Chapter 20

1928 Words
Syatastini dan keluarga makan pagi dengan damai di meja makan. Dia seperti biasanya, hanya makan sambil menunduk dan tak membuka suaranya. Itu bukan kebiasaannya. "Hari ini hari rabu, kan?" tanya Shinta. "Um," gumam Badar. "Cepat sekali hari berganti, perasaan baru kemarin akhir pekan, sekarang sudah mau akhir pekan lagi," gumam Shinta. "Bumi sudah terlalu tua, kamu juga sudah tua, jadi jangan terlalu membatasi orang-orang mendekam di dalam rumah." Suara Jihat terdengar. Sepertinya makan pagi di keluarga Tinar harus diralat lagi, mungkin tidak dalam kondisi damai. Shinta melirik ke arah ayah mertuanya. Ayah mertua ini jika satu hari tidak membalas ucapannya, dia khawatir mungkin mulut ayah mertuanya itu akan bisulan. "Papa, siapa yang Papa maksud jangan terlalu mendekam orang di dalam rumah?" Shinta bertanya pada Jihat yang sedang mengunyah makanan dengan santai setelah dia mengatakan kalimatnya tadi pada sang menantu. "Sudah tua, jadi tambah pikun," balas Jihat tanpa menjawab pertanyaan dari menantunya. Shinta meradang di meja makan. Dia berusaha untuk tidak membalikkan piring yang dia pakai untuk meletakkan sandwich. Badar dan dua anaknya makan dengan santai tanpa terganggu dengan Shinta dan Jihat yang saling berbalas kata. Sudah biasa di pendengaran mereka mendengar suara Shinta dan Jihat setiap kali mereka berada di meja makan dan makan bersama. Justru akan aneh jika mereka tidak mendengar suara Jihat dan Shinta. Syarastya meneguk air, lalu dia berdiri dari kursi. "Aku ke kantor." Begitu saja cara pamit Syarastya, dia tidak perlu basa-basi untuk membuka percakapan, langsung pada intinya saja. Setelah mengatakan itu, Syarastya berjalan menjauh dari meja makan. Syarastini hanya melihat kepergian sang kakak dengan tatapan lain. Kapan dia bisa seperti kakaknya yang pergi pamit ke kantor? Beberapa hari yang lalu sang kakek sempat mengutarakan niatnya untuk membiayai usaha kecilnya nanti, namun sampai sekarang dia belum berani membalas hal itu pada sang kakek. Dia tidak punya nyali. Alhasil, Syarastini memutuskan untuk menunggu saja, mungkin saja besok-besok sang kakek atau ayahnya membahas atau mempertanyakan niatnya itu. Jihat melihat ke arah Syarastini. "Tini." "Ya, Kakek?" sahut Syarastini. "Beberapa hari ini Kakek dengar kamu sering keluar," ujar Jihat. Syarastini menggigit bibirnya, jangan sampai kakeknya tahu dia keluar rumah untuk melihat Ghifan. "Tini biasa pergi makan dengan teman Tini yang bernama Cika setelah dia selesai sidang perkara," balas Syarastini pelan. "Oh, tidak apa-apa. Sesekali kamu pergi berlibur," ujar Jihat. "Baik, Kakek." Syarastini hanya menyahut menurut. Shinta melirik ke arah Syarastini. "Jangan jauh-jauh kalau pergi. Di sekitar sini saja. Kalau kamu mau pergi berlibur atau berwisata, bisa katakan pada Papa dan Mama, mungkin kita bisa pergi, toh sudah lama juga kita tidak pergi berlibur atau wisata bersama." "Baik, Ma." Syarastini hanya mengangguk. Shinta mengangguk puas dengan menurutnya sang anak. Bisa dia tebak bahwa sang anak pasti tidak berani mengatakan pada dia dan suaminya bahwa dia ingin pergi berlibur atau berwisata. Palingan hanya sekitar Jakarta saja, tidak keluar dari itu. Syarastini menunduk melanjutkan makannya, dia lalu berpikir, bagaimana cara dia pergi ke pulau a hari ini? dia ingin meminta ijin dari sang ibu. Tiba-tiba Syarastini menyadari keberadaan bahwa ada kakeknya yang setiap hari ini berbalas kata dengan sang ibu, kini timbul sedikit keberaniannya. "Mama," panggil Syarastini pelan. "Ya?" sahut Shinta. Badar ingin menyudahi sarapannya, dia akan menyusul anaknya ke kantor. "Hari ini, Cika akan menjemput Tini, itu … bilang kita akan pergi melihat-lihat sebentar pulai a untuk refreshing dia karena beberapa hari ini ada kasus yang cukup berat yang dia dan ayahnya tahan. Itu … Tini bisa pergi bersama Cika, kan?" dalam hati, Syarastini berharap bahwa ibunya memberi ijin. "Ah, teman kamu yang kemarin?" suara Jihat yang terdengar. "Iya, Kakek." Syarastini melirik ke arah sang kakek. "Hum, pergi saja. Toh pulau a itu tidak jauh dengan rumah. Hanya pergi menyeberang dengan boat saja tidak sampai setengah jam, kamu sudah sampai. Toh itu tidak jauh seperti dari sini ke bandung atau Jogja," ujar Jihat, dia yang memberi ijin pada cucunya. Shinta hanya mengangguk, toh ayah mertuanya sudah mengijinkan. "Asalkan kamu tidak pulang telat. Ingin pergi jam berapa dan pulang jam berapa?" tanya Shinta. "Cika berencana akan menjemput Tini jam sepuluh nanti, lalu kami akan makan siang di sana dan pulang sekitar jam dua," jawab Syarastini. "Baik, itu tidak lama. Mama tidak keberatan." Shinta mengangguk setuju. Namun, Badar mendengar nama pulau a dan mendengar jawaban anaknya bahwa akan makan siang di sana, dia melirik ke Syarastini. "Kamu dan teman kamu makan siang di sana?" tanya Badar, dia ingin memastikan jawaban putrinya benar. "Ya, Papa." Badar melirik ke arah ayahnya, "Pulau a itu pulau pribadi milik Nabhan Resort namun itu sudah berada atas nama Farikin's Seafood." Mendengar nama Nabhan dan Farikin, membuat Jihat diam untuk beberapa detik. Jihat melirik ke arah Syarastini, sedangkan Syarastini hanya diam. Dia tidak tahu bahwa pulau itu pulau pribadi, dia hanya tahu bahwa pulau itu ada restoran milik Ghifan. "Ya, pergi saja. Kan cuma makan, bukan untuk kerja di sana atau apa di sana," balas Jihat. Kasihan kalau dia melihat wajah cucunya jika dia membatalkan kepergian Syarastini. Badar hanya mengangguk. "Loh, Farikin Seafood itu kan saingan bisnis kita. Tini, kamu ngapain pergi makan ke sana?" Shinta buka suara, dia punya alasan untuk tidak membiarkan anak bungsunya pergi. Syarastini diam kaku. Dia tidak tahu masalah antara saingan bisnis Tinar Group dan Farikin Seafood. Dia baru tahu hal itu saat ibunya mengatakan di depannya sekarang ini. "Itu … Cika sudah memesan tempat … Tini tidak tahu …," jawab Syarastini pelan. Nyalinya tiba-tiba menciut setelah dia melihat mata ganas yang diperlihatkan oleh sang ibu. "Kenapa kalau Tini makan di sana? toh tidak ada yang tau kalau dia anakmu dan Badar." Suara Jihat terdengar. Setelah mendengar suara kakeknya ini, entah mengapa d**a Syarastini terasa sesak. Badar dan yang lainnya diam untuk beberapa detik setelah ucapan Jihat, Jihat pun sama, dia melihat ke arah Syarastini. "Maksud Kakek, tidak ada karyawan yang akan mengambil gambar bahwa anak dari pemilik Tinar Group makan di restoran saingan bisnis mereka, tidak begitu. Jadi kamu aman, pihak lain tidak membawa-bawa kamu. Sudah, ayo pergi dengan teman kamu," ujar Jihat. " … baik, Kakek." Syarastini mengangguk, dia menunduk. Melihat wajah Syarastini terlihat lain dari biasanya, Badar mengusap kepala Syarastini, "Yang penting kamu tidak posting gambar ke sosial media. Itu saja." Syarastini tersenyum kecil, dia mengangguk senang, "Baik, Papa." Badar melihat Shinta ingin buka suara, namun dia mengisyaratkan pada istrinya jangan bicara lagi, alhasil Shinta kembali menelan kalimat yang ingin dia keluarkan pada Syarastini. °°° Cika makan pagi dengan perasaan senang. Dia telah menelepon Syarastini sebelum dia ke meja makan untuk menimba makanan berat agar dia ada tenaga dalam menjalankan pekerjaannya nanti. "Ini jam delapan, Papa kemarin sudah janji pada Pak Damar kalau kamu akan bertemu dengan beliau lalu membahas kasusnya agar cepat selesai," suara ayah Cika terdengar. "Ha?! hari ini jadwalnya?" Cika membeo ke arah ayahnya. "Ya, kan kamu sendiri tadi malam bilang ke Papa, kasih masuk kasus Pak Damar ke jadwal kamu," jawab Santo. "Tapi terlalu cepat, Pa. Hari ini Cika hanya mau ke pengadilan terus dengerin Jaksa penuntut umum bacain surat dakwaan saja di persidangan jam sembilan nanti. Terus Cika mau jemput teman Cika untuk ke pulau a, kita ada kegiatan di sana, penting banget." "Ha? udah Papi bilang ke Pak Damar." Santo menggaruk pelipisnya. "Yaah, kok bilangnya hari ini sih, batalin-batalin, jadwal Cika lebih penting loh." Cika tidak ingin hari ini dia pergi menemui pria tadi malam yang datang ke rumah mereka. "Cika-" "Papi, ingat, anak Papi dan Mami cuma satu, Cika doang. Entar kalau Papi dan Mami udah bangkotan tuaan terus rambut putih, jalan udah nggak benar, siapa lagi yang lihat Papi dan Mami kalau bukan Cika? yah kali aja Papi punya anak diluar nikah gitu ama selingkuhan atau istri siri misal?" Cika tersenyum manis ke arah ayahnya. Santo merasa bahwa lidahnya telah terlipat-lipat lalu dilem dengan lem super korea. Punya anak perempuan gini amat. Pintarnya tidak ketulungan tapi cerewetnya minta ampun tujuh turunan. "Ya udah deh, Papi ikut mau kamu." Santo pasrah. "Papa kamu mau main belakang? main aja nggak apa-apa. Jangan salahkan Mami kalau Papi kamu duluan bertemu malaikat maut." Ibu Cika melirik ke arah suaminya. "Dira, kamu ini kayak nggak tau anak kita saja. Mulutnya itu besar, jadi bicara ngaur," ujar Santo. "Hum." Dira, sang ibu dari Cika hanya menyahut. °°° Ghifan bekerja tanpa ada yang berani mengganggunya. Bahkan saat Rinoi yang ingin mengingatkan jadwal selanjutnya dari sang bos, merasa takut. Nyalinya ciut. Rinoi melirik jam di tangan, sudah jam sepuluh. Seharusnya jam ini, dia dan sang bos dan Tuan Kao pergi ke pulau a lalu melihat-lihat restoran barang setengah jam lalu makan bersama dengan Tuan Kao. Namun, sang bos terlalu giat dan serius bekerja. Rinoi menarik napas lalu mengembuskannya, hal itu dia lakukan sebanyak tiga kali. Setelah mengumpulkan keberaniannya, Rinoi mengetuk pintu kaca ruang kerja sang bos. Tok tok tok. Pintu memang berbunyi. Namun, Ghifan belum mempersilakan sekretarisnya masuk. Rinoi mengetuk lagi pintu kerja Ghifan. Ghifan, "...." sibuk melihat laptopnya. Rinoi hanya bisa berusaha sabar. Sabar, sabar. Ini adalah cobaan kerja. Rinoi mengetuk lagi. Tok tok tok. Ghifan berhenti mengetik di keyboard laptop lalu melihat ke arah sekretarisnya. "Kalau mau masuk ke ruangan saya, masuk saja." Rinoi, "...." lah? Para bawahan Ghifan melirik penuh simpati pada Rinoi. Bos mereka hari ini berbeda dengan bos mereka seperti sebelumnya. Aura nya terlihat tidak enak melihat keberadaan mereka. Ah, tiba-tiba mereka semua memutuskan berjanji untuk tidak lagi bergosip sembarangan tentang bos mereka. Jika saja bos besar pensiun dan menyerahkan tumpuk kekuasaan Farikin's Seafood pada bos Ghifan, maka mereka pasti akan dibuat sengsara karena sudah sembarangan menggosipkan bos mereka ini. Rinoi membuka pintu lalu dia masuk. "Maaf, Pak Ghifan, saya mengganggu kerja Anda, tapi ini adalah jam janji Anda dengan Tuan Kao untuk pergi ke pulau a dan melihat restoran di sana, sekalian makan siang bersama," ujar Rinoi. Ghifan melihat serius ke arah sekretarisnya. "Kenapa tidak mengingatkan saya lebih awal?" Rinoi, "...." hanya menggaruk tengkuknya. Bagaimana bisa mengingatkan Anda lebih awal? toh Anda saja tidak mendengar berulang kali saya mengetuk pintu kerja Anda. Batin Rinoi. Perasaan tadi padi juga pas baru masuk kantor dia sempat menyinggung pertemuan makan siang antara bos dan Tuan Kao. °°° Ponsel Syarastini berdering, hal ini yang membuat Syarastini sedari tadi menunggu telepon sang teman, langsung mengangkat panggilan itu. "Halo, Cika." "Ayo keluar rumah, aku di depan gerbang rumah kamu." Suara Cika terdengar. "Baik, tunggu sebentar." Syarastini menutup panggilan lalu dia keluar kamar meraih tas selempangnya. Dia berjalan ke arah mobil Cika yang sedang parkir tepat di depan gerbang rumahnya. Syarastini membuka pintu depan lalu duduk. "Udah jam sepuluh lewat, maaf telat, tadi jaksa penuntut umum terlambat masuk ruang sidang. Katanya ada kecelakaan di jalan, jadi macet," ujar Cika. "Iya, tidak apa-apa." "Hari ini kita ke pelabuhan c saja, terus naik speedboat ke pulau a. Nanti mobilnya kita kasih tukang parkir khusus jagain, biar bayar lebih, entar pulang baru pake mobil lagi." "Ya. Em, mobil kamu udah jadi yah, nggak mogok lagi." Syarastini melihat isi mobil Cika. "Iya dong. Baru keluar bengkel ini, kan hari ini kita mau ketemuan pujaan hati, acie ciee." Cika terbahak. Blush. Wajah Syarastini memerah. Beberapa saat kemudian mereka sampai ke pelabuhan yang dimaksud. "Ramai," ujar Cika. "Ah, mana banyak orang, rebutan sewa speedboat lagi, ck!" Cika merasa kesusahan untuk mencari tumpangan ke pulau a karena banyaknya orang yang berebut naik speedboat. Mata Cika jelalatan ke arah sekitar pelabuhan, dia melihat sebuah speedboat yang tidak ada orang sama sekali, hanya ada si pembawa dan satu orang pria yang duduk, tanpa pikir panjang, Cika menarik tangan Syarastini lalu berlari ke arah speedboat itu dan …. Bruk! "Aah!" "Aduh …." "Tini?" "Ah, Rinoi … itu …." "Halo Tuan Nabhan." °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD