Bab 12
Akad Nikah
Jatuh cinta itu mudah. Padahal ujungnya jatuh cinta itu ada dua. Saling bertolak belakang. Ada yang berakhir bahagia dan ada yang berakhir patah hati atau menyakitkan. Gerry berharap rasa cintanya untuk Giva akan berakhir seperti point pertama yaitu bahagia.
Dua minggu terasa cepat sekali berlalu. Dua insan berbeda latar belakang itu kini sedang duduk berdua di kursi pelaminan. Mempelai laki-laki nampak makin tampan dengan jas pinjaman dari teman kerjanya di kantor. Badannya yang makin kurus kini sudah kembali berisi sejak bekerja di kantor. Menambah pesonanya hingga makin meruak ke luar.
Berbeda dengan Giva. Meskipun tubuhnya yang makin berisi itu hanya dilapisi kebaya jawa berwarna putih hasil menyewa tapi dia nampak cantik. Dua pasangan yang serasi berada di pelaminan. Saling duduk dengan beberapa saksi beserta penghulu. Siap menikahkan mereka berdua.
“Saya nikahkan dan kawinkan saudari Givani Sandra binti Umar Hidayat dengan mas kawin cincin berlian, uang tunai senilai 5 juta rupiah, beserta seperangkat alat sholat dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya saudari Umar....”
Cciitt ... Gerry mendesis menahan cubitan yang dirasakan pahanya karena ulah Giva. Dia menoleh dan melihat pelototan dari mata Giva.
“Bisa kita ulangi, Pak. Tenang saja!” Bapak penghulu menatap Gerry yang mulai membuang napasnya dengan ritme panjang. “Saya nikahkan dan kawinkan saudari Givani Sandra binti Umar Hidayat dengan mas kawin cincin berlian, uang tunai senilai 5 juta rupiah, beserta seperangkat alat sholat dibayar tunai.”
“Sa-sa-saya....”
Bapak penghulu kembali menggeleng. “Tolong serius, Nak Gerry! Ini bukan main-main. Jika sekali lagi gagal pernikahan ini akan batal.”
Gerry tersenyum tipis lalu mengatur napasnya lagi. Dia harus fokus!
“Saya nikahkan dan kawinkan Givani Sandra binti Umar Hidayat dengan mas kawin cincin berlian, uang tunai senilai 5 juta rupiah, beserta seperangkat alat sholat dibayar tunai.” ulang bapak penghulu untuk ketiga kalinya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Givani Sandra binti Umar Hidayat dengan mas kawin cincin berlian, uang tunai senilai 5 juta rupiah beserta seperangkat alat sholat dibayar TUNAI!”
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“SAAAAHH....” ujar para saksi serempak. Penghulu pun mulai melantunkan doa pengantin baru. Melakukan beberapa prosesi penandatangan buku nikah dan lain-lain.
Gerry tiada habisnya bersyukur. Dalam hati dia memanjatkan doa. Akhirnya dia menikah dengan wanita yang ia cintai. Akhirnya. Giva menjadi miliknya. Seutuhnya. Di mata hukum dan agama. Sekarang tidak akan ada lagi yang akan memisahkan mereka berdua.
***
“Senyum mulu dari tadi?” Giva menegur Gerry saat mereka sudah kembali ke rumah. Setelah melepaskan pakaian pernikahan. Mereka pun akhirnya bisa bersantai-ria di bale depan rumah. “Kemasukan jin mana sih, Ger?”
“Baru juga resmi jadi suami-istri tapi udah dikatain kemasukan setan. Ckckck,” Gerry berdecak lalu bergeser duduk ke samping Giva. “Berasa beda ya berdua sama istri sendiri. Kayak hidup ini cuma milik kita berdua, yang lain ngontrak.” ujarnya lagi sambil menggenggam tangan Giva.
Giva tertawa kecil. “Lebay banget, sumpah! Kayaknya Gerry Laskar Prianto udah berubah lagi jadi cowok playboy yang doyan ngegombal.”
Gerry balas tertawa. Malam ini langit nampak mendung tapi suasana di antara mereka malah makin ceria. Tidak biasanya memang.
“Kalau aja ada Tania dia pasti bakal mencak-mencak ganggu kita sekarang ya, Gi?”
“Bener banget!”
“Berkat Tania juga aku bisa kenal kamu. Bisa ngerasain jatuh cinta lebih cepat dibanding Ayahku. Tahu enggak, Gi? Ayahku dulu saat jatuh cinta ke Bunda umurnya udah 31. Udah matang banget pokoknya. Enggak kayak Bunda yang saat itu masih usia 19 tahun.”
“Kayak aku!” Giva nampak ingin protes tapi tidak jadi.
Gerry melanjutkan bicaranya. “Iya sih kayak kamu. Tapi kamu harusnya bersyukur! Aku ini masih muda, bertanggungjawab, ganteng, keren, tinggi, mandiri lagi! Tuhan emang hebat ya ngasih rencana ke hambanya. Menjodohkan aku dengan orang yang kucintai. Yang kerjanya doyan marahin aku, bilang aku jahat, padahal dia kan pesek, pendek juga! Ya meskipun gitu aku tetap sayang kok!” Gerry memeluk Giva dengan erat. Gemas pada Giva yang makin berisi. Jika biasanya ia memeluk tubuh yang sintal dan kurus kini dia memeluk tubuh yang empuk.
“Duh, sesek aku, Ger!” protes Giva. Tangannya mencoba melepaskan tangan Gerry pada tubuhnya.
“Kamu empuk banget, Yang. Bikin gemes tahuuu....” Gerry tertawa.
“Udah ah, lepas!” Giva melepaskan tangan Gerry yang sudah mulai melonggar karena sibuk tertawa. “Ceritain tentang Ayah sama Bundamu dong, Ger? Kayaknya seru….”
“Loh kok?”
“Daripada kita ngobrolin tentang kita yang ujung-ujungnya bikin aku kesel. Mending sekarang kamu ceritain tentang orang tua kamu.”
Gerry yang awalnya canggung akhirnya bicara dengan tenang. “Ayah itu anak tunggal dari Opa sama Oma. Katanya sih ayah dulunya nakal banget, egois banget, playboy banget, ya pokoknya yang nget-nget-nget itulah ciri khasnya Ayah. Ayah dulunya enggak percaya sama wanita. Lebih tepatnya enggak percaya sama cinta. Beda banget sama Bunda yang hidup biasa tapi teratur.”
“Bunda kamu katanya nikah muda sama Ayah. Kok Bunda mau, Ger?”
“Ya maulah, Ayah kan ganteng, dewasa, tajir pula.”
“Jadi Bunda matre ya?”
“Enak aja. Ya enggak dong! Bunda itu mau sama ayah soalnya dipaksa. Malahan di bulan pertama sampai bulan kelima setelah menikah, Bunda dikurung di rumah. Didiamin gara-gara Bunda mau kabur dari rumah. Untung aja ketahuan jadi digituin deh. Aku yang denger cerita ini dari Bunda aja enggak tega banget, Ayah kok bisa kayak gitu ke Bunda. Tapi setelah Bunda hamil aku semua berubah, Gi. Bunda nerima Ayah dan akhirnya hidup bahagia.” Gerry tersenyum sambil menoleh ke arah Giva yang berada di sampingnya. Dia tertawa kecil saat menemukan Giva yang sudah terlelap. Menutup matanya dengan napas teratur. “Enggak ada malam pertama deh!”
***
Giva melepas bajunya saat Gerry sudah berangkat bekerja. Dia mengganti pakaian yang lebih sopan yaitu celana jins panjang dan kemeja flanel hitam. Lalu ke luar dari rumah. Aman karena tidak ada Gerry.
Setelah berjalan sebentar Giva pun naik ke atas motor bebek milik seseorang yang beberapa hari ini membantunya mengurangi rasa kejenuhan karena sering berada di rumah. “Kita ke sanggar lagi, Win?”
“Iya. Kamu enggak bosen kan nemenin aku ke sanggarnya Pak Bayu?”
“Enggak kok. Nyantai saja, Win. Tapi aku malah takut dilihatin sama Mas Wira. Tatapannya tajam sekali, Win.”
Winda yang sedang menyetir motor mengangguk-angguk mengerti. “Ya emang Wira seperti itu orangnya, Gi. Kalau ngelihat orang kayak elang menatap mangsa. Padahal kalau sudah duduk bersama terus mengobrol sebentar pasti kamu bakal paham kenapa Wira seperti itu.”
“Mas Wira itu kerja apa, Win? Saya kok melihat dia cuma mondar-mandir saja seperti setrikaan?”
Winda mulai tertawa. “Nanti saya kenalin kamu ke dia.”
“Enggak mau. Dia nanti malah mencabik-cabik aku bagaimana? Melihat dari jauh saja sudah seperti itu. Apalagi kalau deket?”
“Kamu cuma belum kenal sama Wira, Gi. Aku yakin kamu bakal suka sama dia. Dia orangnya asyik cuma covernya saja yang sadis. Wira itu anak paling berbakat di sanggar. Selain melukis macam saya, dia juga jago nari daerah. Meskipun hampir 4 tahun kuliah di luar negeri tapi dia masih menjadi kebanggaan sanggar. Aku pokoknya ngefans banget sama dia.”
“Jadi kamu suka sama Mas Wira?” tanya Giva mulai menggoda Winda.
Winda menggumam sesuatu lalu menutup jendela helmnya. Tidak membahas lagi. Mereka pun melanjutkan perjalanan dalam diam dan melamunkan sesuatu yang menurut mereka menarik.
Winda mematikan mesin motor bebeknya saat sudah masuk ke area sanggar.
“Gi, aku langsung masuk ya?” Winda berjalan cepat meninggalkan Giva. Dia masuk ke sanggar.
Giva menatap punggung Winda yang makin menjauh. Dia memutar pandangannya dan melihat Wira yang sedang memahat. Dengan keberanian yang tersisa Giva berjalan pelan menghampiri Wira yang memunggunginya.
“Hai, Mas Wira, Mas Ghandi?” Giva kemudian menatap lamat-lamat ke arah Wira. Di tempat itu tidak hanya ada Wira tetapi ada Ghandi juga.
“Gi, sini duduk! Udah sampai ya?” tanya Ghandi basa-basi. Giva tak menjawab dan lebih memilih duduk di kursi kecil dari kayu di hadapan dua pria itu.
“Kamu ke sini sebenarnya ada perlu apa?” Wira bertanya datar. Ghandi melirik Giva merasa tidak enak.
“Saya cuma mau lihat-lihat, Mas.” jawab Giva pelan. “Ehm, sebenarnya saya juga mau mengusir kejenuhan saya di rumah.”
“Kalau gitu kamu datang ke tempat yang salah. Di sini sanggar yang dibuka Poman untuk anak-anak yang mau belajar seni dan semua tentang Bali. Kamu bisa milih belajar memahat, melukis, bahkan tarian Bali. Kalau tidak....”
“Udah, Wir. Kamu apa-apaan sih. Poman saja tidak masalah Giva berkunjung ke mari. Dia tidak menganggu kita lagi pula.”
“Maaf kalau saya menganggu. Lebih baik saya pulang. Maaf sekali lagi.” Giva tidak ingin mendengar lagi. Ia sakit hati ketika Wira berkata seperti itu. Iya, mungkin itu salahnya karena berkunjung tanpa belajar apa pun. Setelah mengatakan itu Giva berlari kencang menuju pintu depan. Entah bagaimana caranya hingga air mata itu turun, dia memutuskan memberhentikan taksi yang lewat lalu pulang ke rumah.
***
Baru saja Giva sampai, ia mendengar pintu depan rumahnya diketuk seseorang. Giva berbalik lalu membuka pintu depan. “Maaf, Givani!”
Giva terdiam mendengar pria itu berbicara. Dia mencubit tangannya lalu mengaduh sakit. “Mas Wira ngapain ada di sini?” tanyanya ketus. Dia memalingkan wajahnya. Tidak mau melihat wajah pria yang beberapa saat lalu sudah menyakiti perasaannya.
“Saya minta maaf,” jelas Wira sambil mengangkat tangannya. Giva yang terdiam hanya menatap tangan itu lalu membukakan pintu lebih lebar.
“Masuk, Mas! Enggak enak kalau kelihatan tetangga,” ujar Giva.
Wira mengikuti Giva. Mereka duduk di bale depan lalu sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Setelah berdeham akhirnya Wira mengulangi permintaan maafnya lagi. “Saya benar-benar minta maaf soal tadi, Gi. Saya sadar tadi itu saya sangat keterlaluan.”
Dengan tenang akhirnya Giva menggeleng. “Enggak. Mas Wira benar tentang saya. Saya memang tidak seharusnya berada di sana. Saya hanya mengganggu saja.”
“Tidak, Gi. Saya sudah buru-buru datang ke sini karena saya sangat merasa bersalah terhadap kamu. Maaf sekali lagi.”
“Ya sudah, Mas lupain saja persoalan tadi. Saya maafkan kok.”
Senyuman tipis perlahan terbit di wajah angker Wira. Dia mengusap rambut Giva lalu tertawa kecil. “Kamu masih mau kan datang ke sanggar lagi?”
“Gimana ya?” Giva berpikir sejenak lalu mengangguk sambil tertawa lepas. “Tapi aku enggak diusir lagi kan?”
“Enggak akan, Gi. Gimana kalau sekarang saya traktir kamu makan es krim sebagai tanda maafku soal tadi?”
“Boleh.”
***
BERSAMBUNG>>>