Naoto menarik napasnya panjang, ia menatap pemandangan di sekitarnya, dan merasa bingung bagaimana caranya menulis sepucuk surat cinta. Tangannya terasa begitu membeku saat akan menuliskan kata pada kertas yang sudah di hadapannya. Menulis surat cinta bukanlah sesuatu yang mudah, bahkan menjadi waktu yang lebih menegangkan daripada bicara secara langsung. Pria itu merasa harus mencari tempat yang jauh lebih nyaman untuk melakukan hal itu. Ia kemudian berdiri, dan meraih baju hangatnya yang tebal. Di raihnya buku dan juga bolpoin yang ada di atas meja, lalu segera bergegas keluar kamar. Ia harus mencari tempat yang benar-benar nyaman untuk merangkai kata, ia juga harus benar-benar tenang dan memusatkan hatinya pada surat tersebut. Naoto berjalan agak cepat, tidak masalah jika berada di ba

