Chapter 15

1628 Words
"Dasar mulut besar." Rinoi yang mematikan panggilan dari Cika, dia mencibir. "Dari mana dia dapat nomor teleponku?" pikir Rinoi. Dia bingung, dari mana Cika mendapat nomor teleponnya yang sangat pribadi? bukankah dia tak pernah sembarangan memberikan nomor teleponnya pada siapapun? terlebih lagi jika memberikan nomor teleponnya pada Cika. "Ah … sekarang aku tahu. Pasti si mulut besar itu minta nomorku di Tini." Rinoi mencibir. Dia melanjutkan niatnya yang akan membalas pesan dari Syarastini. 'Baik.' "Berarti besok aku harus katakan niat tulus maaf dari Syarastini ke Pak Ghifan. Biar bagaimanapun Tini yang tidak sengaja tadi siang, namun maaf Tini harus disampaikan. Aku tidak tahu apakah Pak Ghifan menerima maaf Tini ataukah tidak, tapi yang pastinya aku harus menyampaikan saja pesan maaf dari Tini." "Toh hari ini juga kita tidak mendengar kabar buruk. Perusahaan Tuan Kao dan Farikin's Seafood berjalan lancar." Setelah dia berpikir dan berencana besok menyampaikan permintaan maaf dari Syarastini, Rinoi memutuskan untuk tidur. Sementara itu di ruang kerja milik Ghifan. Ghifan sibuk menghitung anggaran dan pengeluaran dari perusahaan Farikin's Seafood. Posisinya yang sebagai manager keuangan Farikin's Seafood, tidak membuat dia duduk berpangku tangan saja. Selama lima tahun bekerja di perusahaan milik kakek buyut dari neneknya itu, membuat Ghifan telah banyak mendapatkan pengalaman. Dia semakin matang dalam mengambil sebuah keputusan besar yang berimbas pada perusahaannya. Dia kini tahu mana yang harus diambil dan mana yang tidak. Setelah Ghifan menyelesaikan pekerjaannya malam ini, dia menyimpannya lalu mulai mengirimkannya ke email kerja bendahara yang mengajukan berkas itu. 'Ok.' Setelah itu Ghifan melihat beberapa berkas file lain yang masih tersimpan rapi di penyimpanan laptop miliknya. Laporan keuangan bulan lalu. Laporan keuangan sementara bulan ini. Rincian perjalanan dinas General Manager. Rencana THR karyawan. Dan masih banyak lagi. "Besok saja baru aku lihat. Toh rencana THR ini masih lama. Bulan puasa dua minggu lagi." Ghifan mematikan laptop lalu mengunci pintu kerja. Dia tidak langsung tidur, dia turun ke lantai satu dulu untuk meneguk minuman segar. "Tuan Ghifan," sapa seorang pelayan ketika melewati kaki tangga. "Ya. Eh, itu, masih ada orang di dapur?" tanya Ghifan. Pelayan itu mendongak ke arah Ghifan. "Apakah Tuan Ghifan ingin makan? saya akan segera menyiapkan makanan untuk Anda," tanya pelayan itu. "Tidak. Saya hanya ingin minum smoothie saja, ingin minuman segar," jawab Ghifan. "Baik, saya akan buatkan. Ingin smoothie stroberi, blackberry atau ada rekomendasi buah yang lainnya?" tanya pelayan mengenai prefensi dari Ghifan. "Blueberry. Ah, bolehkah berikan aku beberapa biskuit untuk camilan?" "Baik, mohon tunggu sebentar, saya akan mengantarkan minuman dan biskuit Anda ke kamar-" "Tidak ke kamar, di ruang nonton saja. Saya ingin-" "Aaah! Sayang, kamu hebat sekali. Oh! uumm uuuhh! aaaaahhh! uuuuhh aaaahhh! teruskan, aku mau keluaaar!" Ghifan tiba-tiba kehilangan kemampuan bicara setelah percakapannya diinstruksi oleh suara sang ayah yang entahlah sedang apa di dalam kamar. Ghifan melihat wajah pelayan yang berusaha untuk tetap fokus dan diam, tidak terganggu oleh suara sang ayah. "Aah uh! um … kuat kuat. Goyang-goyang biar enak … ouuh … Gea … ini sangat enak!" "Kamu keenakan terus, aku udah keringatan ini, turun naik turun naik terus!" suara sang ibu terdengar ganas. "Nanti gantian." Suara sang ayah. "Hum!" suara sang ibu. Ghifan, "!!!" "Saya menunggu minuman dan camilan saya di dalam kamar saya." "Baik, Tuan," sahut pelayan. Ghifan telah melarikan diri ke dalam kamarnya. Dia sekarang benar-benar merasa dongkol. Dongkol karena selalu saja dibuat cemburu. Pelayan yang tadi hanya melihat ke arah pintu kamar sang majikan lalu dia tertawa geli. Dia tadi baru saja ke depan pintu kamar itu untuk mengantarkan sesuatu. Di dalam kamar Busran dan Gea. "Uuuh … aaaaaaahh aku mau keluar." "Keluarkan saja anginnya! jangan banyak tingkah!" Gea lama-lama dongkol dengan tingkah suaminya. Ternyata pasangan suami istri itu sedang injak-injak badan. Gea naik ke atas punggung Busran lalu mulai menggosok punggung sang suami dengan telapak kakinya. Kadangkala Gea akan menggosok belakang sang suami seperti sedang menyikat pakaian. "Minyak esensial ini harum dan pas, aku suka wanginya," ujar Busran. "Kata Sira, masih banyak di kamarnya," balas Gea. "Um, minta gih semuanya dari Sira," ujar Busran. "Bus, kamu terlalu rakus." "Hehehe oooh aaaahh … buuuuuuuuuuuoooaaaahh!" Angin keluar melalui mulut Busran. Gea turun dari atas badan suaminya yang hanya memakai *kolor. Kolor hijau pula yang dipakai oleh suaminya. Beruntung sang suami bukanlah jelmaan dari *kolor ijo. Dahi dan lehernya penuh dengan keringat. "Bus, gantian. Aku mau pijat." "Siap, laksanakan!" Busran cepat-cepat bangkit dari tidur tiarap lalu menunggu istrinya membuka pakaian dan berganti tidur. Jadilah Busran melotot senang ke arah istrinya. Dua tangannya sudah gatal ingin segera menjamah-eh memijat kiri kanan atas bawah badan sang istri. Matanya terlihat menyipit dengan akal bulus yang selusin sudah duduk cantik di kepalanya menunggu dieksekusi saja. °°° Di dalam kamar Gaishan dan Fathiyah. Gaishan membuka selimut lalu melihat ke arah Fathiyah yang sudah tidur. "Sayang." Tidak ada tanggapan. "Sayangku." Masih sama. "Tia sayang." Tidak digubris. "Tia lopeku sayangkuh …." Tidak ada balasan. "Tia, pengen ah uh ah," ujar Gaishan. Fathiyah, "...." Ngrook ngrook ngrookk! Alamak! biasa saja, jangan mendengkur kuat macam babi ngepet juga. Gaishan kembali pasrah tidur setelah suara dengkuran Fathiyah mengancamnya. "Pasrah saja. Sayang istri sayang anak." Gaishan kembali tidur. Fathiyah membuka sedikit kelopak matanya ke arah Gaishan, lalu dia tersenyum miring dan kembali tidur. °°° Pagi datang. Gaishan menyiapkan kursi makan untuk sang istri yang duduk lalu setelah itu dia yang duduk. Sudah ada Ghifan yang stand by di meja makan. Tak lama Bushra duduk di sebelah kiri Ghifan sedangkan pasangan yang paling tua di rumah itu baru saja keluar kamar dengan pakaian kerja. Mereka ke ruang makan dan duduk. Ghifan sebenarnya tidak ingin mengintip wajah bersemangat ayah dan ibunya, namun mengingat suara-suara misterius tadi malam, membuat pikiran-pikiran lain mulai masuk ke kepala Ghifan, jadilah dia melirik penasaran pada wajah orangtuanya. "Wah, s**u hangat, aku suka sekali," ujar Busran dengan nada bersemangat. Dia menggosokkan dua telapak tangannya menunggu Gea menuangkan s**u hangat dari teko kaca ke gelas kaca bertangan lalu diberikan ke arahnya. "Terima kasih, Sayangku, mcuh," ujar Busran lalu memberi kode ciuman. "Hum." Gea hanya menyahut lalu dia mulai menuangkan minuman dan s**u dan memberikannya ke arah anak-anaknya. Sedangkan Gaishan memilih melayani istrinya yang sedang hamil muda itu. Ghifan lagi-lagi penasaran akut, apakah setelah berhubungan seperti tadi malam, maka hubungan antar pria dan wanita terkhususnya antara suami dan istri akan harmonis seperti sekarang yang dia lihat ini? Ghifan mulai berhalusinasi yang tidak-tidak jika dia sedang …. Sekarang Ghifan terjebak dalam halusinasinya di pagi hari ini. "Gaishan, aku ingin minum air kelapa muda," ujar Fathiyah. "Oh, mau air kelapa muda yah? ok, segera meluncur." Gaishan mengiyakan mau sang istri. Dia senang istrinya ngidam lagi. Gea melirik ke arah sang menantu lalu tersenyum, "Wah, sudah aktif ngidam. Nah, Gaishan, kamu mulai sekarang harus ekstra sabar dan selalu waspada yah, siap siang malam. Ingat, wanita hamil itu moodnya berubah-ubah, mau ini mau itu, jadi harus banyak sabar." Gaishan hanya mengangguk bagaikan ayam mematuk beras, Gaishan mendengarkan ibunya bagaikan sang ibu memberikan pelajaran yang diberikan oleh gurunya ketika masih di sekolah. Jika di sekolah dulu dia sering melewatkan catatan dari sang guru, sekarang ini dia malah ingin ambil pena dan buku lalu mencatat apa saja yang dikatakan oleh sang ibu. "Terkadang suami juga bisa merasakan ngidam loh," ujar Gea. "Hum, bisa, Ma? dulu waktu Mama hamil kita, Papa ngidam?" tanya Gaishan luar biasa penasaran. Ini adalah pembelajaran langka yang tidak ada di kelas manapun. "Memang dulu pas Mama hamil kalian bertiga, Papa kalian ngidam," jawab Gea. "Papa ngidam apa, Ma? mau makan sate kambing?" tanya Gaishan. "Ma, waktu hamil Sira, Papa ngidam apa?" kini Bushra yang penasaran bertanya. Mendengar penjelasan dan pertanyaan-pertanyaan dari saudara dan ibunya, Ghifan merasa bahwa dia adalah pria yang minim pengetahuan. Dalam hal hamil, ternyata seorang suami juga bisa ngidam. Tiba-tiba Ghifan ingin merasakan bagaimana suami mengidam saat istrinya hamil. Ah, Ghifan, tolong buang pikiranmu itu jauh-jauh, mau merasakan ngidam? istri saja tidak punya. Jangankan istri, calon saja tidak ada. Kemudian Ghifan melihat ke arah sang kakak kembar yang sedang bersemangat, tiba-tiba dia ingin seperti kakak kembarnya yang punya istri hamil. Lah? Ternyata Ghifan sudah mulai rasa kesepian. Dia sudah mulai sadar betapa pentingnya mempunyai seorang wanita di sisinya. "Waktu Mama hamil Sira, Papa kalian ternyata suka sembunyi-sembunyi makan mentega dari Mama. Bahkan karena terlalu sering makan mentega, Papa kalian jadi mencret-mencret terus nggak ke kantor deh, langsung Papa kalian tobat deh." "Hahahahahaha hahahahahaha!" Gaishan dan dua saudaranya terbahak hebat di atas meja makan, sementara Fathiyah tertawa sambil mengusap-usap perutnya agar tidak kram, Busran sendiri memperlihatkan muka kasihannya ke arah sang istri. "Sayang, tolong bagian yang mencret-mencret diskip." "Hahahahaha!" Gaishan penuh air mata tawa. "Kalau waktu hamil Gaishan dan Ghifan, Papa kalian bisa-bisanya suka … ah nggak mau mama ceritain deh." Wajah Gea berbah tersipu malu. "Aah Mamaa, apa itu? waktu hamil kita, Papa suka apa?" Gaishan luar biasa penasaran. Gea melirik ke arah sang suami, sebelum dia menjawab, Gea tersenyum cengengesan ke arah Busran, "Suka ena ena sambil makan tahu busuk." Gea menutup mulutnya lalu dia tertawa pelan. Semua anak-anak, "...." "Wuahahahahahahaha!" meja makan serasa terjadi perang. "Iiih Mama … Papa kok suka gitu." Bushra menutup wajahnya malu. "Hahahaha! nggak kebayang pas mau ehem-ehem, bau mulut Papa kayak selokan tempat sampah eh pembuangan ah kloset, hahahah!" Gaishan tak bisa mengendalikan tawanya. Ghifan menunduk sambil tertawa, perutnya sakit karena banyak tawa. Sedangkan Busran memelas ke arah istrinya. "Sayang, kenapa harus ada makan tahu busuk?" "Hehehe, dari pada aku bilang kamu waktu itu selain suka makan tahu busuk, sering sekali cium popok dari Alamsyah." "Aahahahahahaahahahahah!" Busran, "...." memang memalukan, tapi semua itu memang terjadi. Karena Gea pertama kali hamil, Busran hari itu mencium Alamsyah buang air di popoknya, dari pelopor popok Alamsyah itulah, makan tahu busuk sebelum tidur berolahraga bersama istrinya dilakukan. Tenang Busran, itu sudah masa lalu. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD