Chapter 19

1680 Words
"Hari ini hari apa, sih?" tanya Gaishan. "Kak Gaishan udah lama nggak kerja jadi udah lupa hari, mentang-mentang jadi bos." Bushra menyindir sang kakak. "Bukan gitu, cuma Kak Gaishan males lihat kalender, tanya ke kamu kan apa salahnya," balas Gaishan. "Hari rabu, Kak," jawab Bushra. "Udah aku tebak. Hari ini pasti hari rabu." Gaishan manggut-manggut. Bushra, "...." Bushra hanya berusaha sabar melihat ke arah sang kakak sulung. "Kalau tau hari, nggak usah sok-sokan tanya ke orang." Busran mencibir. "Gaishan ngidam, Pa. Pengen nanyain hari apa ke orang-orang, biar hati senang gitu," balas Gaishan. Busran, "...." hanya bisa berusaha untuk tidak mengumpat. Ngidam, ngidam dan ngidam. Demi cucunya, Busran rela tahan amarah. Melihat sang ayah yang tak dapat berkutik, membuat Gaishan senyum penuh kemenangan. Ayo, siapa lagi yang berani lawan aku? aku sekarang lagi ngidam! batin Gaishan senang. Ghifan yang duduk di sebelah kiri sang adik perempuan, hanya cuek. Dia sekarang tak mau mencari masalah dengan kakaknya, sebab sekarang sang kakak sudah punya tameng dan benteng kokoh yang melindungi dirinya dari semua amukan orang, termasuk sang nyonya rumah yaitu ibu mereka. Benteng itu adalah calon ponakan nya yang sekarang baru usia beberapa minggu di dalam perut kakak iparnya. "Tumben kamu diam-diam macam orang sedang dirundung masalah," celetuk Gaishan ke arah Ghifan. Nah, Gaishan sudah mulai cari gara-gara dengan adik kembarnya. Ghifan cuek, dia mengabaikan Gaishan. Ghifan mengambil roti bakar di atas piring, lalu mulai mengunyah. "Om Ghifan … dedek ponakan kamu yang imut ini mau dengar suara Om." Semua orang, "...." diam lalu melirik serentak ke arah Gaishan yang sedang bertongka dagu di atas meja makan sambil melihat ke arah kembarannya. Wajah Ghifan berubah ngeri bercampur jijik setelah melihat tingkah aneh kembarannya. Ghifan langsung berdiri dari kursi masih memegang roti bakar lalu berkata, "Ma, Pa, Ghifan duluan ke kantor. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam, nggak sarapan dulu? kan masih belum waktunya jam kantor," balas Gea. "Nggak ah, Ma. Ghifan mau muntah lihat wajahnya Gaishan. Makin hari makin aneh," jawab Ghifan. Gea melirik ke arah anak sulung yang masih pada posisinya. Memang tidak bisa dia pungkiri bahwa sang anak sulung makin hari makin aneh. Bugh! "Aduh, Sayang. Sakit sekali." Gaishan mengaduh sakit karena Fathiyah menghantam perutnya. "Duduk baik-baik, jangan seperti banci." Gertak Fathiyah. "Ok, aku imut jadi aku nurut," balas Gaishan. Fathiyah, "...." Suaminya ini memang sudah gesrek otaknya. Mulutnya sudah seperti perempuan busuk, sekarang tingkahnya macam anak kecil yang pecicilan. "Shan, kamu jangan bikin aneh-aneh yah, Papa jijik lihat kamu," ujar Busran. Gaishan dengan serius melihat wajah sang ayah, "Pa, ini bukan mau Gaishan. Entah mengapa sekarang Gaishan suka jahil dua kali lipat dari sebelumnya. Tadi saja pas pagi-pagi sekali, Gaishan sembunyiin sebelah sepatu dari salah satu bodyguard kita yang sedang sholat di mushola. Emang dosa sih ngelakuin itu dan Gaishan juga udah berusaha untuk nahan diri agar jangan buat yang aneh-aneh, tapi hati Gaishan nggak senang dan nggak tenang gitu, rasa kayak ada yang cakar-cakar hati Gaishan. Pas abis sembunyikan sepatu bodyguard itu, Gaishan rasa nyaman dan tenang, balik tidur lagi. Coba Papa jelaskan, ada apa dengan Gaishan yang adalah anakmu ini? coba Papa ingat-ingat, waktu Mama hamil Gaishan, Papa lakuin apa aja buat bikin diri Papa senang?" Semua orang, "...." Bushra dan yang lainnya menjatuhkan rahang bawah mereka. Penjelasan Gaishan ini panjang lebar kali tinggi. Tanpa rasa bersalah dengan santai dan lugasnya Gaishan mengakui dosa yang telah dia perbuat tadi pagi pas saat para bodyguard solat subuh. Pelayan yang berada di dapur tak tahu apakah harus tertawa ataukah menangis. Sebab, dia kasihan melihat salah satu bodyguard yang mondar-mandir ke sana ke mari untuk mencari sesuatu di sekitar mushola belakang dengan hanya memakai sepatu kanan. Fathiyah tak dapat mengatakan apa-apa terhadap pengakuan suaminya. Dia memang beberapa hari ini juga seperti sang suami. Jika keinginannya tidak terpenuhi, dia akan merasa tidak senang dan ada seperti yang mencakar hatinya, jika keinginan itu sudah terpenuhi maka dia bisa merasa senang. Sebagai contoh, dia sering melarang suaminya untuk tidur bersamanya. Hal itu dia lakukan karena ngidam. Jadi, apakah sekarang mereka berdua dalam fase ngidam? Fathiyah menunduk melihat ke arah perutnya. "Pagi ini aku bangun dengan perasaan senang, tidak mual lagi seperti biasanya," gumam Fathiyah. Fathiyah dan Gaishan saling melirik begitu pula dengan Busran dan Gea, mereka juga saling melirik. "Sayang, itu … kayak aku dulu," gumam Busran ketika dia sadar diri bahwa dulu dia juga sering jahil saat istrinya hamil anak kembar. "Kamu dulu jahil nyuri popok Alamsyah," balas Gea. "Sayang, tolong yang bagian nyuri popok Alamsyah itu diskip," ujar Busran. "Heum." Gea mendengkus pelan. "Jadi itu Gaishan?" tanya Busran. "Jadi apa lagi? memang benar dia ngidam. Tahan emosi aja. Nanti kasih pemberitahuan, apa yang hilang atau ada apa-apa suruh sabar saja, nanti diganti. Mood Gaishan lagi tidak stabil," ujar Gea. "Ok." Busran mengangguk. °°° Di dalam mobil, Ghifan masih bergidik ngeri mengingat tingkah aneh kembaran nya. "Memang orang yang sudah menikah itu makin hari bukan tingkah laku mereka semakin dewasa, tapi semakin hari semakin tidak karuan, absurd dan lebih menyebalkan. Contohnya saja seperti Gaishan." Ghifan mengendarai mobilnya keluar dari garasi, lalu mobil itu keluar dari gerbang rumahnya setelah bodyguard membuka pintu semi otomatis. "Makin hari makin tidak beres," gumam Ghifan. "Orang yang menikah memang berbeda dengan yang belum menikah," gumam Ghifan lagi. "Orang yang belum menikah itu masih stabil dan waras." "Jika menikah membuat aku tidak waras, lebih baik tidak usah menikah." Ghifan bermonolog sendiri dengan dirinya. Dia tidak sadar bahwa dia telah membuat kalimat bahwa dia tidak usah menikah. Mari kita lihat di kedepannya apakah Ghifan memegang teguh ucapannya ataukah hanya zonk belaka alias kosong. Setengah jam mengendarai mobilnya ke kantor, dia sampai di depan gerbang kantornya, ternyata hari ini sekretarisnya sudah lebih dulu memasuki gerbang kantor. Itu terlihat sekarang, karena Ghifan berada di belakang motor Thunder milik Rinoi. Melihat motor milik Rinoi, entah mengapa ingatan Ghifan mengingat lagi hal kemarin. Hal yang membuat moodnya tidak baik secara tiba-tiba tanpa angin dan hujan yang menerpanya, tidak senang hatinya. Apakah mungkin karena dia melihat Syarastini melihat ke arah motor milik Rinoi dengan tatapan memerah merona dan malu-malu? "Benar sekali, orang jatuh cinta itu tidak waras!" suasana hati Ghifan tiba-tiba turun nol derajat Celcius. "Aku tidak akan jatuh cinta. Hal seperti itu omong kosong." Ghifan mulai bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan jatuh cinta karena hal itu omong kosong, lalu mari kita lihat di kedepannya, apakah Ghifan masih memegang teguh ucapannya ini. Tiba-tiba Ghifan tidak ingin memarkirkan mobilnya di tempat parkir, dia langsung saja berhenti di depan pintu perusahaanya lalu turun, meninggalkan mobilnya di depan pintu. Tidak ada yang berani komplain, sebab Ghifan ini adalah anak bos. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Ghifan ini, tiba-tiba wajah Ghifan tidak enak dilihat. Orang-orang yang biasanya disapa dan menyapa Ghifan, kini takut untuk menyapa Ghifan. Terlebih lagi karyawan atau anak buah yang bekerja langsung di bawah Ghifan, devisi keuangan. Mereka saling melirik setelah melihat wajah Ghifan yang mendung dan tiba-tiba dingin tidak ramah seperti sebelumnya, setelah saling melirik dan memahami diam-diam, nyali mereka untuk masuk ke ruang kerja mereka tiba-tiba ciut. Keringat dingin membasahi dahi dan pelipis mereka di pagi hari ini. Mereka saling dorong mendorong agar ada yang masuk lebih dulu ke dalam ruang kerja mereka yang merupakan dinding kaca itu. "Selamat pagi, Pak Ghifan," sapa Rinoi. Ghifan berjalan masuk ke ruang kerjanya tanpa melihat ke arah Rinoi. Entah apa yang sedang dia pikirkan, hari ini suasana hati Ghifan tidak dapat ditebak. Rinoi yang menunggu balasan sapaan dari sang bos, hanya melihat bingung ke arah Ghifan. Bos sepertinya … marah, batin Rinoi. Sementara itu para karyawan devisi keuangan masih saling dorong, jika saling dorong biasanya memperebutkan sembako murah meraih, ini saling dorong agar siapa yang masuk lebih dulu ke ruang kerja mereka. Ghifan duduk di kursinya, tanpa lama dan membuang waktu, dia melihat isi mejanya, semua pekerjaan telah dia selesaikan kemarin, namun ada surat dan berkas baru yang masuk namun masih di meja kerja Rinoi. Rinoi belum sempat memberikan berkas itu ke meja bosnya karena dia belum memeriksanya, dan juga dia sedang sibuk mengubah dan menambah jadwal kerja sang bos. "Rin, ada berkas dan file yang masuk untuk saya?" tanya Ghifan, suaranya terdengar datar tanpa nada ramah. "Ada, Pak." "Berikan pada saya," pintah Ghifan. "Itu, belum saya periksa, Pak," ujar Rinoi. Ghifan membuka laci mejanya tanpa melirik ke arah Rinoi, "Tugas kamu sebagai sekretaris saya apa saja?" "Memeriksa berkas yang masuk dari semua devisi, membantu menyiapkan laporan, mengatur jadwal kerja Anda-" "Lalu berkas yang masuk kenapa belum kamu periksa?" potong Ghifan. "Saya dapat kabar dari asisten Tuan Kao, hari ini Anda dan Tuan Kao akan ke restoran Farikin's Seafood di pulau a untuk melihat atau tour restoran di sana dan sekaligus makan siang bersama Tuan Kao," ujar Rinoi. "Periksa berkas yang masuk untuk saya sekarang, saya ingin kerjakan." Perintah Ghifan. "Baik, Pak." Rinoi menyahut dengan cepat. Dia langsung mulai memeriksa berkas dan laporan yang masuk. Sudah dia duga, suasana hati sang bos tidak senang. Baru kali ini bosnya terlihat agak sensitif. Perasaan beberapa bulan lalu, saudara kembar bosnya ada masalah besar, bosnya tidak terlihat sesensitif seperti ini. Mungkin bosnya ada masalah besar. Pikir Rinoi. Sementara di luar, para karyawan lebih takut masuk ke ruangan setelah mendengar ucapan acuh dan tatapan Ghifan pada Rinoi. Mereka tahu, kemarin mereka telah bergosip yang tidak-tidak tentang bos mereka. Apakah ada yang memberitahu manager keuangan bahwa mereka telah bergosip? Jika itu memang benar, maka habislah mereka. Wajah manager keuangan tidak baik. Seperti tidak senang terhadap siapa saja. Benar kata orang, tingkat kesabaran orang itu berbeda-beda. Dari dulu sang bos tidak merasa marah atau tersinggung dengan mereka, mungkin sekarang bos mereka sudah muak dengan tingkah laku mereka yang suka bergosip layaknya mulut perempuan busuk. "Jika tidak mau kerja, pulang saja." Suara Ghifan terdengar. Bruk! Terjadi saling dorong mendorong dahsyat. Para karyawan berebut masuk. Bendahara yang baru saja tiba, melihat penuh kebingungan ke arah karyawan yang berlomba-lomba masuk ruang kerja. Dia melihat jam tangan di pergelangan kiri, masih belum terlambat kerja. Ah, sudahlah, dia tidak mau ambil pusing. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD