, tapi Giva memutuskan aku begitu saja karena sejak awal dia tidak menyukaiku. Ya meskipun kita sempat jadian. Saat itu aku kalut, Yun! Itu pertama kalinya Aku merasakan jatuh cinta. Aku ingin memiliki Giva dan ide gila itu datang. Aku memperkosanya dan berniat membuatnya hamil agar bisa bersama dengannya. Aku ingin Giva seutuhnya, dan aku berhasil.” Gerry tersenyum miris. Dia sadar betul bahwa dia belum sepenuhnya berhasil karena dalam pernikahannya belum ada restu dari kedua orang tuanya dan kedua orang tua Giva. Mungkin setelah kehidupan mereka yang makin mapan dan kelahiran anak pertama mereka, Gerry akan kembali dan meminta restu.
“Kenapa kamu bilang semua itu ke aku, Ger?” Yuna bertanya kalut. Seperti sudah tidak ada lagi harapan untuk hidup. Lebih tepatnya, dia sudah tidak punya kesempatan untuk mendapatkan Gerry karena pria itu begitu mencintai wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
“Jangan suka ke saya lagi! Saya enggak akan bisa mencintai kamu. Selama ini saya hanya menganggap kamu sebagai sahabat. Kamu terlalu baik, Yun. Saya yakin kamu akan menemukan seorang pria yang sangat baik juga sebagai pendamping hidup kamu.” Suara Gerry mendadak datar dan tidak bersahabat.
“Cinta itu enggak akan mudah berpindah, Ger! Itu juga kan yang kamu alami kepada istri kamu.”
“Maafin saya, saya seharusnya jujur ke kamu lebih awal.” Gerry memeluk Giva dan membuat wanita itu menangis tersedu-sedu. “Yun, maafin saya ya?”
“Apa yang harus dimaafkan, Ger?” Yuna bertanya balik. Penuh kebimbangan. Dia melepaskan pelukan Gerry lalu beranjak dari tempatnya duduk. Meninggalkan Gerry dengan perasaan bersalahnya. Seharusnya dia sadar sejak awal bahwa dia sudah memberikan harapan palsu pada Yuna.
***
BERSAMBUNG>>>