Kegiatan KBM sudah selesai, kini jam menunjukkan pukul 13.00 siang. Semua murid berhamburan ke parkiran. Di dalam kelas Sasa masih berkemas buku-bukunya, sedangkan Zanna masih menunggu.
"Cepetan Sa." gerutu Zanna.
"Iya sabar, orang sabar di sayang pacar." balas Sasa sambil memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Pacar aja ga punya aelah gini amat hidup gue." rengek Zanna.
"Hidup itu tidak melulu tentang pacar. Nikmati, jalani dan syukuri." kata Sasa
"Sok puitis lo." cecar Zanna.
"Ayo pulang." ajak Sasa yang sudah berjalan keluar kelas.
"Ayo lah." balas Zanna mengikuti Sasa.
Sampai di parkiran mereka segera mengambil sepedanya. Jalan arah pulang mereka tidak sama. Rumah Zanna jauh, maka dari itu Sasa jarang main ke rumahnya.
"Sa gue duluan ya?" pamit Zanna.
Sasa mengangguk mengangkat jempolnya. "Hati-hati, kalau ada mantan tabrak aja." kekeh Sasa.
"Mending gue ajak bareng aja, siapa tau ngajak balikan." kekeh Zanna sambil mengayuh sepedanya.
Sedangkah Sasa hanya terkekeh. Kini Sasa mengeluarkan sepedanya, masih ramai suasana parkiran. Banyak yang berebutan ingin pulang lebih dulu.
Sasa sudah berhasil mengeluarkan sepedanya, kini ia menaikinya dan mengayuh keluar dari parkiran yang sangat ramai.
Dijalan Sasa hanya sendiri, biasanya bersama Ade. Mungkin Ade sudah pulang lebih dulu. Menurut Sasa, sendiri tidak apa-apa selagi masih bisa.
Dari belakang ada suara motor yang familiar bagi Sasa, kini motor itu sudah berada di sampingnya. Sasa menengok, dan benar saja itu Alvaro!
"Sendiri aja?" tanya Alvaro.
Sasa mengangguk. "Iya."
"Temannya mana?" tanya Alvaro.
"Udah pulang duluan." balas Sasa.
"Ya udah gue tarik aja biar lo ga capek." ucap Alvaro.
"Eh ga usah." balas Sasa.
"Tidak baik menolak pertolongan. Mana tangan lo?" ucap Alvaro.
Segera Alvaro merampas tangan Sasa dan menggengamnya.
"Jaga keseimbangan." ucap Alvaro.
Sedangkan Sasa hanya mengangguk. Alvaro tersenyum, kini tangan mereka sudah menyatu. Jantung Sasa kembali berdegup kencang.
Alvaro sudah mulai mengegas motornya dengan kecepatan sedang. Sasa hanya diam, tanpa perlu mengayuh sepeda lagi.
"Sampai pertigaan bakso makmur aja." ucap Sasa.
"Kenapa?" balas Alvaro.
"Gapapa." ujar Sasa.
"Ya udah." balas Alvaro mengangguk.
Kini mereka sudah sampai di pertigaan bakso makmur dan berhenti disitu. Namun tangan mereka masih menyatu. Mengetahui hal itu Sasa segera melepaskannya.
"Sorry." kekeh Alvaro.
"Modus." cibir Sasa.
"Dikit." kekeh Alvaro.
"Gue pulang dulu, makasih." pamit Sasa.
Alvaro mengangguk tersenyum. "Hati-hati, kalau udah sampai rumah kabarin." ucap Alvaro.
Sasa mengangguk sambil menggayuh sepedanya lagi. Alvaro melihat punggung Sasa sampai benar-benar hilang dari pandangannya. Setelah hilang, Alvaro bergegas menyalakan motornya dan pulang kerumah dengan kecepatan di atas rata-rata.
---
Sasa sudah sampai di rumahnya dengan selamat tanpa capek, tau sendiri kan tadi di tarik Alvaro. Membayangkan tadi saja hati Sasa berteriak girang.
"Assalamualaikum." ucap Sasa.
"Waalaikumsalam." balas Hanna.
"Akumcayam." (Waalaikumsalam) balas Cia.
Sasa menghampiri Hanna yang ada di ruang tamu sedang menonton televisi, menciup tangan Hanna dan tidak lupa mencium pipi gembul Cia.
"Udah makan sa?" tanya Hanna.
"Udah buk." balas Sasa.
"Ya sudah ganti baju dulu." suruh Hanna.
"Au acem." (Bau Asem) cibir Cia sambil ketawa.
"Iya buk." balas Sasa.
Sasa berjalan ke kamar, sebelum ke kamar Sasa mencubit pipi gembul Cia.
"Cie jelek." ledek Sasa, segera Sasa langsung berlari kekamarnya.
Sedangkan Cia langsung berteriak saat pipinya di cubit. "Akak jeyek akal ihhh." (Kakak jelek nakal ihhh) teriak Cia.
Sasa yang mendengarnya dari dalam kamar hanya tertawa mendengar teriakan Cia. Sasa segera beganti pakaian, memakai celana pendek dan kaos oblong. Cuacana hari ini sangat panas.
Sasa tiduran di kamarnya sambil menyumpal telinganya dengan headseat dan memutar lagu kesukaannya.
Judika ~ Aku yang tersakiti.
Drtttt...
Ponsel Sasa bergetar, ada pesan masuk di ponselnya. Sasa melihat siapa yang mengirim pesan, Alvaro Item. Nama itu muncul di layar ponselnya.
Alvaro Item
Sudah sampai rumah?
Sudah.
Alvaro Item
Kok ga ngabarin?
Sorry lupa hehe.
Alvaro Item
Hal kecil gini aja lupa, apalagi sama gue, ga penting mungkin.
Maksudnya?
Alvaro Item
Gak.
Kok gitu?
Pesan terakhir Sasa tidak di balas oleh Alvaro membuat Sasa cemas.
Apa dia marah? Batin Sasa.
Sasa mencoba mengirim pesan lagi untuk Alvaro, hatinya tidak tenang jika Alvaro tidak membalas pesannya.
Alvaro marah? Tadi gue baru aja selesai mandi terus tiduran di kamar. Jadi belum sempet ngabarin lo.
Sasa menunggu balasan dari Alvaro dengan gelisah. Setelah 30 menit kemudian.
Drtttt...
Ponsel Sasa berbunyi, segera saja ia membuka pesan itu.
Alvaro Item
Iya gapapa.
Marah?
Alvaro Item
Engga.
Kok cuek?
Alvaro Item
Besok pulang bareng lagi ya?
Hm iya.
Alvaro Item
Terpaksa ga?
Enggak lah.
Alvaro Item
Okay, besok pulang sekolah gue tunggu di samping sekolah deket parkiran.
Okay.
Setelah itu Sasa memilih untuk tidur siang. Mengistirahatkan badan dan pikiran.
---
Sore menjelang malam sekitar pukul 16.30 Sasa masih asik dengan mimpinya.
Cia menuju kamar Sasa di suruh Hanna untuk membangunkan Kakaknya. Menaiki kasur milik Kakaknya dengan merangkak.
Cia membangunkan Sasa dengan menggoyangkan Badan Sasa.
"Akak angun, dah mayem." (Kakak bangun, udah malem) ucap Cia.
Sedangkan Sasa hanya bergumam tidak jelas.
"Akak angun, cuyuh Ibu angun, udah mayem." (Kakak bangun, suruh Ibu bangun, udah malem) teriak Cia.
Namun lagi-lagi Sasa hanya bergumam tidak jelas.
Cia marah melihat Kakaknya yang tidak bangun-bangun. Segera Cia menggigit telinga Kakaknya, dan sontak Sasa terbangun. Detik itu juga Cia melepaskan gigitannya.
"Aaaaaaa Ciaaaa sakitttttttt." teriak Sasa.
"Akanya angun, dah mayem." (Makanya bangun, udah malem) ucap Cia santai.
Cia segera turun dari kasur Sasa dan berjalan menghampiri Ibunya. Sedangkan Sasa masih menggerutu kesal sambil mengusap telinganya yang pasti sudah merah.
Sasa mengambil handuk dan menuju kqmar mandi. Badannya sangat lengket, panas sekali hari ini. Sasa bergegas mandi. Setelah mandi Sasa keluar menuju ruang tamu yang terdapat Cia, Ayah dan Ibu sedang menonton televisi.
"Bu bilangin Cia, jangan suka gigit orang sembarangan." kesal Sasa.
Hanna melirik Sasa sebentar lalu melihat Cia.
"Cia gigit Kakak ya?" tanya Hanna.
Cia mengangguk. "Cia angunin Akak, api akak ga angun-angun." (Cia bangunin Kakak, tapi kakak ga bangun-bangun." adu Cia.
Sasa yang duduk di sofa langsung melotot ke arah Cia, sedangkan Cia lidahnya udah di keluarin seperti orang mengejek.
"Makanya kalau di bangunin tuh bangun, jangan kaya kebo. Kalau ga di gigit Cia pasti ga bangun." jelas Hanna.
Sedangkan Ayahnya hanya diam, masih fokus menonton televisi. Sasa cemberut kesal denga Cia, ia berjalan balik menuju kamarnya.
"Makan dulu Sa, badan udah kayak triplek." Ujar Hanna meningatkan.
"Iya bu." balas Sasa belok arah menuju ruang makan.
Setelah selesai makan Sasa kembali ke kamar. Membuka ponsel dan layarnya memperlihatkan nama Alvaro Item. Segera Sasa membuka pesan dari Alvaro.
Alvaro Item
Sasa.
Dalem.
Alvaro Item
Udah makan?
Udah. Baru aja.
Alvaro Item
Bagus deh.
Lo dah makan?
Alvaro Item
Udah juga.
Oh bagus deh.
Alvaro Item
Sa?
Iya?
Alvaro Item
Gue mau ngomong.
Ngomong apaan?
Alvaro Item
Ga jadi deh.
Gajelas.
Alvaro Item
Hehe selamat malam Sa, tidur udah malem.
Malam. Iya ini mau tidur.
Sasa mematikan ponselnya dan bergegas tidur lagi, memang Sasa itu kepo. Tidurnya kuat banget.