Chapter 18

1636 Words
Setelah makan malam, Syarastini mengunci pintu kamar lalu dia meraih ponselnya. Seperti biasa dia akan melihat kotak pesan yang dikirim oleh Rinoi, namun sebuah telepon masuk. 'Cika.' "Halo, Cika." Syarastini mengangkat telepon. "Tini, kamu tadi pergi lihat si Tuan Nabhan itu nggak?" Cika langsung menanyakan inti dari tujuan dia menelepon Syarastini, dia tak perlu pakai embel-embel atau basa basi, bukan gayanya. "Tadi sore pas pulang kerja," jawab Syarastini. Dia tersenyum malu-malu. Dia sempat melihat mobil Ghifan berhenti sebentar lalu melaju lagi. "Nah, udah kamu kasih lihat mukamu belum?" tanya Cika, di seberang dia sedang asik makan keripik kentang di atas kasurnya sambil tidur tengkurap. Wajah Syarastini berubah agak layu, "Belum." "Heiiisss! udah dibilangin tunjukin muka kamu ke si Tuan Nabhan itu biar dia lihat kamu. Kalau kamu main sembunyi-sembunyi terus, mana bisa dia lihat kamu? entar dia keburu diambil orang lain loh." Cika merasa geregetan dari seberang. Dia menggigit keripik kentang yang renyah itu dengan gigitan seolah dia sedang menggigit daging. "Um … aku belum berani …," ujar Syarastini. "Aduh Tini, dari yang aku lihat, kamu ini suka banget pantau dia dari jauh, dan dari yang aku lihat juga, si Tuan Nabhan itu seperti tidak menggubris kamu. Cobalah melakukan sesuatu agar kamu berkesan di matanya, lama-lama kalau sudah berkesan di mata nanti turun ke hati, seperti kata pantun ini, dari mana datangnya linta? dari sawah turun ke kali, dari mana datangnya cinta? dari mata turun ke hati. Eaaaakk! keren, kan?" Cika terlihat heboh sendiri dengan pantun ala kadarnya itu. Syarastini terkekeh geli. "Tanyain ke si Rinoi, dia sebenarnya kerja di bidang apa? eh? dia kan akuntansi manajemen, nah, kayaknya dia nggak jauh-jauh itu kerja di bidang keuangan. Lalu bilang, kamu kemarin ikut Pak Ghifan itu, ada apa? tanya gitu. Kalau dia jawab, nah kamu tanyain lagi, ruang kerja kalian dekat? kalau dia jawab, nah tinggal kamu inisiatif tanya aja apa yang pengen kamu tanya, siapa tau aja si Rinoi itu ekor si Tuan Nabhan, makanya kemana dia pergi si Rinoi ikut, buahahahah bisa ae jadi ekor." Cika terbahak-bahak tak karuan di atas kasur hingga keripik kenangan yang berada di bungkusan menjadi tumpah dan berserakan di atas kasur. Syarastini hanya terkekeh malu, dia ingin bertanya sesuai dengan anjuran yang diberikan oleh Cika, namun dia masih agak segan, karena selama dua tahun ini, dia telah bertanya terus jadwal kerja dari Rinoi. "Aku ingin tanya, tapi … apakah Rinoi tidak marah?" tanya Syarastini. "Hum … yah bilang aja kamu ingin tahu gitu supaya bisa lebih sering tahu jadwal kerja si Tuan Nabhan," balas Cika. "Tapi aku belum bilang ke Rinoi kalau aku suka dengan Ghifan," ujar Syarastini. "Huum … Tini." "Ya?" sahut Syarastini. "Sepertinya kita harus adakan pertemuan penting," ujar Cika. "Pertemuan penting?" Syarastini mengerutkan keningnya. "Iya, pertemuan penting." "Tapi untuk apa?" tanya Syarastini sambil mengerutkan keningnya. "Untuk membicarakan mengenai rencana kamu agar si Tuan Nabhan itu lihat keberadaan kamu. Kalau dengan Rinoi, kayaknya bagus tuh, kan si Rinoi satu kantor sama dia," jawab Cika. "Um … memangnya bisa yah kita ketemuan bertiga?" Syarastini terlihat agak ragu. "Ya bisa lah Tiniku sayang. Bisa banget, malah itu lebih baik, aku juga bisa mepetin si Rinoi buat pedekate. Siapa tau aja dia belum punya cewek, eaak. Jadi aku bisa gaspol deh, hahaha!" Cika terbahak senang. Dia sudah mulai halu tentang pertemuan mereka bertiga. Syarastini terlihat berpikir. "Jika ingin ketemuan dengan Rinoi. Jangan mengganggu jam kerjanya. Aku takut kita akan mengganggu jam kerja Rinoi." "Nggak sama sekali lah. Aku juga kerja. Nanti kita cocokan saja jadwal kita. Entar aku lihat jadwal, kapan hari yang pas gitu, nah aku kasih tahu kamu terus kamu kasih tahu Rinoi, minta ketemuan gitu. Lalu kita paspol deh ke mana gitu." "Hm. Ok." Syarastini mengangguk mengerti. "Hum, lebih cepat lebih baik. Biar cepat kan. Bisa untung juga, kamu bisa cepetan dilihat si Tuan Nabhan itu dan aku bisa gaet si Rinoi, hahaha!" Syarastini tersenyum, wajahnya memerah tersipu malu. "Nah, sekarang tanya aja ke Rinoi. Besok dia kerja apa gitu, jadwal apa gitu, terus sama siapa, cepetan, aku tunggu. Kali aja besok ada kesempatan kan." Cika mendesak Syarastini untuk segera bertanya pada Rinoi. "Iya." "Ok, aku matikan," ujar Cika. "Ya." Cika mematikan telepon. Dia tertawa senang. "Tadi malam aku telpon dimatiin. Sekarang nomor aku kamu blokir, nah, awas yah, belum tau Cika nih. Kemampuan super cepat bicara alias bacot, hahaha!" Cika tertawa setan. "Cika, kamu sudah mulai kerasukan, yah?! Papi ada tamu." Suara sang ibu terdengar. "Ups, sorry, Mi." Setelah telepon Cika dimatikan, Syarastini melihat kotak pesan. Dia mulai mengirimkan pesan pada Rinoi. 'Rin, besok kamu masuk kantor seperti biasa, kan?' Pesan terkirim. Di dalam kamar Rinoi. Rinoi sedang serius melihat-lihat berkas kantor yang ada di laptopnya. Dia harus menyusun jadwal kerja dari Ghifan. Sebagai sekretaris dari manager keuangan, dia cukup punya banyak pekerjaan. Semua berkas dari revisi masuk melewatinya lalu dia akan sampaikan pada Ghifan, termasuk berkas dan pesan dari kantor pimpinan–Busran. Kling. Ponselnya berbunyi. Rinoi yang sedang serius itu melirik ke arah ponsel. Dia meraih ponselnya lalu melihat nama pengirim pesan. Tini. Tiba-tiba tubuh Rinoi kaku, dia mengingat lagi ucapan dari bosnya. Apakah sebenarnya Syarastini ini ingin tahu jadwal kerja dari pria yang dia sukai ataukah jadwal kerjanya yang sekarang menurut bosnya bahwa Syarastini menyukainya? Agak lama Rinoi melihat isi pesan yang dikirim oleh Syarastini. Setelah berpikir, Rinoi mulai membalas pesan. 'Ya, aku masuk kantor seperti biasanya.' Terkirim. Pesan masuk ke ponsel Syarastini. Setelah membaca pesan Rinoi, Syarastini mulai mengetik pesan lagi. 'Apakah kamu punya jadwal khusus? seperti kemarin aku melihat kamu berjalan bersama Tuan Nabhan.' Pesan masuk ke Rinoi. Setelah Rinoi membaca pesannya, dia berpikir. Rinoi melihat jadwal kerja Ghifan yang kebetulan dia ubah dan tambahkan untuk besok. Melaporkan laporan saham, pergi melihat restoran dan pergi makan siang dengan Tuan Kao. Rinoi mulai berpikir, apakah Syarastini ingin tahu lebih detail lagi jadwalnya apa? Rinoi agak ragu, dia belum mempercayai sepenuhnya ucapan dari Ghifan ketika tadi makan siang. Jika memang benar bahwa Syarastini menyukai dia, maka Rinoi ingin tahu alasannya apa. Rinoi mulai membalas pesan. 'Besok aku akan menemani Pak Ghifan untuk pergi melihat restoran milik Farikin's Seafood di pulau a, lalu akan bertemu Tuan Kao di restoran itu dan makan siang bersama.' Syarastini yang sedang menunggu pesan balasan dari Rinoi, dia berusaha sabar. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesan masuk. Setelah dia membaca pesan Rinoi baik-baik, bahkan dibaca tiga kali, senyum senang muncul di bibir Syarastini. Setelah dia bereuforia dalam satu menit, Syarastini menelepon Cika. Di rumah Cika. Cika mengintip dari pintu kamar ke arah ruang tamu. Wujud muka dari tamunya adalah seorang pria. "Bisa ditangani, Pak. Kasusnya tidak terlalu berat, kok," ujar ayah Cika. "Baik, Pak San, saya berharap lebih pada Bapak. Jika bisa diselesaikan secara kekeluargaan masalah ini, maka selesaikan saja. Kalau ke pengadilan maka akan buang waktu dan tenaga lagi. Biaya sesuai dengan dikontrak kami," balas pria itu. "Ok, baik." Ayah Cika mengangguk. "Ah, ini sudah agak larut juga, sudah hampir jam sembilan, saya permisi. Mari, Pak San, Ibu." Pria yang merupakan salah satu klien dari ayah Cika itu hendak pamit. "Iya, Pak. Mari, hati-hati di jalan," balas ibu Cika. "Iya, Bu. Permisi." Pria itu keluar dari rumah Cika. "Iya," sahut ibu dan ayah Cika. Setelah orang itu pergi, ibu Cika melirik ke arah suaminya. "Kasus apa itu, Pi?" "Dia orang baik. Tapi dijebak karyawan sendiri di kantornya. Kalau mau damai memang mereka mau damai, tapi katanya harus nikahin anak perempuan mereka. Nah, dari situ ada indikasi yang mencurigakan. Mau damai tapi harus nikah, jadi tujuan mereka akan tercapai jika anak perempuan mereka nikah," jawab ayah Cika. "Oh begitu. Lah, kayak jual anaknya." Ibu Cika mencibir. "Cika," panggil ayah Cika. "Hum?" Cika menyahut dari celah pintu. "Sini." Ayah Cika menunjuk ke arah sofa di depannya agar anaknya itu duduk. Cika berjalan ke arah ruang tamu. "Apaan, Pi?" "Kasus ini kamu yang tangani," ujar ayah Cika. "Ah, ogah." Cika langsung menolak kontan. "Bayarannya gede." "Ah, jadwal sidang aku banyak. Ini aja lagi berdoa biar kasus-kasus selesai," balas Cika. Dia masih menolak kasus baru. "Loh. Tumben sekali kamu nolak kasus bayaran gede? lagian kan kamu memang suka bersilat lidah di pengadilan." Ibu Cika melirik penuh kecurigaan pada anaknya. "Cika mau irit kerjaan. Soalnya dalam dekat-dekat ini Cika mau mepetin cowok target Cika." Lugas sekali jawaban dari sang anak. "Ah, ternyata anak kita sudah mulai cari target cowok, yah Pi." Ibu Cika merasa senang. Ayah Cika, "...." "Jika bisa kamu selesaikan secara damai kasus ini, bayaran lima ratus juta bakal jadi punya kamu." "Ok, aku ambil kasusnya. Telepon sekretaris Papi, kasih masuk jadwal kasus ini di punyaku." Ayah dan ibu Cika, "...." uang lebih dari apapun. Setelah memutuskan itu, Cika masuk ke kamarnya, ternyata ponselnya baru saja berkedip. "Eh? ada telepon?" Cika pergi ke kasur lalu melihat ponselnya, dua panggilan tak terjawab dari Tini. "Hii Tini telepon!" Cika buru-buru menelepon balik Syarastini. Di kamar Syarastini. "Yah, tidak diangkat." Syarastini hendak meletakan ponsel di atas nakas, namun telepon dari Cika telah masuk. "Oh, telepon balik." "Halo, Cika." Syarastini mengangkat telepon dari Cika. "Maaf, tadi ada tamu, biasa Papi kedatangan klien. Kasusnya oper ke aku, kalau menang aku dapet duit setengah milyar." "Wah, itu bagus. Semoga menang." Syatastini turut senang. "Aamiin. Makasih Tin." "Ya, sama-sama," balas Syarastini. "Ah, lupa, tadi telepon ada apa? si Rinoi sudah jawab?" tanya Cika, dia tersadar bahwa arah pembicaraan mereka hampir melenceng. "Sudah," jawab Syarastini. "Gimana jadwal besoknya?" "Besok Rinoi dan Ghifan akan makan siang di restoran Farikin's Seafood di pulau a," jawab Syarastini. "Nah, kan! besok aku ikut!" "Baik," sahut Syarastini. "Biar kamu nggak gemetaran lagi, besok aku jemput kamu di rumah, kita langsung ke restoran Farikin's Seafood di pulau a aja biar cepet." "Baik," sahut Syarastini. "Ok, aku mau tidur. Kabar baik banyak banget hari ini, hahahah!" Cika terbahak senang. "Baik. Dadah," ujar Syarastini. "Yoi." Telepon diakhiri. Syarastini tersenyum senang. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD