Pengantin Pengganti dan Janji Neraka
Dor! Dor!
Dua suara tembakan memecah keheningan malam di aula besar kediaman keluarga Mahendra. Dua peluru menghantam guci porselen raksasa yang bertengger megah di sudut ruangan, menghancurkannya menjadi ribuan serpihan tajam yang berserakan di lantai marmer putih. Suara dentuman itu menggema, menyayat gendang telinga siapa pun yang mendengarnya.
Di tengah ruangan yang kini penuh dengan debu dan pecahan keramik, beberapa anak buah Kaizen Arka Mahendra berdiri dengan napas tertahan. Tak satu pun yang berani bergerak, apalagi bersuara. Kaizen, bos mereka yang ditakuti seantero kota, sedang berada di puncak kemarahan. Sekecil apa pun kesalahan, nyawa mereka bisa menjadi taruhannya — sama seperti guci mewah itu.
"Arrrrggghhh!"
Teriakan Kaizen menggelegar, memecah kesunyian yang mencekam. Wajahnya memerah padat, matanya menyala seolah api neraka sedang membakar di sana. Tangannya yang kokoh menggenggam pistol dengan erat, sementara pikirannya masih bergulat dengan rasa penghinaan yang baru saja diterimanya.
Raisa Ambar Ningrum — wanita yang seharusnya menjadi istrinya esok pagi — telah melarikan diri.
Itu kabar yang baru saja disampaikan oleh Satya, tangan kanannya, dan membuat seluruh rencana yang telah disusun rapi hancur dalam sekejap.
Kaizen berjalan dengan langkah berat, berisik di atas lantai marmer, menuju arah Satya yang berdiri kaku di sudut ruangan. Satya berusaha menyembunyikan kegugupannya, namun Kaizen tetap bisa melihat dengan jelas bahwa tangan pria itu sedikit gemetar.
"Apa yang Dedi katakan padamu?" tanya Kaizen. Suaranya terdengar datar, namun dingin seperti es pegunungan yang tak pernah mencair.
Satya menelan ludah yang terasa pahit. "Pak Dedi... mengatakan bahwa pernikahan ini harus dibatalkan. Dia meminta maaf karena sudah membuat Anda kecewa. Dia juga sudah mengirim orang untuk mencari Raisa, tapi sampai saat ini... wanita itu belum ditemukan."
Kaizen menyipitkan matanya tajam. Alisnya terangkat sedikit, lalu senyum sinis dan menyakitkan muncul di sudut bibirnya.
"Dibatalkan?" ulangnya pelan namun penuh ancaman. "Dia pikir ini hanya lelucon? Tidak. Pernikahan ini harus tetap berlanjut. Kita sudah menyebar undangan ke ratusan rekan bisnis dan tokoh penting. Tidak ada jalan untuk mundur sekarang."
"Tapi, Tuan..." Satya mencoba membela, suaranya bergetar. "Tanpa pengantin wanita, bagaimana pernikahan bisa dilaksanakan?"
Kaizen melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa inci. Matanya menatap lurus ke dalam mata bawahannya, penuh tekanan.
"Jika Raisa kabur..." bisiknya, "maka adiknya yang akan menggantikannya."
Senyum sinis itu makin lebar, namun tak ada kebahagiaan di dalamnya — hanya niat balas dendam yang dingin.
"Dia sangat menyayangi adiknya, Raisa. Aku tahu pasti. Ini cara terbaik... cara paling menyakitkan, untuk membuat Raisa menyesali semua keputusannya seumur hidup."
Satya terbelalak lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Tuan... Anda serius? Raisa Ambar... dia masih sangat muda. Gadis polos yang bahkan belum pernah tahu apa itu dunia gelap yang kita tinggali. Apa kata orang nanti? Apa yang akan terjadi padanya?"
Kaizen menatap Satya dengan tatapan tajam, membuat pria itu langsung membeku dan tak berani membuka mulut lagi.
"Aku tidak peduli apa kata orang," ucapnya dingin. "Aku hanya peduli agar Rani (Raisa) membayar harga atas kepergiannya. Sekarang, siapkan mobil. Kita akan menemui Dedi sekarang juga."
Satya tahu tidak ada gunanya berdebat lebih jauh. Ia hanya bisa mengangguk patuh, lalu segera meninggalkan ruangan untuk menyiapkan apa yang diminta tuannya.
Kaizen berdiri sendirian di tengah ruangan yang masih berdebu. Ia menghela napas panjang, berusaha menekan api kemarahannya. Namun di dalam hatinya, ia sudah membuat satu janji yang tegas:
Raisa Ambar Ningrum lari dariku? Baiklah... aku akan membuatnya kembali, bukan sebagai istri yang dicintai, tapi sebagai b***k yang akan ia sesali seumur hidup.
* *
Setibanya di kediaman keluarga itu, suasana mendadak mencekam. Udara di ruang tengah terasa berat, seolah terjepit di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.
Dedi dan Mariam, orang tua Rani, berdiri di hadapan Kaizen dengan wajah yang bertolak belakang. Dedi pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Sementara Mariam berdiri tegak, dengan ekspresi yang dingin dan tegas — tak tampak sedikit pun gentar di hadapan pria yang ditakuti itu.
"Tuan Kaizen, mohon... jangan Raisa," pinta Dedi dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca. "Dia masih terlalu muda. Gadis itu polos, tak tahu apa-apa tentang dunia yang Anda tinggali. Biarkan dia hidup tenang, kumohon."
Mariam melirik suaminya tajam, lalu beralih menatap Kaizen dengan tenang. "Raisa itu anak yang penurut, Tuan. Dia pasti bisa menjadi istri yang baik dan taat. Dan saya yakin, Tuan Kaizen pun kelak akan mencintainya dengan sepenuh hati."
Dedi menoleh tajam ke arah istrinya, matanya membelalak tak percaya. "Apa yang baru saja kamu katakan? Dia masih belum siap untuk ini! Raisa bukan barang yang bisa diganti-ganti sesuka hati!"
Mariam menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada yang tetap dingin. "Rani sudah kabur. Tak ada yang bisa kita lakukan untuknya sekarang. Raisa adalah satu-satunya jalan keluar yang tersisa. Dia harus menggantikan kakaknya. Demi nama baik keluarga, dan demi keselamatan kita semua."
Kaizen, yang sedari tadi hanya diam menyimak pertengkaran mereka, akhirnya melangkah maju. Langkahnya tenang, namun setiap gerakannya penuh ancaman yang tak terucap. Perlahan, ia mengeluarkan pistol dari balik jasnya. Dengan gerakan yang pelan namun pasti, ia mengarahkan moncong senjata itu tepat ke arah kepala Dedi.
Pria tua itu langsung membeku. Wajahnya pucat seperti mayat hidup.
"Aku tidak butuh persetujuan kalian," ucap Kaizen rendah, namun setiap kata terdengar seperti keputusan mutlak yang tak bisa diganggu gugat. "Raisa akan menikah denganku. Atau malam ini juga, aku akan memastikan kalian berdua tidak pernah melihat matahari esok hari."
Dedi gemetar hebat di seluruh tubuhnya. Ia ingin melawan, ingin membela putrinya — tapi ia tahu, di hadapan pria seperti Kaizen, perlawanan hanyalah sia-sia yang berujung kematian.
Di tengah keheningan yang mencekam itu, sesosok tubuh kecil tiba-tiba melangkah maju.
Raisa berdiri di antara Kaizen dan ayahnya. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar — namun matanya menatap lurus ke arah pria yang mengancam keluarganya itu. Tanpa rasa takut yang berlebihan, tanpa menunduk.
"Tuan Kaizen..." suaranya terdengar pelan, namun tegas dan jelas, membelah keheningan ruangan. "Tolong jangan sakiti Ayah dan Ibu saya."
Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan keteguhan yang tak disangka-sangka dari gadis seusianya.
"Saya... Saya bersedia menikah dengan Anda."
Kaizen menatapnya — meneliti dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gadis itu mengenakan blouse putih sederhana dan rok panjang bermotif bunga. Kacamata bulat besar di wajahnya membuatnya terlihat seperti gadis kutu buku yang tak pernah menyentuh dunia luar. Sederhana, polos, jauh dari kesan memikat.
Penampilannya sangat bertolak belakang dengan Rani — kakaknya yang selalu tampil anggun, berkilau, dan dikenal sebagai model ternama.
Namun bagi Kaizen, penampilan Raisa bukan masalah. Pernikahan ini bukan soal cinta, bukan soal kecantikan — ini soal harga diri. Jika pernikahan ini batal, ia akan menjadi bahan tertawaan semua orang. Dan itu adalah hal yang paling tidak bisa ia terima.
Tak masalah dengan penampilan gadis itu. Ia punya kekayaan yang tak akan habis untuk tujuh turunan. Ia bisa menyulap Raisa menjadi wanita paling berkilau di seluruh kota ini — jika ia mau. Atau justru sebaliknya...
"Bagus," ucap Kaizen pelan, lalu ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh dagu Raisa dengan ujung jari — sentuhan yang dingin namun penuh kepemilikan. "Kamu akan menjadi istriku. Dan ingatlah... mulai detik ini, tak ada jalan untuk mundur."
* *
Pernikahan berlangsung megah di sebuah hotel berbintang lima di jantung kota. Aula besar itu dipenuhi dekorasi termewah — bunga-bunga eksotis yang harum semerbak, hingga lampu gantung kristal raksasa yang berkilauan seperti bintang di langit malam. Ratusan tamu undangan hadir, terdiri dari tokoh-tokoh penting, pejabat, dan pengusaha sukses yang namanya disegani. Semua mata tertuju pada pelaminan yang begitu megah dan dingin.
Di sana, Kaizen berdiri tegap. Jas hitam buatan tangan desainer ternama membungkus tubuh tegapnya, membuatnya tampak bagai raja yang berkuasa atas segalanya — namun tanpa sedikit pun kehangatan di matanya. Di sampingnya, Raisa berdiri dengan gaun putih berkilauan yang menjuntai hingga ke lantai. Riasan halus di wajahnya membuatnya tampak anggun dan cantik, jauh berbeda dari gadis sederhana yang beberapa hari lalu masih memakai kacamata dan baju polos.
Namun di balik keindahan itu, Raisa tak bisa menyembunyikan rasa gugup yang mencekam dadanya. Tangannya yang tergenggam di depan perut sedikit gemetar. Ia tahu, mulai detik ini ia telah menjadi istri pria yang ditakuti sekaligus kejam. Tak tahu apa yang akan menimpanya ke depan — namun ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, akan menerima apa pun takdirnya demi menyelamatkan orang-orang yang ia cintai.
Tiba-tiba, suara berat dan rendah Kaizen terdengar tepat di samping telinganya.
"Tersenyumlah," bisiknya dingin, tanpa sedikit pun kelembutan. "Buat semua orang di sini percaya bahwa kamu adalah wanita paling bahagia di dunia. Tapi ingatlah satu hal..."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang menusuk tajam.
"...Aku akan memastikan setiap hari dalam hidupmu mulai sekarang adalah neraka."
Hati Raisa nyaris hancur seketika. Namun ia menelan ludah, menahan segala rasa sakit yang menyerang dadanya. Dengan kekuatan yang entah dari mana datangnya, ia mengangkat sudut bibirnya — sebuah senyum yang tampak sempurna bagi siapa pun yang melihatnya, namun penuh luka dan kepasrahan di dalamnya.
Dari sudut matanya, ia melirik sekilas ke arah barisan depan. Di sana, Dedi duduk tertunduk pasrah, matanya berkaca-kaca penuh rasa bersalah yang tak terucap. Sementara di sampingnya, Mariam duduk tegak dengan wajah puas — seolah-olah ini adalah kemenangan besar bagi keluarga mereka.
Di tempat lain, jauh dari kemewahan dan keramaian itu...
Rani berdiri mematung di depan layar ponselnya. Wajahnya pucat pasi, darah seakan tersedot habis dari wajahnya. Di layar itu, siaran langsung pernikahan itu berputar — dan yang terlihat berdiri di pelaminan bukanlah dirinya, melainkan Raisa. Adiknya. Gadis yang seharusnya tetap hidup tenang dan polos.
Tangannya gemetar hebat, air mata mengalir deras membasahi pipinya.
"Tidak... Tidak mungkin..." bisiknya berulang kali, seolah menolak mempercayai apa yang ia lihat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dengan tangan yang masih gemetar menekan nomor ibunya.
Telepon tersambung.
"Kenapa?! Kenapa Raisa yang berdiri di sana?!" seru Rani tak mampu lagi menahan emosinya. Suaranya pecah, penuh ketakutan dan kemarahan.
Mariam menjauh dari keramaian, berjalan ke sudut ruangan yang agak sepi untuk menerima panggilan itu. Suaranya terdengar pelan, namun tegas dan tak bisa dibantah.
"Rani, dengarkan Mama. Ini semua demi keselamatan keluarga kita. Tak ada pilihan lain."
"Tapi Kaizen itu berbahaya, Ma! Dia kejam! Dia bisa menyakiti Raisa! Dia bisa menghancurkannya!" Rani terisak.
Mariam menarik napas panjang, berusaha tetap tenang meski hatinya pun sebenarnya tak tenang. "Raisa tahu risikonya. Dia yang memilih untuk melindungi kita semua. Dan kamu... Jangan pikirkan lagi soal ini. Kabur sejauh mungkin. Jangan biarkan Kaizen atau anak buahnya menemukanmu, mengerti? Lupakan semuanya dan mulailah hidup baru di tempat yang jauh."
Terdengar suara keramaian di seberang sana. Panggilan pun terputus.
Rani membiarkan ponselnya terlepas dari genggaman, jatuh ke lantai. Ia terjatuh berlutut, menangkup wajahnya. Rasa bersalah, takut, dan marah bercampur menjadi satu, menghancurkannya perlahan.
"Raisa... Maafkan kakakmu..." isaknya lirih di tengah kesepian yang mencekam.