Giva bersyukur saat merasakan kehadiran Gerry di sampingnya saat dirinya baru saja bangun. Bahkan saat dirinya membuka matanya untuk pertama kali pria itulah yang ada di depan matanya, tersenyum dengan manis dengan rambut berantakan. Gerry memang sengaja menunggu istrinya bangun tidur, ia tidak ingin melewatkan pagi tanpa menyapa istri yang dicintainya terlebih dahulu. Dia ingin mencairkan suasana di antara mereka yang masih belum membaik seutuhnya sejak obrolan singkat mereka sebelum Giva terlelap dalam dekapannya. “Selamat pagi, Sayang.” Gerry bersuara dengan serak. Ia mengusap kening Giva yang berkerut lalu mengecupnya cukup lama. Giva merasakan bibir Gerry yang menekan keningnya dengan lembut. Sesuai dengan intuisinya, Giva memejamkan mata sambil menghayati setiap sen

