Chapter 16

1566 Words
Ghifan pergi ke kantor dengan perasaan senang luar biasa setelah dia mendengar masa-masa sang ibu sedang mengandungnya. Cerita dari sang ibu sangat membuatnya bersemangat kerja. Ketika dia sampai di tempat kerja, dia langsung terjun dan berperang untuk menyelesaikan tugasnya tanpa banyak rasa bosan. Karena Ghifan terlalu giat dan serius bekerja, Rinoi yang berada di luar kaca ruang kerja Ghifan dari tadi hanya bisa mendongak melirik curi-curi pandang ke arah bosnya yang sedang bekerja bagaikan Rinoi itu sedang merasakan jatuh cinta pada orang yang sedang dia lihat ini. Beberapa karyawan lain yang ada di bilik kaca juga melirik ke arah Rinoi dan bos mereka secara bergantian, termasuk bendahara Farikin's Seafood yang letak ruang kerjanya di samping kiri ruang kerja Ghifan. Mungkin karena melihat gerak-gerik Rinoi yang agak mencurigakan, timbul pemikiran yang tidak-tidak di kepala mereka. Jangan-jangan Rinoi ini naksir pada bos mereka. Hal yang mereka lihat selama setahun ini, sang bos dan Rinoi keluar terus jika makan siang bersama, dan yang lainnya. Sang bos juga tidak pernah memperkenalkan pacarnya pada khalayak umum. Bicara soal pacar, memang mereka sampai sekarang ini tidak pernah tahu kisah cinta dari bos mereka itu. Pasalnya, bos mereka ini tidak terlalu dekat dengan gadis manapun, kalau pun dekat itu hanya sekretaris dari manager lain yang membawa pesan dan berkas. Agak aneh, karena di setiap acara yang dilakukan, bos mereka selalu tampil sendiri saja tanpa didampingi. Sang bendahara melihat wajah Ghifan yang sedang serius mengetik dan mencentang berkas lalu dia menyusunnya menjadi beberapa bagian dan terlihat rapi. Sedangkan ketika dia melihat ke arah Rinoi, pria berusia 24 tahun itu seperti tak fokus kerja dan hanya melirik ke arah Ghifan. Hum, patut dicurigai. Hal ini berlalu hingga jam istirahat. Luar biasa, Ghifan mampu menyelesaikan berkas yang menggunung di meja kerjanya. Dia berdiri dari kursi kerja dan keluar dari ruang kerja, kemudian dia melihat ke arah Rinoi sebelum keluar, "Rin, berkas yang di atas meja saya, nanti serahkan pada Pak Dodik, minta tanda tangan beliau lalu nanti serahkan ke Ibu Gea supaya bisa ditanda tangani oleh Pak Busran, yah." "Ya, Pak Ghifan," sahut Rinoi. Ghifan berjalan ke arah lift, sedangkan Rinoi mengekori dari belakang, "Kamu mau makan siang di kantin?" tanya Ghifan. "Ya, Pak. Di kantin saja supaya hemat waktu," jawab Rinoi. Supaya saya mau sampaikan maaf dari Tini, lanjut batin Rinoi. "Ok, kita ke kantin saja, saya juga mau makan siang." Pintu lift terbuka, dua orang itu masuk lift lalu kembali tertutup. Pas pintu lift tertutup, beberapa karyawan saling mendekat lalu mulailah mereka dengan acara ghibah. "Eh, lihat itu, kan?" tanya karyawan a. "Aku punya feeling aneh," ujar karyawan b. "Ah taulah, aku nggak mau pikir macam-macam," ucap karyawan c. "Bukan kita mau suudzon yah, tapi pernah nggak kalian lihat Pak Ghifan jalan sama perempuan lain?" tanya karyawan a. Yang lain saling melirik satu sama lain lalu mereka serempak menggelengkan kepala mereka, "Tidak pernah." "Nah kan. Ini yang buat kita bertanya-tanya sekaligus suudzon. Kita tau Rinoi itu sekretaris Pak Ghifan, tapi masa ke mana pun tetap bersama?" karyawan a terlihat yakin bahwa ada sesuatu. "Jangan ngaco kalau ngomong, kalian mau ikut campur masalah pribadi Pak Ghifan untuk apa? kita di sini semuanya laki-laki, perempuan di bagian devisi lain, kalian gosip Pak Ghifan sendiri karena apa? ada yang tusuk-tusuk belakang, kan? perasaan dulu kita tidak begini, selalu menghargai Pak Ghifan. Coba pikir, Pak Ghifan itu baik sama kita, sering traktir kita makan setelah selesai hitung-hitung ini itu, sering kasih kita bonus kerja, kalau beliau tahu mulut kalian bicarakan yang tidak benar tentang beliau, pasti Pak Ghifan marah. Kalian tidak malu, yah gosip atasan sendiri? sudah seperti ibu-ibu tukang gosip saja." Salah satu karyawan yang bekerja di bagian revisi keuangan menegur teman-temannya. Mendengar teguran itu, beberapa orang menunduk menyesali perbuatan mereka. "Ini karena gosip karyawan perempuan di sebelah, mereka mungkin tidak pernah melihat Pak Ghifan tertarik sama perempuan, kita tidak lagi bicarakan ini," ujar karyawan karyawan a. Bendahara laki-laki keluar dari ruang kerja, "Kalau Ibu Gea tahu kalian sedang gosip dan fitnah anaknya, ah … bagaimana yah nanti?" Semua orang tiba-tiba menyebar kembali ke kursi mereka, ada yang buru-buru keluar ruangan untuk mencari makan. °°° Ghifan makan makanannya seperti biasa, dia tidak merasa aneh, namun berbeda dengan Rinoi yang sedari tadi tunduk makan lalu mendongak lagi melihat wajah bosnya. "Ada sesuatu di wajah saya?" suara Ghifan terdengar. "Aah … itu …." Rinoi tergagap. Tadinya dia berpikir bahwa mengatakan titipan maaf dari temannya adalah hal mudah, namun sayangnya, kata-kata yang telah dia susun tapi tidak bisa dikeluarkan. Seperti ekspektasi tidak sesuai dengan realita. "Katakan saja ada hal apa? saya bukannya buta tidak melihat kamu dari tadi, saya juga bukannya tidak bisa merasakan pandangan karyawan saya tadi, namun saya merasa bahwa semua orang bebas dengan pendapat dan pemikiran mereka masing-masing selama itu tidak mengganggu saya. Jadi apapun yang mengganggu kamu, katakan saja, saya juga tidak seperti yang beberapa orang kira, saya masih termasuk pria normal." "Tini menitipkan maaf, Pak." Sedetik setelah Ghifan berbicara, Rinoi dengan cepat mengatakan kalimatnya. Hal ini membuat Ghifan berhenti makan dan melihat ke arah Rinoi. "Pak Ghifan, itu … teman saya benar-benar minta maaf dan menyesal atas apa yang terjadi kemarin di restoran. Dia tidak bermaksud untuk mempermalukan Anda, hanya saja … Tini itu memang agak canggung dan dia pemalu … dia tidak biasa bicara dengan orang yang tidak dia kenal … dia jarang bergaul. Itu … em … saya harap Pak Ghifan tidak tersinggung kemarin," ujar Rinoi. Setelah mengatakan ini, dia merasa benar-benar lega seperti tidak ada beban yang duduk di pundaknya. Ghifan diam dalam beberapa detik, lalu suaranya terdengar, "Temanmu itu meneleponmu?" "Tidak, Pak. Kami sering berkomunikasi dengan berkirim pesan," jawab Rinoi. Dia cepat-cepat mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan secara singkat daftar pesan yang dikirim oleh nomor di kontak telepon selulernya. Meskipun kilat, namun Ghifan dapat melihat sekilas isi pesan Rinoi. Rinoi cepat memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku. Ghifan menyendokkan makanan sebelum memasukan sendok itu ke dalam mulutnya, dia berkata, "Kamu yakin dia bertanya padamu karena menyukai orang lain dan bukannya kamu?" Sunyi. "Ha?" Rinoi terdiam membeo. Untuk pemikiran ini, dia tidak pernah ada sama sekali. Toh Rinoi selama bekerja di Farikin's Seafood, dia ingin cepat mengumpulkan uang dan membeli rumah lalu sedikit demi sedikit tapi pasti dia ingin mempersiapkan masa depannya. Untuk urusan hubungan cinta, dia belum berpikir, namun setelah mendengar ucapan bosnya, tiba-tiba Rinoi jadi berpikir ragu, apakah benar Syarastini selama dua tahun ini mengirimnya pesan dan menanyakan jadwal kerjanya, apakah memang untuk mengetahui jadwal kerja dari orang yang disukai oleh temannya itu? ataukah memang Syarastini ada rasa padanya dan menyembunyikan sesuatu? Rinoi diam, dia tidak tahu harus membalas apa. Ghifan dengan santai makan makanan, dia mengunyah dan menelan makanan itu lalu melihat ke arah Rinoi. "Menurutmu, jika selama dua tahun kalian saling berkirim pesan, apa yang kamu rasakan?" "Itu … saya tidak tahu … em … Pak … saya agak bingung." "Bingung kenapa?" tanya Ghifan santai. "Itu … saya … selama ini … em …." Rinoi tergagap, dia tidak mampu menjawab Ghifan. "Saya tidak berpengalaman dalam dunia percintaan, dulu saya selalu serius dalam sekolah dan hal akademik, tidak pernah terpikirkan untuk berpacaran atau bermain mata dengan gadis, namun bukan berarti saya buta seluruhnya tentang ini. Terkadang kita tidak tahu bahwa ada orang yang dekat dengan kita dan sering melihat kita atau sering berkomunikasi dengan kita, dan dia itu menyukai kita." Ghifan mulai mengeluarkan pemikirannya tentang hal percintaan yang memang dia sama sekali tidak berpengalaman. Ghifan memang tidak berpengalaman, dia membicarakan nasib dirinya sendiri. Dia tidak tahu bahwa gadis yang dia kira telah menyukai sekretarisnya itu ternyata menyukai dirinya bukan orang lain. Rinoi memutuskan untuk diam, dia tidak lagi ingin melanjutkan pembicaraan. Dia serba bingung. Rinoi memakan makan siangnya dengan perasaan campur aduk bercampur canggung. °°° Syarastini duduk diam sambil melihat ke arah gerbang Farikin's Seafood yang berjarak sekitar sepuluh meter di depan mobilnya. Dia di pagi hari tak pergi keluar rumah, dia mendapatkan kesempatan untuk keluar rumah dan ingin melihat dari jauh Ghifan pulang kerja. Jam empat sore, satu demi satu mobil mulai keluar gerbang dan meninggalkan gedung Farikin's Seafood. Syarastini masih sabar menunggu mobil yang dikendarai oleh Ghifan keluar. Beberapa menit menunggu, akhirnya dia melihat mobil hitam yang baru keluar dari gerbang. Itu bukan mobil yang dipakai Ghifan dua yang hari lalu, mobil yang tidak sengaja disenggol oleh Syarastini. Itu adalah mobil baru lagi. Namun Syarastini bisa melihat penampakan wajah Ghifan yang terlihat dari dalam kaca mobil tembus pandang itu. Melihat wajah Ghifan, Syarastini tersenyum. Blush. Seperti biasa, wajahnya akan memerah jika melihat pria yang dia sukai. Sementara itu Ghifan yang sedang menyetir pulang, merasa bahwa dia sedang diawasi. Feelingnya yang memang sering dilatih itu selalu saja benar. Ghifan melirik kaca spion kanan. Ada sebuah mobil mini terparkir tidak jauh dari gerbang kantornya. Mobil mini. Beberapa hari ini dia sering melihat seorang gadis yang memakai mobil mini, dia adalah Syarastini. Ghifan menekankan laju mobil lalu berhenti perlahan di pinggir jalan. Dia melihat dari arah spion mobil, mata Syarastini melihat ke arah mobilnya, jika dia tidak salah lihat, wajah gadis itu seperti tersenyum lalu menunduk malu-malu. Tepat saat itu, sebuah motor Thunder keluar dari gerbang, dan pemotor itu bukan lain adalah Rinoi. Tiba-tiba Ghifan merasa bahwa dia telah menyia-nyiakan waktunya hanya untuk melihat seorang gadis menunggu orang yang dia sukai. Ghifan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang, anehnya hatinya merasa kurang senang. Dia juga tidak tahu mengapa. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD