Meskipun hanya melihat sekilas Ghifan pulang dari kerja, hati Syarastini sudah cukup senang. Dia menginjak gas lalu mengendarai mobilnya pulang ke rumah.
Sementara di dalam mobil, Ghifan merasa tidak begitu mood. Dia merasa bahwa ada yang mengganjal di hatinya, namun dia tidak tahu apa itu.
Alhasil, dia mengendarai mobil dengan perasaan aneh pulang ke rumah.
Sampainya di rumah, Ghifan tidak seperti biasa yaitu menegur atau membalas sapaan dari pelayan, dia langsung berjalan ke arah dapur dan meneguk segelas penuh air mineral.
"Oh, aku kurang minum," gumam Ghifan.
Ya, Ghifan, kamu kurang minum dan kurang peka.
Ghifan ingin jalan-jalan ke belakang rumah, dia ingin melihat taman saja, dia ingin rileks barang sebentar.
Namun, saat dia baru ingin duduk di gazebo, terdengar suara dari sang kakak.
"Sayang, kelapa muda ini rasanya enak. Aku kok suka makan tempurungnya, yah? lunak dan enak," ujar Gaishan.
Fathiyah yang sedang duduk sambil menyeruput air kelapa muda langsung dari lubang kelapa muda, dia mengangguk.
"Tapi airnya lebih enak," balas Fathiyah.
"Ah, tapi aku kok rasa mual yah kalau minum airnya, mending makan batoknya. Enak, lunak, terus rasanya gurih," balas Gaishan tak mau kalah.
Ada satu orang bodyguard yang bertugas untuk membelah dan satu orang pelayan berumur lima puluhan yang menyisir daging kelapa muda, dan memisahkan batok lunak kelapa muda untuk dimakan Gaishan.
"Tuan Gaishan, itu berarti Anda sedang ngidam," ujar wanita paruh baya itu.
"Ah? Bibi nggak bohong, kan?" mata Gaishan melotot, dia mengunyah semua batok kelapa muda lunak yang ada di tangan kanannya lalu mulai meraih lagi batok kelapa muda lunak lainnya.
Bibi pelayan itu mengangguk, "Benar. Bukankah tadi pagi Nyonya Gea bilang bahwa Tuan Busran juga ngidam saat hamil Tuan Gaishan dan Tuan Ghifan? hal seperti itu sebenarnya benar. Bukan hanya ingin makan sesuatu saja yang dikatakan ngidam, seperti sekarang ini yang Anda lakukan, tetapi ngidam itu juga ingin melihat sesuatu atau melakukan sesuatu, misalnya, Anda ingin melihat seseorang bernyanyi atau Anda ingin naik ayunan agar senang hatinya. Nah, selesai melakukan itu maka hati pun senang, karena ngidam telah terpenuhi," jawab bibi pelayan.
"Waah, berarti tadi malam saya ngidam, dong, Bi," ujar Gaishan.
"Memangnya Tuan Gaishan tadi malam ngidam mau apa?" tanya Bibi pelayan dengan nada penasaran. Dia memasukan sedotan ke lubang batok kelapa muda dan memberikan kelapa muda pada Fathiyah, sedangkan bodyguard sedang mengambil kelapa muda yang lebih muda agar batok kelapa muda lunak dapat dimakan oleh Tuan mudanya yang sedang ngidam ini. Sebagai manusia, dia juga penasaran seperti apa ngidam tuan mudanya tadi malam. Mungkin saja jika dia menikah, dia bisa mencari pengalaman dengan mendengarkan curhatan tuan mudanya.
Tanpa wajah berdosa Gaishan menjawab, "Tadi malam saya ngidam pengen uh ah uh dengan istri saya."
"Aduh!"
Bodyguard hampir memotong jarinya sendiri karena merasa kaget dengan jawaban dari majikannya.
Sedangkan bibi pelayan tidak tahu apakah harus tertawa ataukah menangis.
Bugh!
"Aauuh, Sayang, jangan tonjok di bibir, di rahang saja. Kalau bibir nanti nggak bisa cipokan sama kamu."
Bugh!
"Ampuun!" Gaishan angkat tangan melambaikan bendera putih yang adalah serbet.
Fathiyah menonjok rahangnya seperti request dari sang suami.
"Pfft!" Ghifan dan beberapa orang yang lewat berusaha untuk menahan tawa.
"Ada-ada aja kelakuannya," gumam Ghifan.
Sekarang dia sudah mulai jujur bahwa dia merasa agak cemburu dengan keharmonisan hubungan absurd sang kembaran.
Mungkin karena umurnya yang sudah matang untuk menikah atau memulai suatu hubungan serius, Ghifan merasa bahwa punya pasangan itu memang penting. Namun, masalahnya, dia tidak tahu harus dari mana memulai sebuah hubungan, dia buta total.
Tak berapa lama setelah kepulangan Ghifan dari kantor, suara Gea terdengar.
"Bi, saya air kelapa muda satu buah dong, gerah banget pengen minum yang segar-segar," ujar Gea.
Dia duduk di gazebo lalu membuka sepatu hak tinggi.
"Baik, Nyonya," sahut bibi pelayan.
Bodyguard bekerja ekstra lagi untuk sang nyonya rumah.
"Saya air kelapa muda lagi, yah." Busran merequest ke arah bodyguard yang sedang membelah kelapa muda.
"Pa, Papa ngidam lagi? perasaan Mama udah umur lima puluh deh, jangan macem-macem mau punya anak lagi. Gaishan sih mau punya dedek bayi lagi, tapi kalau taruhannya Mama, ogah mau." Gaishan mulai mencibir.
Gea memutar bola matanya.
Seorang bodyguard tambahan datang untuk berbagi pekerjaan memotong kelapa muda bagi majikan mereka. Jadi sekarang mereka adalah bodyguard serasa tukang potong kelapa muda.
"Jangan sembarangan kamu. Memangnya kalau Papa ingin minum air kelapa muda, itu harus ngidam dulu baru minum? aneh-aneh." Busran balas mencibir.
"Yah … bukan itu juga … memang Mama nggak hamil, kali aja ada kosong dua yang lagi isi," celetuk Gaishan.
Bugh!
"Adodoohhh!" Gaishan menjerit sakit setelah Busran menghadiahi dia dengan kuncian maut.
"Kosong dua *p****t kamu. Jangan aneh-aneh. Hadepin kosong satu saja Papa kewalahan!" Busran melotot.
"Oh, jadi beneran ada niat bikin dengan kosong dua?" alis Gea terlihat naik-turun.
"Bahahaha, Sayang, dalam hati jiwa raga seorang Busran hanya untuk Gea seorang. Tidak ada perempuan yang masuk mataku. Mereka itu tidak layak. Kamu adalah perempuan yang ditakdirkan bersama denganku di dunia akhirat." Busran meyakinkan istrinya. Dia mencubit perut sang anak sulung.
"Rasakan." Busran melotot ke aeab Gaishan.
"Aaaduuuuhh! Tiaaa Tiaaa, aku dianiaya!" Gaishan berteriak tolong ke arah istrinya.
"Makanya, punya mulut dijaga," balas Fathiyah.
"Hahaha, istri sendiri saja biarkan kamu dianiaya sama Papa." Busran tos dengan Fathiyah yang sedang santai menyeruput air kelapa muda.
Gea yang baru saja menyeruput air kelapa muda itu, juga menaikan jempol pada suaminya.
"Bus, hajar dia sampai nggak tahu arah jalan pulang."
"Aasyiiaap!" Busran bersemangat.
"Aaaamppuuuunn!" Gaishan berteriak di atas paru-parunya.
"Hahahaha." Ghifan terbahak.
Dia berjalan mendekat ke arah keluarganya lalu berkata, "Bibi, saya ingin makan daging kelapa muda saja."
"Baik, Tuan Ghifan."
"Papa, Gaishan lagi ngidam loh sekarang," ujar Gaishan.
"Halah, bohong. Sok-sokan mau ngidam karena tadi dengar Mama kamu cerita, kan?" Busran mencebik.
"Bukan, memang benar. Bi, tolong jelaskan!" Gaishan meminta bibi pelayan untuk menjelaskan.
"Iya, Tuan. Tuan Gaishan katanya mual kalau minum air kelapa muda tapi suka sekali makan batok kelapa muda lunak. Ini saya bukakan dari kelapa untuk Tuan Gaishan." Bibi pelayan menjelaskan.
"Nah, kan. Gaishan sedang ngidam. Awas cucu pertama Papa ileran lagi, bukan salah Gaishan yah, tapi salah Papa yang Kakeknya," ujar Gaishan.
"Heum." Busran mendengkus.
"Udah, Bus lepasin aja. Jangan disiksa lagi, kasihan cucu kita nanti kalau ileran. Aku nggak mau," ujar Gea.
Busran melepaskan kuncian pada tubuh Gaishan.
"Hahaha, enak yah punya istri yang lagi hamil, kita kecipratan keberuntungan." Gaishan tersenyum senang.
Terdengar suara semangat dari seorang pria.
"Gaishan, aku bawain kelapa muda ungu yang kamu minta pengen makan!" suara Jayadi terdengar.
Dia dengan santainya menyuruh bodyguard Nabhan untuk memikul dua tangkai kelapa muda berkulit hijau ke arah taman.
"Nah! Kakak Ipar, datang juga!" Gaishan berdiri lalu cepat-cepat mencium kelapa muda yang masih ada di pundak sang bodyguard.
"Mcuuah!"
Bodyguard, "...." Tuan, saya yang merasa dicium oleh Anda.
"Hahaha, iye dong. Maaf yah agak sedikit telat. Abisnya cari kelapa ungu ini susah banget. Aku ke Tangerang Selatan baru dapat. Ncang Nasir juga mati-matian ikut buat cari, soalnya kata Ncang Atun, kamu lagi ngidam," ujar Jayadi.
"Hehehe, iya nih, Bang, aku lagi ngidam loh, padahal rasanya ngidam seperti ini. Ah Tia, ini kelapa ungu, lihat baik-baik yang ada ungu nya," ujar Gaishan.
"Mana? nggak ada?" Fathiyah melirik ke arah kelapa yang telah diturunkan dari pundak bodyguard.
"Ini, tolong potong satu untuk kasih lihat ke istri saya," ujar Gaishan.
"Baik, Tuan." Bodyguard mulai memotong kelapa muda itu.
"Nah, lihat nih! ujungnya ungu sedangkan yang ini yang tadi kita makan putih aja seperti biasa, beda kan?" Gaishan menunjukan warna ungu pada kelapa muda itu.
"Iya, ungu." Gea dan Fathiyah mengangguk.
"Ini bagus untuk laki-laki juga. Bisa tahan lama di atas ranjang, loh. Kata Ncang Nasir," ujar Jayadi.
Sret.
"Papa setangkai ini." Busran buru-buru menyeret setangkai kelapa muda ungu yang berada di tangan bodyguard lain.
Gaishan tersenyum tanpa menolak, namun dia berkata, "Kelapa muda ini untuk perkembangan bayi, untuk kebutuhan magnesium, potasium, tembaga, anti oksidan, dan sitokinin, bagus untuk kesehatan, Pa. Tapi ini untuk cucu Papa. Terlalu tega jika Papa merebut kebahagiaan punya cucu pertama Papa. Kasihan, nanti cucu Papa kurang gizi loh."
Busran, "...."
"Bus, kembalikan. Punya orang, bukan punya kamu." Gea menggerakan telunjuknya untuk mengembalikan setangkai kelapa muda itu untuk Gaishan.
"Dua buah saja kalau begitu," ujar Busran, dia berusaha menawar.
Gaishan menarik tangkai kelapa muda yang ada sepuluh buah itu.
"Susah cari nya, Pa. Butuh naik turun tiga lembah dan gunung baru dapet. Lebih penting mana? buat Papa atau cucu Papa?" Gaishan menunjuk ke arah perut sang istri, dia juga mengelus-elus perut Fathiyah.
Kyruukk kryuukk.
"Aku mau makan kelapa muda itu." Tiba-tiba Fathiyah buka suara.
"Siap, sayang." Gaishan menarik semua buah kelapa muda dari tangan ayahnya.
Bodyguard memotong satu buah untuknya, Fathiyah mengambil kelapa muda itu dari tangan Gaishan karena dia memilih untuk memberikan kelapa muda untuk istrinya saja.
Setelah menerima kelapa muda ungu itu, Fathiyah melihat ke arah ayah mertuanya lalu memberikan kelapa muda itu pada Busran.
"Eh? itu buat Papa?" tanya Busran.
"Ya. Cucu Papa yang mau kasih," jawab Fathiyah.
Gaishan yang ingin mengomel langsung tutup mulut.
"Heheh, ok. Makasih cucu Kakek Busran." Busran mengambil kelapa muda dengan penuh semangat dan senang.
Fathiyah melirik ke arah Gaishan, "Tiba-tiba aku ngidam, kamu nggak boleh makan kelapa muda ini."
Lah?
"Hahahahaha!" orang-orang terbahak.
"Sayang, aku kan yang suruh Bang Jay cari untuk kamu. Masa kamu tega sih sama aku?" wajah Gaishan memelas.
"Tapi gimana dong? bukan mau aku, tapi ini." Fathiyah menunjuk ke arah perutnya.
Gaishan, "#$%&!" mulutnya komat kamit tidak jelas.
"Jangan suka sumpah serapah, entar anaknya nakal loh kalau lahir," ujar Busran.
"Iya, macam kamu Bus waktu aku hamil Gaishan dan Ghifan, suka kata-katain anak yang belum lahir, bilang belum lahir saya udah nakal, apalagi lahir, nggak ketulungan," balas Gea.
"Oh. Jadi Gaishan nakal ini semua karena ulah Papa, yah!" Gaishan menyalahkan ayahnya.
"Sebelas dua belas mirip sama Papa," ujar Ghifan.
"Memang sama-sama nakal." Ghifan terkekeh.
"Nggak sadar apa, kamu juga produksi Papa." Gaishan mencibir.
"Hahaha, udah udah, ribut terus. Mama marah nih." Gea melotot.
"Ok, Madam. Aku imut jadi aku diam." Gaishan memberi isyarat ok.
"Hahaha!"
"Imut jidatmu." Busran mencibir.
Sore itu adalah sore yang menyenangkan.
°°°