Chapter 21

1578 Words
"Aah!" Cika terkejut saat teman yang dia tarik tiba-tiba jatuh menimpa seseorang. "Aduh …." Syarastini mengaduh sakit. "Tini?" Rinoi terbelalak setelah dia melihat bahwa orang yang jatuh ke kaki sang bos adalah temannya. "Ah, Rinoi … itu …." Syarasitini yang berada di kaki Ghifan melihat penuh canggung ke arah Rinoi, sebab pandangannya tanpa sadar melihat ke arah Ghifan. Blush! Wajah Syarastini memerah bagaikan tomat masak. Dia tidak dapat melakukan apa-apa lagi selain duduk jongkok di bawah kaki Ghifan, sejujurnya, Syarastini malu untuk berdiri karena dia tidak sengaja menginjak kaki Ghifan. Ghifan melirik ke arah bawah, matanya dan mata Syarastini beradu tatapan. Melihat mata berarti yang bercampur kecanggungan dan polos itu membuat Ghifan untuk beberapa saat hanya diam terpaku melihatnya. Gadis ini lagi. Syarastini. Akhir-akhir ini dia selalu dipertemukan dengan Syarastini. "Halo Tuan Nabhan." Cika cepat-cepat menyapa Ghifan, lalu dia membantu temannya yang canggung untuk bangkit dari kaki Ghifan. "Maaf, saya terlalu ceroboh dengan menarik teman saya, jadi tidak melihat Tuan Nabhan dan yang lainnya ada di sini-ah, ouh ada Tuan Hendry, ah untung mata saya jeli melihat ketampanan Anda di sini." Cika berubah haluan ke arah Hendry. Hendry tersenyum tipis, "Halo, Nona Pipa," sapa Hendry. "Eihm, Cika saja sudah lebih dari cukup. Jangan Pipa, terlalu v****r mengingat masa lalu saya yang lahir di dalam kloset." Cika tersenyum manis. "Hahaha, baik." Hendry tertawa geli, dia suka dua gadis ini, satu pembawaannya super ekstrovert dan satu introvert namun dengan ciri khas mereka masing-masing. "Maaf ..," ujar Syarastini pelan di depan Ghifan, dia menunduk tidak ingin melihat wajah Ghifan. Ghifan ada di sini! dia ada di sini! batin Syarastini menggila. Ghifan melirik ke arah wajah malu-malu yang diperlihatkan oleh Syarastini, dua tangan Syarastini juga saling meremas layaknya orang yang sedang gugup takut kesalahannya kerkuak. Ah, kesalahan? Ghifan melirik ke arah belakang Syarastini, ada Rinoi yang berdiri dengan canggung. Ah, dia baru ingat, gadis ini ada di sini karena menyukai sekretarisnya. "Um." Ghifan hanya membalas ucapan maaf Syarastini dengan gumaman lalu mengangguk. Bukan seperti Ghifan biasanya. Hendry melihat ada kejanggalan pada sikap Ghifan. Namun, dia tidak mau mempertanyakan ada apa dengan Ghifan, bukan ruang lingkupnya bertanya. Syarastini masih menunduk namun dia tersenyum kecil meskipun Ghifan hari ini seperti terkesan cuek padanya tapi setidaknya ada suara balasan dari Ghifan untuknya. Cika merasa bahwa mood tuan Nabhan ini kurang bagus, itu dapat dilihat dari aura wajahnya pada Syarastini. Huh, kalau muka si Tuan Nabhan begini, bagaimana Tini bisa mengambil hatinya? Cika merasa pusing dalam hati. Dia harus mencari cara agar mencairkan suasana. "Em, Tuan Hendry ini mau ke mana?" tanya Cika. Satu-satunya orang yang bisa dia ajak bicara yang posisi bisnisnya setara dengan Ghifan adalah Hendry Kao. "Saya ingin pergi ke pulau a," jawab Hendry. "Ah. Kebetulan sekali, saya dan teman saya juga ingin ke sana." Cika senang luar biasa. Hendry menaikkan sebelah keningnya lalu manggut-manggut, dia melirik ke arah Syarastini yang masih menunduk malu. Apakah ini suatu kebetulan? Hendry tidak tahu, mari kita lihat. "Ah, kami satu tujuan rupanya, jadi, Cika dan Tini, ada apa ingin ke sana?" tanya Hendry. "Ah, kami ingin melihat-lihat pemandangan di sana, sekalian ingin mencicipi menu restoran yang legend di sana," jawab Cika. Rinoi langsung melihat ke arah Syarastini. Tidak ada yang tahu selain Syarastini bahwa dia akan menemani bosnya untuk makan siang di salah satu restoran Farikin's Seafood. Apakah Cika mendesak Syarastini untuk mengaku? Melihat tatapan Rinoi pada Syarastini yang sedang menunduk, Ghifan tiba-tiba merasa agak gerah dan ingin agar secepatnya pergi dari sini. Hendry melihat itu, memang ada yang tidak beres dengan tuan muda Nabhan ini. Dia tersenyum kecil. Sepertinya ada kejadian menarik. "Kami ingin ke sana, tapi banyak juga orang yang ini ke sana, kami mungkin kehabisan speedboat untuk disewa, jadi saya melihat ada tumpangan dan terlalu bersemangat untuk berlari ke sana, jadi tidak tahu bahwa Tuan-tuan ini ada," ujar Cika. Dia menunjuk ke arah speedboat yang ingin dia naiki. Ghifan, Rinoi dan Hendry melihat ke arah jari telunjuk Cika mengarah. Speedboat itu …. Mereka akan naik ke speedboat itu. "Itu bukan speedboat komersial. Itu speedboat eksklusif milik Farikin's Seafood jadi hanya pemilik dan tamu penting saja yang bisa naik speedboat itu," ujar Rinoi. "Haa?" Cika langsung melotot kaget. "Yaah, dasar sial-padahal harapan aku tidak terwujud." Cika membelokan lidahnya agar tidak mengumpat di depan orang-orang besar. "Sepertinya saya merasa bahwa pertemuan kami bukan alami." Suara Ghifan terdengar, dia melirik sekilas ke arah Syarastini. Hal ini membuat wajah Syarastini yang tadinya merona perlahan memudar. Jemarinya dia remas-remas karena merasa begitu canggung dengan ucapan Ghifan. "Itu, maaf Tuan Nabhan, maksudnya Anda adalah?" Cika berusaha untuk mencairkan suasana lagi. Sepertinya Tuan Nabhan ini tidak terlihat senang mereka saling bertemu. Ghifan melirik ke arah Cika. "Saya tidak merasa bahwa pertemuan kami yang kali ini adalah alami." Cika melihat arah pandang Ghifan yang cukup tegas. Iya, memang kami sengaja mengikuti kamu, memangnya kenapa? Ingin rasanya Cika mengatakan ini di depan muka Ghifan. "Anda pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa dunia itu selebar daun kelor? nah, seperti itu sekarang," ujar Cika. Dia harus menyangkal bahwa pertemuan ini adalah buatan. Ghifan tersenyum tipis namun ada terkesan sinisme yang sedikit. Dia melirik ke arah Syarastini. "Jika seseorang menyukai orang yang telah dia buntuti, maka berterus terang saja tanpa harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa." Wajah Syarastini berubah pucat seketika. Ucapan dari Ghifan ini seketika membuatnya down. Itu berarti bahwa Ghifan telah tahu dia menyukainya? Lalu sikap Ghifan yang sekarang ini menunjukan bahwa dia kelihatan tidak senang dengan caranya membuntuti kemanapun Ghifan pergi. Hati Syarastini tiba-tiba jatuh dari langit ke tanah. Melihat raut wajah temannya yang ketakutan dan pucat, membuat Cika merasa iba dan ikut sedih. Dia melirik ke arah Ghifan, "Mungkin Anda saja yang merasa bahwa ada seseorang membuntuti Anda. Kami merasa bahwa ini terjadi alami, siapa yang tahu bahwa teman saya akan menabrak Anda? jika Anda tersinggung karena insiden beberapa hari yang lalu dan hari ini. Saya dan teman saya memohon maaf dari ujung kaki sampai atas kepala Anda. Mohon maafkan kami." Suasana tiba-tiba berubah canggung dan tidak nyaman untuk mereka. Rinoi tidak bisa buka suara, karena sang bos merasa marah dan tersinggung atas sikap Syarastini dan Cika beberapa hari yang lalu dan sekarang. Sedangkan Cika merasa agak marah dengan sikap Ghifan yang sekarang. Dia menahan diri untuk tidak menyemprot Ghifan karena dia tahu, temannya itu menyukai pria yang tidak peka ini. Dan sekarang pria ini mungkin telah tahu perasaan temannya namun sama sekali tidak menghargai sang teman. Setidaknya jika Anda tidak menyukai seseorang, cobalah berbicara empat mata dan jangan mempermalukan orang itu di depan umum. Hendry merasa biasa-biasa saja, dia merasa bahwa masalah bukan ini, kemungkinan ada kesalahpahaman lain yang belum dia ketahui. Wajah Syarastini pucat pasi, nyalinya menciut seketika. Dia tidak ada wajah untuk mendongak melihat di sekitarnya. Apalagi melihat ke arah Ghifan. Cika melirik ke arah Hendry, "Maaf dengan sikap kami, tanpa mengurangi rasa hormat kami. Kami permisi." Cika melirik ke arah Syarastini, "Tini, ayo kita cari tumpangan lain untuk ke sana." Cika menarik tangan Syarastini agar menjauh dari Ghifan dan yang lainnya. Hingga jarak mereka telah agak jauh, Syarastini berkata, "Cika …." "Hum?" sahut Cika sambil melihat-lihat adakah tumpangan yang bisa mereka sewa untuk ke pulau a. Syarastini memberanikan dirinya untuk mengeluarkan suaranya. Sementara itu Cika melihat ada peluang untuk mereka ke pulau A. "Ah, itu, ada yang kosong." Cika hendak menarik tangan Syarastini ke sana, namun dia merasa bahwa Syarastini tidak ingin berjalan. "Kita pulang saja ke kota." Cika menghentikan gerakannya, dia melirik ke arah Syarastini yang sedang menunduk. "Ada apa?" tanya Cika. "Dia marah," gumam Syarastini. Cika melirik dengan ekor mata ke arah Ghifan yang sedang berdiri bersama Hendry, mereka hendak berjalan ke arah speedboat. Cika tahu, mood temannya ini sekarang merasa takut dan khawatir bercampur gugup. "Kamu yakin tidak mau melanjutkan ke pulau a?" tanya Cika. Syarastini mengangguk. "Tapi nanggung, kita udah sampai di sini." "Kalau kita pergi ke pulau a … nanti Ghifan marah … dia sepertinya tersinggung padaku karena masalah itu," balas Syarastini. Cika menghembuskan napas agak kesal terhadap Ghifan. Laki-laki itu memang tidak peka dan tidak punya otak pikiran, batin Cika kesal. "Ya sudah kalau begitu. Ayo kita balik." Cika pasrah dengan kemauan sang teman, dia memilih ikuti saja apa kata temannya, toh dia juga melihat wajah temannya yang sedang menahan malu. Bukan malu karena tersipu malu cinta namun malu karena merasa dipermalukan oleh seseorang. Kasihan sekali temannya ini. "Ini sudah jam setengah dua belas, kita balik saja lalu makan siang, setelah itu aku akan mengantar kamu pulang ke rumah, kalau orang rumah kamu bertanya sudah pulang, bilang saja kami makan siang di mana gitu, nanti kapan-kapan baru ke pulau air. Sudah terlanjur juga kamu minta ijin sama orangtua kamu." "Um … itu lebih baik," sahut Syarastini. Cika tersenyum lalu menarik tangan kiri Syarastini, dua gadis itu berjalan menjauh dari pelabuhan. Dres sebetis yang dipakai oleh Syarastini melambai karena embusan angin yang agak kencang di pelabuhan. Ghifan melihat kepergian dua gadis itu menjauh, Rinoi dan Hendry juga sama, namun mereka tidak bersuara. Pintu speedboat ditutup, namun dia dapat melihat mereka dari kaca. "Mungkin kalian harus bertemu secara pribadi untuk membicarakan masalah pribadi perasaan kalian, ini adalah jam kerja," ujar Ghifan. "Baik, Pak." Rinoi hanya menyahut. Hendry mengerutkan keningnya, masalah pribadi perasaan? Dia sudah mulai penasaran dengan apa itu. "Itu … saya memang agak melenceng dari pembahasan kami. Tapi, ada masalah kah antara Nona Tini dan sekretaris Anda?" Wajah Ghifan berubah agak masam. "Dia menyukai sekretaris saya." Hendry, "!!?" °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD