Bab 9
Yuna
“Ger, tadi itu kamu kenapa sih?” tanya Giva pelan. Mereka sudah santai dengan duduk di bale setelah selesai makan malam.
Gerry tidak menoleh. Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan tajam. “Mulai besok aku kerja, Gi. Kamu enggak apa-apa kan kalau sering aku tinggal di rumah sendirian mulai sekarang?”
Giva mengangguk kecil meskipun hatinya mendesah tidak terima karena Gerry tidak mengindahkan pertanyaannya. “Aku masih bisa nulis kok, Ger. Aku enggak akan merasa kesepian. Suasana di sini juga enak.”
“Besok aku masuk shift satu jadi kita bisa sarapan pagi dan makan malam bareng. Kamu bisa kan cari makan siang sendiri?” Lagi-lagi Gerry mengkhawatirkan Giva. Urusan makan.
“Aku bukan anak usia 8 tahun yang enggak ngerti apa-apa, Ger. Kamu tenang aja deh!”
Gerry tersenyum. Perlahan tapi pasti akhirnya Giva menerima kehadirannya. Menerima keadaan mereka sekarang. Yang memang sudah takdirkan untuk bersama. Setidaknya untuk saat ini.
“Sayang, sini deh!” Gerry mencoba menggoda Giva seperti dulu saat mereka pacaran. Gerry ingin Giva duduk di pangkuannya.
Giva memicing lalu menggeleng dengan tegas. “Jangan mulai, Ger!”
“Baiklah kalau itu mau kamu,” Gerry dengan tawa lebar beranjak lalu menggendong Giva. Menurunkannya di pangkuannya lalu memeluknya dengan erat. Tidak ada kekakuan sama sekali. Gerry cukup yakin dia sudah menaklukan Giva seperti saat dia mendapatkan persetujuan jadian darinya.
“Gerry, turunin! Kamu apa-apaan sih? Turunin aku!”
“Kenapa sih? Kan enakan kayak gini, Sayang.” Gerry memeluk Giva makin erat. Ada rasa gemas saat pipinya menyentuh kepala Giva.
“Kamu kok nyebelin banget sih, Gerry Jelek!” Giva mendorong Gerry lalu menarik hidungnya dengan cepat.
Gerry megap-megap lalu mengendurkan pelukannya. “Sumpah! Kamu jahat banget ke aku, Gi.”
“Salah kamu meluk-meluk aku!”
“Tadi kamu yang meluk-meluk aku, aku enggak marah. Kenapa kamu sebaliknya? Ini enggak adil tahuuu....”
“Udah ah, aku mau masuk kamar dulu,” ketus Giva dengan wajah yang cemberut. Padahal hatinya merasa nyaman tadi, tapi dia malu.
Gerry menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Jatuh cinta memang indah. Entah sampai kapan dia akan terus jatuh cinta kepada Giva? Ketika dia marah saja dia jatuh cinta padanya, apalagi jika mereka akur begini. Mungkin Gerry akan meleleh.
***
Gerry berjalan dengan pelan melewati trotoar jalan. Jarak yang harus ia tempuh sebentar lagi akan berakhir. Tinggal dua blok lagi karena dia melewati jalan pintas.
Tiinn, tiinn....
Gerry menoleh dan melihat mobil berjalan dengan pelan di sampingnya. Jendelanya tak tertutup dan dia tersenyum saat mengetahui manajer tempatnya bekerjalah yang berada di dalam sana. Yuna.
“Masuk, Ger!”
Dengan patuh Gerry masuk ke dalam mobil. “Selamat pagi, Mbak!”
“Pagi! Kamu dari rumah jalan kaki?”
“Oh iya, Mbak. Lumayan deket kok.”
Yuna mengangguk. “Oh ya kamu bisa nyusun proposal kerja?”
Gerry dengan cepat mengangguk. Dulu dia sering membuat proposal keuangan, proposal kerjasama, dan banyak lagi. Dia melakukan itu sesuai permintaan ayahnya yang ingin agar dia siap setelah lulus dari kampus dan memegang perusahaan.
“Saya lihat dari CV kamu, kamu pernah megang jabatan sebagai HRD di Priantomulyo Company. Gimana caranya? Bukannya kamu masih kuliah saat itu?”
“Saya diminta seseorang untuk belajar di perusahaan itu, Mbak, pada liburan semesteran.”
“Pantas saja. Oh ya besok saya butuh proposal, nanti materinya saya kasih ke kamu hari ini. Kamu bisa kan kerjain?”
Gerry menatap Yuna tidak percaya. “Mbak minta saya bikin proposal?”
“Kamu bisa, kan?”
Meskipun tidak yakin akhirnya Gerry mengangguk setuju, “Saya usahakan, Mbak!”
“Oh ya, kamu ada laptopnya kan?”
“Ada kok, Mbak.”
Yuna mengangguk, beberapa saat kemudian Gerry dan Yuna sudah sampai di depan restoran. Gerry mengikuti Yuna ke ruangannya lalu menerima materi yang harus ia siapkan.
***
Dengan perasaan was-was akhirnya Gerry masuk ke ruangan Yura. Nampak wanita yang menjabat sebagai manajer itu sedang membaca dokumen-dokumen penting restoran menggunakan kacamatanya. “Mbak Yuna memanggil saya?”
Yuna mengangguk, dia memberi kode pada Gerry agar karyawan barunya itu duduk. Sudah dua hari berlalu sejak Gerry menyerahkan laporan yang diminta Yuna. Semua berjalan baik kecuali mental Gerry yang perlahan down entah mengapa? Mungkin khawatir dengan laporan yang ia buat beberapa waktu itu kurang berkenan lalu Yuna akan memecatnya. Dia bahkan baru bekerja beberapa hari. Sangat tidak lucu kan jika dia pecat karena tulisan tangannya.
“Ambil ini,” Yuna memberikan kertas materi kepada Gerry. “Laporan yang kemarin bagus, saya suka. Jadi saya mau menugaskan kamu sekali lagi. Jika kamu berhasil membuat saya terkesan dengan laporan kamu untuk kedua kalinya, mungkin saya akan beri pekerjaan yang lebih baik daripada sebagai pelayan restoran.”
“Maksud, Mbak Yuna?”
“Restoran ini sebenarnya salah satu aset yang dimiliki Panomara Hotel. Jadi ada kemungkinan kamu akan dipekerjakan di salah satu bagian kantor. Hasil laporan kamu kemarin dipuji besar-besaran oleh bos besar. Saya sendiri tidak menyangka hanya karena satu laporan yang kamu buat atasan-atasan di sana gigit jari.”
“Loh memangnya apa tidak apa-apa jika Mbak bilang laporan ini bukan buatan Mbak sendiri?” Gerry sedikit kebingungan. Di perusahaan ayahnya tidak seperti itu atau jangan-jangan dia tidak tahu. Dia kan masih bau kencur masalah perusahaan dan t***k bengeknya.
“Kamu santai saja, Ger. Sebenernya bos besar yang punya Panomara Hotel itu Papa saya,” Yuna tersenyum. “Oh ya, pulang nanti kamu bisa temenin saya ke suatu tempat?”
Keringat di dahi Gerry mulai bermunculan. Ada perasaan khawatir karena pulang nanti dia ingin bertemu dengan Giva. Secepatnya. Sudah kepalang rindu.
Yuna yang menyadari kegelisahan Gerry kembali bersuara. “Hanya sebentar. Sebenarnya saya orang baru di Bali. Jadi saya mau ajak kamu jalan. Mungkin kita bisa ngobrol-ngobrol.”
“Baik, Mbak. Apa ada lagi? Saya tidak enak terlalu lama meninggalkan pekerjaan saya.”
Yuna mengangguk. “Ya sudah kamu boleh kembali.”
Gerry ke luar dari ruangan Yuna lalu mendesah lega. Dia memegang berkas baru yang harus ia coba susun dengan baik. Ini mungkin hokinya. Ada kesempatan baginya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada sebagai pelayan restoran.
Setelah meletakan berkas ke dalam laci miliknya, Gerry kembali ke depan. Dia menyapa Inge yang hari ini tugas bersamanya. “Sorry lama ya, Nge?”
“Nyantai aja lagi, Ger. Mbak Yuna ngomongin apa tadi? Aku kaget loh pas disuruh Mbak Yuna buat manggilin kamu ke ruangannya. Mbak Yuna biasanya manggil Mas Ari.”
“Mbak Yuna ngajakin saya balik bareng, Nge.”
Inge memicing. Gejolak dalam dadanya langsung memburu. Dia menatap Gerry kemudian melempar pandangan ke luar jendela.
“Nge, kalau kamu capek saya gantian tunggu di sini ya? Saya tadi lumayan lama loh!”
“Enggak apa-apa, Ger! Eh, itu kayaknya ada pelanggan mau ke sini deh. Aku yang sapa ya!” Setelah mengatakan itu Inge bersiap. Menyambut tamu restoran.
Gerry bergantian menyambut tamu sampai waktu kerjanya habis. Saat makan siang dia pergi ke luar bersama Inge. Mereka menghabiskan makan siang sambil mengobrol. Lebih jelasnya Ingelah yang mengobrol sendiri. Gerry hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk atau berkata, “Enggak juga” dan sebagainya.
“Ger, kamu tinggal di mana? Boleh enggak kapan-kapan aku main?”
Gerry terbatuk-batuk sebentar lalu menatap Inge bingung. “Ya boleh saja. Mau main sendiri atau bareng temen-temen lain.”
“Nanti deh aku coba tanya ke temen-temen lain. Kalau kita mulai shift dua deh kayaknya. Kita biasanya kalau dapat shift dua pasti gilir nginep ke rumah temen-temen. Ya kebanyakan kita sih sebenarnya ngekost semua jadi rada susah kalau mau main. Apalagi kalau main ke kostannya Indra sama Toni, boro-boro main, kasih duduk aja kagak. Kamar mereka udah kayak gudang. Jorok banget!” Inge mulai bergidik ngeri. Membayangkan bagaimana kamar Toni dan Indra yang bersebelahan dan memiliki kondisi yang menyeramkan bin mengenaskan.
“Segitunya ya?”
“Pokoknya parah banget deh, Ger. Aku malas deh kalau suruh main sendiri. Kalau bukan demi solidaritas, yang pasti kamar kost mereka adalah daftar nama tempat yang udah kena blacklist dalam kehidupanku.”
Gerry tertawa kecil mendengar ucapan Inge yang seperti mengada-ada. Entah itu benar atau sekadar gurauannya saja. Yang pasti Inge berhasil membuatnya tertawa.
“Udah hampir jam 1 kita balik ke resto yuk!”
Inge mengangguk sambil menyeruput jus sirsaknya sampai habis. Setelah membayar, mereka pun kembali ke tempat kerja.
***
Gerry sudah ditunggu di depan parkiran oleh Yuna. Dia sudah mengganti bajunya dan menghampiri Yuna sepulang bekerja.
Yuna tersenyum lalu mengeluarkan kunci mobilnya. “Kamu bisa nyetir enggak, Ger?” tanya Yuna pendek.
“Bisa, Mbak.”
“Good. Aku lagi malas nyetir jadi kamu aja ya, Ger!” tutur Yuna sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Gerry. Mereka pun berangkat. Sesuai dengan perintah Yuna, mereka pergi ke pantai Kuta. Saat sampai jam sudah menunjukan pukul 16.20. Sebenarnya jarak antara restoran dengan pantai Kuta sangat dekat. Tapi karena harus memutar jalan gara-gara jalanan ditutup jadi mereka sampai 15 menit kemudian.
***
Bersambung>>>
Kuy yang belum, segera tap love dan follow Tera ya, Kak.