Pagi hari yang cerah sama seperti senyum Sasa yang merekah. Tidak terasa sudah pagi saja. Jam menunjukkan pukul 05.30 pagi. Sasa bergegas mandi dan bersiap sekolah.
Hatinya berbunga mengingat semalam tukar pesan dengan Alvaro sampai pukul 00.00. Sekarang ia ada penyemangat saat sekolah.
Setelah mandi ia bersiap memakai seragam, Sasa tidak memakai makeup. Hanya bedak tipis saja dan rambut di biarkan tergerai menutupi leher jenjangnya.
Senyum Sasa merekah melihat penampilannya di kaca. Terlihat pancaran bahagia di wajahnya.
Setelah itu Sasa bergegas sarapan dan pergi ke sekolah dengan sepedanya. Sampai di sekolah pukul 06.30.
Sasa berjalan melewati koridor sekolah sendiri dengan senyum merekahnya. Sampai di kelas ia hanya mendapati 4 orang yang sudah berangkat. Sasa segera duduk di tempatnya.
Ting... Ting... Ting...
Bell pertanda masuk sudah berbunyi dan KBM akan segera di mulai. Guru matematika sudah memasuki kelas dan menerangkan materinya.
Zanna menulis yang diterangkan dipapan tulis, sedangkan Sasa hanya melihat saja. Tidak ada greget untuk menulis. Ia sudah capek mencoba memahami matematika, namun matematika tidak pernah memahami Sasa.
Ting... Ting... Ting...
Akhirnya bell istirahat telah berbunyi. Guru itu pun mengakhiri pelajarannya.
Sasa menyenggol lengan Zanna.
"Kantin yuk?" ajak Sasa.
"Ayok lah." balas Zanna beranjak menuju kantin dengan Sasa.
Mereka memesan bakso dan es teh seperti biasa. Setelah makan mereka kembali ke kelas lagi. Masih ada waktu 5 menit untuk menurunkan isi makanan yang ada di perut.
Sasa dan Zanna duduk di depan kelas menghadap lapangan. Mata Sasa melihat sekelilingnya, tidak sengaja ia melihat Alvaro dan kebetulan sekali Alvaro juga melihatnya.
Alvaro tersenyum melihat Sasa, begitupun Sasa membalas dengan senyum. Jarak antara kelas Alvaro dan Sasa tidak begitu jauh, hanya terhalang lapangan. Alvaro 7A sedangkan Sasa 7E.
Hati Sasa berbunga, ada sedikit kebahagiaan saat melihat Alvaro. Entah Sasa sudah mulai mencintai Alvaro atau sekedar taruhan itu. Yang terpenting ia bahagia saat melihat Alvaro.
Ting... Ting... Ting...
Bell masuk sudah berbunyi, segera Sasa dan Zanna melenggang kedalam kelas, sebelum Guru killer itu masuk kedalam kelas.
---
Sore hari Sasa bersiap untuk ekskul, ia memilih ekskul pencak silat. Pukul 14.30 Sasa berangkat menggunakan motor bersama teman satu desanya, kebetulian ia satu ekskul.
Ade Anjani, panggil saja Ade. Sasa menjemput Ade di rumahnya.
"Ade." panggil Sasa.
Ade keluar menemui Sasa dan berangkat bersama. Di perjalanan Sasa sedikit berdebar jantungnya, pasalnya ini pertemuan pertama. Takutnya yang ngelatih ekskul pencak silat galak. Memikirkannya saja Sasa bergidik ngeri.
Sampai di sekolah Sasa dan Ade menuju ke Aula tempat berkumpulnya orang-orang yang sedang ekskul pencak silat.
"Duduk di belakang ajak yuk." ajak Sasa berjalan menuju belakang.
"Kuylah." balas Ade mengikuti Sasa.
"Gue takut pelatihnya Galak de." ucap Sasa.
"Sama. Gue juga takut." balas Ade.
"Ya udah kita tunggu aja." ucap Sasa.
"Iya." jawab Ade.
Deg... Jantung Sasa berdetak lebih cepat. Alvaro! Ternyata dia juga mengikuti ekskul pencak silat. Alvaro berada di barisan tengah.
"Mati gue." gumam Sasa.
"Kenapa sa?" tanya Ade.
"Hehe gapapa de." balas Sasa menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Sasa malu, ternyata satu ekskul dengan Alvaro. OMG! Pasti akan sering ketemu. Senang juga bisa sering ketemu, tapi malu juga iya.
Kini pelatihnya sudah berada di depan, memperkenalkan diri. Namanya Pak Joni, asyik juga orangnya. Syukurlah tidak galak seperti yang di pikirkan Sasa.
"Sekarang keliling lapangan selama 5 menit tanpa berhenti." suruh Pak Joni.
Kini semua mulai berlari menuju lapangan dan keliling memutari lapangan. Ade dan Sasa lari bersama, namun lama-kelamaan Ade lebih dulu. Sasa ada di belakang, capek sekali rasanya. Pasalnya tidak pernah olahraga sedikitpun di rumah.
Sasa berlari dalam diam. Alvaro memperhatikannya dari belakang, dan kini Alvaro sudah tepat di samping Sasa.
"Hai." sapa Alvaro sambil mengimbangi lari Sasa.
Sasa menoleh, terpelonjak kaget dan gugup. Namun sebisa mungkin Sasa menstabilkan dan tersenyum.
"Hai." balas Sasa.
"Lo ikut ekskul pencak silat juga?" kata Alvaro.
"Iya." balas Sasa tersenyum.
"Ya udah kita lari bareng aja yuk." ajak Alvaro.
Sasa hanya mengangguk tersenyum. Kini mereka berlari bersama sampai waktu habis.
"Cukup." kata Pak Joni.
Kini mereka semua kembali ke Aula termasuk Sasa dan Alvaro.
"Gue kesana dulu ya." ucap Alvaro menunjuk tempat Kenzo dan Rasya. Ternyata mereka juga mengikuti ekskul yang sama.
"Iya." balas Sasa.
Kini Alvaro sudah berlari menuju tempat Kenzo dan Rasya. Sasa sudah di tempat semula bersama Ade.
"Siapa tuh?" goda Ade.
"Teman." bales Sasa.
"Teman apa teman?" goda Ade lagi.
"Sssttt diem nanti di marahin Pak Joni." suruh Sasa.
Sebelum berlatih pencak silat mereka melakukan pemanasan terlebih dahulu, seperti : menundukan kepala keatas kebawah, push up 30 kali, sit up 25 kali dan pemanasan lainnya.
Setelah pemanasan di beri waktu untuk istirahat. Semua pada berlarian membeli minum di depan sekolah. Tepat di depan sekolah ada toko yang lumayan besar.
Sasa dan Ade lebih memilih duduk terlebih dahulu.
"Nanti ya beli minumnya." ucap Ade.
"Hm." balas Sasa.
"Duduk dulu, capek gue." kata Ade sambil mengibaskan tangannya di depan mukanya, seperti mengipas.
"Sama, gue gak pernah olahraga jadi capek banget." keluh Sasa.
"Iya sama." balas Ade.
"Minum." ucap Alvaro tepat di samping Sasa menyodorkan 2 minuman.
Sasa menengok dan melihatnya terpelonjak kaget. Sejak kapan Alvaro ada di sampingnya. Kini jatung Sasa berdegup kencang. Lagi lagi ulah Alvaro.
"Makasih." balas Sasa sambil mengambil minuman itu.
"Sama-sama." balas Alvaro.
"Aku kesana dulu." pamit Alvaro menunjuk tempat Kenzo dan Rasya yang sedang istirahat.
Sasa mengangguk tersenyum.
"Nih minum." ujar Sasa menyerahkan botol minuman satunya.
"Thank you." balas Ade sambil mengambil botol minumannya dan menegaknya hingga tandas.
"Haus buk?" cibir Sasa.
"Menurut lo? Dah tau haus, masih nanya!" sewot Ade.
"Etdah napa lo sewot njirr." kekeh Sasa.
"GAPAPA!" balas Ade.
"Gapapa bukan jawaban kalik." Sarkas Sasa.
"Serah lo dah Sa. Kuy berdiri, dah selesai istirahatnya." ucap Ade.
"Cepet amat." balas Sasa.
"Dah di kasih jantung minta tai." cibik Ade.
Sedangkan Sasa hany terkekeh tak menanggapinya. Kini mereka sudah di tempat seperti semula dan latihan pencak silat di mulai.
Semua di mulai dari dasar pencak silat, yaitu gerakan dasar. Seperti daun melayang, pendeta dan lainnya. Mereka latihan sampai jam menunjukkan pukul 16.30 sore.
"Cukup sekian untuk latihan kita hari ini." ucap Pak Joni sambil tepuk tangan dan di iringi tepuk tangan para muridnya.
"Bubar jalan!" Ucap Pak Joni tegas.
Lalu mereka putar balik dan bubar berhamburan menuju parkiran.
Mereka bubar saling berhamburan menuju parkiran. Sasa dan Ade juga berjalan menuju parkiran. Saat di parkiran Sasa melihat Alvaro, begitupun dengan Alvaro. Mereka saling pandang selama beberapa detik, dan detik berikutnya senyum Alvaro mengembang. Ahh memang sangat manis sekali senyuman seorang Alvaro.
Ade menepuk pundak Sasa, membuat Sasa kaget dan memutus kontam matanya dengan Alvaro.
"Biasa aja kalik liatnya, sampai mau copot tuh mata lo." ujar Ade.
"Brisik!" kesal Sasa.
Sedangkan Ade hanya terkekeh melihat Sasa yang menggerutu kesal. Sasa memberikan kunci motornya kepada Ade.
"Lo yang di depan." ucap Sasa.
"Kebiasaan." balas Ade.
"Tuh tau." cibir Sasa.
"Pms ni orang." gumam Ade.
"Apa lo bilang?" ucap Sasa.
"Apa?" balas Ade jengah.
"Lo tadi bilang apa?" tanya Sasa.
"Kepo." balas Ade.
"Cepat naik, balik ga?" suruh Ade.
Segera Sasa naik motor itu dan Ade mengendarainya dengan dengan pelan.
Di belakang ada Alvaro, Kenzo dan Rasya yang juga akan pulang kerumahnya. Mereka memakai motor sendiri-sendiri.
"Sasa tuh." ucap Kenzo yang berada di samping Alvaro.
"Pepet bro." ucap Raysa yang ada di belakang mereka.
Alvaro mengangguk tersenyum. Segera Alvaro melajukan motornya menyusul Sasa. Mendengar ada suara motor di sampingnya, Sasa sontak menoleh dan ternyata Alvaro lagi. Seharian ini Alvaro sudah membuat Sasa olahraga jantung.
"Hai." sapa Alvaro.
"Hai." balas Sasa dan Ade.
"Langsung pulang?" tanya Alvaro.
"Iya." balas Sasa.
"Hati-hati." ucap Alvaro.
"Iya." balas Sasa mengangguk.
"Duluan ya?" pamit Alvaro.
Sasa mengangguk. "Hati-hati."
Alvaro mengangguk tersenyum dan mengegas laju motornya dengan cepat di ikuti oleh Kenzo dan Rasya.
"Duluan yaa?" teriak Kenzo dan Rasya.
"Iya hati-hati." balas Sasa dan Ade.
Sedangkan Kenzo dan Rasya mengangguk tersenyum. Mengikuti Alvaro dari belakang. Entah, mereka mau kemana, Sasa tidak mau tau.
Sampai di rumah Sasa segera mandi karena keringat di badannya sangat lengket dan bau membuatnya risih. Setelah mandi Sasa bergegas memakai baju dan duduk di ruang tamu sambil nonton tv bersama Cia. Tidak lupa Sasa membawa ponselnya.
"Cia Ibu mana?" tanya Sasa.
"Apur." (dapur) balas Cia.
"Cia udah makan?" tanya Sasa.
"Dah." balas Cia sambil tetap nonton tv.
Ponsel Sasa bergetar, menandakan ada pesan masuk. Segera ia membuka pesan itu. Alvaro Item nama itu tertera di layar ponselnya.
Alvaro Item
Udah sampai rumah?
Udah.
Alvaro Item
Udah mandi?
Udah juga.
Alvaro Item
Makan?
Belum.
Alvaro Item
Makan dulu gih.
Iya nanti.
Alvaro Item
Hm okay. Jangan lupa ya? Nanti sakit, kalau sakit terus ga berangkat sekolah. Kalau ga berangkat sekolah gue kangen hehe.
Sasa membaca itu seketika bahagianya memuncak. Jantungnya berdetak lebih cepat. Sasa mengambil napas dan menghembuskannya dengab pelan.
"Aaaaaaaaa." teriak Sasa.
Sedangkan Cia yang di sampingnya terpelonjak kaget. Cia melotot tajam melihat kearah Sasa, sedangkan Sasa tidak peka di perhatikan Cia dengan tajam. Segera Cia mengigit lengan Sasa.
"Akhhhhh sakitttt Cia." teriak Sasa.
"Apok! Akak akal sih, agetin Cia." (Kapok! Kakak nakal sih, kagetin Cia) balas Cia kesal.
"Tapi ga usah gigit-gigit juga kalik, kayak vampir aja." gerutu Sasa.
Sedangkan Cia tidak peduli, bodo amat. Cia lebih memilih melanjutkan menonton tv. Tidak peduli dengan kakaknya yang menggerutu.
Sasa jengah dan beralih ke kamarnya. Tidur di atas kasur, tak lupa menyumpal kupingnya dengan headseat.
Judika ~ Aku yang tersakiti.
Sasa mendengarkan lagu itu, ia sangat menyukai lagu itu. Oh iya, Sasa lupa membalas pesan Alvaro. Segera Sasa membalas pesan Alvaro.
Iya nanti makan.
Alvaro Item
Sip, jangan bohong ya?
Iya.
Alvaro Item
Btw gue mau tanya, boleh ga?
Sasa deg-degan membaca pesan singkat itu dari Alvaro. Kira-kira Alvaro tanya apa ya? Lagi-lagi jantung Sasa berpacu cepat.
Boleh. Tanya apa emangnya?
Alvaro Item
Lo udah punya pacar belum?
Sasa menjerit dalam hati, jantungnya menggebu-gebu. Bahagia luar biasa Alvaro bertanya seperti itu. Tapi ia harus bisa mengontrol bahagianya, nanti kalau tiba-tiba dijatuhin kan ambyarrr!
Emang kenapa tanya gitu?
Alvaro Item
Ya tanya aja, udah belum?
Belum.
Alvaro Item
Bagus deh.
Kok bagus?
Alvaro Item
Gapapa.
Sasa mencibik kesal dan tidak membalas pesannya. Sasa lebih memilih mendengarkan lagu yang ada di headseatnya.
"Gapapa bukan jawaban kali." gerutu Sasa.
Sampai akhirnya Sasa larut dalam tidurnya.
---
Pagi hari menunjukkan pukul 05.30 pagi Sasa sudah bangun dan bersiap ke sekolah. Pukul 06.30 Sasa sudah siap berangkat sekolah. Sarapan? Tentu saja hanya minum satu gelas s**u dan itu udah kenyang bagi Sasa.
Sampai di sekolah menunjukkan pukul 06.50. Sudah lumayan ramai banyak murid berdatangan. Sasa berjalan menuju koridor sekolah.
"Hai." sapa Alvaro.
Sasa terpelonjak kaget. Melihat reaksi Sasa yang kaget Alvaro terkekeh.
"Kaget ya? Maaf." kekeh Alvaro.
"Ga lucu." ketus Sasa.
"Gue emang ga nglawak." balas Alvaro.
"Serah lo dah." kesal Sasa.
"Pagi-pagi ga boleh marah, nanti tambah cantik." goda Alvaro.
Sasa melotot tajam ke arah Alvaro. "Gajelas." ketus Sasa.
Segera Sasa berjalan dengan buru-buru agar cepat sampai ke kelasnya. Sedangkan Alvaro sudah sampai di kelasnya. Bahkan Sasa melewati kelasnya.
"Untung jantung gue ga copot." gumam Sasa.
Sampai di kelas Sasa melempar tasnya ke bangku dan duduk di kursi dengan lesu, menumpangkan kepalanya ke meja.
"Huftttt." Sasa menghela napas panjang.
"Kenapa lo?" tanya Zanna dengan tiba-tiba. Sontak Sasa terpelonjak kaget untuk kedua kalinya.
"Upss sorry. Kaget ya?" kekeh Zanna.
Sasa memutar bola matanya malas.
"Masih pagi udah badmood gitu." cibir Zanna.
"Alvaro lagi ya?" tebak Zanna.
Sasa menegakkan badannya dan melihat Zanna yang sedang duduk di sampingnya.
"Lo cenayang ya?" tebak Sasa.
Sedangkan Zanna tertawa terbahak-bahak.
"Apanya yang lucu?" tanya Sasa kesal.
"Elo." balas Zanna masih dengan tawanya.
"Bikin mood gue tambah ancur aja lo." kesal Sasa menumpangka kepalanya ke meja lagi.
"Kenapa sih lo? Pms?" tebak Zanna.
"Gak!" kesal Sasa.
"Perasaan tiap masuk sekolah lo badmood mulu." ucap Zanna.
"Iya juga ya?" balas Sasa bingung.
"Kenapa emangnya?" tanya Zanna.
"Masa tadi tiba-tiba Alvaro nyapa gue di koridor bilang hai. Gue kan ga tau kalau ada Alvaro di belakang gue. Ya otomatis gue kaget lah, sedangkan Alvaro malah ketawa terbahak-bahak. Ya Tuhan gue malu anjirrr. Tengsin tau!" jelas Sasa menggebu-gebu.
Sedangkan Zanna malah ketawa terbahak-bahak.
"Ahh sama aja lo kayak Alvaro." cibir Sasa.
"Lucu sih." kekeh Zanna.
"Ga lucu!" ketus Sasa.
Zanna mencoba meredam ketawanya. "Terus dia minta maaf ga?" tanya Zanna.
"Iya." balas Sasa.
"Nah itu dia udah minta maaf, ngapain lo sewot gitu?" tanya Zanna.
"Ya gue malu lah." cibik Sasa.
"Santai aja kali. Dia mungkin juga ga sengaja, dia bermaksud mau nyapa tapi lo nya malah kaget. Ga usah di pikirn, gitu doang." jelas Zanna.
"Hm." balas Sasa mengangguk.
"Senyum dulu." ucap Zanna.
Lalu Sasa tersenyum, walau tidak ikhlas.
Ting... Ting... Ting...
Bell masuk berbunyi dan KBM segera di mulai. Guru-guru sudah mulai berdatangan di setiap kelas untuk memberikan ilmu yang ia punya.
---
Ting... Ting... Ting...
Bell istirahat berbunyi, Sasa dan Zanna merapikan buku yang tadi sengaja di keluarkan untuk menulis materi.
"Ayo Zan cepat, nanti keburu ramai kantinnya." ucap Sasa.
"Iya bentar aelah buru-buru amat." balas Zanna sambil merapikan bukunya dan menaruhnya ke tas.
"Cacing di perutku sudah memberontak minta di isi." ucap Sasa.
Sedangkan Zanna hanya memutar bola matanya jengah. Saat Sasa dan Zanna ingin ke kantin tiba-tiba ada Kenzo masuk membawa sekatong plastik menuju Sasa dan Zanna.
"Buat lo." ucap Kenzo menyodorkan sekantong plastik itu kepada Sasa.
Sedangkan Sasa mengernyit bingung.
"Dari Alvaro." imbuhnya lagi.
"Katanya Alvaro minta maaf atas kejadian tadi pagi." lanjutnya lagi.
"Aelah cepet ambil nih, capek tau tangan gue." kata Kenzo.
"Eh iya sorry, maaf ngrepotin. Bilangin Alvaro makasih dan udah gue maafin." ucap Sasa.
Kenzo mengangguk dan berjalan keluar. Sasa dan Zanna kembali duduk ke kursinya lagi. Membuka kantong plastik yang berisi makanan. Banyak makanan yang Alvaro belikan untuk Sasa.
"Ini kayaknya untuk lo juga deh Zan." ucap Sasa.
"Masa sih?" balas Zanna tidak percaya.
"Iya ini liat, semua makanannya ada dua. Ini minumnya juga ada dua." ucap Sasa.
"Memang mantul Alvaro. Jadi ga usah keluarin duit deh. Mending lo jadian sama Alvaro aja deh, biar gue juga kecipratan kayak gini." balas Zanna girang.
"Enakan di lo." cibir Sasa.
"Yaelah ga usah belagak. Lo juga suka kan sama Alvaro." ucap Zanna menaik turunkan alisnya.
"Gak!" balas Sasa ketus.
Namun Zanna tidak membalasnya, ia lebih memilih menikmati makanan gratisanya.