Part 04

1749 Words
Sasa menunduk, ia bingung harus menjawab apa. Sejujurnya ia tidak enak hati kalau menerima Alvaro hanya untuk taruhan, tapi dalam hatinya memberontak untuk menerima, karena jujur saja Sasa mulai menyukainya. Sasa memang berproses menjilat lidahnya sendiri. "Sa." panggil Alvaro menatap Sasa. Sasa mendongak menatap Alvaro. "Gue gak akan maksa lo buat terima gue, tapi please jangan gantungin gue. Kalau lo gak suka tolong bilang dari sekarang." ucap Alvaro sendu. Sasa mengangguk malu. "Jawab Sa, jangan cuma mengangguk aja." ucap Alvaro mulai tersenyum. "Iya gue mau." balas Sasa menunduk malu. "Mau apa?" goda Alvaro. "Tauk ah." kesal Sasa. "Bercanda. Makasih udah mau jadi pacar gue." ucap Alvaro tersenyum. Sasa mengangguk. "Sama-sama." balasnya. Alvaro memandangi Sasa dan menggengam tangan Sasa lalu mencium tangannya di temani senja yang akan segera tenggelam. "Okay. Jadi sekarang gak ada lo gue lagi, adanya aku dan kamu." ucap Alvaro tersenyum. Sasa mengangguk. "Siap." balanya. Mereka tertawa bersama sampai senja tenggelam. --- Pagi hari yang cerah secerah wajah Sasa, ia sudah bersiap berangkat sekolah. Jam menunjukkan pukul 06.30 pagi. "Pagi Cia, pagi Ibu, pagi Ayah." sapa Sasa. "Pagi." ucap Cia, Hanna dan Haris serempak. "Kelihatannya seneng banget Sa. Ada apa?" tanya Hanna. Sasa gugup. "Em gapapa kok bu." balasnya. "Minum dulu susunya." suruh Hanna. "Okay bu." balas Sasa sambil minum s**u. "Sasa berangkat dulu." ucapnya sambil berjabat tangan dengan Hanna dan Haris. "Bye Cia jelek." ucap Sasa sambil mencubit pipi Cia yang gembul. Langsung saja Sasa lari terbirit-b***t sebelum Cia meledak. "Ihhhh Akak jeyekkkkkk akalllll." (Ihhh kakak jelek nakal) teriak Cia. Sedangkan Sasa yang di depan rumah terkekeh mendengar suara adiknya yang begitu menggelegar. --- Sampai di sekolah Sasa segera berjalan ke kelasnya. Di kelas sudah ada beberapa murid yang berangkat, termasuk zanna. "Cerah bener muke lo." ucap Zanna. "Iya dong." kekeh Sasa. "Jadian sama Alvaro?" tebak Zanna. Sasa melotot kaget. "Fix, lo cenayang." cecar Sasa. "Bener lo udah jadian?" tanya Zanna. Sasa mengangguk. "Yuhuuu pajak jadian. Nanti di kantin gue mau makan sepuasnya dah." ucap Zanna. "Gak ada pajak jadian." tegas Sasa. Zanna cemberut. "Kemarin temen gue putus gara-gara gak kasih pajak jadian." ucapnya dramatis. Sasa memukul lengan Zanna. "Bacot. Gue traktir nanti, tapi lo nya juga harus tau diri." balasnya. Zanna mengangguk hormat. "Siap." kata Zanna nyengir bagai kuda, sampai lupa orang tua. Etdahh malah nyanyi. Tiba-tiba Gita dan Tatiana datang dan segera duduk. Mereka duduk satu meja, soalnya mereka teman dari kecil dan rumahnya dekat. Makanya berangkat dan pulang bareng. Sasa menghampiri Gita dan Ana. Sekarang Sasa sudah berada di depan meja mereka. "Hay guys." sapa Sasa. "Hay." balas mereka serempak. "Gue dah jadian sama Alvaro." ucap Sasa to the point. Gita dan Ana terbelalak kaget. "Seriusan lo?" tanya Gita. Sasa mengangguk. "Kapan?" tanya Ana antusias. "Kemarin sore." balas Sasa. Gita mendengus kesal. "Kok bisa lo jadian sama Alvaro?" "Ya bisa dong, lo nya aja dulu yang oon. Kesempatan tidak datang dua kali." kekeh Sasa. Sedangkan Gita mendengus kesal. "Tapi tenang aja, gue gak minta traktiran selama seminggu kok." ucap Sasa. "Alhamdulillah." serempak Gita dan Ana. "Soalnya gue keknya suka beneran deh sama Alvaro." lanjut Sasa dengan senyumnya. "Anying! Kan bener lo jilat lidah lo sendiri." cibik Gita. "Enak dong jilat lidah sendiri, dari pada jilat lidah orang lain?" ucap Sasa. "Lebih enak." lanjut Sasa dengan cengiran. Setelah itu Sasa kembali duduk di tempatnya. Sedangkan Gita merutuki dirinya sendiri yang membuang kesempatan saat itu. Ana? Hanya diam saja, karena Ana yakin kalau dia bakal kalah taruhan. "Lo taruhan?" tanya Zanna tak percaya. Sasa mengangguk. "Gila lo." ucap Zanna menggelengkan kepalanya. "Dulu sebenarnya gue juga gak mau, tapi Gita sama Ana maksa. Ya udah gue iyain aja. Tapi gue gak minta traktiran yang sudah di sepakati kita dulu, karena memang sekarang aku mulai menyukai Alvaro. Aku tidak ingin berhubungan dengan Alvaro atas dasar taruhan itu tadi." jelas Sasa. "Bagus deh." balas Zanna. Dan setelah itu bell masuk berbunyi. Semua murid melaksanakan KBM dengan senang hati dan ada juga yang terpaksa, banyak! Sasa dan Zanna memperhatikan papan tulis, mendengarkan apa yang di katakan gurunya. "Sa pengen kencing." ucap Zanna menahan. "Terus?" tanya Sasa. "Anying lo gak peka." cibik Zanna. Sasa terkekeh. "Ayo kamar mandi, lo mau kencing di sini?" ucap Sasa mengejek. "Ya gak lah, gila!" balas Zanna kesal. Mereka minta izin kepada guru yang sedang mengajar dan segera pergi ke kamar mandi. Zanna lari terbirit-b***t sedangkan Sasa mengikuti dari belakang dengan santuy. Sampai di toilet Zanna langsung mengeluarkan air seninya sangat banyak. Setelah itu keluar dengan wajah lega. "Lama banget kencing doang." ucap Sasa. "Air seninya banyak." kekeh Zanna. "Sa ae lu bambank!" balas Sasa ikut tertawa. Mereka segera balik ke kelas melewati toilet cowok, saat melewati toilet cowok tiba-tiba pintunya terbuka membuat Sasa dan Zanna kaget. Terlebih yang keluar dari kamar mandi itu, Alvaro! Anjir malu gue, mana ganteng lagi pacar gue pake baju olahraga gitu. Batin Sasa. "Dari mana Sa?" tanya Alvaro. "Kamar mandi." balas Sasa menunduk. "Kalau ada orang ngomong tuh liat matanya Sa." ucap Alvaro. Lalu Sasa melihat Alvaro. "Iya." balas Sasa kalem. "Ya udah sana masuk kelas, jangan bolos." ucap Alvaro sambil mengacak rambut Sasa gemas. Sasa mengangguk malu, mungkin kini pipinya sudah semerah tomat. "Ehemm..." dehem Zanna. "Ada orang di sini." ucap Zanna. Alvaro menoleh ke arah Zanna. "Kirain cuma ada Sasa doang." kekeh Alvaro. "Emang ya kalo orang lagi pacaran itu dunia serasa milik berdua, yang lainnta cuma numpang." dengus Zanna. "Sorry." ucap Alvaro. "Pajak jadiannya dong." ucap Zanna terkekeh. "Okay, nanti ke kantin aja. Makan sepuasnya, gue yang bayar." kata Alvaro. "Eh gak usah. Zanna mah gitu orangnya, gak udah di tanggepin." ucap Sasa. "Okay sip. Nanti gue ajak Sasa." balas Zanna. Sasa melotot ke arah Zanna. Zanna terkekeh. "Alvaro, Sasa melotot tuhh, galak amat. Lo kok mau sih pacaran sama dia." ucap Zanna menunjuk Sasa. Sedangkah Alvaro hanya terkekeh. "Ayo masuk kelas." ucap Sasa kepada Zanna. "Alvaro, aku masuk kelas dulu ya." pamit Sasa. Alvaro mengangguk tersenyum. "Iya hati-hati." Sasa mengangguk dan langsung menarik Zanna. "Pelan-pelan napa Sa." ucap Zanna. Sasa berhenti di dekat kelasnya, melotot ke arah Zanna. "Lo kalo lagi ada Alvaro ngomongnya jangan gitu dong, malu tauk!" kesal Sasa. "Yaelah santuy aja kalik. Lo itu harus jadi diri lo sendiri. Jangan rubah sikap demi di sukai Alvaro." ucap Zanna bijak. "Bacot." balas Sasa langsung kembali ke kelas meninggalkan Zanna sendirian. Zanna menghela napas sebentar lalu menyusul Sasa masuk ke dalam kelas. Zanna segera duduk di dekat Sasa. "Sa jangan marah dong." ucapnya. Sasa tidak menggubrisnya, hanya diam saja. "Sasa ihh ngomong. Lo tiba-tiba bisu ya?" kata Zanna. Sasa melotot kearah Zanna. "Naudzubillah." ujar Sasa. "Maafin gue ya?" pinta Zanna. "Gak!" ketus Sasa. "Ihh Sasa jelek kalo lagi ngambek." sindir Zanna. "Whatever." balas Sasa. "Nanti gue bilang Alvaro kalo lo buat dia taruhan, hayoloh." kekeh Zanna. "Anying lo." dengus Sasa. "Gimana maafin gue gak?" kekeh Zanna. "Terpaksa!" cibik Sasa. Sedangkan Zanna terkekeh. "Bercanda, gue gak akan bilang Alvaro kok." ucapnya "Serah lo bambank!" ketus Sasa. Zanna hanya terkekeh. Kini mereka memperhatikan gurunya yang mengajar. Namun pikiran Sasa tidak berada di kelas, melainkan Alvaro. Ting... Ting... Ting... Bell istirahat berbunyi. Segera Sasa dan Zanna membereskan bukunya. "Ayo Sa." ajak Zanna. "Ayo." balas Sasa. Kini mereka sudah berjalan dan berada di kantin. "Pesen apa?" tanya Sasa. "Biasa, Bakso + es teh." balas Zanna. "Okay." ujar Sasa sambil mengantri pesan. Tiba-tiba Alvaro dan teman-temanya muncul duduk di dekat Zanna. Rasya dan Kenzo berada di samping kanan dan kiri Zanna. Sedangkan Alvaro di depannya. "Sasa mana?" tanya Alvaro. "Pesen makanan." balas Zanna. "Sana pesen Ken." suruh Alvaro. "Siap." balas Alvaro. "Kalian mau apa?" tanya Kenzo. "Bakso + es jeruk." ucap Alvaro. "Sama." balas Rasya. Kenzo mengangguk dan memesan makanannya. "Zan." panggil Rasya. "Iya?" balas Zanna. "Lo cantik." ucap Rasya. "Semua cewek cantik bambank! Kalau cowok cantik ya lekong dong!" balas Zanna. Alvaro terkekeh sedangkan Rasya mendengus kesal. "Makanan datang." ucap Sasa, dan Sasa tertegun melihat Alvaro ternyata sudah berada di kantin. "Ayeee cepetan sini Sa, buru laper nih." keluh Zanna. "Sini Sa." kata Alvaro menepuk tempat duduk di sampingnya. Sasa mengangguk dan duduk ditempat Alvaro minta. Sasa memberikan bakso dan es tehnya ke Zanna. "Thankyou Sasa cantik!" kekeh Zanna lalu memakan baksonya dengan lahap. Sasa mengangguk tersenyum. "Kamu udah pesen?" tanya Sasa. "Udah, kamu makan duluan aja." balas Alvaro. Sasa mengangguk tersenyum. "Cieeeee aku kamu. Makan gratis nih." teriak Rasya. Sasa bersemu malu sedangkan Alvaro hanya terkekeh. "Makan sepuasnya, gue yang bayar." ucap Alvaro. "Mantep tuh, gue mau nambah bakso 5 + es jeruk 5." ucap Rasya. Zanna tersedak makanannya dan melihat ke arah Rasya. Melihat itu Rasya mengambilkan minumnya Zanna. "Hati-hati kalau makan." ucap Rasya. Setelah minum Zanna menghela napas. "Gila, perut apa karet tuh." ucapnya. "Bukannya berterimakasih malah..." belum sempat melanjutkan Kenzo sudah datang. "Makanan datang." ucap Kenzo memotong omongan Rasya. "Lama amat, keburu laper nih gue." gerutu Rasya. Kenzo melotot tajam. "Gue guyur pake kuah bakso sekalian lo, udah diantriin, nglunjak lagi. Dasar Herman!" Rasya menjitak kepalak Kenzo. "Anying nama bapak gue gak usah di bawa-bawa kesekolah." "Ahhhh." desah Kenzo. Semua murid menatap Kenzo dengan tatapan ngeri, terutama Rasya, Alvaro, Zanna dan Sasa yang ada di dekat Kenzo. "Kenapa lo desah peak?" tanya Rasya bingung. "Sakit bego." balas Kenzo menjitak Rasya. "Bangsat." umpat Rasya. "Makan, buru dingin." ucap Alvaro meningatkan. "Oh iya lupa, gue juga mau nambah mumpung dibayarin Alvaro." kekeh Rasya. "Lah gue gak di bayarin Al?" tanya Kenzo melas. "Makan aja sepuasnya, ntar gue yang bayar." balas Alvaro. "Ada apa gerangan? Tumen amat." ucap Kenzo. "Dia baru aja jadian sama Sasa." balas Rasya. "Beneran Al?" tanya Kenzo. Alvaro mengangguk. "Wuihhh gue mau makan banyak ahh, mumpung dibayarin. Ya gak Sya?" ucap Kenzo semangat sambil menyenggol lengan Rasya. "Yoi." balas Rasya santuy. Dan mereka makan dengan nikmat. Tapi tidak dengan Sasa, ia malu makan di dekat Alvaro, apalagi Alvaro memperharikan Sasa begitu dalam. "Makan." ucap Sasa. "Udah kenyang liat kamu makan." balas Alvaro tersenyum. Merah!!! Kedua pipi Sasa mendadak merah seperti tomat. "Sa ae lu Al." cibik Kenzo. "Ngiri aja lu mblo." ucap Alvaro. "Nganan aja gue." balas Kenzo. "Serah lo dah, mau nganan ngiri maju mundur serahhh. Ga ada yang peduli." jelas Alvaro. "Ribot sana di lapangan." ujar Rasya. "Dah ah gue mau pesen bakso lagi aja." ucap Kenzo berdiri dan berjalan untuk memesan bakso. "Gue juga lah, masih laper." kata Rasya. Mereka berdua akhirnya pesan bakso lagi. Biasa perut rasa karet memang seperti itu. Bawaannya laper terus menerus. "Sa." panggil Alvaro. Sasa menoleh. "Iya?" balasnya. "Ntar pulang bareng ya? Aku tunggu di tempat biasa." ucap Alvaro. Sasa mengangguk tersenyum. "Masih kecil udah pacaran, gedenya mau jadi apa?" sindir Zanna. "Jadi oranglah." balas Alvaro terkekeh. "Syirik aja lo mblo." balas Sasa. "B aja sih." sinis Zanna. "Hello guys kalian gak pesen lagi? Jangan khawatir, dibayarin sama Alvaro kok, jadi pesen aja sepuasnya." ucap Kenzo dari belakang membawa semangkok bakso diikuti Rasya di belakangnya dan duduk di tempat seperti semula. "Zanna mau nambah? Gue pesenin." tawar Rasya. "Enggak. Gue dah kenyang." balas Zanna. Ting... Ting... Ting... Bell berbunyi menandakan istirahat telah usai. "Asss....tagfirullah." ucap Kenzo. Sedangkan Sasa, Alvaro dan Zanna hanya tertawa. "Lo gak ikhlas ya Al traktir gue?" ujar Kenzo lesu. "Makan buru, bacot mulu." ucap Rasya. "Gue bayar dulu." pamit Alvaro. "Kacang kacang kacang." kata Kenzo sedangkan Rasya hanya terkekeh. Sasa dan Zanna sudah berjalan duluan untuk membayar makanannya. Saat Sasa akan membayar Alvaro sudah menyodorkan uangnya terlebih dahulu. "Gue bayarin." ucap Alvaro. "Eh... Gak usah, aku bayar sendiri aja." balas Sasa tidak enak. "Tidak menerima penolakan." tegas Alvaro. Sedangkan Sasa hanya bisa pasrah, lain hal dengan Zanna yang merasa senang. Setelah membayar Sasa pamit untuk kembali kekelasnya. "Duluan ya." pamit Sasa. Alvaro mengangguk. "Hati-hati." balasnya. "Duluan Al, makasih traktirannya. Kalau bisa sering-sering." kekeh Zanna. Alvaro mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. Alvaro menghampiri Kenzo dan Rasya. "Bolos aja kuy." ajak Kenzo. "Kuylah. Masih banyak bakso gue." ucap Rasya. Alvaro mengangguk. "Okay." balasnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD