Chapter 23

1740 Words
Ghifan pulang ke rumahnya dengan perasaan yang tak dapat dia gambarkan. Saat dia memasuki rumah, dia tak sengaja melirik para bodyguard yang hanya memakai satu sepatu. Ghifan mengerutkan keningnya, dia melihat ke arah wajah-wajah bodyguard yang sedang bekerja. Wajah para bodyguard terlihat tegas dan seolah tidak tampak terlihat apa-apa. Aneh sekali, akhir-akhir ini dia melihat hal absurd dan hal aneh lainnya. Gaishan muncul dari belakang Ghifan dengan cara menautkan dua tangannya ke belakang. "Hai Om Ghifan, udah pulang, yah?" Tiba-tiba bulu kuduk Ghifan merinding. Dia melirik slow ke arah belakang dan melihat wajah sang kembar sedang tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih, beruntung gigi Gaishan tidak kuning. "Hehehe, jadi kangen Om Ghifan, ah." Cus! Ghifan langsung angkat kaki tinggi-tinggi dan melompati anak tangga lalu masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya. "Gaishan sudah gila!" Ghifan merutuk. "Hehehehe, takut apa, sih? wong aku manusia, bukan saiton." Gaishan cengengesan. Tuan, Anda sekarang adalah saiton berwujud manusia. Batin beberapa bodyguard yang berjaga. "Um. Cari mangsa lain ah. Jahilin bibi tukang masak dosa nggak, yah?" Gaishan berubah haluan ke dapur. Para bodyguard, "...." Ya salam! Tuan, Anda benar-benar sudah tidak dapat ditolong lagi! °°° Busran masuk ke kamarnya, dia melihat sang istri yang sedang melihat ponsel. "Sayang." "Hum?" sahut Gea. "Gaishan itu lama-lama buat banyak dosa," ujar Busran. "Dosa apa lagi yang dia perbuat?" tanya Gea, dia masih melihat isi ponsel, ada beberapa pesan email masuk ke kotak email miliknya. "Dia pergi ke dapur dan menyembunyikan semua pisau dan bahan peralatan masak, semuanya dia sembunyian, beruntung hanya ada kompor tanam yang tidak bisa dia cungkil dengan obeng," lapor Busran pada sang istri yang merupakan nyonya rumah. Gea, "...." hanya mengangkat pandangan dari ponsel lalu menutup mata, menarik lalu menghembuskan napas. Busran melirik reaksi istrinya. Sepertinya sang istri berusaha untuk menurunkan kadar emosi darah tinggi agar tidak membludak keluar. "Jangan lapor lagi hal apa yang dilakukan Gaishan, aku tidak mau darah tinggi." "Ok." Busran mengangguk cepat. "Sayang." "Apa?" balas Gea, dia terlihat berusaha sabar. "Aku pijitin, yah? supaya kamu jangan tegang." "Ok." Gea setuju. Busran tersenyum senang, dia mulai memijat bahu sang istri agar terlihat rileks. °°° Tok tok tok. "Non Tini, makan malam." Bibi asisten rumah tangga mengetuk pintu kamar Syarastini. Tok tok tok. "Non Tini, Tuan panggil makan malam." Sang empunya kamar sedang tertidur pulas. Bibi asisten rumah tangga menggaruk kepalanya bingung, sudah beberapa kali dia mengetuk pintu kamar sang Nona, namun tak kunjung keluar. "Apa mungkin Non Tini sedang tidur?" gumam bibi asisten rumah tangga. "Biasanya setiap aku ketuk pintu kamar Non Tini, tidak menunggu lama Non Tini keluar." "Ah, aku bilang saja ke Tuan, kalau Non Tini sedang tidur, mungkin lelah." Bibi asisten rumah tangga turun tangga lalu pergi ke meja makan. Di meja makan, keluarga Tinar sedang makan malam. "Farikin's Seafood mengumumkan pengumuman resmi di dinding sosial media mereka bahwa mereka dan Sea Delicious dari Hongkong sudah bekerja sama, Tinar ditilap terus oleh Farikin's Seafood," ujar Badar. Syarastya berhenti makan, dia melirik ke arah sang ayah, "Tinar Group sedang mengajukan proposal pada perusahaan China di China daratan, sedang menunggu kabar baik, perusahaan itu cukup besar, mereka sepertinya tertarik berinvestasi dengan perusahaan di Indonesia," balas Syarastya. "Bagus, jangan mau kalah. Tinar harus semakin di depan." Jihat mengangguk puas dengan kerja Syarastya. "Kalau kamu bisa menggait lagi beberapa perusahaan dari luar negeri untuk kerja sama dengan perusahaan kita, Kakek tidak perlu cemas memberikan saham Kakek pada kamu," lanjut Jihat. Shinta tersenyum senang setelah mendengar ucapan ayah mertua. Jarang-jarang dia senang setelah mendengar ucapan ayah mertuanya. "Pasti bisa. Tia itu punya banyak pengalaman dan potensi yang memadai. Dari umur dua puluh tahun dia sudah terjun ke dunia bisnis. Pengalaman sepuluh tahun dan tender-tender yang dimenangkan oleh Tinar, semua itu atas bantuan dan usaha dari Tia. Bahkan ada beberapa perusahaan kecil yang diakuisisi oleh Tinar Grup karena kemampuan Tia," ujar Shinta, dia membanggakan kinerja yang Syarastya lakukan selama ini. Jihat mengangguk puas. Syarastya hanya tersenyum kecil lalu dia melanjutkan makan malam. "Loh. Mana Tini?" Shinta sadar bahwa Syarastini tak ada. "Nyonya, Non Tini sepertinya tidur. Sudah saya ketuk-ketuk tapi tidak keluar. Apa mungkin karena tadi keluar rumah bersama temannya?" jawab bibi asisten rumah tangga. "Oh. Ya sudah, biarkan saja dia tidur. Nanti baru siapkan makan untuknya," ujar Shinta. "Baik, Nyonya," sahut bibi asisten rumah tangga. °°° "Ghifan mana?" Gea melirik ke arah kursi yang biasa diduduki oleh putra keduanya. "Molor, Ma," jawab Gaishan. Dia makan lahap. "Pengen makan burung bakar," ujar Gaishan sambil meraih sayap ayam kecap. "Bakar saja burungmu sendiri," celetuk Busran. "Pft!" Bushra dan Fathiyah menahan tawa karena celetukan Busran yang terdengar lucu. "Pa, burung Gaishan nggak bisa dibakar, burung ini yang fungsinya cetak cucu buat Papa dan Mama." Semua orang, "...." "Iihh Kak Gaishan. Sira jadi malu dengernya." Bushra menutup wajahnya karena ucapan sang kakak. "Jangan kotori telinga anak gadis Papa sama omongan v****r kamu?" Busran melotot. "Siapa duluan yang membuka pembicaraan yang menjurus ke perburungan manusia? Gaishan kan bilang pengen makan burung beneran, bukan burung jadi-jadian, jadi kesimpulannya Papa yang meracuni telinga Sira dengan ucapan v****r Papa." Gaishan tersenyum manis. Busran, "...." dia melirik ke arah anak perempuannya. Bushra menahan tawa sambil menunduk, dia tidak jadi makan. "Sira, Kak Gaishan ajarin, jangan mudah terperdaya sama burung jadi-jadian manusia. Nikah dulu baru terperdaya, biar enak nantinya happy-happy bareng," ujar Gaishan. Blush! Wajah Bushra memerah. "Nah, kalau ini Papa setuju. Lagian siapa yang berani mau raba-raba anak gadis Papa? kalau ada yang berani, Papa patahin lehernya!" Busran berkata dengan semangat tinggi. Mendengar ucapan sang ayah, Bushra ingin rasanya mengecilkan badannya agar tak terlihat oleh ayahnya. Jika ayahnya tahu dia dan pacarnya …. Bushra ingin rasanya bersembunyi di kolong meja. "Mama nggak mau marah yah di meja makan." Gea buka suara. Seketika semua orang menunduk makan secara khusyuk. °°° Syarastini membuka mata, matanya terlihat merah meskipun hanya disinari rembulan, mungkin karena terlalu banyak tidur, matanya agak bengkak. "Um … jam berapa ini?" gumam Syarastini, suaranya terdengar serak baru bangun tidur. "Huum …." Kryuuk kryuuk. Bunyi suara perut. Syarastini melirik ke arah perutnya, dia rasa lapar namun tidak mau bangun dari tidur. Entah kenapa dia merasa tidak berselera bangun lagi, apakah karena hari ini dia mendengar langsung ucapan Ghifan yang membuat hatinya sedih dan down? Hanya Syarastini yang tahu karena dia yang merasakan. "Hum … sudah malam, ekhem!" Syarastini menutup matanya selama beberapa detik untuk menyesuaikan pencahayaan. Gelap di kamarnya namun sinar rembulan purnama menyinari tubuh Syarastini tembus lewat jendela kamar kaca. Kryuuk kryuukk! Sepertinya Syarastini tidak bisa lagi tidur bermalas-malasan, perutnya terus berbunyi. Terakhir dia makan yaitu jam setengah satu siang. Ini telah malam, dan dia belum melihat jam berapa sekarang. Syarastini bangun dari tempat tidur, jemarinya mencari saklar lampu. Ceklek. "Hum …." Syarastini menyipitkan matanya karena kamarnya tiba-tiba terang. Pupil matanya butuh penyesuaian cahaya. Syarastini melirik ke arah atas nakas, tas selempangnya ada di situ. "Jam berapa …?" Syarastini terdiam setelah melihat jam di ponselnya. Jam satu dini hari! Pantas saja penghuni misterius di dalam ususnya sudah mengadakan acara demo besar-besar guna mengemukakan pendapat mereka pada tuan tubuh yang mereka tumpangi bahwa mereka telah lapar sekarat dan hampir mati. Sudah lebih dari dua belas jam cacing-cacing di usus itu puasa. "Sudah jam satu … uh … aku bisa ketiduran? ah?! Mama dan yang lainnya telah selesai makan malam!" Syarastini mencicit kaget. Dia meletakan ponselnya di atas nakas lalu pergi keluar kamar. Sunyi sekali. Ya, harus sunyi, pasalnya ini jam satu dini hari. Syarastini turun ke ruang makan, dia bahkan belum mandi atau mencuci wajahnya untuk membersihkan wajah. Perutnya sudah tak bisa kompromi. Dia mencari makanan yang seadanya di kas makanan. Ada nasi sisa di rice cooker, dan beberapa lauk. Sepertinya Bibi asisten rumah tangga yang menyisahkan makanan untuk Syarastini karena dia tahu majikannya tidak hadir dalam makan malam. "Makan apa saja, ah … ada makanan … pasti bibi yang taruh …." Syarastini tersenyum penuh terima kasih pada bibi asisten rumah tangga meskipun bibi asisten rumah tangga telah tertidur pulas. °°° Ghifan tiba-tiba membuka matanya dari tidur. Matanya terlihat merah menyala. Kentara sekali bahwa dia tidur dalam waktu lama. "Ahw …." Ghifan bangun dari tidurnya, dia melirik ke arah jendela kaca, hanya ada cahaya rembulan yang masuk ke kamarnya. "Malam." Dia turun dari ranjang lalu mencari saklar. Ceklek. "Ck! eheum … silau," gumam Ghifan. Dia menutup pandangan matanya dengan telapak tangan, hal itu dia lakukan selama beberapa detik, lalu dia melihat ke arah ponselnya di atas kasur. Ghifan melihat jam di ponsel. "Jam satu … ini tengah malam." Dia diam beberapa detik, lalu pergi mencharger ponsel dan keluar kamar. Terasa damai, ya tentu saja, sebab si perusak suasana yang dalam fase jahil telah tidur pulas, siapa lagi dan siapa bukan kalau bukan sang kembaran. "Syukurlah si tukang ribut itu sudah tidur." Ghifan melirik kamar saudara kembarannya yang berada di lantai bawah. "No, i can not. Stop! Eric, you can go here! My dad will kill you! listen to me!" (Tidak, aku tidak bisa. Berhenti! Eric, kamu tidak bisa datang ke sini! ayahmy akan membunuhmu! dengarkan aku!) Ghifan berubah arah lirikan ke kamar saudara perempuannya yang bertetangga kamar dengannya. "Oh God … understand me, please …." (Oh Tuhan, tolong mengertilah aku.) "It's not about your religion before. It's ok. My dad doesn't make it for his problem, but that is about where you from." (Ini bukan tentang keyakinanmu sebelumnya. Itu baik-baik saja. Ayahku tidak akan membuat itu sebagai masalahnya, tapi ini tentang dari mana kamu berasal.) "Eric …." Telinga Ghifan dia tempelkan di daun pintu kamar sang adik. Mencurigakan. Untuk apa jam satu dini hari sang adik masih berbicara dengan orang? dan ini menggunakan bahasa inggris. "Au revoir!" (Selamat tinggal!) Lah? sekarang bahasa Perancis. "Iiisssh huuuuh. Dia tidak mengerti bagaimana Papa marah … Papa tidak peduli seberapa besar dan tinggi jabatannya di pemerintahan atau di manapun. Yang namanya orang bule, Papa nggak mau …." Bushra terlihat geregetan bercampur kesal. "Tinggal mau datang ke rumah. Datang datang datang dan ditendang Papa." Tok tok tok. "Mana Eric nekat-ah! maling! maling! maling!" "Ah maliiing!" Bushra berteriak di ujung paru-parunya! Tak tak tak! Suara langkah kaki berlari ke arah pintu kamar Bushra. "Bus! bangun!" Gea terkaget bangun. "Maling apa? siapa yang maling?" Busran yang sedang berada di kahyangan mimpi langsung bangun serentak. "Sira!" "Eh? maling di kamar Sira?!" mata Busran melotot. "Oho! beraninya raba-raba anak perempuanku!" Busran meraih *pistol di bawah tempat tidur lalu berlari ke kamar anaknya. Ghifan, "...." Semua orang, "...." Saling menatap. Kryuuk kryuukk. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD