Bab 42 Berpisah Tiga minggu kemudian. Giva menatap gundukan tanah yang terlihat mengering di depan matanya. Tangannya memegang keranjang bunga warna-warni yang dipersiapkannya untuk sore ini lalu menaburkan kelopak bunga itu ke atas gundukan tanah itu. “Abah,” Suara Giva terdengar serak karena menahan isak tangisnya sejak tadi. Mimi yang menemani Giva sore hari itu segera memeluk Giva dari samping. Mencoba menenangkan kondisi Giva. “Sabar, Neng!” Tak kalah bergetar, Mimi juga merasakan kesedihan yang sama seperti Giva. Istri mana yang tidak sedih ditinggalkan selama-lamanya oleh sang suami, yang sudah menemaninya hampir 31 tahun. “Maafin Neng, Bah. Neng udah durhaka, udah membuat Abah begini, maafin Giva ya, Bah,” Giva mulai memegang nisan kayu Abah, mengelusnya dengan lembut

